Dapat B-

Nilai ujian internasional piano Grade 3 yang diselenggarakan oleh ABRSM dan yang saya ikuti bulan lalu sudah keluar. Dan hasilnya buruk.

Ada tiga tingkat sebelum seorang peserta dinyatakan gagal, yaitu: Distinction, Merit, dan Pass.

Untuk mendapat predikat Distinction, saya harus mendapatkan nilai total 130 untuk permainan empat buah lagu dan penilaian penampilan secara keseluruhan (kesopanan pakaian, keluwesan perkenalan, dan sebagainya).

Untuk mendapat predikat Merit, saya harus mendapatkan nilai total 120 untuk aspek-aspek yang telah saya sebutkan di atas.

Nah, sekarang tebak berapa nilai total yang saya dapatkan, Saudara-saudara.

118. Ya, 118 saja dan saya berakhir mendapatkan predikat Pass. Saya cuma perlu sedikit sundulan untuk masuk ke kategori Merit, tapi itu tidak mungkin kecuali saya mengulang ujian Grade 3 tersebut.

Nilai total 118 sukses membuat guru piano saya menitikkan air mata saking kecewanya.

Apakah saya tidak kecewa? Tentu saja saya kecewa berat. Saya sangat kecewa dengan diri saya sendiri.

Saya sudah mempersiapkan keempat lagu selama hampir 1 tahun. Saya tidak pernah main-main ketika berlatih. Namun, apa daya, pada saat pelaksanaan ujian ada hal-hal yang membuat saya tidak bisa bermain dengan sempurna seperti yang saya bayangkan dan harapkan.

Jika nilai 130 itu A di bangku kuliah, maka nilai 120 itu adalah B. Oleh karena itu, saya hanya mendapat B-, kata guru saya.

Saya hanya mengangguk-angguk waktu membaca chat darinya. Saya menduga Miss menghubungi saya lewat chat karena dia masih merasa sedih dan emosional. Biasanya dia menghubungi lewat telepon untuk memberitahu nilai-nilai ujian si Kakak, tapi kali itu tidak.

Saya sangat kecewa, tapi mau bagaimana lagi? Waktu tidak dapat diputar ulang. Nasi sudah menjadi nasi uduk. Saya mau menangis dan menyesali setengah mati sampai jungkir-balik juga tidak akan mengubah nilai yang saya peroleh.

Ujian ulang? Ya …, mungkin saja kalau uang bisa dipetik dari pohon ibarat daun, hehehe.

Biaya ujian internasional oleh ABRSM untuk piano dan alat musik lain selalu memakai kurs USD.  Terbayang ‘kan bagaimana tinggi biayanya ketika 1 USD setara dengan Rp 15.000,00 seperti akhir-akhir ini?

Saya pikir akan ada diskon biaya ujian di masa pandemi ini, dimana penguji dari London, Inggris tidak harus datang untuk menilai langsung peserta ujian. Ternyata saya salah. Dengan diskon early bird sebesar 15% pun, biaya ujian sama saja dengan sebelum pandemi.

Harga segitu tidak seharusnya saya bayar lagi untuk ujian di level yang sama, Grade 3. Lebih baik saya memakai uangnya untuk ujian di level berikutnya, yaitu Grade 5 yang saya targetkan ambil paling cepat 2 tahun lagi.

Yah, semoga semuanya lancar supaya rencana saya itu dapat terwujud.

Setelah selesai ujian praktek piano sampai Grade 5, saya perlu ngebut mengambil kelas teori piano dari Grade 1 sampai dengan Grade 5 sebelum saya dinyatakan memiliki kualifikasi cukup untuk mulai mengajar piano di sekolah musik milik guru piano saya.

Kenapa sih saya ngotot banget ingin belajar piano di usia yang tidak lagi muda (hampir 40 tahun)?

Awalnya supaya saya bisa mengajari anak-anak saya. Lama kelamaan mimpi itu berkembang menjadi: saya juga ingin bisa mengajari anak-anak orang lain.

Pada intinya saya suka sekali mengajar. Saya tidak tenang jika memiliki ilmu yang tidak disalurkan kepada orang lain. Selama saya bisa membagikannya agar bermanfaat bagi orang lain, saya akan melakukannya.

Saya mulai belajar piano dari nol pada usia 36 tahun. Itu 3 tahun lalu dalam keadaan mengandung anak ketiga dan merasa lelah sepanjang waktu.

Piano dan musik memberikan penghiburan dan tujuan ketika hari-hari yang dijalani terasa terlalu melelahkan. Jika piano dan musik bisa memberikan berkat dalam hal kemampuan berbagi ilmu dan kemungkinan penghasilan di masa depan, maka untuk apa saya menahan diri dari belajar giat sejak sekarang supaya saya cepat bisa?

Tentang saya yang ketinggalan jauh dibandingkan banyak orang yang mulai jauh lebih awal (seperti anak saya), itu saya sadari betul.

Waktu saya untuk berlatih piano tidak tentu. Ada skala prioritas dan belajar piano menduduki prioritas keempat. Ada prioritas satu sampai tiga yang lebih penting. Ada hal-hal yang harus dipastikan beres dulu sebelum saya bisa duduk tenang di depan piano dan berlatih PR demi PR.

Sering kali kesempatan untuk berlatih piano baru hadir menjelang tengah malam. Untungnya rumah kami terletak di jalan kompleks yang sepi dan tembok rumah kami tebal. Lagipula saya menghindari menggunakan pedal dan berusaha memencet tuts sepelan mungkin supaya tetangga kanan-kiri rumah tidak protes.

Lebih sering lagi saya baru punya waktu untuk berlatih PR pada hari saya seharusnya les. Kalau kejadiannya begitu, sudah pasti saya harus mengulang PR. Ya, saya terima saja, wong saya memang salah karena tidak atau kurang berlatih.

Waktu saya pasrah mendapat nilai B-, guru saya sempat keheranan karena dia tahu saya orang yang ambisius dan perfeksionis. Jadi, kok saya bisa kelihatan tenang-tenang saja mendapatkan nilai buruk padahal sudah berusaha keras.

Tentang karakter saya yang ambisius dan perfeksionis, hmm, tidak sepenuhnya tepat sih. Iya, saya memiliki ambisi, target, keinginan. Saya juga selalu berusaha mencapai kesempurnaan dalam segala hal yang saya kerjakan.

Akan tetapi, over the years saya belajar untuk lebih sabar. Sabar terhadap diri sendiri, sabar terhadap hal-hal di luar diri saya yang tidak dapat atau mustahil saya kendalikan.

Jadi, kalau ambisi tidak terpenuhi dan keadaan perfect itu tidak tercapai, saya tidak mau berlama-lama merenungi, meratapi, dan menyesali. ‘Kan nasi sudah menjadi nasi kuning, eh nasi uduk. Lebih baik move on, melanjutkan hidup, dan fokus ke tujuan berikutnya.

Itulah yang guru saya herankan dari saya, mengapa saya tidak terlihat terlalu sedih.

Saya sedih, kok. Sampai sekarang saya sedih karena tidak bisa mendapat predikat minimal Merit. But again, lebih baik move on ke hal berikut. Lebih baik berusaha lebih keras supaya pada ujian Grade 5 saya tidak mendapat predikat Pass (atau setara dengan nilai B- lagi).

Saya tahu kesedihan guru saya terutama karena hasil ujian akan menentukan reputasi sekolah musiknya di mata ABRSM sebagai penyelenggara ujian internasional. Oleh karena itu, tak lupa saya minta maaf karena nilai saya yang buruk sudah mencoreng sederet prestasi yang selama ini ditorehkan oleh murid-muridnya yang lain.

Saya tahu persis mengapa saya tidak bisa sempurna memainkan empat buah lagu sewaktu ujian. Waktu ujian online saya berada di rumah dengan dua orang anak yang sedang PJJ dan satu orang balita yang beredar di sekitar tripod kamera dan microphone.

Fokus saya terpecah antara menjaga suara-suara yang tak perlu supaya tidak masuk ke dalam rekaman, antara meminta anak-anak supaya tidak hilir-mudik dan mengganggu konsentrasi saya, dan antara memainkan lagu dengan mengandalkan 70% muscle memory dan 30% pembacaan partitur.

Seminggu sebelum ujian saya sedang sibuk mempersiapkan proposal untuk bidding sebuah proyek konstruksi. Pilihannya hanya ada dua: berfokus pada pekerjaan furnitur di masa sekarang atau ujian piano untuk potensi pekerjaan di masa depan.

Pilihan yang saya ambil logis dan tepat. Ketika itu tentu saja saya lebih mementingkan ikut bidding yang merupakan potensi penghasilan daripada ujian piano yang merupakan tabungan pengetahuan dan keterampilan (meskipun saya sudah menghabiskan berbulan-bulan mempersiapkan diri untuk ujian itu).

Rasanya seperti menyalahkan lantai yang terjungkit padahal saya yang tidak bisa menari ketika saya mengungkapkan hal-hal yang membuat saya mendapat nilai ujian yang buruk. Namun, saya perlu menuliskannya di sini supaya saya tidak mengulangi kesalahan dan kelalaian yang sama pada ujia Grade 5 mendatang.

Semoga saja.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s