Diagram Venn

Pernah dengar tentang Diagram Venn?

Diagram Venn adalah diagram yang dipakai untuk menunjukkan hubungan logis di antara beberapa kelompok. Diagram ini dipopulerkan oleh John Venn pada tahun 1880 dan digunakan untuk: 1) mengajarkan teori dasar kelompok, dan 2) menggambarkan hubungan sederhana antara kelompok-kelompok dalam teori probabilitas, logika, statistika, linguistik, dan ilmu komputer.

Bagaimana? Masih terdengar rumit?

Intinya hanya satu sih, Diagram Venn digunakan untuk menunjukkan persamaan dan perbedaan di antara beberapa entitas atau kelompok.

Bagian yang sama disebut irisan, dan persamaan itulah yang membentuk Diagram Venn. Bagian dari lingkaran (iya, Diagram Venn menggunakan ilustrasi berupa lingkaran) yang bukan irisan antarentitas disebut sebagai perbedaan.

Ilustrasi sederhananya ada pada awal tulisan ini.

Ada dua entitas (atau dua orang dalam kasus ini) yang dinamai Rijo dan Kak Dwi. Diagram Venn terbentuk karena kedua entitas ini saling beririsan.

Pada diagram tersebut terlihat bahwa irisan di antara Rijo dan Kak Dwi sangatlah besar, yang berarti kedua entitas ini memiliki banyak sekali persamaan di antara keduanya. Bagian yang bukan bagian dari irisan sangatlah kecil, yang berarti Rijo dan Kak Dwi bisa dibilang memiliki sedikit perbedaan.

Dari Diagram Venn kedua orang ini kita beralih ke teori sosial yang disebut six degrees of separation.

Six degrees of separation adalah sebuah pemikiran bahwa setiap orang di dunia ini terpisah oleh orang lain sebanyak rata-rata enam, atau lebih sedikit dari enam, hubungan sosial.

Contoh sederhananya adalah sebagai berikut:

Dari diagram di atas kita melihat bahwa Ryan terpisah sebanyak enam langkah dari Arnold. Ada lima orang di antara Ryan dan Arnold yang membuat mereka berdua tidak langsung berkenalan. Untuk bisa berkenalan, langkah-langkah perkenalan yang harus Ryan ambil adalah sebagai berikut:

Ryan mengenal Rajat (1), Rajat mengenal Debbie (2), Debbie mengenal Larry (3), Larry mengenal Emily (4), Emily mengenal Rebecca (5), dan terakhir Rebecca mengenal Arnold (6, thus came the name of “six degrees separation”. Arnold is the sixth person whom Ryan “knows”).

Tentu saja ada jalan lebih memutar untuk membuat Ryan dan Arnold berkenalan, misalnya jalur yang membutuhkan sembilan orang perantara sebagai berikut:

Ryan mengenal Rajat (1), Rajat mengenal Doug (2), Doug mengenal Debbie (3), Debbie mengenal Larry (4), Larry mengenal Francis (5), Francis mengenal Gary (6), Gary mengenal Emily (7), Emily mengenal Richard (8), Richard mengenal Rebecca (9), dan terakhir Rebecca mengenal Arnold (10).

Akan tetapi, yang ingin dicapai oleh teori sosial six degrees of separation sejak ia diperkenalkan adalah kesadaran bahwa kita semua ini terhubung, lho. Dengan kesadaran itu tentu six degrees lebih menarik dibandingkan ten degrees of separation.

Tidak ada orang yang benar-benar independen, memiliki identitas yang tidak diketahui oleh siapa pun selain dirinya sendiri.

Memangnya hal itu mungkin?

Ibaratnya seseorang terlahir di dunia ini tanpa keluarga dan saudara, dan tidak mengenal siapa-siapa. Six degrees of separation yang dia capai adalah akumulasi dari perjalanan hidup bertahun-tahun.

Ini berbeda dengan manusia lain yang lahir di tengah dan memiliki persamaan dengan keluarga, sanak saudara, handai taulan, dengan semua jenis relasinya, baik berupa hubungan darah ataupun hubungan sosial lainnya.

Apakah Diagram Venn dapat muncul di jejaring yang menunjukkan six degrees of separation? Ya, tentu saja Diagram Venn pasti akan hadir di antara simpul-simpul di dalam jejaring.

Kita akan memakai contoh jaringan pertemanan di atas.

Ryan dan Rajat pasti memiliki persamaan di antara mereka, misalnya: mereka sama-sama pria, nama mereka sama-sama berawalan R, mereka bersekolah di tempat yang sama, dan seterusnya. Ada Diagram Venn yang dapat dibuat dengan Ryan dan Rajat sebagai entitasnya.

Ryan juga dapat memiliki persamaan dengan orang-orang lain yang menghubungkannya dengan Arnold. Ada kemungkinan Diagram Venn tercipta di antara Ryan dan orang lain yang juga mengenal Arnold. “Mengenal Arnold” akan menjadi irisan dalam Diagram Venn itu.

Atau Ryan dan Arnold memiliki beberapa persamaan sendiri dan ini diwakili oleh irisan pada Diagram Venn yang dibentuk dari dua entitas: Ryan dan Arnold. Contohnya: nama kedua orang ini sama-sama memiliki huruf A, R, dan N; mereka sama-sama tidak mengenal baik Emily yang menjadi penghubung koneksi sosial di antara mereka, dan seterusnya.

Sebenarnya, apa yang membuat teori six degrees of separation menarik?

Perlu diketahui bahwa konsep six degrees of separation pertama kali diperkenalkan melalui cerita pendek yang ditulis oleh Frigyes Karinthy pada tahun 1929. Tahun 1929, bok, boro-boro terpikir soal internet dan konektivitas dunia, ya.

Cerita pendek ini berkisah tentang sekelompok orang yang bermain sebuah game untuk menghubungkan diri mereka dengan siapa saja di dunia melalui lima orang perantara. Jadi, misalnya saya dan seorang random di Afrika sana yang tidak saya kenal secara langsung, bisa saja somehow saling mengenal melalui paling banyak lima orang.

Teori ini kemudian dipopulerkan oleh drama yang ditulis oleh John Guare pada tahun 1990 yang berjudul “Six Degrees of Separation”. Akan tetapi, jauh sebelum itu Frigyes Karinthy memercayai bahwa dunia modern sedang “menyusut” akibat keterhubungan antarmanusia.

Teknologi pada masa itu belum secanggih sekarang, tapi ada harapan karena penemuan-penemuan baru terus bermunculan. Karinthy percaya bahwa kemajuan teknologi dalam bidang komunikasi dan perjalanan akan membuat jejaring manusia memadat dan jarak sosial sebenarnya lebih kecil daripada jarak fisik.

Saya pertama kali mendengar tentang teori six degrees of separation pada tahun 2003 ketika sedang bersekolah di Tokyo, Jepang. Tak disangka, beberapa bulan kemudian saya mengalami sendiri aplikasi dari teori ini ketika sedang berlibur ke Seoul, Korea.

Di Seoul saya menginap di Hostel YMCA yang memiliki common kitchen. Di sana saya mengobrol dengan seorang pria yang dalam perjalanan ke Tokyo untuk mengunjungi temannya, dan memutuskan untuk mampir dulu ke Seoul untuk berjalan-jalan.

Setelah mengobrol ngalor-ngidul baru ketahuan bahwa teman yang pria itu hendak kunjungi adalah teman yang bersama saya menyanyi di paduan suara gereja (cerita selengkapnya di sini). Dunia ini memang selebar daun kelor, Saudara-saudara, dan dari situlah kami berdiskusi panjang-lebar tentang teori six degrees of separation.

Sebab seberapa besar sih kemungkinannya seorang pria random dari Amerika Serikat, dengan ras African-American, bisa mengenal orang yang sama dengan saya, seorang pelajar dari Indonesia? Usia kami ketika itu memang tidak terpaut jauh, tapi kemungkinan kami bisa berkenalan itu kecil sekali.

Kalau tidak gara-gara hostel yang saya book tutup tanpa keterangan pada hari saya mendarat di Seoul, kalau tidak gara-gara pak polisi setempat yang tidak bisa berbahasa Inggris tapi dengan baik hati memanggilkan dan membayar taksi untuk saya tiba di Hostel YMCA, saya tidak mungkin tersasar di dapur hotel itu dan bercakap-cakap dengan orang itu.

Sungguh, dunia ini kecil sekali sebenarnya dan saya hanya bisa mengangguk-angguk bersama teori six degrees of separation.

Kembali ke saya (Rijo) dan Kak Dwi.

Diagram Venn dan six degrees of separation sangat bisa diaplikasikan pada koneksi sosial di antara kami berdua.

Yang pertama, Diagram Venn. Ada terlalu banyak persamaan yang menjadi irisan di antara kami berdua dan terlalu panjang untuk didaftarkan satu per satu.

  1. Kami memiliki nama keluarga yang sama.
  2. Kami sama-sama berambut pendek.
  3. Kami sama-sama berkacamata.
  4. Kami sama-sama mengenakan jam di tangan kanan.
  5. Kami sama-sama menyukai warna hitam.
  6. Kami lulus dari universitas yang sama.
  7. Kami mengenal orang yang sama (kakak sepupu saya adalah teman kosnya dulu).
  8. Kami sama-sama suka membaca buku.
  9. Kalau mengobrol, nada suara kami sama-sama seperti true gossipers, hahaha.
  10. Kami sama-sama tidak suka berpikir terlalu jauh untuk rencana yang belum jelas.
  11. Suara tawa kami sama-sama renyah.
  12. Dan seterusnya …

Akan tetapi, persamaan-persamaan di antara kami tidak berhenti hanya di situ. Semakin lama mengobrol, kami semakin menyadari bahwa ternyata kami mengenal banyak sekali orang yang sama. Bahkan Kak Dwi dan saya mengetahui beberapa kejadian spesifik ketika masih kuliah yang hanya diketahui oleh sedikit orang.

Asli, bikin kaget.

Jadi, entah bagaimana waktu itu saya tiba-tiba bertanya pada Kak Dwi tentang Kakak R, kakak dari teman seangkatan saya yang hanya menempuh satu semester di ITB dan kemudian bersekolah ke Jepang. Kakak R ini seangkatan dengan Kak Dwi dan sekarang tinggal di kawasan yang sama dengan saya.

Usut punya usut, Kak Dwi pun kenal dengan adik dari Kakak R dan Kak Dwi sering main ke rumah kos di daerah Balubur yang dihuni oleh teman-temannya. Waktu mendengar tentang rumah kos di Balubur saya langsung teringat satu rumah yang saya sambangi bertahun-tahun karena sahabat saya (ketika itu) juga tinggal di sana.

Alangkah kagetnya kami waktu kami menyadari kami sedang membicarakan rumah kos yang sama. Dan orang yang saya sempat taksir (karena pendiam, cool, gitu-gitu deh) adalah sahabat Kak Dwi (ketika itu). Spontan saya berteriak via chat deh saking kagetnya.

Setelah itu kami menelusuri jaringan pertemanan kami yang ternyata banyak beririsan. Kesebelas item di atas hanya sebagian kecil dari banyak sekali persamaan di antara kami. Lama kelamaan teori six degrees of separation masuk.

Kak Dwi kenal baik dengan kakak pembimbing rohani saya ketika masih di kampus. Tidak hanya satu orang, tapi dua orang yang berasal dari dua jurusan yang berbeda, dan Kak Dwi berteman dengan keduanya.

Saya dan Kak Dwi bergabung dengan persekutuan mahasiswa yang sama. Dengan nama keluarga yang sama dan berjumlah sedikit di ITB, kami sama-sama heran mengapa mutual friends kami tidak pernah mencetuskan nama kami berdua di kesempatan yang sama.

Yang lebih lucu adalah kami berdua adalah saksi dari sebuah peristiwa yang tidak mengenakkan hati.

Alkisah waktu itu saya satu kos dengan seorang teman, sebut saja L, yang sering sekali memberi harapan palsu pada cowok-cowok yang mendekatinya. Rumah kos kami yang juga memiliki kantin kerap kali didatangi oleh pria-pria penuh harapan.

Para penghuni kos sungguh kasihan melihat pria-pria itu, tapi tante pemilik kos justru senang karena setiap kali ada yang berkunjung makanan di kantin pasti laris habis.

Mas M, sahabat Kak Dwi, adalah salah satu dari pria-pria itu. Awalnya dia yang mendekati si L dan si L jual mahal. Begitu Mas M menjauh, eh si L yang seperti cacing kepanasan dan bertanya sana-sini kenapa Mas M tidak berkunjung lagi ke rumah kos.

Pada suatu sore Mas M datang ke kantin di depan rumah kos karena sudah janjian dengan si L. Kak Dwi ingat bagaimana Mas M mengeluhkan L yang tak kunjung keluar ke kantin. Pada akhirnya Mas M pulang karena kesal sudah menunggu terlalu lama.

Surprisingly, saya berada di momen dan tempat yang sama. Waktu itu saya baru pulang kuliah dan menyapa Mas M yang sedang duduk menunggu di kantin. Saya masuk ke dalam dan memberitahu L bahwa ada yang mencarinya.

Saya kira L sedang sibuk melakukan apa sampai sengaja membiarkan orang menunggu, ternyata dia sedang asyik menonton sinetron di televisi di kamarnya. Saya dan teman-teman kos lain sampai berkali-kali mengingatkan ada yang sedang menunggunya di kantin, tapi ia bergeming.

Benar-benar akhlak yang kurang seons.

Setelah terkekeh-kekeh karena nostalgia peristiwa yang mengenaskan itu, kami mendapati semakin banyak orang yang kami sama-sama kenal. Separation di antara kami tidak sampai six degrees sebenarnya, ada terlalu banyak simpul yang menjadi perantara di dalam jejaring sosial kami berdua.

Sampai sekarang Kak Dwi dan saya masih berteman baik. Kak Dwi bahkan menjadi MC untuk acara peluncuran buku terbaru saya “The Cringe Stories” yang diadakan pada bulan Maret lalu. Dua minggu lalu kami juga membuat podcast yang penuh dengan canda tawa tentang kehidupan di Jakarta. Podcast ini bisa didengarkan di akun “Randomness Inside My Head” di Spotify.

Selain aktif di Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP), bersama 19 orang teman lain kami juga mendirikan komunitas Drakor Class yang bergerak di bidang drama Korea dan literasi. Blognya bisa dikunjungi di alamat drakorclass.com. Drakor Class juga hadir di berbagai platform media sosial.

Wah tambah banyak lagi persamaan di antara kami, ya. Irisan pada Diagram Venn tambah lama tambah membesar seperti gambar di awal tulisan ini.

One thought on “Diagram Venn

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s