Review Drama Korea: Navillera

Ada teman.

Ada keluarga.

Ada teman yang menjadi keluarga.

Itu kesimpulan yang muncul di benak saya setelah menamatkan 12 episode drama Korea “Navillera” yang ditayangkan di Netflix.

Hanya 12 episode, chingudeul; singkat sekali untuk ukuran drama Korea. Namun, tidak ada yang tidak pas dari drama ini.

Mulai dari premis: seorang kakek penderita Alzheimer berusia 70 tahun memutuskan mulai belajar balet untuk memenuhi mimpi masa kecilnya menjadi balerino.

Karakter utama:

  1. Shim Deok Chul (Park In Hwan): seorang pensiunan tukang pos yang hidup sederhana dengan istri, 3 anak yang sudah dewasa, 2 menantu, dan 1 cucu perempuan yang sudah lulus kuliah. Dia memutuskan belajar balet setelah tak sengaja tersasar ke studio tempat Lee Chae Rok sedang berlatih.
  2. Lee Chae Rok (Song Kang): mantan atlet sepak bola yang kemudian menekuni balet, profesi yang dijalani mendiang ibunya sebelum meninggal dunia. Ia adalah ballet prodigy yang diajar khusus oleh mantan balerino bernama Ki Seong Ju. Ayah Chae Rok adalah mantan pelatih klub sepak bola yang dipenjara karena memukuli siswanya. Chae Rok hidup sendiri dan menghabiskan waktu dengan berlatih balet dan bekerja paruh waktu.

Karakter pendukung di sekitar Chae Rok:

  1. Ki Seong Ju (Kim Tae Hun): mantan balerino yang pensiun dini karena memaksakan diri menari di sebuah pementasan penting. Ia akhirnya cedera seumur hidup dan membuka studio balet khusus untuk Lee Chae Rok.
  2. Eun So Ri (Yoon Ji Hye): mantan istri Ki Seong Ju yang merupakan guru balet di sebuah universitas tempat Chae Rok pertama kali belajar balet. Ia mengajar Chae Rok sebelum menyerahkannya ke bawah binaan mantan suaminya.
  3. Lee Mu Yeong (Jo Sung Ha): ayah Chae Rok yang dipenjara karena memukuli siswa yang dia latih di klub sepak bola SMA. Setelah keluar dari penjara dia meninggalkan Seoul dan Chae Rok yang kebingungan. Dia menjadi pelatih sepak bola sebuah SD di tempat terpencil dan selalu dihantui rasa bersalah.
  4. Yang Ho Bum (Kim Kwon): mantan teman SMA Chae Rok yang terus merundungnya. Ho Bum mendendam karena semasa di klub sepak bola di SMA ia sering dipukuli oleh ayah Chae Rok. Sekarang ia hidup luntang-lantung tanpa tujuan. Ia sangat iri pada Chae Rok yang sedang menapaki jalan menggapai cita-citanya dan kesuksesan.

Karakter pendukung di sekitar Kakek Shim:

  1. Choi Hae Nam (Na Moon Hee): istri Kakek Shim yang sangat sabar, memperhatikan semua anggota keluarganya, dan setia mendampingi suaminya sejak saat mereka masih miskin dan hidup sangat kekurangan. Awalnya ia sangat menentang suaminya belajar balet, tapi lama-lama ia mendukung dan mengambil peran sebagai nenek bagi Chae Rok. Melihat interaksi di antara Kakek dan Nenek Shim sungguh membuat hati hangat.
  2. Shim Eun Ho (Hong Seung Hee): satu-satunya cucu Kakek Shim. Dia sudah lulus kuliah dan sedang magang di restoran tempat Chae Rok bekerja (seperti biasa, kota Seoul yang besar hanya digambarkan seluas satu RT). Ayahnya memaksanya masuk ke perusahaan besar, tapi Eun Ho belum menemukan pekerjaan yang dia benar-benar sukai.
  3. Shim Seong San – Seong Suk – Seong Gwan (Jeong Hae Gyoon – Kim Soo Jin – Jo Bok Rae): ketiga anak Kakek Shim dari yang sulung sampai yang bungsu. Seong San adalah ayah dari Eun Ho, anak sulung yang bossy dan sering merendahkan adik-adiknya. Seong Suk adalah istri seorang politisi yang gagal, yang sering meminjam uang pada Seong San dan membuat hubungan mereka selalu keruh. Seong Gwan tiba-tiba berhenti menjadi dokter karena pasiennya meninggal, membuat ibu dan abangnya sangat gemas melihat hidupnya yang tak jelas.
  4. Kim Ae Ran dan Byeon Yeong Il (Shin Eun Jung dan Jeong Hee Tae): istri dari Seong San dan suami dari Seong Suk, dua menantu Kakek Shim yang sangat mendukung niat Kakek belajar balet ketika anak-anak Kakek menentangnya habis-habisan. Kedua menantu ini menganggap Kakek sangat keren karena bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya terbang di atas panggung.


Karakter pendukung di dalam drama ini sebenarnya segambreng, banyak sekali, tapi fungsi mereka jelas sebagai pendukung perjalanan karakter utama untuk mencapai tujuan di akhir cerita.

Sudah lama saya tidak menemukan drama Korea yang se-compact dan seapik ini. Compactness seringkali membuat drama diselesaikan dengan buru-buru, apalagi menjelang episode terakhir. Akan tetapi, ini tidak terjadi di dalam drama “Navillera”.

Kisah-kisah yang diangkat oleh “Navillera”, baik kisah utama maupun pendukung, mampu menyentuh hati dan sesekali membuat mata saya panas karena menahan tangis.

Bagaimana Kakek Shim kehilangan teman-temannya satu per satu.

Berusia 70 tahun berarti sudah banyak temannya yang meninggal duluan. Kematian sahabatnya menjadi wake-up call untuk Kakek Shim menggapai mimpi selagi dia masih memiliki waktu.

Bagaimana Kakek Shim menjalani hari-harinya ketika dia mulai pikun dan kehilangan ingatan.

Usahanya tidak merepotkan keluarganya dengan cara memesan nursing home dan membuat foto untuk pemakamannya, sukses membuat saya menitikkan air mata.

Namun, tidak ada yang senelangsa adegan Kakek Shim memanggil nama orangtuanya ketika dia tersesat dan bingung di taman yang dia biasa sambangi. Ketika merasa sangat berduka, orangtua saya juga melakukan hal yang sama dengan Kakek Shim.

Bagaimana Chae Rok sangat kesepian karena ayahnya yang masih hidup sengaja mengabaikannya sekeluarnya dari penjara.

Tekadnya yang kuat untuk menjadi balerino profesional terkadang terjegal oleh rasa sendiri, tanpa keluarga, tanpa banyak teman, dan tanpa pekerjaan tetap. Kehadiran Kakek Shim dan keluarganya yang ramai menambah warna pada kehidupan Chae Rok yang monoton.

Bagaimana Ho Bum mengatasi rasa minder dan irinya pada Chae Rok yang sudah menemukan jalan yang ingin ia tekuni.

Sementara ia hanya menghabiskan hari-hari bermain game, biliar, tanpa tujuan hidup. Tak disangka, Kakek Shim adalah orang yang menyemangatinya untuk kembali meraih cita-citanya menjadi pemain sepak bola.

Bagaimana Eun Ho patah semangat setelah mendapat nilai jelek dari tempatnya magang dan terpaksa resign.

Saya melihat Eun Ho beruntung karena lahir di tengah keluarga yang berkecukupan. Jadi, dia masih memiliki stabilitas ekonomi di tengah ketiadaan pekerjaan dan usaha menemukan passion-nya sampai ia menjadi staf di sebuah radio. Sangat sedikit orang yang seberuntung Eun Ho.

Bagaimana Seong San, Seong Suk, dan Seong Gwan yang sering berselisih paham bahu-membahu menghadapi kondisi ayah mereka yang mulai menurun.

Walaupun mereka sering bertengkar, mereka tetap bersatu demi ayah mereka, termasuk mendukung mimpi Kakek Shim tampil di pentas balet.

Bagaimana Kakek Shim semangat terus, pantang mundur dalam mengejar mimpinya.

Bayangkan, tubuh berusia 70 tahun dipaksa untuk lentur lagi supaya bisa menari balet. Tak heran Kakek Shim sering merasa kelelahan dan salah urat otot. Semua kesusahan tidak menyurutkan semangat Kakek untuk terus belajar pada Chae Rok.

Bagaimana Kakek Shim selalu berupaya menjadi orang baik dan mengerjakan yang terbaik.

Sejak dia masih menjadi tukang pos dan harus bekerja keras membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan keluarga, sampai ketika ia menjadi murid Chae Rok dan selalu berusaha mengerjakan perintah yang pastinya tidak mudah dari gurunya.

Bagaimana Ki Seong Ju dan Chae Rok berhasil mengantarkan Kakek Shim debut di sebuah sekolah balet yang baru dibuka oleh teman Eun So Ri.

Melihat anak-anak, orang tua dengan berbagai keterbatasan, belajar dan menari balet dengan gembira di sekolah itu membuat saya teringat pengalaman sendiri (bisa dibaca di sini: kesan pertama “Navillera”).

Dan puncaknya adalah ketika Kakek Shim dan Chae Rok tampil di panggung yang sama untuk mementaskan “Swan Lake”.

Walaupun Kakek sempat kehilangan ingatan dan lupa semua langkah-langkah tarian yang dia akan tampilkan, Chae Rok tidak putus asa dan tetap memberi Kakek semangat. Chae Rok meminta Kakek memercayai dan mengikuti arahannya.

Kakek Shim pun berhasil terbang di atas panggung itu, sekali saja seumur hidupnya, sebelum penyakit Alzheimer-nya memburuk dan dia berhenti belajar balet karena Chae Rok merantau ke luar negeri.

Drama ini luar biasa sampai akhir. Perpisahan Kakek Shim dan Chae Rok di bandara sungguh mengharukan, seperti melihat seorang kakek melepas pergi cucu kandungnya.

Pertemuan mereka kembali tiga tahun kemudian pun sungguh luar biasa. Berdiri berseberangan dengan dibatasi oleh palang kereta api, Kakek Shim yang sudah kehilangan banyak ingatannya ternyata dapat mengenali Chae Rok yang dalam perjalanan ke rumah Kakek Shim.

Kakek Shim pun bertanya pada Chae Rok apakah dia sudah berhasil terbang. Setelah Chae Rok mengangguk dan tersenyum, drama ini pun ditutup dengan manis.

Status Kakek Shim dan Chae Rok berubah dari guru dan murid, menjadi manajer dan talent-nya, menjad teman, dan pada akhirnya menjadi keluarga. Chae Rok dan keluarga besar Kakek Shim saling menyayangi dan itu terpancar jelas di layar.

Kalau boleh saya memberikan skor, drama Korea “Navillera” mendapatkan skor 10 dari 10.

Saya belum pernah menemukan drama Korea dengan premis menarik, alur padat dan tepat, tokoh-tokoh yang menimbulkan simpati, dan ending yang memuaskan dan masuk akal bagi semua karakter yang terlibat. Belum pernah, sampai saya menonton “Navillera”.

Drakor ini sangat tepat untuk kamu pecinta genre slice-of-life, tema keluarga, dan upaya mengejar cita-cita. Selamat menontonnya di Netflix!

4 thoughts on “Review Drama Korea: Navillera

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s