Balas Satu-Satu

Sejak ada internet, pengucapan selamat tidak lagi menjadi hal yang personal. Dulu, atau setidaknya untuk saya di tahun 90-an, kita bersusah payah memilih kartu ucapan terbaik, pergi ke kantor pos untuk mengirimkan kartu, dan berharap-harap cemas kartu itu tidak nyasar ke alamat lain.

Begitu penggunaan telepon genggam marak pada awal tahun 2000-an, ucapan selamat mulai disampaikan lewat SMS dan MMS. Tulisan tangan pada kartu bersalin rupa menjadi rangkaian karakter yang disusun sedemikian rupa sehingga menyerupai sebuah ilustrasi.

Saya masih ingat betul ilustrasi sederhana kue ulang tahun, pohon Natal, dan ketupat Lebaran yang dibentuk oleh rangkaian huruf, angka, dan tanda baca. Luar biasa; kreativitas manusia memang hanya dibatasi oleh langit.

Akan tetapi, seiring dengan meningkatnya pengiriman ucapan selamat melalui gawai, semakin berkurang pula minat orang mengucapkan selamat melalui kartu. Dulu keluarga saya mengalokasikan dana khusus untuk pengiriman kartu ucapan dua kali dalam setahun. Begitu ada SMS/MMS, ada pilihan untuk mem-blast saja ucapan selamat itu dengan menambahkan nama keluarga, seperti yang dilakukan oleh orang lain.

Apakah lebih mudah, lebih praktis, dan lebih berkesan?

Tidak sama sekali, menurut keluarga saya. Meskipun tren ini telah dimulai, keluarga saya tetap memilih mengirimkan kartu ucapan kepada keluarga dan handai taulan. Ketika kartu ucapan semakin jarang dijual, mereka beralih ke telepon untuk menyampaikan ucapan selamat. Rasanya lebih personal, apalagi biaya panggilan telepon semakin lama semakin terjangkau.

Sedari dulu saya tidak begitu menyukai mengirimkan kartu ucapan yang tidak jelas siapa pembuatnya dan bisa beredar secara massal.

Dari si A saya menerima SMS ucapan selamat ulang tahun berupa kue dengan bentuk Z. Dari si B yang sama sekali tidak mengenal si A saya bisa menerima SMS ucapan dengan bentuk yang sama persis. Dari si C juga begitu, tapi si D mengirimkan bentuk kue yang berbeda. Eh begitu SMS dari si J datang, kue berbentuk Z terulang lagi.

Di mana sisi personalnya?

Menurut pengamatan saya, trennya semakin lama semakin parah. Orang-orang hanya perlu membuat image (atau mengambil image milik orang lain, tergantung kesadaran dan hati nurani setiap orang)yang kemudian di-blast di semua platform media sosial dan grup-grup Whatsapp.

Semakin sedikit orang yang memedulikan siapa pembuat dan pemilik hak cipta image itu.

Semakin sedikit orang yang memedulikan apakah ucapan selamat mereka akan disambut oleh orang lain.

Pokoknya bikin image (tambahkan foto dan nama keluarga kalau mau/perlu), sebar, dan tugas pun selesai.

Menyedihkan.

Apakah di masa depan kita cukup menyampaikan ucapan selamat lewat telepati karena kita berasumsi semua orang akan mengerti bahwa ini hari raya dan kita pasti menyelamati orang lain pada hari itu?

Ini pertanyaan yang jangan-jangan dijawab “ya” oleh sebagian besar orang.

Lain ucapan untuk menyelamati hari raya, lain ucapan untuk menyelamati hari ulang tahun.

Tren akhir-akhir ini adalah jika ada ucapan selamat ulang tahun di media sosial, yang berulang tahun merasa tidak wajib membalas dengan ucapan terima kasih. Cukup dengan memberikan tanda “like” atau thumb up, maka kewajiban untuk berterima kasih itu pun sudah ditunaikan.

Yang lucu adalah ketika jumlah orang yang mengucapkan selamat ulang tahun bisa dihitung dengan jari, tapi yang berulang tahun merasa cukup dengan menulis status: “Terima kasih atas ucapannya, maaf tidak bisa membalas satu per satu.”

Duh, saya langsung puyeng kalau melihat status semacam ini. Mengapa?

Mereka yang mengucapkan selamat ulang tahun di media sosial sudah meluangkan waktunya untuk kamu.

Waktu yang sangat berharga untuk setiap orang sudah diberikan untuk memberikanmu ucapan selamat ulang tahun. Hargailah. Balas secara personal. Jalin komunikasi yang tulus dari hatimu.

Iya, kadang percakapan jadi garing, segaring “Apa kabarmu?” yang dijawab dengan “Baik.” dan kemudian pembicaraan terhenti begitu saja karena tidak ada lagi yang bisa diobrolkan untuk membuatnya berlanjut.

Akan tetapi, semua ucapan selamat mesti dibalas, wajib direspon dengan ucapan terima kasih. Mereka yang mengucapkan selamat mungkin sudah lama tidak akrab denganmu, sudah lama tidak kontak, dan sejuta alasan lain, tapi mereka hadir pada hari ulang tahunmu untuk mengucapkan selamat.

Semoga Tuhan memberkati. Semoga selalu sehat dan bahagia.

Masakan tidak bisa membalasnya dengan dua kata sederhana seperti “terima kasih”?

Tidak ada waktu? Sediakan waktu, dong. Ulang tahunmu hanya satu tahun sekali kok, mengapa kamu begitu malas dan enggan membalas kebaikan hati dan perhatian dari orang lain yang sudah bersedia memberikan sebagian waktunya untuk kamu?

Demikian pula dengan ucapan turut berbelasungkawa. Balaslah satu per satu. Upayakan mengucapkan terima kasih langsung kepada mereka yang sudah memberi perhatian yang tulus.

Tidak mudah lho mengucapkan belasungkawa. Di tengah dukacita dan kondisi tidak mengenakkan lainnya, kebanyakan orang akan menghindar sampai situasi kembali normal.

Mereka yang menyempatkan diri hadir di media sosialmu untuk mengucapkan belasungkawa adalah orang-orang baik. Jadilah orang baik juga dengan cara membalas ucapan tersebut dengan ucapan terima kasih.

Keluarga dan teman-teman terdekat yang tahu betul prinsip saya sejak beberapa tahun terakhir mengucapkan selamat ulang tahun dan hari raya lewat direct message. Mereka tidak lagi menulis pesan yang dipampang di wall media sosial dan bisa dibaca oleh publik.

Saya pun melakukan hal yang sama untuk mereka. Meskipun teknologi semakin maju, jangan sampai kita kehilangan sentuhan personal dengan orang lain. Sentuhan personal adalah satu dari sedikit hal yang kita bisa pertahankan di tengah jaman serba instan dan dangkal ini.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s