Lika-Liku Belajar Bahasa Korea (2)

Halo, bertemu lagi dengan cerita saya tentang lika-liku belajar bahasa Korea selama 5 tahun terakhir. Cerita bagian 1 dapat kamu baca di sini, ya, dan hari ini saya akan bercerita banyak tentang les bahasa Korea di King Sejong Insitute.

Yuk, kaja!

Kelas bahasa Korea di King Sejong Institute Jakarta yang saya ikuti akan berakhir dalam 1.5 bulan. Tidak terasa, sudah 2.5 bulan sejak saya pertama kali mengikuti kelas online yang diselenggarakan 2 kali dalam seminggu dan 2 jam setiap pertemuan.

Eh, enggak, ding, sejak sebulan terakhir Seonsaengnim/Saaem (guru) selalu melebihkan jam belajar menjadi 2.5 jam per pertemuan, terutama untuk kelas hari Jumat. Ssaem tahu saja bahwa di tengah pandemi begini kebanyakan dari kami tidak ke mana-mana ketika akhir pekan tiba.

Minggu lalu kami memasuki bab baru tentang cuaca. Bab ini adalah bab ke-7 dari sekian bab dalam buku Sejong 1. Saya belum mengintip pada bab berapa buku ini berakhir.

Itu memang kebiasaan saya. Jika saya tahu akhir dari sebuah buku, maka biasanya saya jadi merasa tidak sabar untuk segera menyelesaikannya. Ini berlaku untuk buku teks ketika masih bersekolah dan buku fiksi yang saya baca untuk hiburan.

Dalam 2.5 bulan entah sudah berapa tugas yang kami kerjakan. Sejak beberapa minggu terakhir, Ssaem menggunakan situs padlet.com untuk mengumpulkan pekerjaan setiap murid.

Jadi, kami tidak perlu lagi memfoto PR dan mengirimkannya lewat WA kepada Ssaem. Kami hanya perlu mengakses board yang Ssaem buat di padlet.com dan menulis pekerjaan kami di situ.

Kami jadi bisa saling mempelajari pekerjaan teman sekelas kami, apalagi tugas-tugas yang Ssaem berikan biasanya adalah tugas mengarang. Dari setiap karangan teman, saya bisa menambah dan mencatat kosakata baru. Kalau sedang rajin, hehehe.

Ssaem selalu memulai pelajaran setiap sesi dengan grammar. Selalu, tidak pernah tidak. Di sini saya merasa sangat menghormati beliau karena Ssaem mengingatkan saya pada guru bahasa Inggris saya sewaktu SMP yang khusus mengajarkan grammar.

Sewaktu SMP saya memiliki tiga orang guru bahasa Inggris yang khusus mengajar grammar, vocabulary, dan literacy. Di kelas grammar, kami berkutat dengan tenses dan segudang aturan tata bahasa Inggris. Di kelas vocabulary, kami membaca banyak sekali artikel untuk menambah kosakata. Di kelas literature, kami membaca dan meresensi karya sastra klasik karangan Shakespeare, Charlote Bronte, Oscar Wilde, dan lain-lain.

Saya sangat menyukai ketiga kelas bahasa Inggris tersebut, tetapi guru dan ajaran di kelas grammar mendapatkan tempat khusus di hati saya. Terus terang, saya lupa nama asli guru yang mengajar grammar karena kami selalu memanggilnya sebagai Miss Repeat.

Apa pasal? Ibu guru itu tidak pernah mentolerir kesalahan. Setiap kesalahan grammar akan diganjar dengan teguran dan suruhan untuk mengulang lagi, lagi, dan lagi sampai we got it right.

Miss Repeat akan menunjuk acak murid di kelas dan menyuruhnya menyebutkan rumus Future Continuous Tense, misalnya, beserta contoh kalimat yang menggunakan tense itu. Kalau salah menyebutkan, pertanyaan yang sama akan diulangi terus ke murid lain sampai seisi kelas mengerti rumus sebuah tense dan pemakaiannya di kalimat.

Tes acak dari Miss Repeat dilakukan secara lisan dan tulisan. Setiap hari ada kelas grammar bahasa Inggris, yang berarti setiap hari ada PR. Setiap beberapa hari ada ulangan yang tidak pernah ada remedial. Sekali dapat nilai di bawah kriteria kenaikan kelas, ya selamat deh.

Satu hal yang Miss Repeat sangat tidak sukai adalah orang yang nekat berbicara bahasa Inggris dengan grammar yang salah. Di tengah dorongan dan anjuran untuk percaya diri berbicara dalam bahasa Inggris walaupun salah grammar pada tahun 90-an, Miss Repeat tetap keukeuh dengan pendiriannya.

Jangan berani bicara bahasa Inggris kalau kamu tidak tahu grammar, nanti kamu malu.

Kalau guru jaman now mendengar ini, mungkin mereka meradang, pasti mereka tidak setuju. Yang penting ‘kan niat dan kepercayaan diri, soal grammar benar atau salah itu soal belakangan. Setidaknya itu yang saya dengar dari guru-guru bahasa Inggris sewaktu SMA.

Akan tetapi, saya akan selalu setuju dengan Miss Repeat. Jadi saya belajar grammar baik-baik supaya saya tidak salah bicara, supaya saya tidak berujung malu. Pengetahuan yang cukup akan grammar adalah amunisi yang cukup untuk menghadapi medan perang yang bernama daily conversation.

Tanpa grammar, saya akan salah kaprah menggunakan banyak kata yang mirip seperti bored dan boring. Alih-alih mengatakan “I’m bored” untuk menyatakan kebosanan, saya mengatakan “I’m boring” dan membuat pendengar saya menahan tawa atau salah tingkah.

Ssaem di kelas bahasa Korea juga menggunakan metode pengajaran yang mirip. Setelah memaparkan grammar yang akan dipelajari pada hari itu, Ssaem akan melanjutkan mengajari berbagai kata kerja dan konjugasinya, sebelum kami berlatih contoh-contoh penggunaannya dalam kalimat.

Kalimat dalam bahasa Korea sering mengabaikan pronoun, atau kata ganti orang, dan sangat menekankan pada keberadaan kata kerja. Sebuah kalimat sudah dibilang lengkap jika ada predikat dan obyeknya. Keterangan tempat/waktu bisa menjadi subyek dalam kalimat untuk menunjukkan ide utama kalimat tersebut.

Kata kerja di dalam bahasa Korea mirip dengan bahasa Jepang yang menggunakan word stem sebagai unit dasar sebelum terjadi konjugasi. Jika kata kerja dasar di dalam bahasa Korea selalu berakhiran “ru” (る), maka kata kerja dasar di dalam bahasa Korea selalu berakhiran “da” (다).

Word stem diperoleh dengan menghilangkan suku kata “da” dari kata itu. Word stem ini akan berkonjugasi tergantung pada tense, niat (perintah/permintaan), dan seterusnya.

Sebagai contoh:

가다 atau “kada” yang berarti pergi. Word stem-nya adalah kata “ka” (가). Kata “ka” bisa diikuti dengan berbagai macam bentuk, tergantung pada tujuan dari kata itu sendiri.

저는 요. = Jeoneun kayo. = Saya pergi. –> netral

저는 니다. = Jeoneun kamnida. = Saya pergi. –> formal

저는 어요. = Jeoneun kasseoyo. = Saya telah pergi. –> netral

저는 습니다. = Jeoneun kassseumnida. = Saya telah pergi. –> formal

세요. = Kaseyo. = Silakan pergi. –> netral

고 싶어요. = Kago shipheoyo. = (Saya) ingin pergi. –> netral

Keenam bentuk tersebut saya pelajari dalam 2.5 bulan terakhir dan ini berlaku untuk banyak sekali kata kerja dengan perubahan yang beraturan dan tidak beraturan (regular and irregular verbs). Semakin lama mempelajari bahasa Korea, saya yakin semakin banyak konjugasi yang akan saya pelajari.

Pada setiap sesi, Ssaem akan menghabiskan sekitar 1 jam hanya untuk mengajarkan kata kerja. Satu jam berikutnya akan diisi dengan berlatih menulis di buku latihan, mendengarkan dan menyimpulkan isi percakapan yang diperdengarkan, dan berbicara (berpartner dengan teman sekelas untuk membuat dialog-dialog).

Masih banyak hal yang saya ingin bagikan tentang belajar bahasa Korea di lembaga resmi seperti King Sejong Institute, tapi waktu menulis saya hari ini sudah habis.

Sampai jumpa besok, ya!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s