Kesan Pertama Drama Korea: Navillera

Sebagai orang yang pernah mempelajari balet pada usia 30-an, saya mengerti betul perasaan Kakek Shim Deok Chul (Park In Hwan) di dalam drama Korea “Navillera” (2021) yang baru tayang 2 minggu lalu. Drama besutan tvN ini menjanjikan cerita slice-of-life yang manis dan menghibur.

Berkisah tentang seorang pensiunan yang baru merayakan ulang tahunnya yang ke-70, suatu hari Kakek Shim tanpa sengaja menonton seorang ballerino (penari balet laki-laki) yang sedang berlatih. Si Kakek sebenarnya sedang dalam perjalanan membeli permen untuk temannya yang sakit, tapi suara musik dari studio balet membuatnya penasaran dan melangkah ke sana.

Dari episode pertama Kakek Shim sudah digambarkan sebagai seorang pensiunan yang hidup biasa-biasa saja. Dulu dia bekerja sebagai tukang pos, seorang pegawai negeri yang seumur hidup hanya bertujuan memenuhi kebutuhan hidup keluarganya yang terdiri dari istri dan 3 orang anak. Pada ulang tahunnya yang ke-70 semua anggota keluarga si Kakek berkumpul untuk makan bersama. Ada istri, 3 orang anak, 2 orang menantu, dan 1 orang cucu perempuan yang sudah dewasa.

Anak sulung Kakek Shim sudah hidup sukses (laki-laki) dan tidak segan merendahkan saudara-saudaranya yang lain. Anak tengah si Kakek adalah seorang perempuan yang menikah dengan seorang politisi yang terus-menerus gagal saat mengikuti pemilihan umum, tapi tidak malu meminjam uang pada si anak sulung untuk biaya kampanyenya.

Anak bungsu si Kakek (laki-laki) adalah seorang dokter yang karena satu kejadian (belum dijelaskan kejadian apa) tiba-tiba berhenti bekerja di rumah sakit dan sudah beberapa tahun menganggur. Sepanjang makan bersama, si anak sulung terus-menerus mengomeli adik-adiknya yang tidak sesukses dirinya. Aktor yang memerankan karakter ini adalah salah satu orang jahat di drakor “Signal” (2016). Memang benar-benar menyebalkan.

Kakek Shim digambarkan sebagai seseorang dengan watak baik dan tidak temperamental. Hal ini terlihat dari kegiatannya melayat salah seorang temannya yang meninggal, atau saat dia rutin mengunjungi temannya yang lain yang tinggal di hospice dan ditelantarkan oleh keluarganya.

Gara-gara tidak sengaja menonton ballerino sedang menari, Kakek Shim teringat kembali pada mimpinya sewaktu kecil. Dulu sekali dia juga pernah tanpa sengaja menonton seorang ballerino sedang berlatih dan dia pun memberanikan diri meminta les balet ke ayahnya. Tentu saja permintaan si anak kecil ditolak mentah-mentah. Laki-laki mana yang bisa hidup memakai celana ketat dan menari, kurang lebih begitu argumen sang ayah.

Kakek Shim hanya bisa mengubur dalam-dalam mimpinya terbang di atas panggung seperti si ballerino, dan hidup lurus dan biasa-biasa saja seperti yang diharapkan orang lain atas dirinya. Padahal menurut saya, yang Kakek Shim alami adalah mimpi, bukan cita-cita, dan tidak apa-apa kalau diwujudkan.

Memangnya apa perbedaan antara cita-cita dan mimpi? Kalau cita-cita, menurut saya pasti berkaitan dengan pekerjaan dan jalan hidup yang akan dipilih saat dewasa. Kalau mimpi, menurut saya hanya soal memiliki kesempatan untuk mencoba melakukan suatu hal, setidaknya satu kali dalam hidup.

Sebab hidup terlalu singkat untuk dihabiskan untuk keraguan dan pertanyaan, bukan? Kalau penasaran akan sesuatu, lakukan saja apa yang diperlukan untuk mencari tahu.

Setelah tak sengaja menonton si ballerino, sebenarnya Kakek Shim tidak berniat untuk mempelajari balet. Dia hanya terkenang akan mimpinya pada waktu kecil. Kematian sahabatnya yang tinggal di hospice adalah peristiwa yang membuatnya membulatkan tekad untuk mengejar apa yang hatinya inginkan. Soalnya sahabatnya itu meninggal karena bunuh diri dan dengan segudang penyesalan karena tidak sempat melakukan apa yang dia ingin lakukan sewaktu masih muda, sewaktu masih memiliki tenaga, uang, dan kesempatan (waktu).

Tuntutan dan kerasnya hidup (waktu anak-anaknya masih kecil, keluarga Pak Shim termasuk keluarga miskin dan selalu kekurangan) membuat si Kakek mengubur mimpinya selama kurang lebih 60 tahun. Bayangkan, 60 tahun mengharapkan satu hal dan pada akhirnya bisa kesampaian melakukan hal itu. Pasti membahagiakan sekali, ya?

Akan tetapi, bukan drakor namanya kalau sedari awal tidak memberikan hambatan bagi karakter utamanya.

Si ballerino yang ternyata bernama Lee Chae Rok (Song Kang) menolak untuk mengajari Kakek Shim. Menurutnya si Kakek sudah gila karena baru mau mempelajari ballet pada usia sangat tua, ketika tubuhnya tidak lagi lentur, ketika otot dan tulangnya sudah rapuh.

Pemilik studio ballet yang merupakan guru dari Chae Rok, Guru Ki, juga berpendapat sama, tapi dia bersikap lebih sopan dalam menolak Kakek Shim. Kalau Chae Rok ini gambaran anak muda jaman sekarang yang sopan santunnya minus banget, deh. Saya kesal melihatnya.

Kakek Shim tidak menyerah begitu saja. Wong dia sudah berhasil menghafalkan begitu banyak alamat di kota Seoul yang begitu besar sejak usia mudanya, masakkan dia menyerah karena ditolak untuk belajar? Aduh, sedari episode pertama saya rasanya ingin menyoraki si Kakek karena saya mengagumi kegigihan dan sikapnya yang pantang menyerah.

Sesuai dengan prinsip saya, kalau ada pintu tertutup, tidak usah capek-capek mengetuk atau menggedor pintu itu supaya terbuka. Buat saja pintu baru.

Kakek Shim pun melakukan segala cara supaya bisa diterima di sekolah ballet milik Guru Ki. Sebenarnya itu bukan sekolah ballet ya, hanya studio privat dan lapuk (menurut mantan istri Guru Ki) yang khusus digunakan oleh Chae Rok dan seorang ballerina lain untuk berlatih. Si Kakek selalu datang pagi dan membersihkan lantai dan cermin di studio yang berukuran cukup besar itu. Dia juga ramah pada si ballerina dan si pemain piano. Tak butuh waktu lama untuknya mulai diperlakukan sebagai bagian dari mereka.

Tentu saja Chae Rok tetap bersikeras tidak mau mengajari Kakek Shim. Sehari-hari dia sudah lelah dengan masalahnya sendiri yaitu kesulitan keuangan. Selain berlatih ballet, Chae Rok masih harus bekerja sambilan setiap harinya sebagai pelayan sebuah kafe terkenal. Di situlah dia bertemu dengan dan bersikap tidak ramah pada cucu perempuan dari Kakek Shim.

Bukan drakor namanya, kalau karakter-karakternya tidak bertemu di situ-situ saja, seakan-akan kota Seoul hanya sebesar satu RT.

Akhirnya Chae Rok setuju mengajari si Kakek karena Kakek Shim berhasil melakukan pose balancé dalam 1 menit setelah berlatih hanya dalam waktu 1 minggu! Luar biasa, ya, padahal Kakek Shim ‘kan sudah tua sekali, tapi dia terus bekerja keras dan pantang menyerah. Dia bahkan sembunyi-sembunyi latihan balancé di rumah karena tahu istrinya tidak akan setuju. Kakek sudah berusia 70 tahun, lho, selip sedikit bisa patah tulang dan malah merepotkan seluruh keluarga, Kakek berpikir bahwa Nenek pasti berpikir demikian.

Kakek Shim yang merasa bahagia setelah mulai mempelajari ballet, merasa tambah bahagia setelah menjadi manajer dari Chae Rok. Guru Ki memberinya tugas mengawasi aktivitas sehari-hari, memperhatikan kondisi fisik (termasuk lututnya yang bermasalah), dan memastikan kecukupan nutrisi dari Chae Rok.

Kakek Shim merasa hari-harinya tidak lagi terasa membosankan, waktu tidak lagi terasa berjalan lambat. Dia sekarang meninggalkan rumah setiap hari dengan rajin dan sangat bersemangat, walaupun pelajaran ballet-nya tidak diketahui oleh Nenek. Gambaran umum suami-istri di Korea Selatan memang begitu, semua sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.

Memang hidup terasa lebih hidup ketika manusia memiliki tujuan, kesibukan, dan teman.

Ketiga hal ini didapatkan oleh Kakek Shim pada saat bersamaan. Meskipun jalan yang ia lewati tidak mudah, ia tetap berharap dan melakukan yang terbaik. Mulai dari Chae Rok yang bersikap sangat kasar padanya, istri dan anak-anaknya yang mengultimatum supaya dia berhenti belajar ballet dan tidak mempermalukan nama keluarga, istrinya yang mendiamkannya di rumah, semuanya sudah ia alami. Hanya anaknya yang bungsu, menantunya yang perempuan, dan cucunya yang mendukung si Kakek.

Kalau memang ingin belajar, belajarlah. Tidak usah pikirkan apa kata orang.

Itu juga yang ada di benak saya ketika mulai mempelajari ballet 5 tahun lalu, pada usia 30-an. Usia saya ketika itu setengah dari usia Kakek Shim, tapi saya mengalami juga kendala secara fisik seperti yang dialami oleh si Kakek. Otot-otot terasa kaku, tulang-tulang terasa lebih rapuh, stamina menurun, napas lebih cepat terengah-engah, dan seterusnya. Padahal saat itu saya hanya bekerja di rumah dan tidak bekerja seperti Kakek Shim yang seorang tukang pos, tapi saya merasa lemah sekali waktu mulai mempelajari ballet.

Oh iya, sedikit cerita latar belakang, mengapa saya bisa mempelajari ballet di usia setua itu. Awalnya agak konyol, sih. Lima tahun lalu, saya sangat terganggu dengan berat badan yang terus naik. Saya sudah memiliki 2 orang anak dan saya mengurus rumah dan anak-anak tanpa asisten rumah tangga. Seharusnya berat badan saya stabil karena energi saya terkuras setiap hari, tapi ternyata tidak.

Waktu itu saya menunggui anak saya yang sedang latihan ballet di sebuah sekolah. Ini adalah sekolah ballet-nya yang kedua. Saya mengeluarkannya dari sekolahnya yang pertama setelah 3 tahun belajar di sana karena sekolah itu terlalu berfokus pada tampil di mal-mal, dibandingkan memberikan latihan teknik dan pembelajaran berjenjang bagi murid-muridnya.

Ketika hendak pamit pulang, guru anak saya berceletuk begini pada saya: “Mam, kayaknya gemukan, ya?” Terus terang waktu itu saya merasa antara terpana dan tersinggung ditanya begitu karena kami tidaklah akrab, dan ingin curhat dan minta saran bagaimana menurunkan berat badan. Akhirnya saya memilih alternatif kedua dan disambut dengan tawaran: “Mam, mau belajar balet, tidak?”

Tanpa pikir panjang, karena saya jarang menimbang sesuatu lama-lama, saya langsung mengiyakan. Oleh karena saya tidak punya dasar sama sekali dibandingkan anak saya yang sudah belajar ballet selama 4 tahun, saya memulainya dengan pelajaran privat untuk beberapa bulan pertama. Sesudah itu saya bergabung dengan anak saya di Grade 1.

Menjadi satu-satunya ibu-ibu di tengah sekumpulan anak SD apa tidak memalukan? Tidak, buat apa merasa malu? Saya sedang belajar dan saya suka sekali pelajaran itu. Ballet adalah seni, dia mengajarkan keindahan gerakan dan musik, dan berat badan saya turun sangat banyak ketika itu. Fokus saya bukan di berat badan sebenarnya, tapi bagaimana membuat otot-otot menjadi lebih kuat supaya tidak gampang lelah ketika beraktivitas sehari-hari.  

Selama 1 tahun mempelajari ballet dengan anak saya, saya sudah ambil bagian di dalam 2 pementasan dan saya cukup puas . Saya dan anak saya sangat senang belajar ballet bersama-sama. Kami saling menyemangati dan memberi kritik. Secara teknik, anak saya yang sulung tentu lebih kompeten dan banyak mengajari saya. Saya hanya unggul dalam hal semangat belajar, meskipun kaki saya tidak bisa lurus betul, sikap kayang saya payah, dan saya selalu ketakutan setiap kali disuruh melompat.

Foto berikut ini adalah kenang-kenangan dari masa itu. Ketika itu saya menari berdua dengan guru dari anak saya pada saat pementasan untuk menandakan kenaikan tingkat. Saya berhenti mempelajari ballet karena berfokus pada taekwondo yang lebih efektif dalam menurunkan berat badan dan membentuk otot.

Percaya atau tidak, pada satu masa saya pernah les ballet 2 kali seminggu dan les taekwondo 3 kali seminggu. Suami, anak-anak, orang tua, dan adik-adik saya tidak pernah berkomentar negatif, menyindir, atau mengeluh karenanya. Mereka tidak pernah merasa malu atas pilihan-pilihan yang saya buat.

Kalau mau belajar, ya belajarlah. Titik.

Beli perlengkapan yang diperlukan, manfaatkan biaya yang sudah dibayar, gunakan waktu belajar sebaik-baiknya. Memang attitude yang baik dalam menghadapi ilmu yang baru itu saya dapatkan dari orang tua saya dan saya turunkan ke anak-anak. Attitude yang sama saya aplikasikan tahun ini saat berkutat dengan les piano, bahasa Korea, dan muay thai (karena dojang taekwondo ditutup akibat pandemi). Tidak usah mempedulikan umur atau kata orang. No one is too old to learn.

Saya baru menonton drakor “Navillera” sebanyak 4 episode dan saya optimis perjalanan Kakek Shim mempelajari ballet akan berbuah manis dan berujung bahagia. Perjalan Chae Rok sebagai ballerino muda yang masih mencari jati diri, berselisih dengan ayahnya, dan menjadi sasaran perundungan mantan temannya ketika SMA, juga cukup menarik untuk diikuti. Namun demikian, fokus saya untuk drama ini hanya pada Kakek Shim dan usahanya untuk 1 kali saja dalam hidupnya menari dan “terbang” di atas pentas. Semoga.

Apa yang kamu ingin pelajari tahun ini? Tak terasa ya, tahun 2021 tinggal 9 bulan lagi. Saatnya kembali menata resolusi supaya kita tidak menyesali detik-detik yang sudah berlalu.

3 thoughts on “Kesan Pertama Drama Korea: Navillera

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s