Saying A Lot Without Saying Much

Baru-baru ini saya menyadari bahwa cara saya berpikir dan menuangkan hasil pemikiran ke dalam tulisan sangatlah dipengaruhi oleh para penulis dari Barat.

Bagaimana saya bisa menyadari hal itu? Ketika saya mulai membaca karya-karya para penulis dari Asia akhir-akhir ini, terutama dari Jepang dan Korea. Mau tak mau saya membandingkan gaya kepenulisan mereka, para penulis dari Barat dan dari Timur, dan bagaimana itu mempengaruhi saya.

Tumbuh dan besar saya dikelilingi oleh buku-buku dari penulis Barat. Sebut saja karya-karya Enid Blyton seperti serial detektif “Lima Sekawan”, seri cerita anak-anak perempuan di sekolah berasrama khas Malory Towers, dan sebagainya.

Akan tetapi, bacaan saya yang utama ketika kecil adalah novel-novel yang ditulis oleh para penulis berkebangsaan Jerman dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Di tempat kerja Mama saya dulu novel-novel ini melimpah ruah. Saya dan adik-adik rajin sekali ke perpustakaannya untuk meminjam judul-judul terbaru, sambil main ke kantor Mama. Petugas perpustakaannya sangat akrab dengan kami bertiga.

Serial favorit kami adalah “Detektif STOP” oleh Stefan Wolf dan “The Little Vampire” oleh Angela Sommer-Bodenburg.

“Detektif STOP” berkisah tentang petualangan empat orang remaja, Sporty, Thomas, Oskar, dan Petra, dalam memecahkan kasus-kasus yang mereka temui, seringnya tanpa sengaja. Mereka berempat tinggal di sekolah berasrama yang sama. Ketika saya beranjak remaja, demikian pula dengan keempat detektif ini sampai akhirnya Sporty berpacaran dengan Petra. Ugh.

Jika “Detektif STOP” menyerempet masalah kejahatan yang bisa kita temui sehari-hari, maka serial “The Little Vampire” adalah murni cerita fantasi persahabatan antara seorang anak manusia bernama Anton dan Rüdiger, seorang anak vampir, yang tinggal di pekuburan lokal.

Yang saya sukai dari serial “The Little Vampire” adalah petualangan yang Anton alami setiap malam bersama Rudi, Anna (adik perempuan Rudi), dan Lumpi (kakak laki-laki Rudi). Sepertinya seru sekali keluar setiap malam dan mengalami hal-hal baru, termasuk melarikan diri dari kecurigaan orang tua yang manusia dan yang vampir. Saya dan adik-adik bisa menamatkan buku-buku dari serial ini dalam sekali duduk, dan cepat-cepat bertanya kapan kami bisa ikut lagi ke kantor Mama.

Saya pernah cerita di sini bahwa saya mulai menulis cerpen di usia yang sangat muda, sekitar kelas 1 SD waktu saya masih berumur 6 tahun. Apa yang saya tulis tentunya sangat dipengaruhi oleh apa yang saya baca. Prinsip tempayan berlaku di sini. “Air” apa yang saya tampung, “air” itu jugalah yang saya alirkan keluar.

Di usia belia saya sudah menyadari bahwa para penulis dari Barat sangat kuat dalam hal attention to detail. Pendeskripsian tokoh yang mereka lakukan sangat terperinci untuk hal-hal berikut ini:

  1. Ciri fisik setiap karakternya

Saya rasa ini dianggap perlu karena orang-orang di Barat memiliki variasi yang besar dalam hal tinggi badan, perawakan, warna kulit, warna rambut, dan warna bola mata. Ini agak berbeda jika setting tempat di Asia, terutama di Asia Timur, di mana penampilan fisik orang-orangnya cenderung seragam.

Sebagai penulis, kita bisa menggunakan ciri yang khas seperti jumlah jari yang berlebih, luka di wajah, atau keberadaan tahi lalat, untuk membuat penampilan tokoh itu distinctive terhadap tokoh lain.

2. Setting tempat

Sebuah sekolah berasrama tidak hanya disebutkan sebagai sekolah dengan bangunan asrama yang menempel di dekatnya. Dalam serial “Detektif STOP” Stefan Wolf bersusah payah menjelaskan jenis asrama seperti apa yang ditinggali oleh Sporty, Thomas, dan Oskar.

Deskripsinya yang mendetail akan bentuk bangunan, warna cat dinding, pembagian ruangan, dan sebagainya, membuat saya sebagai pembaca bisa membayangkan dengan jelas tempat yang dimaksud oleh si penulis, dan merasa seolah-olah saya juga berada di sana.

3. Pergulatan internal dari karakter

Penulis dari Barat tidak segan menjelaskan secara terperinci apayang dirasakan dan/atau dipikirkan oleh setiap karakter di dalam cerita. Jadi, selain plot di dalam cerita yang merupakan interaksi antara karakter-karakter, ada juga pembicaraan/pergulatan di dalam diri sebuah karakter yang diketahui oleh penulis dan pembaca, tapi tidak diketahui oleh karakter-karakter selain karakter yang sedang kita sorot.

Hal ini berhubungan dengan jenis point of view, sudut pandang penceritaan yang biasanya digunakan oleh para penulis dari Barat.

Sudut pandang penceritaan yang biasanya saya temui adalah Point of View ketiga serba tahu. Jadi, penulis berfungsi sebagai narator yang mengetahui segala sesuatu, baik itu sikap, tindakan, perkataan yang dikeluarkan secara eksternal, maupun pemikiran dan perasaan internal dari setiap tokohnya.

Seperti yang kita ketahui bersama, PoV 3 dibagi menjadi dua: yang serbatahu dan yang berfungsi sebagai pengamat. PoV 3 pengamat contohnya berlimpah di film-film yang kita tonton. Kita menyaksikan apa yang dikeluarkan tokoh-tokohnya secara eksternal, tapi kita tidak benar-benar tahu apa yang mereka pikirkan dan rasakan sampai ada perkataan keluar dari mulut mereka. Sebagai penonton kita hanya mengamati dan menerima cerita yang berjalan di depan mata kita.

Membaca buku-buku dari penulis Barat adalah pengalaman yang menakjubkan karena ada perasaan terseret ke dalam dunia dan semesta yang mereka ciptakan secara sangat terperinci. Ini bisa dilakukan karena ada detail, ada banyak kata yang terlibat, ada banyak penggambaran tokoh, latar, peristiwa yang dipandang perlu untuk mengantar karakter ke tujuan penceritaan.

Dan ini titik perbedaan utama dengan karya tulis dari para penulis Asia.

Karya penulis Asia yang saya baca pertama kali adalah buku “Norwegian Wood” oleh Haruki Murakami pada awal tahun 2000-an, dan setelah itu saya tidak membaca lagi karyanya. Sorry, it’s just not my cup of tea.

Setelah itu saya coba membaca novel “I Am a Cat” oleh Natsume Soseki ketika saya bersekolah di Jepang. Plotnya dalam, mengobok-obok perasaan, membuat saya berpikir dan belajar, tapi tidak banyak kata yang terlibat. Hal yang muncul di benak saya ketika itu adalah:

How is it possible to say a lot without saying much?

Yang saya ingat dari buku Soseki Sensei ketika itu adalah minimnya deskripsi akan ciri fisik dan tempat yang menjadi latar belakang cerita. Hanya ada sedikit penyebutan kurun waktu karena bagaimanapun juga novel “I Am a Cat” itu adalah sebuah satir akan perbenturan kebudayaan tradisional Jepang dan kebudayaan Barat yang datang bersama era Restorasi Meiji.

Pergulatan internalnya justru terasa sangat personal karena PoV yang digunakan adalah PoV 1 dari sudut pandang si kucing, walaupun sebenarnya dia bertindak sebagai pengamat yang tidak mengetahui pikiran/perasaan dari karakter lain selama itu tidak bersinggungan dengannya.

Saya tidak membaca lagi karya-karya dari penulis Asia sampai awal tahun ini saya memulai dengan “Rainbirds” oleh Clarissa Goenawan, seorang Indonesia yang sudah lama menetap di Singapura. Kesan pertama setelah membaca sekitar sepuluh halaman buku ini adalah: this book is so Haruki Murakami.

Kemiripan gaya bahasa, cara bertutur, dan jalinan plot dalam buku ini tak dapat dipungkiri terinspirasi (?) oleh karya-karya Murakami Sensei yang lebih senior. Kesamaan yang saya perhatikan juga adalah soal minimnya kata-kata untuk menggambarkan sesuatu.

Saya akan membahas buku “Rainbirds” bulan depan dalam rangkaian podcast “Parade Penulis Asia” yang bisa kamu dengarkan di akun “Randomness Inside My Head” di platform Spotify. Yang saya ingin soroti di sini adalah kesamaran banyak fakta karena tidak banyak kata yang dipakai untuk menggambarkan sesuatu.

Sebut saja karakter utama, Ren Ishida, yang sampai akhir cerita tidak dijelaskan apa yang membuat dia tampil berbeda dari pria Jepang pada umumnya. Bahwa dia tampan, itu sudah disebutkan. Akan tetapi, tampan dalam sense seperti apa? Apakah hidungnya bangir? Apakah alisnya hitam seperti semut beriring? Atau apa?

Tidak banyak hal yang dapat kita ketahui dari karakter Ren, tapi ada banyak hal kita dapat ketahui dari karakter lain yang tak kalah penting: seorang gadis remaja bertangan indah, murid Ren di tempat bimbingan belajar, yang gemar mengisap rokok Seven Stars. Entah ada apa dengan merk rokok ini sampai muncul juga di novel karya Keigo Higashino.

Anyway, ciri fisik karakter mungkin tidak disebutkan secara detail di depan seperti pada buku karya penulis Barat. Akan tetapi, begitu disebutkan dia langsung hadir sebagai sebuah fakta yang menohok dan tidak mudah dilupakan oleh pembaca.

Rambut panjang, sepasang tangan yang indah, rokok Seven Stars, misalnya.

Ada banyak perbedaan lain yang saya amati dari karya penulis dari Barat dan dari Asia. Sebagai seorang penulis yang berkiblat ke Barat, saya mendeskripsikan segala sesuatu dengan mendetail, entah itu ciri fisik karakter, pikiran/perasaan karakter, latar tempat, latar waktu, dan lain sebagainya.

Ini seperti pedang bermata dua sebenarnya karena antara membawa pembaca ke dalam semesta yang saya ciptakan dan membuat cerita terseret-seret (dragging) karena berfokus pada hal-hal lain yang tidak membuat plot cerita bergerak.

Hmmm … saya masih harus banyak belajar. Untuk sekarang saya akan banyak membaca buku-buku karya para penulis dari Asia untuk menyeimbangkan “pendidikan” saya dan pengalaman saya dengan buku-buku dari berbagai latar belakang penulisnya.

Saying a lot without saying much.

Itu yang saya kagumi dari buku-buku para penulis Asia yang saya baca sampai sejauh ini, dan itu yang saya ingin pelajari lebih lanjut dan lebih mendalam.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s