How Are You?

Hey, random people. Good morning, selamat pagi. Apa kabar semuanya?

Pagi ini saya Rijo hendak menyapa kamu sebelum memulai hari.

Sudah satu tahun lebih sekian bulan pandemi melanda bumi.

How are you holding up? Masih stres? Baik-baik saja? Memaksakan diri untuk baik-baik saja?

Hari ini pembatasan mobilisasi dimulai dan kemarin naga-naganya puncak arus mudik. Jalan tol padat merayap tanpa harapan dengan mobil-mobil pribadi dan truk logistik. Saya dengar di radio, bandara internasional Soekarno-Hatta bahkan mengalihkan Terminal F untuk keberangkatan luar negeri menjadi untuk melayani penerbangan domestik, guna menghindari penumpukan penumpang.

Kebayang ya padatnya bandara, terminal, dan sebagainya dengan orang-orang yang mau pulang.

Banyak orang yang saya kenal sudah cabut dari kemarin dan baru kembali ke kota masing-masing tanggal 18 Mei. Bagi mereka yang pulang, ingatlah protokol kesehatan untuk fisik dan dompet. THR jangan dihabiskan, masih ada kehidupan alias cicilan yang menanti setelah liburan.

Bagi mereka yang tidak pulang, sabar-sabar, ya. Semoga seperti tahun lalu tatap layar sedikit mengobati kerinduan pada orang tua dan sanak saudara. Terus terang, yang saya paling kehilangan sejak pandemi terjadi adalah kumpul-kumpul keluarga dengan segala pertanyaan ajaibnya.

Mana pacarnya? Kapan lulus? Kapan nikah? Kapan punya anak? Kapan nambah anak? Dan seterusnya.

Seorang sepupu saya yang terkenal galak sampai dengan pedas nanya balik: “Ga sekalian nanya kapan gua mati?”

Ouch, ga usah seekstrim itu ya. Mereka yang bertanya adalah mereka yang peduli. Dan kalau pertanyaan itu diulang-ulang, itu berarti mereka yang bertanya ga saling ngobrol.

Tante A nanya kapan saya lulus. Tante B nanya hal yang sama beberapa waktu kemudian. Wajar, guys. Tante A dan Tante B ga dengan sengaja ketemu buat ngobrolin hidup perkuliahan saya, hehe. Jadi wajar kalau mereka tanya ulang ke saya sebagai sumber informasinya.

Kamu sendiri gimana? Kangen ga dengan silaturahmi?

Apa minimnya relasi dengan orang lain bikin kehidupan kamu akhir-akhir ini jauh dari kata baik-baik saja?

Sebab pertemanan itu butuh ketemu, ya ‘kan? Butuh jalan bareng. Butuh menghabiskan waktu sama-sama. Grup WA cuma bisa mensubstitusi sedikit “kehadiran” itu. Tetap aja kita kangen sama kehadiran secara fisik, kedekatan secara nyata.

Ada yang ngalamin gini ga? Awal pandemi grup WA masih rame dengan saling meng-update kabar. Lama-lama jadi sepi kayak kuburan.

Soalnya sehari-hari kita sibuk, banyak banget yang harus dikerjain. Pertanyaan kayak “How are you? Apa kabar?” jadi susah dijawab secara detail. Jawabannya jadi general banget.

“Iya, kabar gua baik. Lu gimana?”

Terus dijawab lagi dengan: “Iya, gua baik juga.”

Terus senyap. Pada ga tau lagi harus ngomong apa.

Ini beda dengan sebelum pandemi, saat kita masih ketemu orang-orang, update kabar terbaru dan relevan.

“Apa kabar, Jo?”

“Baik. Kiki (bukan nama sebenarnya) baru ultah, ya? Mau kado apa?”

“Oh, iya, dia mau bla … bla … bla ….”

Dan pembicaraan pun berlanjut secara natural.

Karena kita tatap muka, kita melihat mata, gerak-gerik, bahasa tubuh yang membuat kita aware, ini pembicaraan mau dilanjutkan atau tidak.

Kalau di grup WA kan tidak seperti itu. Ga semua orang lagi lowong pas obrolan dimulai. Yang lagi lowong, ngobrol asyik sendiri.

Yang ga lowong begitu buka grup langsung clear chat kalau males manjat, karena buat dia semua pembicaraan itu ga relevan sama dia. Ngobrol di grup WA lebih tricky lah, tapi better than nothing.

Random people, how are you? Apa kabar?

Senang ga kalau ada yang nanya gitu? Senang ga kalau kita nanya gitu dan dijawab secara detail?

“Kabar gua baik karena masih dapat THR full.”

“Kabar gua ga baik karena banyak yang kena Covid di kantor gua.”

“Kabar gua so-so, ga ada yang menarik yang terjadi akhir-akhir ini. Setiap hari sama aja.”

Detail, detail, detail, people. We need detail, supaya kita bisa mengerti dan berempati.

Kabar ga baik karena penjualan di toko menurun? Oh, I can relate to that.

Kabar baik karena anak-anak sehat-sehat aja sejak pandemi merebak? I am glad, too.

“Gua kangen orangtua yang tinggal di luar kota.” I feel you.

Butuh hampir enam bulan buat keluarga besar alias orangtua, adik-adik, dan keponakan untuk ketemu tanpa parno berlebih. Yang biasanya ketemu seminggu sekali jadi jarang ketemu? Tersiksa, Saudara-saudara. Untungnya dengan orang-orang semakin aware dengan protokol kesehatan, ada sedikit rasa lebih aman kalau ketemuan.

Yang paling kasihan sebenarnya orangtua karena mereka punya komorbid dan kangen banget ketemu cucu-cucu. Cucu-cucu harus ekstra hati-hati karena anak dan mantu masih WFO.

Pandemi ini bikin kita harus banyak-banyak bersabar dan rendah hati, ya.

Semua orang kesusahan, secara ekonomi, secara emosional, menyalahkan keadaan ga ada gunanya. Minimalkanlah stres selagi kita bisa.

We can’t control the world, but we can control our reaction.

Nanya kabar, menyempatkan diri ngomong “How are you?” akan mengarah ke pertanyaan selanjutnya: “How can I help?”

Beneran, lho, saya terinspirasi banget sama karakter Max Goodwin di serial NBC “New Amsterdam”. Dokter Max adalah medical director, direktur rumah sakit publik terbesar di kota New York yang bernama New Amsterdam.

Serial ini diangkat dari novel yang ditulis oleh mantan medical director Bellevue Hospital, rumah sakit publik terbesar di New York, Amerika Serikat. Dari hari pertamanya di rumah sakit, Dokter Max selalu berkata begini “How can I help?” entah ke sesama dokter, perawat, pasien, dan semua tipe orang yang lalu-lalang di rumah sakit.

Itu mentalitas yang menurut saya bagus banget, displaying something that makes us so human. Humility adalah kesadaran bahwa kita ga sendirian, kita perlu bantuan orang lain, membantu orang lain untuk maju bersama.

Kalau setiap orang memikirkan kepentingannya sendiri saja, akan selalu ada silo. Semua orang sibuk dengan boks-boks, sekat-sekat yang dia bikin sendiri, yang membuatnya ga connected dengan orang lain. We can’t achieve much with that kind of approach.

How are you, apa kabar dalam bahasa-bahasa lain diartikan sebagai: “How is it going with you?” Gimana hal-hal dalam hidupmu? Is everything fine? Semua baik-baik saja?

Dalam bahasa Jerman “Wie geht’s?” dan Perancis “Comment ca va?” mengindikasikan itu. Dalam bahasa Jepang dan Korea dengan “O genki desu ka?” dan “Annyeonghaseyo?” menanyakan kesehatan tubuh pertama-tama.

Orang jaman now bilang kesehatan mental lebih penting daripada kesehatan badan. Saya tim kesehatan badan di atas kesehatan mental.

Mau gimana tetap waras, motivated, dan bersemangat kalau sakit-sakitan?

Tapi kalau badan sehat, kesehatan mental bisa diusahakan.

Itu pendapat saya, bagaimana menurut kamu? Pendapat kita boleh beda dong dan saya pengen tahu apa alasanmu lebih memilih salah satu.

Boleh komen/usul topik melalui email di randomness.inside.myhead@gmail.com.

Minggu depan kita ngobrol-ngobrol lagi, ya. Talk to you later, random people.

Have a blessed day!

Tulisan ini dapat didengarkan di Spotify dengan akun Randomness Inside My Head.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s