Prinsip Keadilan dan Ambisi Manusia dalam Cerita Rakyat

Cerita rakyat dan cerita fabel memiliki beberapa kesamaan. Kita sulit menulusuri siapa pencipta mereka, kita sulit menentukan kapan mereka diciptakan, dan perkembangannya adalah berdasarkan penuturan secara lisan antargenerasi. Tidak seperti cerita fabel yang dapat terus-menerus diciptakan oleh penulis-penulis baru sesuai dengan kebutuhan jaman, cerita rakyat biasanya tidak berubah dalam kurun waktu yang lama dan bersifat khas untuk suatu daerah atau masyarakat.

Cerita fabel adalah cerita yang mengandung pesan moral dimana karakter-karakter utamanya adalah sekumpulan hewan. Cerita rakyat adalah cerita dengan karakter-karakter campuran: manusia, hewan, makhluk setengah dewa, dewa yang menitis ke dalam tubuh manusia/hewan, dan berbagai kemungkinan lainnya. Pesan moral yang terkandung di dalamnya? Terus terang, saya meragukan pernyataan bahwa cerita rakyat ada untuk menyampaikan pesan moral kepada banyak orang.

Mengapa saya berkata demikian? Semakin banyak cerita rakyat yang saya baca, semakin banyak cerita rakyat yang saya ingat lagi dari masa kecil saya, semakin saya meyakini bahwa cerita rakyat ditulis dengan dua falsafah utama:

1. Keadilan harus ditegakkan

Dan bagi saya, keadilan yang dikejar untuk ditegakkan itu lebih bersifat subyektif daripada obyektif. Keadilan seharusnya bersifat kolektif, diketahui dan disepakati oleh semua elemen masyarakat yang terlibat. Konsekuensi dari terjadinya sebuah ketidakadilan juga seharusnya merupakan sebuah kesepakatan bersama. Akan tetapi, keadilan yang diajarkan, yang diimplikasikan oleh cerita rakyat adalah keadilan yang sangat condong kepada penilaian pribadi.

Mari kita ambil sebuah cerita rakyat yang populer dari daerah Sumatera Barat. Alkisah Malin Kundang adalah anak laki-laki dari sebuah keluarga miskin. Suatu hari dia pergi berlayar, menjadi beruntung, dan kembali ke kota asalnya sebagai orang kaya raya. Ibunya yang telah menjadi tua namun tetap miskin menyambutnya turun dari kapal dengan pakaian compang-camping. Malin Kundang yang sudah menikah dengan seorang putri dan malu akan kondisi keluarganya yang sebenarnya pura-pura tidak mengenali ibunya itu.

Sebagai seorang ibu, apakah dia akan berbesar hati memaafkan anaknya, Malin Kundang? Apakah dia akan tetap mendoakan dan menunggu sampai anaknya kembali mengakuinya sebagai keluarga? Tentu saja tidak, ibu Maling Kundang marah dan mengutuk anaknya dan kapal yang dia miliki menjadi batu. Konon dari batu itu keluar air mata pertanya penyesalan Malin Kundang. Atau mungkin saja itu air yang memang merendam kumpulan batu yang dipercayai sebagai Malin Kundang dan kapalnya yang dikutuk. Tidak ada yang tahu pasti.

Keadilan versi ibu si Malin Kundang sudah ditegakkan. “Wajar” ia mengutuk anaknya yang durhaka dan tidak tahu berterima kasih. Masakkan Malin Kundang bisa dengan mudah menyangkal keberadaan ibunya padahal ia sudah dibesarkan dengan susah payah di tengah kemiskinan dan segala keterbatasan? “Wajar” saja jika Malin Kundang dikutuk menjadi batu karena kekurangajarannya itu.

Akan tetapi, apakah itu standar keadilan bagi ibu yang lain jika mengalami hal yang sama dengan yang dialami oleh ibu si Malin Kundang? Menurut hemat saya, ada kemungkinan ibu yang lain tidak akan sampai mengutuk anaknya. Ada kemungkinan ibu, dengan kasihnya yang sepanjang jaman, akan memaafkan anaknya walaupun rasanya sulit. Ada begitu banyak kemungkinan akhir kisah ini bagi seorang anak seperti Malin Kundang, karena ada begitu banyak versi keadilan yang ingin diterapkan dari satu cerita rakyat ke cerita rakyat lainnya.

Saya akan mengambil contoh cerita rakyat yang lain. Bawang Merah dan Bawang Putih; familiar ‘kan dengan cerita ini? Alkisah ayah Bawang Putih menikah lagi setelah istrinya meninggal. Istrinya yang baru membawa seorang anak perempuan yang bernama Bawang Merah. Ibu tiri dan saudara tiri si Bawang Putih awalnya bersikap sangat baik dan manis padanya. Namun lama-lama mereka bersikap kasar dan memperlakukannya seperti pembantu. Akhir cerita, Bawang Putih bertemu seorang misterius yang memberikannya labu. Ketika dibuka, dari dalam labu itu muncul ular berbisa yang akan melukai ibu dan saudara tiri Bawang Putih.

Akhir dari cerita ini ada dua versi: 1) dimana ibu tiri dan Bawang Merah meminta maaf kepada Bawang Putih dan mengubah sikap mereka, dan 2) dimana ibu tiri dan Bawang Merah mati dipatuk ular berbisa. Serem, ya? Keadilan yang hendak ditegakkan untuk si Bawang Putih bervariasi mulai dari yang efeknya sedang sampai fatal. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana cerita rakyat ini bisa begitu berkembang sampai ada ending yang permisif terhadap upaya pembunuhan. Hiyyy. Dan kedua jenis ending ini adalah bukti bagaimana subyektifnya keadilan yang ditegakkan di dalam cerita rakyat.

2. Ambisi pribadi manusia

Cerita rakyat berkutat soal ambisi. Ambisi Jaka Tarub yang ingin menahan seorang bidadari cantik untuk pulang ke kahyangan dengan cara mencuri selendangnya. Ambisi Sangkuriang yang sangat ingin mempersunting Dayang Sumbi (yang adalah ibunya sendiri yang tidak pernah menua, iyuh) sampai-sampai berjanji membangun kapal dalam satu malam. Ambisi Bandung Bondowoso untuk mempersunting Roro Jongrang sampai-sampai ia menyanggupi membangun seribu buah candi dalam satu malam. Dan masih banyak contoh ambisi lain yang secara implisit dan eksplisit terkandung di dalam cerita rakyat.

Semakin banyak cerita rakyat yang saya baca, semakin jelas bahwa cerita rakyat adalah tentang penyampaian sebuah ambisi, entah dari penulis atau pencipta atau penyebar cerita rakyat itu. Dan semakin lama saya semakin sadar bahwa ambisi dapat dicapai, dapat dipenuhi dengan cara-cara yang tidak sepenuhnya bersih.

Dari cerita rakyat saya jadi tahu bahwa tidak apa-apa berbohong tentang pencurian selendang si bidadari asalkan Jaka Tarub bisa memiliki istri. Bukankah si bidadari juga bahagia tertinggal di bumi, bisa hidup bersama Jaka Tarub sampai akhirnya mereka menikah dan memiliki anak? Dayang Sumbi dan Roro Jongrang juga tidak apa-apa curang (dengan membangunkan ayam supaya berkokok lebih awal sebagai penanda hari sudah pagi), berbohong dan tidak menepati janji demi lolos dari pernikahan yang mereka tidak kehendaki. Tidak apa-apa mereka melakukan itu semua demi mencapai kepentingan (baca: ambisi) mereka pribadi.

Kalau begitu, di mana pesan moral dari cerita rakyat? Sungguh saya tidak habis pikir.

Semakin banyak cerita rakyat yang saya baca, saya semakin meragukan nilai moral, etika, tanggung jawab di dalamnya. Anak durhaka, gampang saja begitu dikutuk oleh ibunya? Tidak mau menikah padahal sudah janji, pakai shortcut dong biar lolos dari kewajiban moral. Dan seterusnya, dan sebagainya.

Bagaimana menurut pembaca budiman? Pesan moral apakah yang pernah didapat dari sebuah cerita rakyat? Saya ingin tahu.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s