Review Buku “Malice: Catatan Pembunuhan Sang Novelis”

Buku “Malice: Catatan Pembunuhan Sang Novelis” sebenarnya saya ulas dalam versi audio beberapa hari lalu dan saya ikutsertakan dalam Kompetisi Podcast Resensi Buku GPU yang diadakan oleh Podluck Podcast, Goshen Swara Indonesia, dan Gramedia Digital.

Review buku ini sekaligus menandai peluncuran episode spesial untuk podcast Randomness Inside My Head di Spotify dengan tajuk “Parade Penulis Asia”. “Parade Penulis Asia” akan hadir dua kali dalam sebulan dengan penulis-penulis berkebangsaan Asia beserta karya-karya mereka yang menuai pujian dan penghargaan.

Buku pertama yang saya pilih adalah “Malice: Catatan Pembunuhan Sang Novelis” oleh Keigo Higashino. Judul asli buku ini adalah “Malice” dalam bahasa Inggris atau “Akui” dalam bahasa Jepang yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1996. Buku ini diterjemahkan dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2020.

oleh Keigo Higashino

Sekilas profil fingkat Keigo Higashino. Beliau adalah penulis berkebangsaan Jepang kelahiran tahun 1958 yang terkenal sebagai penulis novel misteri. Karya-karyanya telah memenangkan banyak penghargaan dan hampir dua puluh dari bukunya telah diadaptasi ke dalam film dan serial televisi.

Saya memilih buku ini karena sangat puas setelah membaca buku Keigo Higashino Sensei yang berjudul “Pembunuhan di Nihonbashi” yang juga diterbitkan pada tahun 2020 oleh GPU.

Tokoh Detektif Kyoichiro Kaga sangat menarik perhatian saya karena pertama, dia tidak berusaha tidak tampil mencolok. Dia hanya sangat membaur untuk mudah diterima oleh saksi-saksi dari kasus yang sedang ia selidiki.

Kedua, daya analisanya mencengangkan. Sepanjang buku itu saya bisa ikut membayangkan titik-titik yang coba dipetakan oleh Detektif Kaga di benaknya. Titik-titik yang perlu dihubungkan untuk mendapat jawaban siapa pelaku pembunuhan di Nihonbashi.

Keunikan cara kerja Detektif Kaga membuat saya memilih buku “Malice: Catatan Pembunuhan Sang Novelis” sebagai buku kedua yang menghadirkan sosok Detektif Kaga, untuk saya ulas dalam podcast kali ini.

Buku “Malice: Catatan Pembunuhan Sang Novelis” sebenarnya adalah pertarungan kemampuan antara dua karakter: Detektif Kaga dan Nonoguchi Osamu, seorang penulis novel anak yang mengaku sebagai pelaku pembunuhan novelis terkemuka, Hidaka Kunihiko.

Pertaruangan kedua sosok ini bertumpu pada pencatatan atau dokumentasi yang dilakukan oleh keduanya, dan ditandai oleh pergantian sudut pandang penceritaan antara Detektif Kaga dan Nonoguchi sepanjang novel setebal 305 halaman ini.

Novel dibuka dengan catatan oleh Nonoguchi tentang kunjungannya yang terakhir ke rumah Hidaka Kunihiko. Hidaka adalah seorang novelis ternama yang akan pindah ke Vancouver, Kanada dengan istri barunya, Rie.

Istri pertamanya, Hatsumi, meninggal dunia akibat kecelakaan dan Hidaka ingin meninggalkan Jepang untuk beristirahat dari karirnya yang sangat menuntut, sekaligus memulai babak baru dalam kehidupan berumahtangganya dengan Rie.

Dari catatan Nonoguchi pembaca akan cepat menangkap kesan kepribadian Hidaka, seorang novelis ternama dengan karya-karya yang laris dan mendapat banyak penghargaan, dan hubungan pribadinya dengan Nonoguchi.

Nonoguchi mencatat bahwa ia dan Hidaka bersahabat ketika SMP, terpisah oleh waktu dan kesibukan, dan akhirnya menjalin pertemanan kembali setelah Hidaka sukses sebagai novelis. Dari catatannya kita tahu bahwa Nonoguchi berkawan akrab dengan Hidaka dan istrinya, baik yang pertama maupun yang kedua, dan sering berkunjung ke rumah Hidaka.

Nonoguchi pamit dari rumah Hidaka setelah kedatangan Fujio Miyako, adik dari teman SMP mereka, Fujio Masaya, yang karakternya Hidaka pakai secara samar dalam novel “Daerah Bebas Perburuan”. Nonoguchi mencatat bahwa ia diantar oleh Rie dan Rie memperhatikannya sampai Nonoguchi menghilang di belokan.

Di sini saya merasa aneh.

Apakah Nonoguchi memiliki mata di belakang kepalanya sampai ia bisa tahu kapan Rie berhenti mengamatinya?

Atau apakah ia pamit sambil berjalan mundur?

Atau apakah ia menoleh ke belakang berkali-kali untuk memastikan kehadiran Rie?

Saya tidak membaca bagian blurb dari buku ini, jadi saya tidak langsung menyadari bahwa  Nonoguchi adalah tersangka dari kasus yang akan terjadi selanjutnya.

Hidaka dibunuh di ruang kerjanya yang terkunci rapat dengan pemberat kertas.

Yang menemukan jasadnya adalah Nonoguchi dan Rie. Nonoguchi berdalih bahwa ia datang karena ditelepon oleh Hidaka. Ketika mendapati rumah Hidaka gelap, ia pun menelepon Rie untuk memastikan Hidaka ada di rumah.

Rie yang sudah menginap di hotel karena akan berangkat ke Vancouver keesokan harian kebingungan. Hidaka tidak ada di hotel karena ia masih menyelesaikan naskah novel “Gunung Es”. Hidaka sepertinya tidak ada di rumah. Jadi, di mana Hidaka?

Setelah Rie dan Nonoguchi menemukan Hidaka, kepolisian pun datang untuk menyelidiki dan Detektif Kaga bertemu kembali dengan Nonoguchi yang pernah sama-sama mengajar dengannya di sebuah SMP.

Satu hal yang saya harapkan dari karakter Detektif Kaga setelah pertemuannya kembali dengan Nonoguchi adalah bias. Detektif Kaga mengenal Nonoguchi. Tidak hanya itu, ia juga memiliki kesan baik akan seniornya itu.

Detektif Kaga tetap menjalankan tugas penyelidikan dengan baik; ia memeriksa kebenaran alibi Nonoguchi, Rie, istri Hidaka, dan Fujio Miyako, orang luar terakhir yang ditemui oleh Hidaka, selain Rie, istrinya.

Akan tetapi, saya tetap merasakan rasa hormat dan sesuatu yang terasa seperti bias dari cara Detektif Kaga menceritakan progress proses penyelidikannya.

Nonoguchi menulis bahwa ia ingin mencatat detail dari peristiwa pembunuhan Hidaka, sahabatnya, sebuah peristiwa yang menurutnya sangat luar biasa. Detektif Kaga merasa terusik dengan kesigapan Nonoguchi mencatat dan eagerness dari Nonoguchi untuk memastikan waktu kematian Hidaka.

Berbekal catatan Nonoguchi, akhirnya Detektif Kaga menjadikannya tersangka dan mengungkapkan trik komputer Hidaka yang menyala saat ia dibunuh, dan kesan bahwa Nonoguchi memang benar ditelepon Hidaka untuk datang, sebagaimana didengar oleh Oshima, editornya dari Penerbit Dojisha.

Setiap kasus kejahatan pasti memiliki dua hal: barang bukti dan motif. Begitu Nonoguchi mengaku, Detektif Kaga langsung mendapatkan barang bukti, tapi tidak mendapatkan motif.

Mengapa Nonoguchi membunuh Hidaka?

Bukanlah mereka bersahabat dan Hidaka banyak membantu karir Nonoguchi?

Sambil mencari motif, Detektif Kaga menemukan barang bukti-barang bukti baru. Sebuah celemek wanita, formulir perjalanan wisata, dan kalung yang sepertinya tidak jadi diberikan.

Jika ini menyangkut wanita, maka siapa wanita yang beririsan dengan Hidaka dan Nonoguchi?

Tidak butuh waktu lama untuk Detektif Kaga menemukan foto Hidaka Hatsumi, istri pertama Hidaka Kunihiko di kamus bahasa Jepang yang dipakai oleh Nonoguchi untuk bekerja.

Nonoguchi yang sakit berat dan tidak memedulikan hukuman yang dia akan terima, menawarkan diri untuk mencatat jalinan peristiwa yang menjadi motif pembunuhan yang ia lakukan. Detektif Kaga menerima usul itu, tapi saya dalam hati ingin berteriak memperingatkan Detektif Kaga untuk tidak terjebak ke dalam tipuan Nonoguchi lagi.

Seorang penulis yang baik adalah pembohong.

Itu adalah kata-kata guru bahasa Indonesia saya ketika SMP. Semakin baik karya seorang penulis, maka semakin lihai dia berbohong,

Saya sudah menduga Nonoguchi akan kembali memperdaya Detektif Kaga dengan ceritanya tentang perselingkuhannya dengan Hatsumi, Hidaka yang menaruh curiga akan hubungan gelap mereka, Hidaka yang menangkap basah Nonoguchi yang hendak membunuhnya dengan pisau, dan Hidaka yang mencuri naskah-naskah Nonoguchi dan memerasnya supaya menjadi penulis bayangan bagi Hidaka.

Semua urutan peristiwa itu diceritakan dengan runut dan sejujurnya menuai simpati. Meskipun Nonoguchi salah karena berselingkuh dengan istri orang, tindakan Hidaka yang mencuri karya Nonoguchi dengan balasan tidak melaporkan Nonoguchi ke polisi karena upaya pembunuhan, wajar jika diganjar dengan Nonoguchi membunuh Hidaka.

Itulah penilaian publik ketika satu per satu fakta dibuka. Nonoguchi berubah posisi dari seorang pelaku kejahatan menjadi seorang “korban” yang kejahatannya dapat dimaklumi alasannya. Nonoguchi berhasil menciptakan dan mengedepankan motif menurut versinya.

Namun, apakah itu kebenaran?

Detektif Kaga yang sudah lebih awas setelah berhadapan dengan Nonoguchi, hadir dengan dokumentasi atau pencatatannya sendiri. Sepanjang buku kita melihat upaya Detektif Kaga mempreteli kebenaran dari catatan Nonoguchi. Detektif Kaga tidak segan mewawancarai banyak orang dari SMP tempat Hidaka dan Nonoguchi bertemu, dan mencari tahu natur sebenarnya dari hubungan persahabatan mereka.

Oleh karena catatan Nonoguchi mengandung informasi palsu, di bagian tengah buku saya juga sempat meragukan kebenaran catatan oleh Detektif Kaga.

Bagaimana jika bias yang Kaga miliki berubah dari bias yang berpihak pada Nonoguchi menjadi bias yang bernafsu menjadikan Nonoguchi terdakwa yang dihukum seberat-beratnya, tanpa memedulikan motif asli pembunuhan itu?

Siapakah yang benar pada akhirnya? Detektif Kaga atau Nonoguchi?

Satu hal yang muncul di benak saya setelah menamatkan buku ini adalah kata “puas”. Saya sangat puas membaca buku ini. Semua trik psikologis digunakan. Semua kebenaran dipertanyakan. Dan semua karakternya, meskipun kuat, patut diragukan.

Alurnya yang maju mundur dan berganti sudut pandang penceritaan membuat buku “Malice: Catatan Pembunuhan Sang Novelis” ini bukanlah buku yang bisa dibaca sambil lalu. Ia memerlukan waktu, atensi tak terputus, dan fokus untuk bersama Detektif Kaga (dan Nonoguchi) mengungkapkan hal krusial yang menjadi motif pembunuhan Hidaka Kunihiko.

Saya tidak akan memberikan spoiler selain hal ini.

Motifnya adalah sesuatu yang akan dilakukan oleh manusia walaupun tanpa alasan.

Kalau kamu penasaran dengan novel ini, kamu bisa membelinya di toko buku Gramedia atau akses e-book-nya di aplikasi Gramedia Digital.

Sekian review buku dari Keigo Higashino Sensei yang merupakan episode perdana dari “Parade Penulis Asia”. Sampai jumpa dengan penulis dan buku berikutnya dari Asia dua minggu lagi.

Tulisan ini dapat didengarkan di Spotify dengan akun Randomness Inside My Head.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s