Lika-Liku Belajar Bahasa Korea (1)

Setelah hampir lima tahun berkenalan dan berkutat dengan bahasa Korea, saya menemukan bahwa cara belajar saya sangat salah.

Saya pertama kali berkenalan dengan bahasa ini pada tahun 2004, ketika saya mempersiapkan diri untuk backpacking ke Korea Selatan. Saya mengambil kursus singkat bahasa Korea selama satu bulan di kampus. Belajar bahasa Korea dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa Jepang? Hmmm …, lumayan bikin asap mengepul keluar dari kepala saya.

Familiarisasi dengan bahasa Korea pada tahap kedua adalah waktu saya mulai menonton lagi drama Korea pada pertengahan tahun 2016. Intonasi dan cara pengucapan bahasa ini masih seperti yang saya ingat: sangat bersemangat dengan pelafalan yang kurang jelas, lebih seperti mendengar orang yang sedang kumur-kumur.

Beberapa bulan setelah mulai menonton drakor, saya masuk ke dojang taekwondo dan mulailah familiarisasi dengan bahasa Korea tahap ketiga. Sabeomnim dan seonbae semuanya orang Korea yang sedikit sekali berbahasa Indonesia. Pada beberapa bulan pertama, kami menggunakan Google Translate untuk berkomunikasi.

Akan tetapi, di sana saya menemukan teman-teman baik yang tak segan memperkenalkan kebudayaan mereka kepada saya. Saya mulai terbiasa mendengar bahasa Korea, bisa membedakan bahasa formal dan informal, bisa membaca dan menulis Hangeul dengan lancar, dan mengucapkan kalimat-kalimat penting pada saat perkenalan, perpisahan, dan perjumpaan.

Inti dari proses belajar saya adalah pada aktivitas mendengar dan menirukan. Kalau lagi rajin, saya akan melihat cara penulisannya di internet, tapi ini jarang sekali terjadi. Akibatnya selama empat tahun terakhir, saya cukup bisa bercakap-cakap dan membaca kata-kata dalam bahasa Korea, tanpa mampu menuliskan kembali sesuai dengan cara ia diucapkan.

Hal ini berubah begitu saya memasuki King Sejong Institute sejak bulan Februari lalu. Di sini aktivitas membaca, menulis, mendengar, dan berbicara dilatih secara bersamaan. Saya harus bisa menulis huruf-huruf dari sebuah bunyi yang saya dengar. Saya juga harus bisa membaca kata-kata sesuai dengan bunyi setiap hurufnya. Rasanya seperti mempelajari ulang 10 huruf vokal dan 14 huruf konsonan yang saya sudah hafal selama ini, rasanya seperti mengosongkan kembali bejana untuk menerima ilmu baru, dan ini cukup berat.

Guru saya sangat sering memberikan pekerjaan rumah. Dia memiliki prinsip: semakin banyak berlatih, akan semakin lihai. PR yang saya kerjakan sudah tak terhitung banyaknya, mulai dari menulis ulang berbaris-baris semua huruf dalam Hangeul (rasanya seperti mengerjakan hukuman menulis), membuat video perkenalan di dalam bahasa Korea tanpa melihat teks, dan terakhir menulis cerita tentang aktvitas saya sehari-hari.

Membaca, menulis, mendengar, dan berbicara. Semuanya dilatih pada saat bersamaan.

Seharusnya, seandainya, cara saya mempelajari bahasa Korea sama seperti cara saya mempelajari bahasa asing lainnya (Inggris, Jerman, Jepang, dan Perancis), mungkin sekarang saya tidak akan merasakan knowledge gap ini. Mungkin sekarang saya tidak harus bekerja ekstra keras untuk menjembatani pengetahuan saya akan bunyi dan cara menulis sebuah kata. Mungkin.

Hal ini akan saya bahas lagi esok-esok.

One thought on “Lika-Liku Belajar Bahasa Korea (1)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s