Taegeukgi Mandeulgi

Kemarin saya iseng melihat pengumuman di akun Instagram Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) tentang Samiljeol, atau Pergerakan 1 Maret yang sekaligus menjadi hari libur nasional di Korea Selatan. Momen apakah itu? Pada tanggal 1 Maret 1919 seluruh warga Korea melakukan demonstrasi tanpa kekerasan untuk memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan mereka dari penjajahan Jepang.

Pada awal abad ke-20 tersebut, negara yang terletak di Semenanjung Korea belum terpecah menjadi Korea Utara dan Korea Selatan seperti yang ada di dunia saat ini. Pembagian Korea Utara dan Korea Selatan adalah salah satu efek Perang Dunia ke-2 yang berakhir pada tahun 1945, yang mempertentangkan ideologi demokrasi dan komunis.

Pergerakan 1 Maret yang juga disebut Demonstrasi Manse dipelopori oleh pelajar dan mahasiswa yang berkumpul di Taman Tapgol di pusat kota Seoul. Salah seorang tokoh pergerakan yang terkenal adalah Ryu Gwan Sun, seorang gadis pelajar berusia 17 tahun yang membagi-bagikan bendera Korea seperti yang kita kenal sekarang ini.

Ryu Gwan Sun dan banyak aktivis gerakan kemerdekaan ditahan, dipenjarakan, dan disiksa sampai meninggal dunia oleh pemerintah kolonial Jepang. Ryu Gwan Sun meninggal dunia pada usia 18 tahun di Penjara Soedaemun di kota Seoul, Korea Selatan. Penjara ini sudah diubah menjadi museum sejarah pada tahun 1992 dan menjadi salah satu obyek pariwisata di kota Seoul.

Bendera negara Korea Selatan yang dibagi-bagikan oleh Ryu Gwang Sun dan kawan-kawannya bernama taegeukgi dengan desain berikut:

Taegeukgi

Taegeukgi menggunakan latar belakang putih untuk menunjukkan kedamaian, kesucian, kemurnian, dan kebaikan orang-orang Korea. Lingkaran berwarna merah dan biru di tengah disebut taegeuk, yang melambangkan keseimbangan di alam semesta. Warna merah melambangkan energi kosmik positif dan warna biru melambangkan energi kosmik negatif. Prinsip dasarnya seperti yin dan yang di dalam kebudayaan Cina.

Taegeuk dikelilingi oleh empat kelompok garis-garis dengan berbagai bentuk yang terletak pada keempat sudut pada latar belakang putih bendera. Kelompok garis-garis tersebut dinamai trigram yang merepresentasikan pergerakan dan harmoni dari keempat elemen klasik.

TrigramSebutan dalam Bahasa KoreaSimbolMusimArah Mata Angin
geon
(건)
langit
(천)
musim semi
(춘)
timur
(동)
ri
(리)
matahari
(일)
musim gugur
(추)
selatan
(남)
gam
(감)
bulan
(월)
musim dingin
(동)
utara
(북)
gon
(곤)
bumi
(지)
musim panas
(하)
barat
(서)
Salah tiga dari berbagai kelompok elemen klasik yang direpresentasikan oleh trigram

Banyak aturan yang harus diikuti dalam membuat taegeukgi, yaitu sebagai berikut:

  1. Bendera harus memiliki ukuran dengan perbandingan panjang dan lebar yaitu 3 dibanding 2. Jadi, misalnya panjang bendera adalah 15 meter, maka lebar bendera adalah 2/3 x 15 = 10 meter.
  2. Ada lima bagian dari bendera yaitu taegeuk yang berada di tengah dan empat kelompok garis-garis, yaitu: geon, ri, gam, dan gon (definisi dapat dilihat pada tabel di atas).
  3. Diameter lingkaran taegeuk adalah setengah dari lebar bendera. Jadi, misalnya lebar bendera 10 meter, maka diameter lingkaran taegeuk adalah 1/2 x 10 = 5 meter.
  4. Bagian atas taegeuk harus berwarna merah dan bagian bawahnya berwarna biru.
  5. Keempat kelompok garis-garis (trigram) diletakkan pada keempat pojok bendera dengan aturan: geon (3 garis) di pojok kiri atas, ri (4 garis) di pojok kiri bawah, gam (5 garis di pojok kanan atas), dan gon (6 garis di pojok kanan bawah). Penempatan kelompok garis mudah diingat, bukan? Tiga, empat, lima, dan terakhir enam.

Dalam rangka memperingati Samiljeol, para peserta kelas Zoom tadi diajak untuk bersama-sama membuat taegeukgi, atau disebut juga taegeukgi mandeulgi, dengan media bebas dalam waktu 20 menit saja. Sebagai ibu yang memiliki anak-anak dengan usia sekolah, tidak sulit untuk meminta bantuan mereka dalam menyediakan kertas dan pensil warna, hehe. Sebelum mulai, kami diberikan panduan berikut untuk ukuran taegeukgi dan elemen-elemen di dalamnya:

Aturan ukuran untuk taegeukgi dan elemen-elemen di dalamnya

Berhubung waktu terbatas, saya hanya bisa mengira-ngira apakah ukuran taegeuk dan trigram yang saya gambar sudah mendekati kaidah yang ditentukan. Tak lupa saya menghias dua pojok bendera dengan bunga nasional Korea Selatan yang disebut mugunghwa, atau mawar Sharon, yang berarti bunga abadi yang tak pernah layu.

Mugunghwa dengan nama Latin: Hibiscus syriacus

Berikut ini taegeukgi yang saya gambar, unggah di akun Instagram saya, dan mendapat apresiasi dari KCCI. Terus terang, saya iseng saja mengikuti acara ini, jadi rasanya bahagia sekali karena terpilih.

Taegeukgi buatan saya

Sebenarnya hari ini bukan kali pertama saya mendengar tentang Samiljeol. Sewaktu masih bersekolah di Tokyo Institute of Technology di Jepang, teman-teman saya yang berasal dari Korea Selatan memperingati Samiljeol dengan sangat khidmat.

Apalagi ketika itu pada tahun 2004 ada wacana penghapusan detail penjajahan Jepang terhadap bangsa-bangsa lain di Asia seperti Korea Selatan dan Indonesia, di buku-buku sejarah yang akan diajarkan di sekolah-sekolah. Wacana ini diprotes habis-habisan oleh mahasiswa asing yang berasal dari Korea Selatan lewat berbagai kelas dan forum diskusi. Jelas mereka tidak terima karena setiap tahun mereka masih memperingati jatuhnya banyak korban jiwa dalam memperjuangkan kemerdekaan mereka dari penjajahan bangsa Jepang.

Bagaimana dengan mahasiswa asing yang berasal dari Indonesia? Sayangnya, kami waktu itu adem ayem saja dan hanya berfokus pada studi.

Selamat memperingati Samiljeol, Hari Pergerakan Samil yang ke-102.

축하합니다! 🙏

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s