Membedah Karakter pada Fiksi

Karakter tidak hanya ditemukan pada karya fiksi, tapi juga pada karya nonfiksi. Karakter adalah satu dari empat elemen utama dari sebuah tulisan kreatif. Apa saja itu?

  1. Karakter
  2. Setting
  3. Alur
  4. Tujuan

Pada karya fiksi, karakter di dalam tulisan bisa berupa manusia, hewan, tumbuhan, atau bahkan benda-benda mati. Contoh benda-benda mati yang menjadi karakter pendukung di dalam sebuah cerita adalah lampu hias, teko, dan cangkir di dalam cerita “Beauty and the Beast” (Disney). Benda-benda mati itu mendapat personifikasi, yang artinya memiliki sifat-sifat manusia atau hidup seolah-olah seperti manusia.

Meskipun benda-benda mati itu bisa saja tidak memiliki ciri-ciri makhluk hidup seperti bernapas, bertumbuh, bereproduksi, tetapi dia memiliki sikap/pemikiran/tindakan yang lazim kita temui pada manusia. Hewan yang menjadi karakter utama di dalam cerita juga mendapat perlakuan personifikasi ini. Taruhlah cerita “Kancil dan Buaya” dimana kancil bercakap-cakap lancar dengan buaya, padahal kita tahu hal tersebut tidak terjadi di dunia nyata.

Pada karya nonfiksi, karakter bisa berupa manusia (sebuah otobiografi) atau berupa sebuah ide/gagasan, seperti dalam buku ekonomi karya Adam Smith yang berjudul “The Wealth of Nations” (1776). Buku ini merupakan refleksi terhadap kemakmuran dan kesejahteraan pada permulaan Revolusi Industri di Inggris. Karakter utamanya adalah kemakmuran suatu negara yang menurut Adam Smith dapat dicapai oleh tiga hal, yaitu pembagian pekerjaan, produktivitas, dan pasar bebas.

Elemen pertama dan utama yang harus ditentukan saat menulis fiksi adalah KARAKTER.

Dari masa ke masa, kita hanya mengingat karakter dari buku-buku bagus yang pernah ditulis oleh manusia. Kita mungkin melupakan setting tempat dan waktu dimana cerita berlangsung. Kita mungkin melupakan alur pastinya yang mengantar si karakter pada tujuan penceritaan. Kita mungkin tidak ingat betul apa yang terjadi pada akhir cerita. Akan tetapi, kita tidak akan dengan mudah melupakan siapa yang menjadi karakter, siapa yang menjadi pelaku dari cerita tersebut.

Menciptakan karakter adalah perkara menciptakan manusia lain di dalam alam semesta yang kita imajinasikan. Mungkin saja kita ingin menjadikan seekor hewan atau sebatang pohon atau sebuah benda mati sebagai karakter utama. Namun, ketika semua itu mengalami personifikasi, akan lebih mudah jika kita memusatkan perhatian pada manusia sebagai pelakon karakter.

Menciptakan karakter berarti penulis dengan sadar melihat ke sekelilingnya untuk mengambil referensi. Penulis bisa mendasarkan karakter yang dia ciptakan dari orang yang dia sangat sukai/tidak sukai, hormati/tidak hormati, dan seterusnya. Setelah penulis memiliki bayangan tentang natur asli dari si karakter, penulis wajib menentukan kedua hal ini terlebih dahulu sebelum mendeskripsian karakter lebih lanjut:

JENIS KELAMIN dan USIA.

Penulis pria mesti berhati-hati ketika menciptakan karakter wanita, dan sebaliknya. Dia harus mempelajari bagaimana cara wanita (atau pria) berpikir, bertindak, mengelola emosi. Penulis harus melakukan riset yang mendalam, komprehensif, dan holistik untuk menghadirkan karakter yang notabene bukan dirinya sendiri ke hadapan pembaca.

Usia adalah hal kedua yang harus diputuskan di depan. Usia akan menentukan cara, nada, dan intonasi si karakter ketika berbicara. Usia karakter akan menentukan keluasan perbendaharaan kata dan pemilihan kata-kata si karakter ketika bercakap-cakap dengan karakter lain. Jangan sampai karakter yang berusia empat tahun mengucapkan kata-kata canggih seperti “modern”, “transmigrasi”, dan sejenisnya, misalnya.

Jenis kelamin dan usia karakter kemudian diperlengkapi dengan faktor lain, seperti: pekerjaan, pendidikan, status sosial, posisi di masyarakat (seorang pemimpin/pengikut), tempat tinggal, tempat lahir dan dibesarkan, dan sebagainya. Semua data ini membentuk sebuah alat yang bernama character development storyboard. Perkembangan karakter sepanjang cerita diikuti dengan alat yang bernama character evolution worksheet.

Workshop “Membedah Karakter pada Fiksi” akan memperkenalkan pentingnya karakter pada cerita, alat menciptakan karakter yang utuh, dan alat untuk memantau perkembangan karakter sampai tujuan penceritaan tercapai. Workshop ini akan diadakan pada hari Sabtu, 13 Maret 2020 pukul 15.30 – 17.00 melalui Zoom untuk 40 orang pendaftar pertama dari Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP).

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s