Kesan Pertama Drama Korea: Sisyphus the Myth

Tulisan ini akan sangat berapi-api dan penuh dengan kekecewaan.

Setelah sukses memerankan seorang jaksa yang gila kerja dan antisosial di dalam drama Korea “Stranger” Season 1 (2017) dan Season 2 (2020), Cho Seung Woo mengambil peran sebagai Han Tae Sul, seorang CEO dan engineer berbakat yang memimpin perusahaan teknologi bernama “Quantum & Time” di dalam drama “Sisyphus: the Myth” yang ditayangkan mulai kemarin, 17 Februari 2021.

Berharap banyak. Itu adalah isi pikiran saya ketika tahu Oppa akan bermain di dalam drama baru. Cho Seung Woo bukanlah aktor layar lebar dan layar perak yang populer. Dia lebih dikenal di panggung musikal dan teater. Akan tetapi, semua film dan drama yang dia bintangi sangat diperhitungkan dan masih diperbincangkan, bahkan bertahun-tahun setelah film/drama tersebut selesai ditayangkan.

Drama “Sisyphus” (untuk lebih singkatnya) dibuka dengan sebuah scene dari masa depan di mana dunia kelihatan semrawut, kotor, tak terurus, dst, dsb, yang selaras dengan ide dasar drama ini yang mengangkat sebuah kondisi distopia. Kang Seo Hae (Park Shin Hye) dikisahkan akan kembali ke masa lalu dengan membawa sebuah koper besar (wew!) untuk memperingkatkan Han Tae Sul supaya tidak membuka koper besar sejenis, jikalau apabila andaikan dia kebetulan menemukan koper yang dimaksud.

Setelah itu adegan berpindah ke first class dari sebuah pesawat yang akan menuju ke Korea Selatan. Tae Sul adalah salah satu penumpang yang kemudian menjadi penyelamat pesawat yang hendak jatuh karena sebuah insiden. Harap perhatikan sequence kejadian berikut:

  1. Pilot dan ko-pilot sedang menerbangkan pesawat dalam keadaan damai.
  2. Sebuah obyek tiba-tiba membentur kaca kiri depan kokpit dan menyebabkannya pecah.
  3. Pecahan kaca mengenai kepala si pilot dan menyebabkannya meninggal seketika.
  4. Tekanan udara di kokpit dan kabin pesawat terpengaruh, seluruh badan pesawat mengalami guncangan.
  5. Tae Sul yang penasaran dan merasa terpanggil sebagai seorang engineer, masuk ke kokpit, mengambil mika alas menulis yang ada, menempelkan mika itu ke jendela kokpit yang pecah, dan merekatkan mika dengan duct tape yang selalu dia bawa ke mana-mana. Ketika ko-pilot dengan skeptis bertanya bagaimana mungkin memperbaiki jendela pecah dengan duct tape doang, Tae Sul menjawab: waktu Perang Dunia II semua orang membawa duct tape untuk emergency.
  6. Selain masalah jendela yang pecah, ada sirkuit yang terbakar di mesin bagian depan.
  7. Pesawat sudah gliding dengan sangat cepat dari ketinggian 30 ribuan kaki, dalam beberapa detik mereka akan menabrak gedung-gedung tinggi di kota Seoul.
  8. Tae Sul berhasil menyambungkan kabel yang terputus dan menyelamatkan 200 sekian orang penumpang pesawat itu.

ISN’T IT TOO GOOD TO BE TRUE?

Imajinasi sih boleh saja, tapi kalau sampai cacat logika, di situ saya sebagai penonton merasa nalar saya diremehkan.

Kembali sebentar ke Seo Hae yang sudah mendarat di masa kini, kabur dari siapa pun itu yang mengejarnya, sambil menggeret-geret koper besar. Seriously, ada apa sih dengan koper itu? Di saat puluhan orang mengepungnya, dia dengan santai duduk manis di atas atap kereta, di sebelah koper itu, dan so yakin kalau dia tidak akan ketahuan dan ditangkap.

Emosi aku tuh.

Park Shin Hye ini ya. Terlepas dari prinsip saya bahwa oppa ga pernah salah, kalau dramanya jelek, pasti itu salah eonni, Park Shin Hye dan agency-nya pantas banget dipuji karena dia selalu membintangi drama-drama dengan lawan main high profile actors.

Sebut saja Lee Min Ho di dalam “The Heirs” (2015), Lee Jong Suk di dalam “Pinocchio” (2013), dan terakhir Hyun Bin di dalam “Memories of the Alhambra” (2017), lawan mainnya tuh bukan aktor kaleng-kaleng. Mereka semua punya jam terbang tinggi di dunia entetainment, bukan sekedar idol yang lagi belajar akting. Dan sedihnya, mereka semua dipasangkan dengan Park Shin Hye yang aktingnya YA GITU DEH.

Nangis, ga kelihatan sedih. Khawatir, ga kelihatan cemas. Berantem, terlalu berisik dengan seruan-seruan. Entah emosi apa yang bisa didapat dari peran-peran yang dimainkan oleh Park Shin Hye. Belum lagi dirinya yang dari drama ke drama selalu ribet dengan rambut. Astaga naga!

Pada epidose ke-2 langsung diungkapkan bahwa Tae Sul dan Seo Hae menikah di masa depan dan Seo Hae tertembak dan sekarat karena satu dan lain hal (entahlah, saya sudah mengantuk berat waktu menonton scene ini). Jadi Seo Hae mati-matian mencari Tae Sul supaya tidak membuka koper yang akan memuka tabir kematian misterius kakaknya, Han Tae San.

Memangnya ada apa dengan Tae San, dan ada apa dengan koper? Ini berasa nonton film AADC tapi yang dibahas boro-boro cinta, tapi koper dan orang yang sudah meninggal. Mau dibilang misteri, ga juga. Tidak berasa gregetnya, plotnya terlalu mudah ditebak. Sebagaimana pun Tae Sul digambarkan menyesali sikapnya yang kasar, merendahkan, tidak memercayai, dan tidak sempat berbaikan dengan Tae San sampai akhirnya Tae San ditemukan meninggal, emosi yang Cho Seung Woo tampilkan tidak cukup untuk membuat saya percaya bahwa dia terjebak ke dalam halusinasi yang mengharuskannya mengonsumsi obat-obatan supaya bisa tetap berpikir tenang.

Apalagi ada selipan bahwa si psikiater adalah mantan pacar Tae Sul yang dia selingkuhi, dan sekarang si mantan pacar malah menjalin hubungan dengan tangan kanannya di perusahaan. Si tangan kanan diperankan oleh seorang aktor yang selalu ada di dalam drama apa pun yang dibintangi oleh Cho Seung Woo, sebut saja “Life” (2017) dan “Stranger” Season 2 (2020). Si aktor itu biasanya bermain bagus lho sebagai orang jahat dan ngeselin, tapi kok di “Sisyphus” dia terlihat cemen sebagai orang baik?

There is something so unbelievable about this drama. I can’t quite put my finger on it, but it upsets me.

Dari awal sudah digaung-gaungkan tentang adanya konspirasi, sebuah organisasi rahasia yang berkuasa, menakutkan, dan mengintai kehidupan orang banyak. Perwujudannya adalah sebuah organisasi yang bernama Central Bureau yang mengambil kedok sebagai organisasi yang mengurus imigran ilegal. Mereka mendatangi tempat Seo Hae bersembunyi, yaitu sebuah restoran Cina yang bapuk.

Kata bosnya, ayo selesaikan dengan cepat dan jangan menarik perhatian banyak orang. Eh tapi, yang mengepung restoran Cina itu dan mencari Seo Hae ada tiga puluhan men in black, membawa pistol dengan silencer, dan sekitar sepuluh orang berpakaian hazmat lengkap dengan topeng gas. Mau tidak menarik perhatian bagaimana sih maksudnya? Lu kira daerah seperti Seoul bakalan sesepi apa dan tidak menjadi curious kalau melihat segerombolan orang seperti orang-orang Central Bureau ini?

Emosi aku tuh (2).

Belum lagi ada adegan Seo Hae memaksa pemuda yang menolongnya untuk melepas pakaiannya dan memberikannya kepada Seo Hae. Itu ada lemari pakaian dengan banyak baju karena scene-nya ‘kan mengambil tempat di apartemen si pemuda. Eh ini Seo Hae memaksa si pemuda stripping sampai cuma pakai celana boxer, supaya dia bisa memakai kaos cokelat, black jeans, dan jaket kulit merah marun? UNBELIEVABLE.

Scene ini mengambil waktu kurang lebih 3 menit, sampai akhirnya Seo Hae menyadari bahwa dia sudah dikepung oleh orang-orang Central Bureau. Tiga menit yang kusia-siakan untuk menonton sebuah kekonyolan.

Untuk mengakhiri tulisan ini, karena kemarahan saya akan dilanjutkan minggu depan, saya akan mengambil beberapa kesimpulan tentang drama “Sisyphus”:

  1. Aura drama ini adalah Mission Impossible yang dilangsungkan DI KOREA SELATAN, dengan Tae Sul berperan sebagai MacGyver ala-ala. Omayga, ketahuan banget umur saya karena saya mengambil referensi tokoh detektif/agen hebat sekelas MacGyver.
  2. Nuansa pengambilan gambar, tone setiap scene, properti yang digunakan itu sebelas-dua belas dengan di drama “Private Lives” (2020) yang sukses saya drop karena logical fallacy yang tak tertolong, dan tentu saja karena inti drama itu adalah Seo Hyun SNSD yang berparade memamerkan pusar dan koleksi wignya.
  3. Ini adalah satu lagi drama Korea rasa Hollywood, dengan background teori konspirasi, organisasi rahasia, misi terlarang, dunia dalam ancaman, dll, dsb, yang khas sindrom superpower yang dimiliki oleh Amerika Serikat dan Hollywood sebagai industri hiburan yang mewakili kepentingannya. Perbedaan setting negara, yang satu negara adidaya Ameriak Serikat dan yang satu lagi negara maju Korea Selatan, yang membuat drama Korea rasa Hollywood kehilangan relevansinya.
  4. Selain kehilangan relevansi, drama “Sisyphus” menjadi sama seperti “Vagabond” (2019) yang kehilangan sentuhan khas drama Korea seperti: 1) perkembangan karakter dan relasi antar karakter secara perlahan, 2) pengungkapan rahasia dan konflik dengan mengambil jalan memutar, 3) segala sesuatu yang berkaitan dengan adab, adat, dan kepantasan berperilaku yang khas Korea/Asia.
  5. Sudah bisa ditebak bahwa “Sisyphus” ditayangkan di paltform Netflix dengan ciri khas cerita ala Hollywod, demi mengambil pangsa pasar penonton yang lebih besar, entah itu di Amerika Serikat atau di Asia. Ke depannya, saya memprediksi akan ada lebih banyak lagi drama/film Korea yang berkompromi dengan nuansa Hollywood demi memperluas cakupan market. Menanggapi hal ini, saya hanya bisa merasa sedih.

Setelah membaca tulisan saya di atas, masih berminatkah kamu menonton drama ini?

2 thoughts on “Kesan Pertama Drama Korea: Sisyphus the Myth

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s