13.03.2021: Rijo x KLIP

Sebagai penyuka nomor cantik, tanggal hari ini cantik sekali buat mengadakan workshop. Angka 0, 1, 2, dan 3 berulang sebanyak dua kali. Cantik. 🙂

Workshop hari ini adalah workshop menulis pertama yang saya adakan pada tahun 2021. Workshop-nya eksklusif untuk anggota KLIP, sama seperti pada tahun lalu. Tak terasa sudah satu tahun sejak saya bergabung dengan Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP), tak terasa sudah satu tahun sejak saya berkembang bersama komunitas ini.

Sebenarnya, apa sih gunanya komunitas? Balik lagi ke teori waktu pelajaran sosiologi di bangku SMA: manusia adalah makhluk individual SEKALIGUS makhluk sosial. Dia perlu orang lain, perlu berinteraksi, perlu berelasi, perlu bertumbuh bersama orang-orang yang satu visi dan pemikiran.

Memilih komunitas adalah sebuah privilege, hak istimewa yang tidak dimiliki oleh semua orang.

Okelah setiap orang pada umumnya memiliki keluarga, unit terkecil untuk sebuah komunitas, tapi siapa sih yang bisa memilih terlahir di keluarga dengan karakteristik A, B, dan seterusnya? Okelah setiap orang pada umumnya mengenyam pendidikan, tapi siapa sih yang bisa memilih akan cocok dan bahagia bersama orang-orang temannya bergaul sepanjang tahun-tahun bersekolah?

Memilih komunitas adalah karena kita sadar kita tidak bisa hidup sendirian, tidak bisa mengembangkan diri sendirian, dan tidak bisa egois menyimpan semua berkat/talenta/keahlian yang dianugerahkan Tuhan kepada kita tanpa berbagi dengan orang lain.

Memilih komunitas adalah sebuah privilege yang saya kerjakan baik-baik. Bergabung dan berkontribusi pada komunitas adalah satu paket dengan pilihan itu. Tidak bisa berkomitmen untuk bergabung jika tidak mau berkontribusi, sebab hak dan kewajiban tertentu sudah melekat pada diri saya, bahkan dengan status hanya sebagai anggota.

Saya bergabung dengan KLIP karena ajakan kakak sepupu saya, Kak Risna, seperti yang saya ceritakan tahun lalu di sini. KLIP pada waktu itu adalah seperti beacon yang menangkap saya yang tersesat secara personal, passion, dan profesional. Lewat KLIP saya kembali menemukan kecintaan saya akan menulis. KLIP juga memberi saya kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang mencintai literasi, sebuah hal yang tidak saya temukan di lingkungan saya sekarang.

Teknologi menjembatani jarak dan memungkinkan komunikasi terjalin walaupun belum pernah ada tatap muka. Percakapan lewat teks, dengan berpegang pada kaidah tata bahasa untuk menghindari kesalahpahaman, adalah sebuah keniscayaan setelah bergabung dengan KLIP, apalagi setelah pandemi melanda. Saya hanya berinteraksi dengan teman-teman anggota KLIP lewat grup Whatsapp, tapi hati saya selalu hangat setiap kali bercakap-cakap dengan mereka. Semoga ada kesempatan suatu hari nanti kami bersilaturahmi langsung.

Tahun lalu saya membawakan workshop tentang creative writing yang kemudian dilanjutkan dengan materi self-editing. Terus terang, terakhir kali saya membawakan workshop adalah pada tahun 2018, jadi saya agak gugup dan cemas, apakah saya masih bisa menyampaikan materi dengan baik. Akan tetapi, ternyata materi saya diterima dan dari workshop itu saya berkenalan dengan orang-orang yang menarik, hebat, berdedikasi di bidangnya masing-masing, dan berelasi baik dengan saya sampai sekarang,

Materi yang saya bawakan hari ini adalah tentang karakter pada tulisan fiksi. Karakter adalah roh, hal pertama yang memulai perjalanan sebuah cerita. Dari cerita-cerita yang kita baca/dengar/tonton, kita mungkin lupa setting tempat dan waktu yang persis, kita mungkin lupa alur ceritanya, tapi kita tidak mungkin melupakan dua hal ini: karakter dan tujuan penceritaan.

Misalnya di dalam cerita “Kancil dan Buaya”. Waktu saya tanya beberapa teman tentang cerita ini, tanpa men-google mereka bisa menyebutkan bahwa cerita itu tentang seekor kancil yang cerdik, yang mengalahkan siasat jahat seekor buaya. Mereka ingat betul karakter-karakternya (kancil dan buaya) dan tujuan penceritaannya (kancil mengalahkan buaya dengan kecerdikannya), tapi alur cerita yang mereka sampaikan cukup bervariasi.

Ada yang bilang, buaya menggigit kaki kancil duluan karena mengira kakinya adalah tongkat kayu. Ada yang bilang, kancil menendang kepala buaya sehingga matanya buta dan ia tidak bisa melihat jelas kancil yang melompati punggungnya untuk menyeberangi sungai. Pokoknya, alur cerita ini banyak variasinya deh, dari yang masuk akal sampai yang absurd.

Begitu pentingnya karakter untuk menciptakan tulisan fiksi yang berkesan. Tentu saja karakter ini tidak hanya ada di dalam tulisan fiksi. Sebagai salah satu elemen dari empat elemen utama tulisan kreatif (creative writing), karakter bersama setting (waktu dan tempat), alur, dan tujuan penceritaan adalah unsur-unsur yang diejawantahkan dalam tulisan baik nonfiksi maupun fiksi.

Di dalam tulisan fiksi, karakter bisa berupa manusia atau personifikasi dari manusia. Apa maksudnya? Jadi hewan, tumbuhan, atau benda mati diibaratkan hidup, berperilaku, dan berinteraksi selayaknya manusia. Masih ingat jajaran lampu gantung, teko, dan sendok dari cerita Disney “Beauty and the Beast”? Mereka adalah benda mati yang dipersonifikasi sehingga bisa berinteraksi dengan karakter Bella yang notabene adalah seorang manusia. Mereka bisa berbicara, marah, menyanyi layaknya seorang manusia.

Bagaimana dengan di tulisan nonfiksi? Karakter di dalam tulisan nonfiksi bisa berupa manusia (menceritakan sesosok manusia) atau berupa sebuah ide/gagasan. Tulisan nonfiksi yang mengambil manusia sebagai karakternya misalnya adalah tulisan otobiografi. Sedangkan tulisan nonfiksi yang mengambil ide/gagasan sebagai karakter contohnya adalah:

  1. Kemakmuran negara (oleh Adam Smith)
  2. Kreativitas atau meniru seperti seniman (oleh Austin Kleon)
  3. Seni beberes (Marie Kondo)

Di dalam buku-buku dari ketiga penulis yang saya sebutkan di atas, ide/gagasan mereka adalah karakter yang dikembangkan dari awal sampai akhir buku (sampai mencapai tujuan penceritaan).

Bagaimana cara menciptakan karakter?

Menciptakan karakter adalah perkara mencari referensi. Tak masalah jika karakter kita manusia, atau hewan/tumbuhan/benda mati yang dipersonifikasi, kita bisa menciptakannya dengan merujuk pada karakter dari orang-orang yang kita: 1) kenal, 2) sukai, 3) tidak sukai, atau 4) kagumi. Kita bisa mengambil ciri fisik, kepribadian, kekuatan/kelemahan, dan sebagainya dari mereka untuk menciptakan karakter yang sesuai untuk cerita fiksi yang hendak kita jalin.

Bukan manusia namanya kalau tidak menciptakan alat untuk membuat segala sesuatu lebih mudah. Di saat banyak penulis berpikir, merenung, bagaimana membuat sebuah karakter yang memorable, ada orang-orang yang membuat dua alat ini:

  1. Character Development Storyboard
  2. Character Evolution Worksheet

Dengan kedua alat di atas penulis akan dipandu untuk menciptakan karakter yang sedetail mungkin untuk mencapai dua hal: 1) believability dan 2) progress dari karakter di dalam cerita. Karakter yang kita ciptakan harus believable, harus bisa dipercaya benar-benar ada, harus bisa dipercaya sebagai karakter-karakter yang mungkin ada di dalam kehidupan nyata, dan harus bisa related dengan pembaca. Karakter yang kita ciptakan juga harus mengalami perkembangan, progress, kalau tidak pembaca kita akan menjadi bosan dan berhenti membaca cerita kita.

Demikianlah rangkuman dari workshop saya hari ini. Saya harap informasi yang saya bagikan bermanfaat bagi teman-teman saya di KLIP yang dalam proses menciptakan karakter yang berkesan di benak pembaca.

Soli Deo Gloria.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s