Menjadi Penulis Lebih Baik dengan Buku Terbitan GPU

Profesi penulis adalah sebuah profesi yang menuntut kerja secara soliter. Ia tidak membutuhkan pergerakan fisik yang kontinu dan melimpah. Ia tidak memerlukan rekan kerja yang senantiasa hadir.

Titik berat kegiatannya terletak di dalam pikiran dan batin yang berjalan beriringan demi menciptakan semesta, menghubungkan peristiwa, dan menjalin cerita. Pengamatan, riset, dan diskusi memang sewaktu-waktu diperlukan, tetapi semua kesibukan berpusat di dalam kepala dan hati.

Seorang penulis itu ibarat sebuah tempayan dari tanah liat. Memiliki sebuah bentuk tertentu dan diisi dengan air. Ia menampung air untuk kemudian mengalirkan air tersebut ke dalam wadah-wadah lain.

Air yang saya maksud di sini adalah kefasihan untuk bercerita, untuk menjalin kisah. Mustahil seorang penulis dapat bercerita jika ia tidak mendengar atau membaca dulu cerita dari sumber lain.

Ibarat tempayan tadi, bagaimana mungkin mengalirkan air kalau sendirinya tidak berisi air?

Apa yang kita terima, itu yang kita miliki. Apa yang kita miliki, itu yang kita berikan. Itulah sebuah keniscayaan. Itulah sebuah kebenaran yang berlaku untuk kepemilikan ilmu pengetahuan, harta benda, ilmu bercerita, dan lain sebagainya.

Sebagai seorang penulis, saya perlu banyak membaca karya sesama penulis. Saya perlu melihat sudut pandang dari pemikiran orang lain. Bukan untuk meniru mentah-mentah, tapi untuk belajar. Oleh karena semakin banyak belajar, saya semakin menyadari bahwa saya tidak mengetahui banyak hal.

Ibarat tempayan tadi, apa yang saya baca adalah air yang memenuhi wadah pengetahuan dan keterampilan saya. Apa yang saya alirkan kembali keluar adalah air yang unik milik saya, untaian cerita yang khas karena lahir dari kontemplasi pribadi saya.

Jumlah air yang masuk dan keluar harus berimbang supaya saya sebagai tempayan tidak kepenuhan dan malah pecah akibat tekanan air yang terlalu besar. Membaca banyak berarti menulis banyak. Mengamati banyak cerita berarti mampu menuangkan banyak kisah dengan kata-kata saya sendiri.

Saya menekuni profesi sebagai penulis sejak lima tahun terakhir di tengah kesibukan sebagai seorang istri, ibu rumah tangga, dan pekerja. Menjadi seorang penulis adalah sebuah pilihan yang wajar mengingat saya dibesarkan oleh orang tua yang berprofesi sebagai pendidik dan pecinta buku.

Menulis adalah hobi yang saya seriusi sehingga menjadi profesi. Ambisi saya adalah mengubah passion untuk menulis menjadi skill, dan skill menjadi mastery. Dari menulis sebagai curahan hati menjadi menulis untuk membawa manfaat bagi orang lain. Itu tujuan akhirnya.

Bagi saya, natur dari profesi penulis tidak ada bedanya sebelum dan sesudah pandemi. Sama-sama bergulat dalam kesendirian, dalam perenungan yang mendalam yang pada akhirnya membawa kepada sebuah kesimpulan.

Awalnya saya kira demikian, tapi waktu menunjukkan ternyata saya salah dalam beberapa hal.

Sebelum pandemi, hidup bergerak dengan sedemikian cepat. Tanggung jawab dan tuntutan di rumah dan tempat kerja, mengurus keluarga, dan membesarkan anak-anak membuat saya sebisa mungkin menulis setiap hari, meskipun malas atau sedang tidak mood, meskipun hanya beberapa jam saja.

Setelah pandemi merebak, waktu tiba-tiba berjalan sangat lambat. Saya tahu ini hanya perasaan saya saja; tetap ada 24 jam dalam satu hari, 7 hari dalam 1 minggu, 12 bulan dalam 1 tahun, dan seterusnya. Tidak ada yang berubah.

Akan tetapi, mobilitas yang dihentikan dengan tiba-tiba, dan dalam banyak kasus di luar kehendak saya seperti penutupan sekolah, membuat jalannya waktu menjadi lebih terasa. Setiap detik berjalan tertatih-tatih dan diri saya terpengaruh olehnya.

Memang benar kata orang, waktu terasa cepat berjalan jika kita memiliki banyak kesibukan. Jika kesibukan atau aktivitas tidak banyak, maka perputaran jarum jam terasa seperti berabad-abad.

Ini adalah hal utama yang saya rasakan begitu pandemi membuat kebanyakan dari kita berdiam di rumah. Waktu yang tadinya saya gunakan untuk berpindah tempat, berada di jalan, tiba-tiba hadir dengan sangat melimpah di dalam genggaman saya, menunggu untuk digunakan.

Hal pertama yang saya lakukan dengan keberlimpahan waktu itu adalah menggunakannya untuk membaca sebanyak-banyaknya buku. Sejak bulan Juli tahun lalu saya berlangganan Gramedia Digital dan rajin mengunjungi akun Gramedia di media sosial dan marketplace untuk mendapatkan informasi buku-buku terbaru.

Setelah bertahun-tahun mengalirkan air, saya adalah tempayan yang perlu diisi lagi. Saya perlu membaca buku-buku karya orang lain, terutama karya fiksi. Perbendaharaan saya untuk berkisah sudah mulai menipis karena jumlah buku yang saya baca setiap tahun dapat dihitung dengan jari.

Membaca buku dengan tenang dan tanpa gangguan adalah sebuah kemewahan untuk seorang wanita dengan multiperan seperti saya. Sering kali saya baru duduk dan melahap beberapa halaman, dan waktu untuk beredar kembali menyergap.

Begitu semua anggota keluarga terpaksa berdiam di rumah dan tidak ada lagi perjalanan wara-wiri untuk mengantar-jemput siapa pun, saya memiliki keleluasaan untuk membaca lebih banyak. Saya juga tidak bisa berkilah lagi bahwa saya tidak membaca karena tidak punya waktu.

Berbelas-belas judul buku fiksi oleh penulis dari berbagai bangsa telah saya baca dalam setahun terakhir. Saya memang kurang tertarik dengan buku nonfiksi karena hidup ini sudah sulit. Rasanya seperti meditasi jika bisa kabur sejenak ke semesta yang diciptakan orang lain dalam karya fiksinya.

Dari belasan judul itu ada empat buku yang sangat berkesan buat saya, yang saya baca berulang kali beberapa bagian di dalamnya sebagai ikhtiar saya dalam belajar. Empat buku tersebut adalah air yang masuk ke dalam diri saya sebagai pelajaran supaya saya bisa meningkatkan kompetensi diri sebagai penulis.

Keempat buku tersebut ditulis oleh dua orang penulis yang namanya sudah saya dengar bertahun-tahun. Sebelum pandemi saya tidak membaca keempat buku ini karena saya terpengaruh oleh rekomendasi dari teman-teman saya.

Dua judul pertama adalah novel karya Clarissa Goenawan yang diterbitkan pada tahun 2018 dan tahun 2020 oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU).

Teman-teman saya tidak merekomendasikan “Rainbirds” (GPU, 2018) karena ending-nya begitulah. Lucunya, mereka juga tidak merekomendasikan bukunya yang kedua yang berjudul “The Perfect World of Miwako Sumida” (GPU, 2020), walaupun ending-nya begitulah.

Dari pendapat personal mereka, saya menangkap kesan bahwa ada sesuatu di dalam kedua novel ini yang membuat mereka berpendapat begitu keras. Akan tetapi, nama penerbitnya yaitu Gramedia Pustaka Utama (GPU) yang sudah berkiprah di dunia penerbitan sejak tahun 1974 membuat saya percaya ada jaminan kualitas di dalam buku-buku yang mereka terbitkan.

Logo Penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU)

Semakin saya diberi tahu untuk tidak membuang-buang waktu dan membaca buku lain saja, semakin saya penasaran dan akhirnya menamatkan membaca kedua buku karangan Clarissa Goenawan tersebut dalam dua hari saja.

Saya terus mengingatkan diri sendiri: membaca adalah sebuah pengalaman personal. Penilaian kita akan sebuah karya akan sangat subjektif, bergantung penuh pada persepsi yang sudah tertanam di dalam diri kita sebelum kita berjumpa dengan karya tersebut.

Nilai yang disematkan pada ulasan sebuah buku bukanlah patokan utama bagus/tidak bagusnya. Menentukan sebuah buku bagus/tidak bagus bersifat relatif terhadap latar belakang orang yang menilai dan merupakan konsensus dari mereka yang berkesempatan berinteraksi dengan buku itu.

Saya sendiri sangat terkesima dengan kedua novel yang ditulis oleh Clarissa Goenawan ini. Di saat saya sedang menimbang-nimbang untuk mencoba alur selain alur maju, saya bertemu dengan dua novel yang menunjukkan alur maju-mundur dapat dieksekusi dengan rapi jika penulisnya berpengetahuan baik dan holistik akan semesta yang dia ciptakan.

Novel karya Clarissa Goenawan bukanlah novel yang sederhana. Premisnya mungkin tidak rumit, tetapi pengejawantahannya di dalam plot begitu kompleks dan berliku-liku.

Untuk “Rainbirds”, premisnya adalah Ren mencari tahu pembunuh kakaknya, Keiko, yang pindah dari Tokyo ke Akakawa setelah diusir oleh ibu kandung Ren. Tidak rumit, ‘kan? Namun, plotnya menikung ke sana kemari dengan berbagai kemungkinan yang membuat saya ternganga berkali-kali.

Ternyata Honda-san pernah memiliki hubungan spesial dengan Keiko. Ternyata penyebab mimpi-mimpi aneh Ren tentang gadis kecil berkuncir dua sangat bisa dimaklumi. Ternyata motif dan pelaku pembunuhan itu berada sangat dekat dengan Ren.

Ada berbagai “ternyata” yang membuat saya dengan mudah membayangkan sebuah labirin yang tersusun rapi di benak Clarissa Goenawan sebelum ia menuangkannya ke dalam novel.

Pelajaran nomor satu: susun plot seperti labirin dengan berbagai tikungan kemungkinan. Alur maju-mundur dapat diaplikasikan di sini, selama setiap tikungan akan tetap membawa pembaca kepada ending, jalan keluar labirin yang memang dimaksudkan penulis.

Pelajaran nomor dua: khianatilah ekspektasi pembaca berulang kali dengan menyingkapkan sedikit demi sedikit rahasia setiap karakter kepada pembaca. Saya baru berhasil menerapkan teori ini ketika menulis sembilan cerita pendek dalam buku “The Cringe Stories” (Pustaka Pranala, 2020). Untuk novel yang panjang dengan plot bertumpuk, saya sangat perlu belajar dari karya Clarissa Goenawan dan penulis lain.

Untuk “The Perfect World of Miwako Sumida”, premisnya adalah usaha Ryusei dan Chie mencari tahu penyebab Miwako Sumida, teman mereka, bunuh diri. Variasi plot di sini dibarengi dengan variasi sudut pandang penceritaan (Point of View, PoV). Untuk saya yang cenderung memilih satu jenis PoV saja sepanjang bercerita, melihat pergantian PoV yang begitu apik dan memberi makna lebih oleh Clarissa Goenawan adalah sebuah pembelajaran yang sangat berharga.

Sekarang, ijinkanlah saya beralih ke dua buku lain yang juga mengguncang tempayan pengetahuan dan keterampilan menulis yang saya miliki.

Buku puisi.

Buku kumpulan puisi adalah sebuah hal yang lebih personal dari pengalaman personal saat membaca buku yang ditulis oleh orang lain, seperti yang saya pernah jabarkan di sini:

Membaca buku puisi bagiku adalah ibarat duduk di bangku taman bersama seorang kawan, mata memandang lurus ke depan untuk menikmati pemandangan, sambil telinga mendengarkan percakapan demi percakapan yang dibuka.

Semua dimulai dengan sapaan “apa kabar”, lalu dilanjutkan dengan pembicaraan yang mendalam. Aku mengalami ini, apakah kamu mengalaminya juga? Aku berpendapat begini, kira-kira apa pendapatmu? Aku merasakan ini, aku ingin tahu apakah kamu pernah merasakannya. Dan seterusnya.

Membaca buku puisi adalah perkara berbagi pengalaman paling intim dan berbekas di kalbu. Untaian kata mungkin tidak bermakna dan tidak terlihat indah, jika tidak ada sekelebatan peristiwa, seuntai kejadian latar belakang yang sama-sama dialami oleh si pencipta dan pembaca puisi.

Pada banyak kasus, buku puisi tidak meninggalkan kesan pada pembaca karena tidak ada irisan kenangan itu, yang membuat pembaca mengangguk-angguk dan berkata dalam hati: “Aku tahu persis apa yang kamu bicarakan. Aku mengerti betul apa yang kamu maksud.”

Dari kedua novel karya Clarissa Goenawan saya belajar tentang dua hal: teknik kepenulisan yang berkaitan dengan plot dan sudut pandang penceritaan (PoV).

Dari kedua buku puisi karya M. Aan Masyur saya belajar tentang dua hal juga: menafsirkan rasa dan mengutarakan kata.

Selain buku kumpulan puisi karya Chairil Anwar yang saya baca hampir tiga dekade lalu di bangku SMP, buku-buku karya M. Aan Mansyur adalah satu-satunya buku puisi yang saya baca. Saya terpana, saya terperangah, saya tercerahkan, saya terinspirasi.

Saya mengulas buku puisi “Tidak Ada New York Hari Ini” (Gramedia Pustaka Utama, 2016) dan “Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau” (Gramedia Pustaka Utama, 2021) dengan mendalam dan penuh perasaan. Saya menangkap dan memaknai kerinduan dan keluarga yang tersirat di balik untaian kata-kata yang digelar oleh M. Aan Mansyur.

Mungkin penafsiran saya salah, mungkin pemaknaan saya berbeda dengan orang lain. Sebab membaca buku puisi itu ada di tataran yang lebih personal dari personal, sebuah hal yang sangat intim yang dibagi antara penulis dan pembaca buku tersebut.

Akan tetapi, penafsiran dan kemungkinan kekeliruan yang saya buat tidak menghalangi usaha saya untuk belajar. Dari kata-kata yang M. Aan Mansyur jalin saya menangkap kekayaan pemikiran dan perasaan yang terkadang tidak dapat saya jelaskan kembali.

Contohnya adalah pemilihan diksi “kening” dan “kenang”. Sekalipun saya sudah menjumpai kedua kata itu ribuan kali di dalam hidup saya, di buku M. Aan Mansyur saya menemukan keterkaitan dan kesamaannya.

Dari buku-buku puisi karya M. Aan Mansyur, dan saya harap dari buku-buku puisi lain terbitan Gramedia Pustaka Utama yang saya pasti baca di waktu-waktu mendatang, saya mempelajari kata, meresapinya, dan menuangkannya kembali dengan ciri khas saya.

Belajar dari buku puisi adalah sebuah keharusan untuk mengembangkan kepekaan akan keindahan dari kata, akan kekayaan dari makna kata, dan akan keampuhan kata mengobrak-abrik relung pemikiran dan perenungan manusia yang paling mendalam.

Terima kasih, Gramedia Pustaka Utama (GPU), telah menghadirkan buku-buku yang menjadi teman belajar saya untuk menulis lebih baik.

Saya bersyukur menemukan buku-buku berkualitas terbitan GPU di aplikasi Gramedia Digital yang dapat diakses dengan biaya terjangkau. Keberlimpahan sumber bacaan membantu saya beradaptasi pascapandemi, dalam hal mengalihkan waktu luang yang bertambah menjadi aktivitas belajar menulis yang produktif.

Saya percaya perjalanan belajar ini tidak akan selesai selama karya tulis baru tetap diterbitkan, selama manusia terus memiliki kisah untuk diceritakan, dan selama saya masih memiliki sesuatu untuk disampaikan kepada orang lain.

Salam literasi dan salam adaptasi.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s