Sekelumit tentang Cerita Pendek

Dalam rangka virtual book launch dari buku “The Cringe Stories” yang akan berlangsung pada tanggal 21 Maret mendatang, saya bekerja sama dengan beberapa blogger mengadakan blog tour dan giveaway buku ini.

Hari ini adalah akhir dari serangkaian blog tour dan giveaway yang sudah berlangsung selama empat minggu sejak tanggal 15 Februari 2020. Blog tour dan giveaway sudah diadakan di blog Kak Efi (resensiefi.my.id), Kak Ipeh (bacaanipeh.web.id), dan Lendy (lendyagasshi.com). Yang terakhir pada periode 8-14 Maret 2020 diadakan di blog teman saya, Kak April:

Silakan mampir kalau kamu berkenan. Cukup jawab pertanyaan yang ada dan mungkin kamu akan menjadi pemenang 1 buah buku “The Cringe Stories” dan saldo OVO.

Selain di blog Kak April, saya juga mengunjungi blog Kak Thessa dan berkesempatan diwawancarai seputar proses kreatif “The Cringe Stories” dan tips menulis cerpen secara umum. Jujur saja, pertanyaan-pertanyaannya membuat saya berpikir cukup keras. Untuk saya yang memang biasa menulis fiksi, ditanya tentang mengapa begini, mengapa begitu dalam menulis, membuat saya mengambil langkah mundur untuk menganalisa apakah cara kerja saya sudah benar.

But again, di dalam dunia kreatif tidak ada proses yang benar atau salah. Yang ada hanya proses yang menghasilkan output yang paling tepat pada konteks yang diminta.

Saya akan mencoba merangkum hal-hal yang saya gali dari proses kreatif saya selama menulis “The Cringe Stories”. Isi wawancara lengkapnya akan saya bagikan nanti melalui update pada artikel ini.

Siapa saya?

Saya bernama Rijo Tobing, ibu dari tiga anak. Saya mengenyam pendidikan Teknik Industri di ITB. Saya pernah menetap di Jepang dan Swis. Saat ini pekerjaan utama saya adalah mengelola bengkel pembuatan furnitur. Saya aktif menulis cerpen, novel, dan blog karena saya sangat suka menulis. Menulis adalah passion, hobi, dan telah menjadi pekerjaan sampingan bagi saya.

Sampai saat ini saya sudah menulis beberapa buku:

  1. Randomness Inside My Head. Kumpulan cerpen, bahasa Inggris, 2016.
  2. Bond. Novel, bahasa Inggris, 2018.
  3. The Cringe Stories. Kumpulan cerpen, bahasa Indonesia, 2020.
  4. Crazy Sick 2020. Kumpulan esai, bahasa Indonesia, 2020.
  5. December. Novel, bahasa Inggris, coming soon April 2021.

Ketika ditanya lima kata yang paling tepat untuk menggambarkan diri saya, saya akan langsung menjawab bahwa saya ini orang yang peka, gigih, jujur, perfeksionis, dan gampang move on.

SEJAK KAPAN SUKA MENULIS?

Sejak usia 6 tahun sewaktu saya masih duduk kelas 1 SD. Ketika itu saya sengaja berbohong kepada wali kelas tentang tanda tangan ibu saya di buku agenda sekolah, hanya untuk melihat reaksinya. Saya penasaran ibu guru akan semarah apa. Ternyata besoknya ayah saya dipanggil dan saya diperkenalkan ke perpustakaan sekolah. Wali kelas dan ayah saya mendorong saya untuk meminjam banyak buku setiap minggunya, banyak membaca, dan mencoba membuat cerita fiksi versi saya sendiri.

Sudah tak terhitung berapa cerpen yang saya sudah tulis sebelum memberanikan diri menulis novel pada tahun 2018 lalu. Dari pengalaman saya menulis cerpen, berikut ini beberapa hal yang saya pelajari dan mungkin bisa menjadi tips yang bermanfaat bagi kamu.

1. Mengandaikan diri sebagai orang lain.

Bercerita dengan sudut pandang penceritaan (PoV) 1 yang seakan-akan mengalami sendiri cerita itu akan lebih berdampak bagi pembaca dibandingkan PoV 3 yang mengambil posisi sebagai pengamat.

2. Buat beberapa pintu kemungkinan plot yang akan bercabang di beberapa tahap.

Misal: cerita tentang Si Gendut yang suka mencuri batagor dari tukang batagor di kantin sekolah. 

Buat cabang: 1) Si Gendut ketahuan mencuri dan dilaporkan ke wali kelasnya, 2) Si Gendut tidak pernah ketahuan mencuri tapi dia selalu diare setiap kali habis makan batagor. 

Dari poin 1 cabangkan lagi menjadi poin: 1.1) Si Gendut menyangkal dan bersumpah dia telah membayar, hanya si tukang batagor tidak menyadari, 1.2) Si Gendut mengakui dan memohon untuk tidak dilaporkan ke orang tuanya, 1.3) Si Gendut mengakui dan bersedia membayar batagor yang dia sudah curi. Lakukan hal yang sama untuk poin 2, dan seterusnya. 

Lakukan hal ini secukupnya. Jangan sampai terjebak dengan permainan kemungkinan sampai lupa menyelesaikan menulis cerita, hehehe.

3. MEMBUAT PLOT TWIST.

Resep sederhana untuk plot twist adalah pengkhianatan.

Dikira cinta, ternyata berselingkuh. Dikira teman, ternyata berniat membunuh (cerita “Gendut”). Dikira baik, ternyata hanya ingin mendapat pujian (cerita “Handphone”). Dikira lucu ternyata membuat ngeri. 

Bereksperimenlah dengan semua kemungkinan pemikiran yang bisa muncul di benak manusia. Semakin tersamar dan semakin jarang pemikiran itu, semakin membekas cerita kita di benak pembaca. 

4. MENCIptakan karakter berdasarkan orang yang kita tidak sukai.

Ini akan membuat kita lebih detail dalam menjabarkan kekuatan dan kelemahan kepribadiannya karena kita emotionally invested pada karakter itu.

5. tidak usah buru-buru menyelesaikan cerita.

Walaupun cerpen memiliki keterbatasan ruang, penulis punya kebebasan untuk menjelaskan latar belakang masalah dan/atau masa lalu si karakter, selama itu relevan dengan tujuan penceritaan.

Ada beberapa penanya pada review buku “The Cringe Stories” yang ditulis oleh Kak Thessa dan saya akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.

1. Bagaimana cara membuat kejutan menarik dalam sebuah cerpen?

Pakai tips nomor 3 di atas. Khianatilah ekspektasi pembaca terhadap karakter utama, dan khianatilah ekspektasi karakter utama terhadap karakter-karakter pendukung (cerita “Gendut”). Kamu bisa membaca cerita lengkap si Gendut di sini.

2. Apa kendala terbesar dalam menyelesaikan buku ‘The Cringe Stories”?

Ketersediaan waktu. Saya lebih suka menulis cerita dalam sekali duduk, ketika masih kesambet inspirasi dan masih bisa fokus. Akan tetapi, tanggung jawab utama di rumah, pekerjaan, dan komunitas menyebabkan sebagian besar cerita terpaksa diselesaikan secara bertahap.

3. Apa hal yang paling menantang selama menulis buku dengan tema cringe dan horor? Dan apa alasan memilih genre ini?

Tantangan terbesar adalah mencoba menempatkan diri sebagai karakter-karakter yang saya pilih, dengan cara pikir, sudut pandang, dan cara bicara mereka.  

Pandemi menyebabkan saya jadi lebih mengamati natur dan perilaku manusia yang dunianya diporak-porandakan dalam sekejap. Kegiatan pengamatan itu mengerucutkan fokus saya pada orang-orang yang ada di lingkungan sosial kita, tapi sering tidak dianggap atau dipandang sebelah mata. Mereka adalah referensi untuk karakter-karakter yang saya ciptakan dan tema yang saya pilih.

4. Bagaimana cara mendapatkan buku “The Cringe Stories” dan berapa harganya?

“The Cringe Stories” bisa diperoleh dengan harga Rp 85.000,00 (exclude ongkir) lewat link berikut ini: bit.ly/SkyBooks. 

Diskon 20% dapat diperoleh dengan cara bergabung pada acara virtual book launch dengan jadwal berikut:

Minggu, 21 Maret 2021 Pukul 15.00 – 16.30

Live @ Facebook Group dan Youtube

Akun: Kelas Literasi Ibu Profesional

Dalam acara ini akan ada bedah buku, diskusi dengan para pembaca tentang konstruksi sosial yang diangkat oleh buku “The Cringe Stories”, dan juga door prizes berupa buku “The Cringe Stories” dan buku kumpulan esai saya yang terbaru “Crazy Sick 2020”. 

Mari bergabung, siapa tahu kamu beruntung memenangkan bukunya.

Terlebih lagi, mari kita saling menyapa dan berdiskusi. Saya menantikan kehadiranmu , ya!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s