Relasi Antara Karya, Kritik, dan “Licentia Poetica”

Karya dan kritik adalah dua sisi dari sekeping uang logam yang tidak dapat dipisahkan. Setiap karya pasti akan diikuti oleh kritik. Setiap kritik hadir akibat keberadaan karya. Hubungan keduanya mirip seperti ayam dan telur, mana yang duluan? Sebuah karya lama yang menimbulkan keresahan kolektif, yang membawa kepada kritik dan opini masif terhadapnya, dapat juga menjadi alasan kehadiran sebuah karya baru.

Kritik harus dibuat sesuai dengan konteks karya. Kritik yang sehat adalah bukan perkara suka/tidak suka, cocok/tidak cocok dengan selera, it is or it is not my cup of tea dari si penikmat karya. Kritik yang sehat adalah kritik yang menginisiasi percakapan selanjutnya.

Apa yang melatarbelakangi ide sebuah karya? Bagaimana eksekusi ide tersebut sehingga bisa dinikmati oleh pengguna karya? Apa kekuatan dan kelemahan karya jika dibandingkan dengan kaidah/pakem yang berlaku, atau karya orang lain yang sudah lebih dulu diakui reputasi dan kredibilitasnya?

Jika sebuah karya tidak disukai, maka harus ada alasan yang kuat mengapa ia tidak disukai. Kritik yang memasukkan unsur “mengapa” akan menjadi refleksi bagi pembuat karya supaya bekerja lebih baik, dan bagi penikmat karya supaya tidak begitu saja menerima karya tanpa memberikan respon yang sesuai terhadapnya.

Rasa suka/tidak suka terhadap sebuah karya adalah perkara konsensus. Sekumpulan orang yang merupakan mayoritas di sebuah kelompok mengatakan bahwa novel A bagus, terlepas dari isinya yang vulgar dan tidak mengajarkan kebajikan menurut saya, misalnya. Suara mayoritas itu lama kelamaan akan menjadi suara kelompok secara utuh. Novel itu akan mendapat predikat bagus, terlepas dari adanya kritik/pendapat lain terhadapnya.

Mari masuk ke dalam karya yang memakai tulisan sebagai media.

Ada begitu banyak jenis dan contoh karya tulis yang dikelompokkan ke dalam dua golongan besar: nonfiksi dan fiksi. Nonfiksi adalah karya tulis yang memuat unsur fakta, opini, dan data. Fiksi adalah karya tulis yang memuat unsur fakta, opini, dan imajinasi. Karya fiksi sendiri dibagi lagi ke dalam tiga golongan: prosa, puisi, dan kombinasi di antara keduanya.

Kritik terhadap karya tulis semestinya pertama-pertama melihat bentuk karya tulis tersebut. Di dalam setiap tulisan ada aturan tata bahasa yang harus diikuti, tapi dengan perkecualian. Karya tulis nonfiksi dan prosa harus ditulis dengan baku. Akan tetapi, bagaimana dengan penulisan dialog di dalam prosa, di mana tokoh-tokohnya berbicara dalam bahasa kasual yang tidak merujuk kepada PUEBI dan menggunakan banyak kosakata dari bahasa asing dan bahasa daerah, misalnya? Atau bagaimana dengan penulisan kata, baris, dan bait di dalam puisi, yang sengaja diacak atau dipenggal untuk menimbulkan efek yang lebih mengena pada pembacanya?

Di sinilah licentia poetica diberlakukan.

Licentia poetica adalah kebebasan yang diberikan kepada sastrawan, terutama penyair, untuk memanipulasi penggunaan bahasa dan tidak mengikuti tata bahasa yang baku, demi menimbulkan efek tertentu di dalam karyanya. Kebebasan ini diberikan kepada penyair, tapi tidak terbatas untuk mereka saja. Cerpenis dan novelis pun berhak mengaplikasikan licentia poetica selama itu relevan dengan eksekusi dan penyampaian ide kepada pembaca karya mereka.

Pertama-tama, mari kita melihat contoh pengapllikasian licentia poetica di dalam puisi. Saya akan mengambil contoh salah satu puisi favorit saya dari buku kumpulan puisi karya M. Aan Mansyur yang berjudul “Tidak Ada New York Hari Ini”.

DI DEPAN LEMARI PENDINGIN

Ada waktu-waktu tertentu saat langit
melihat semata ada aku berjalan sendiri
ke mana-mana. Aku bicara perihal segala,
tetapi kau tidak mendengar apa-apa. Kau
berpikir, tetapi aku tidak bisa merasakan
detak jantungku sendiri.

Ada saat kau menemukan cinta
adalah umbi-umbian di lemari pendingin.
Mereka tiba-tiba bertunas meskipun sudah
lama lupa rupa dan aroma tanah.

Jika, umpama puisi singkat di atas mengikuti aturan baku penulisan kalimat, maka baris-baris dan baitnya akan tertulis seperti ini:

DI DEPAN LEMARI PENDINGIN

Ada waktu-waktu tertentu saat langit melihat semata ada aku berjalan sendiri ke mana-mana.

Aku bicara perihal segala, tetapi kau tidak mendengar apa-apa.

Kau berpikir, tetapi aku tidak bisa merasakan detak jantungku sendiri.

Ada saat kau menemukan cinta adalah umbi-umbian di lemari pendingin.

Mereka tiba-tiba bertunas meskipun sudah lama lupa rupa dan aroma tanah.

Jika, umpama demikian, maka betapa biasa dan membosankannya puisi di atas. Pemenggalan kalimat pada kata tertentu dilakukan untuk memberikan efek, menghasilkan tonjokan emosi pada momen yang tepat. Contohnya ada pada penggalan baris ke-3 dan ke-4 dari format asli puisi tersebut.

ke mana-mana. Aku bicara perihal segala,
tetapi kau tidak mendengar apa-apa. Kau

Dari kedua baris itu saja saya bisa menangkap keputusasaan, desperation, dari si penutur puisi. Dia sudah bicara perihal segala (macam) dan ke mana-mana (dengan siapa pun yang mau mendengar). Akan tetapi, seperti dilanjutkan di baris ke-4, obyek yang menerima puisi tidak mendengar apa-apa. Penghentian kalimat dengan tanda titik yang kemudian dilanjutkan dengan kalimat baru dengan awalan “Kau” dengan gamblang dan luwes menggambarkan ketidaksabaran dari si penutur puisi. Sama seperti kita yang sudah terlalu marah, kesal, kalut, dan hilang kata-kata, sehingga ketika menemui subyek yang membuat kita marah/kesal/kalut, kita hanya sanggup berkata: “Kau ….”

Pembolak-balikan kata-kata, terutama kata-kata majemuk, pada puisi atau pantun untuk mencapai kerapian ritme atau kesamaan bunyi (rima) adalah juga contoh aplikasi licentia poetica.

Contoh pertama sebuah pantun sederhana:

Buah durian, buah duku

‘Ku suka temanku membaca bukuku

Yang akan terdengar lebih cantik jika dituliskan begini:

Buah duku, buah durian

‘Ku suka bukuku dibaca teman

Contoh kedua, masih dari pantun:

Rajin kuliah supaya cepat dapat kerja setelah lulus

Terus terang, yang penting cari uang yang banyak

Yang akan lebih rapi dan berima jika dituliskan begini:

Rajin kuliah supaya cepat dapat kerja setelah lulus

Yang penting cari uang yang banyak, terang terus

Oke, contoh di atas cukup garing. Maafkan saya yang sedang kehabisan ide, hehehe.

Bagaimana dengan aplikasi licentia poetica di dalam karya prosa? Saya sendiri menganut paham berikut: mengikuti tata bahasa yang baku untuk penulisan narasi dan memberi diri saya sendiri hak untuk melanggar tata bahasa itu ketika menuliskan sebuah dialog.

Dialog adalah representasi dari karakter di dalam cerita. Dari dialog, pembaca mendapat gambaran yang lebih utuh tentang detail, tentang background story dari si karakter, entah itu pola pikirnya, prinsip hidupnya, penyimpangan moralnya, yang tidak mampu diwakili oleh narasi yang panjang lebar tanpa terlihat membosankan. Saya akan mengambil contoh dari cerita “Gendut” di dalam buku “The Cringe Stories” (Rijo Tobing, 2020).

Toni adalah seorang dokter bedah plastik yang diceritakan sangat mementingkan penampilannya. Dia rajin berolahraga dan memakai kosmetik khusus pria supaya selalu tampil menawan. Saking tampannya, Dokter Toni memandang dirinya ibarat Adonis, dewa kegairahan di dalam mitologi Yunani. Saking tampannya, Dokter Toni menjadi gampang berselingkuh dan akhirnya diputuskan oleh tunangannya.

Narasi di atas mungkin tidak cukup menarik dan tidak cukup mencakup semua aspek dari kepribadian Dokter Toni. Lain hal jika kepribadian itu dilukiskan melalui campuran narasi dan dialog seperti berikut:

Toni memandang cermin dan merapikan letak dasinya. Dengan hati-hati dia meraba kumis tipis di atas bibirnya. Sial, dia benar-benar tidak suka jumlah rambut yang berlebihan pada tubuhnya.

“Hari ini ada operasi lagi, Sayang?”

Toni menoleh ke arah wanita yang berdiri di belakangnya, mendekap pinggangnya dengan erat. “Banyak,” jawabnya singkat. “Gua akan lakuin apa pun untuk ngubah wajah yang jelek dan tubuh yang gendut.”

“Masih berpikir kamu adalah Avenger ya, Cinta, yang harus memperbaiki dunia ini dari semua ketidaksempurnaan?”

Toni hanya mengedikkan bahu. “Misi gua adalah melihat lebih banyak orang yang fit, tampan, dan cantik berkeliaran di luar sana.”

“Seperti siapa?”

“Seperti gua tentu saja,” tukasnya dengan seringai lebar. “Teknologi dan sains ada buat bikin hidup manusia lebih baik. Gua yang pegang kekuasaan itu.”Kata-kata Toni dikuti dengan suara tawa membahana darinya dan dari wanita itu. Wanita yang berbeda dari wanita kemarin siang. Wanita yang berbeda dari wanita pada waktu malam.

Bisa dilihat bahwa saya menggunakan kata “gua” dan bukan “aku” atau “saya” untuk cara Dokter Toni merujuk kepada dirinya sendiri. Saya memilih ini berdasarkan latar belakang Dokter Toni yang lahir dan dibesarkan di Jakarta yang terpengaruh oleh kebudayaan Betawi, termasuk bahasa yang ia pakai untuk bertutur. Dokter Toni juga menggunakan kata “pegang” bukan “memegang” saat berbicara, sebuah bentuk tidak baku yang bisa dimaafkan jika digunakan di dalam dialog yang menekankan kasualitas.

Masih dari cerita “Gendut” di dalam buku “The Cringe Stories”, saya juga mengaplikasikan licentia poetica dengan sengaja melanggar kaidah penulisan cara memanggil seseorang. Saat menulis sebuah narasi, kita bisa menggunakan kata-kata berikut untuk menunjukkan aksi memanggil:

  1. teriak
  2. panggil
  3. ujar
  4. seru
  5. dan seterusnya

Alih-alih menggunakan satu atau beberapa dari deretan kata itu, saya menambahkan huruf terakhir dari nama karakter lain dari cerita “Gendut” untuk memberikan nuansa emosi kesal, marah, tidak sabar, kehilangan kata-kata yang ingin disampaikan oleh karakter Dokter Toni.

Alih-alih menulis:“Sisil!” teriak Toni. “Jawab gua, Sisil!”

Saya menulis: “Sisillllllllll! Jawab gua! Sisilllll!”

Ada pembaca cerita ini yang mengeluhkan tata bahasa yang tidak baku dari kalimat tersebut. Pembaca tersebut bahkan mengaitkan kesalahan saya dalam bertata bahasa dengan ketidakmungkinan karya saya lolos saringan dari penerbit buku mayor.

Saya hanya menanggapi kritiknya dengan satu istilah: licentia poetica, kebebasan saya untuk menyimpang dari aturan tata bahasa yang baku demi memperkuat impak emosional dari dialog yang terjadi.

Dan ini termasuk kesadaran saya menggunakan konjungsi yang seharusnya diletakkan di tengah kalimat menjadi di awal kalimat, yang disesuaikan dengan detail dan cara berbicara seorang karakter di dalam cerita saya. Sebab tidak semua orang di dunia nyata SELALU berbicara dengan Subyek-Predikat-Obyek-Keterangan yang teratur seperti tokoh Rangga di dalam film “Ada Apa dengan Cinta”, bukan?

Ada orang di dunia nyata yang sering memulai kalimatnya dengan kata “tapi” karena dia sering melupakan detail dari isi percakapannya sebelumnya, atau ingin menambahkan hal-hal lain untuk diketahui oleh lawan bicaranya. Orang-orang seperti inilah yang menjadi model untuk karakter yang saya ciptakan.

Keluhan yang disampaikan sebagai kritik tersebut yang membuat saya memikirkan relasi antara karya, kritik, dan licentia poetica.

Kritik terhadap karya tulis saya yang berupa cerpen disampaikan dengan melupakan bentuknya yang bukan sebuah karya nonfiksi, seperti buku ajar atau undang-undang.

Kritik terhadap cerpen saya mengesampingkan faktor licentia poetica yang saya miliki sebagai penulis yang menghasilkan karya sastra.

Kritik terhadap kemampuan saya sebagai penulis menitikberatkan pada penguasaan tata bahasa saya, tanpa mempertimbangkan karakter, plot, setting , dan elemen krusial lain dalam sebuah karya fiksi berbentuk prosa.

Kritik tanpa melihat konteks karya tidak akan membawa perubahan pada kapabilitas penulis dan memberi manfaat bagi audiens dari karya itu.

Akhir kata, seberapa ketat atau longgar licentia poetica dapat diberlakukan di dalam sebuah karya tulis fiksi? Ia hanya tergantung pada konteks karya dan siapa yang menjadi penikmat karya tersebut. Licentia poetica akan lebih longgar pada karya puisi dan lebih ketat pada beberapa bagian dari karya novel/cerpen, misalnya longgar pada dialog dan ketat pada narasi.

Teman saya, Nadya, memiliki pendapat berbeda tentang licentia poetica. Menurutnya, setiap penulis memiliki identitas masing-masing dan itu tergambar melalui tata bahasa yang dia gunakan, termasuk tata bahasa yang dia sengaja langgar. Sastra adalah media untuk mengalirkan rasa. Jika kita merasa terintimidasi oleh karya sastra yang kita buat hanya karena kritik dari orang lain, maka tujuan sastra itu tidak tercapai. Licentia poetica dibuat supaya sastra tetap berfungsi lintas jaman, lintas pelaku, dan lintas genre.

Apa pendapat Anda?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s