Mengapa Penulis Fiksi Perlu Menonton Drama Korea?

Pada hari Senin, 14 Desember 2020, komunitas kesayangan saya Drakor Class diundang oleh Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) untuk mengupas tuntas segala aspek tentang drama Korea. Acara yang bertajuk “Crash Landing on K-Drama”, yang merujuk pada drama fenomenal “Crash Landing on You” (ditayangkan 14 Desember 2019 – 16 Februari 2020), diselenggarakan via Zoom dan disiarkan live via Facebook.

Hati kami gembira bukan kepalang karena undangan untuk mengisi acara yang menjadi salah satu bagian dari Korean Cultural Day datang tepat pada usia dua bulan Drakor Class. Seperti kesempatan lain yang langsung disambar tak pakai lama, kami pun gotong-royong berjibaku menyiapkan materi untuk menunjukkan kecintaan kami pada drama Korea dan sekaligus literasi.

Seperti kata Bu Rektor kami, Rhin, semangat kami adalah mengajak penonton K-Drama, atau yang lebih familiar disebut sebagai drakor (drama Korea), untuk mulai menulis. Betul, menonton drakor adalah sebuah hiburan yang tiada tanding tiada banding, apalagi sejak pandemi dimana banyak dari kita yang memiliki kelebihan waktu luang karena tidak ada keharusan commuting seperti prapandemi. Namun drakor sebaiknya tidak berhenti hanya sebagai hiburan, tuliskanlah pelajaran moral dan hal inspiratif yang didapat dari drama yang baru ditonton supaya bisa bermanfaat bagi orang lain.

Selain itu, kami juga ingin mengajak para penulis untuk mulai menonton drama Korea sebagai sumber ide dan referensi. Menonton drama Korea dapat membantu proses kreatif seorang penulis, baik fiksi maupun nonfiksi. Seorang penulis dapat belajar banyak dari setiap episode yang ditonton. Kebetulan saya mendapat tugas untuk mengulik bagian ini, terutama tentang kaitan antara drakor dan penciptaan fiksi.

Pada acara yang berlangsung selama sekitar 2 jam 20 menit ini, kami membagikan banyak hal. Dengan dipandu oleh Kak Dwi, uri host, sebagai moderator andalan, acara dibuka oleh KCCI dan langsung diserahkan kepada Kak Rhin untuk menjelaskan sejarah terbentuknya Drakor Class.

Kak Rhin secara lugas menceritakan bagaimana para kontributor Drakor Class bertemu. Kami semua tergabung dalam komunitas KLIP, Kelas Literasi Ibu Profesional, yang berdiri pada tahun 2019 (sebelumnya komunitas ini bernama ODOP, One Day One Post). KLIP tahun ini adalah angkatan kedua.

Saya sendiri baru bergabung sejak bulan Januari tahun ini karena diajak oleh Kak Rhin yang merupakan sepupu saya. Tak disangka, di komunitas ini saya cepat sekali mendapatkan teman-teman yang satu passion di bidang menulis. Sebuah hal yang saya butuhkan setelah hampir dua tahun enggan bersentuhan dengan dunia literasi akibat demotivasi.

Banyak dari anggota KLIP yang selain gemar menulis juga gemar menonton drama Korea. Perbincangan di grup WA dari KLIP sehari-hari diwarnai diskusi tentang jalan cerita dan aktor sebuah drama, sampai pada gosip miring dan sedapnya, hehehe. Pada bulan April 2020 Kak Rhin berinisiatif membentuk grup WA baru berjudul “Drakor dan Literasi” untuk menampung dua aktivitas yang banyak digemari ini.

Saya sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan sebuah komunitas yang terdiri dari orang-orang yang gemar belajar dan tidak pernah takut menantang diri. Usia bukanlah kendala, tanggung jawab yang bejibun bukanlah alasan, karena cinta mengenal usaha. Kami berkumpul karena cinta menulis dan cinta drama Korea. Oleh karena itu, percakapan  di grup WA tidak hanya berhenti pada pembahasan drama teranyar dan juga drama lawas beserta para oppa dan eonni-nya. Pada bulan Juni 2020, kami memulai tantangan menulis kami yang pertama.

Apakah itu?

Syahdan, terwujudlah tantangan “Menulis Tiga Puluh Topik Seputar Kokoriyaan”. Itu topik besarnya, tapi tiga puluh tema kecilnya sangat spesifik dan mencakup banyak sekali hal yang saya sendiri tidak pernah terpikir bisa saya tulis. Dimulai dengan bagaimana bisa mulai mengenal drama Korea, apa drama Korea pertama, siapa aktor favorit, sampai mengulik tentang second lead syndrome yang rasa-rasanya hanya ada di drama Korea dan tidak ada di drama dari negara lain, sampai para aktor pendukung berusia paruh-baya yang menjadi favorit kami.

Temanya banyak dan sangat beragam, ya?

Sebenarnya tujuan awal Kak Rhin dan teman-teman yang lain menetapkan sampai sedemikian banyak tema adalah supaya kami tidak kekurangan ide tulisan setiap hari. Maklum, di KLIP ada kewajiban setoran tulisan yang diganjar dengan pemberian badge. Badge “Good” untuk minimal 10 tulisan dalam sebulan, badge “Excellent” untuk minimal 20 tulisan dalam sebulan, dan terakhir badge “Outstanding” untuk minimal 30 tulisan dalam sebulan (dengan perkecualian di bulan Februari dan Desember).

Bagi saya, seorang rabbit yang sangat menyukai carrot, sistem pemberian badge seperti ini sangat memacu motivasi saya untuk menulis. Sebenarnya tujuan utama saya mengikuti komunitas ini adalah untuk menemukan kembali “panggilan” itu setelah sekian lama terlalu sibuk dengan masalah disukai/tidak disukai oleh pembaca saya. Akibat tuntutan jumlah setoran itu akhirnya saya kembali menghidupkan blog yang sudah mati suri selama hampir dua tahun.  

Apa saja badge yang saya koleksi sepanjang tahun ini? Wah, saya tidak ingat satu per satu. Yang saya ingat saya mulai ikut menyetor tulisan pada bulan Januari tahun ini dengan langkah sangat berat. Sampai dengan tanggal 31 Januari 2020, jumlah setoran saya masih 9 tulisan, padahal untuk mendapatkan badge dasar (“Good”) saya memerlukan minimal 10 tulisan.

Akhirnya dengan semangat deadliner garis keras yang sudah terlatih baik sejak SMA sampai sekarang jadi emak-emak, saya ngebut menulis dalam 1 jam dan berhasil menyelesaikan tulisan yang ke-10. Walhasil saya masih bisa lanjut ke bulan berikutnya (versi saya, ya, kalau aturan versi KLIP lebih kompleks dan tidak saya ingat benar). Oleh karena saya melihat diri saya bisa menaklukkan tantangan itu pada bulan pertama, langkah pun lebih ringan, ide pun lebih mengalir, dan rasa cinta pada menulis itu pun perlahan-lahan kembali kepada saya.

Bulan-bulan berikutnya diisi dengan drama, tentu saja. Karena apatah asyiknya hidup kalau tidak ada fase naik dan turun, ya ‘kan? Ada bulan dimana saya mendapat badge lebih tinggi yaitu “Excellent” dan “Outstanding”. Ada bulan dimana saya terlalu asyik menonton drakor (yang hanya saya tonton pada malam hari menjelang tidur) sehingga lupa menyetor ke KLIP  menjelang tengah malam (so Cinderella). Ada bulan dimana saya terlalu sibuk dengan tanggung jawab lain dan mencukupkan diri dengan 20 tulisan saja. Kalau bisa 10 tulisan, batas bawah harus ditingkatkan menjadi 20 tulisan, begitu prinsip saya, dan batas atas tetap di 30 tulisan per bulan.

Dengan tantangan “Menulis Tiga Puluh Topik Seputar Kekoriyaan” saya jadi sadar bahwa tidak ada hal yang tidak bisa dituliskan. Intinya adalah: sulit itu mungkin, tapi mustahil itu tidak. Sepanjang 30 topik tersebut yang paling berat bagi saya adalah topik variety show apa yang saya tonton. Oleh karena saya tidak menyukai variety show dengan segala tantangannya (kalau mau tantangan, saya cukup mengerjakan pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya), maka saya memutar otak dengan susah payah supaya memiliki bahan tulisan.

Ide itu datang ketika sesi Zoom dengan teman-teman dari grup WA “Drakor dan Literasi”. Waktu itu saya baru berkenalan dengan Kak Dwi, salah satu anggota grup yang adalah teman Kak Rhin, sepupu saya. Kak Dwi ini bermarga sama, pernah menempuh pendidikan di kampus yang sama, memiliki banyak teman yang sama dengan saya, dan anehnya kami tidak pernah aware dengan kehadiran masing-masing. Padahal kami hanya terpaut 3 angkatan, dimana notabene pasti masih ketemu di kampus, dan lingkaran pertemanan kami ternyata itu-itu saja (termasuk rumah kos teman yang sering kami datangi, hehehe).

Kak Dwi juga tidak suka menonton variety show, dan satu-satunya show yang dia tonton walau sekejap adalah “The Return of Superman” yang menghadirkan Lee Dong Wook, aktor favorit kami berdua. Dari situ saya mendapat ide untuk menuliskan tentang asal-usul kami, marga yang kami sandang, baru masuk ke sedikit pembahasan tentang variety show itu sendiri dan Lee Dong Wook oppa. Jumlah kata yang saya tulis untuk topik ini adalah 1.900-an kata, pertama kalinya saya menulis sebanyak itu untuk sebuah tulisan nonfiksi. Komentar Kak Dwi setelah membaca tulisan saya adalah:

“Diawali dengan LDW-oppa, muter ke sana ke sono mampir ke bulan balik ke bumi, dan diakhiri dengan LDW-oppa lagi. Daebak!!”

Dari situ saya semakin meyakini bahwa sulit itu mungkin, tapi mustahil itu tidak. Sejak Lee Dong Wook membintangi drakor “Tale of the Nine Tailed”, tidak ada hari berlalu tanpa tulisan itu dikunjungi. Padahal tulisan itu sedikit sekali relevansinya dengan perjalanan karir atau kemampuan akting Lee Dong Wook oppa, atau review dari drama terbaru itu sendiri. Tulisan itu murni hasil saya menyambung-nyambungkan tiga aspek yang kelihatannya sangat berbeda, tapi saya yakini ada irisannya, yaitu: saya, Kak Dwi, dan Lee Dong Wook. Kebetulan irisannya adalah variety show berjudul “The Return of Superman” yang kebetulan lagi menjadi topik menulis yang saya harus selesaikan.

Sejak bergabung di KLIP saya semakin menyadari pentingnya memiliki mind map dari pikiran saya sendiri. Ide menulis pasti akan selalu ada. Ide itu sudah tertanam secara intrinsik di benak saya yang bisa keluar kalau ada pemicunya. Menurut Wikipedia, mind map adalah diagram visual yang digunakan untuk mengorganisasi informasi secara hirarkis dan terhubung satu sama lain. Dengan mind map, saya membuka laci-laci berisi informasi yang tersimpan di otak akibat perjalanan dan pengalaman hidup, dan menyusunnya sedemikian rupa sehingga menjadi informasi yang berguna dan dapat disampaikan kepada orang lain dengan mudah.

Mind mapping inilah yang memudahkan saya ketika teman-teman meminta saya menyampaikan materi efek menonton drakor terhadap penulis fiksi. Setelah Kak Rhin mempresentasikan asal-usul Drakor Class, ada pemaparan dari teman-teman sekelas saya tentang alasan orang-orang menonton drakor (Ima, Nadya, dan Riela), efek dari menonton drama untuk aspek sosial (atau nonfiksi – DK), literasi (atau fiksi – saya), aspek bahasa/budaya/pengetahuan umum (Lendy), dan kilas-balik drama yang tren dan banyak dibicarakan sepanjang tahun 2020 (Rella).

Jauh sebelum acara dengan KCCI tersebut, saya sudah menemukan “Segitiga Penciptaan Fiksi” akibat tantangan menulis 30 topik seputar Korea yang saya jelaskan di atas. Ini adalah tulisan aslinya dan di bawah ini adalah diagram awalnya:

Segitiga Penciptaan Fiksi

Hubungan antara segitiga tersebut dengan drakor saya uraikan dengan poin-poin, yang kemudian untuk kepentingan presentasi saya rangkum menjadi diagram akhir sebagai berikut:

Hubungan antara segitiga penciptaan fiksi dan K-Drama, alias drakor

Mari kita mulai dengan bagan yang terletak di sebelah kiri. Kamu bisa melihat sebuah segitiga terbalik dengan tiga kegiatan pada setiap sudutnya, yaitu: membaca, menonton, dan menulis. Mengapa segitiga itu diposisikan terbalik dan mengapa meletakkan ketiga aktivitas itu di sana?

Sebelum saya menjelaskan lebih lanjut, saya akan memulai dengan sebuah filosofi. Seorang penulis bisa diandaikan sebagai sebuah bejana. Tahu bejana ‘kan, wadah air pada jaman dulu yang terbuat dari tanah liat? Orang jaman dulu menerima air dari sumber mata air, menampungnya ke dalam bejana, dan mengalirkan air itu dari bejana ke wadah-wadah lain yang lebih kecil. Pada intinya, supaya bejana bisa terus mengalirkan air keluar, dia harus terus menerima air. Tanpa menerima air yang baru, air di dalam bejana lama-kelamaan akan habis, dan jika itu terjadi tidakkah fungsi bejana akan berkurang?

Bagi seorang pencipta fiksi, seorang penulis yang bergerak dengan simpul fakta-imajinasi-opini, proses kreatif penciptaan fiksi terjadi di dalam batin dan jiwa yang bisa disamakan dengan bejana yang saya uraikan di atas. Jika tidak diisi dengan aktivitas yang bisa memacu proses kreatif, mustahil seorang pencipta fiksi menghasilkan karya yang seharusnya dia hasilkan, yaitu: fiksi.

Dua aktivitas yang saya taruh sebagai ikhtiar mengisi “bejana” seorang pencipta fiksi adalah aktivitas membaca dan menonton. Pertama, dengan membaca karya orang lain, seorang pencipta fiksi memperoleh gambaran dari karakter, setting, dan alur sesuai dengan perspeksi dan pengetahuan pribadinya.

Saya beri sebuah contoh. Misalkan seorang pencipta fiksi membaca tentang jam Big Ben di kota London. Di dalam bukunya seorang penulis menggambarkan Big Ben sebagai sebuah jam raksasa yang berwarna putih dan dikepung oleh deretan pilar berwarna emas. Pembaca yang belum pernah melihat gambar Big Ben mungkin membayangkan sebuah jam seperti deskripsi si penulis. Pembaca yang pernah melihat langsung Big Ben mungkin menyadari bahwa penulis hanya menyederhanakan tampilan fisik Big Ben yang sebenarnya.

Akan selalu ada gap persepsi dan pengetahuan antara penulis dan pembaca karyanya, karena penulis berusaha menerjemahkan apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri atau lihat di dalam benaknya ke dalam rangkaian kata-kata, supaya tercipta penggambaran yang sama di benak pembaca. Usaha menerjemahkan kata-kata itu menemui tantangan ketika ada perbedaan persepsi, pengetahuan, dan kemampuan berimajinasi antara penulis dan pembaca karyanya.

Lain aktivitas membaca, lain pula aktivitas menonton. Saat menonton, kita sebenarnya melihat interpretasi sutradara terhadap skrip yang dia terima. Misalkan penulis skrip menulis kalimat berikut:

“Dua orang wanita berjalan di trotoar. Satu orang berambut putih dan agak membungkuk. Satu orang lagi berjalan sambil melompat-lompat dan menggandeng lengan wanita yang lebih tua. Wajah mereka terlihat cerah secerah matahari yang bersinar pada sore hari di musim semi.”

Berdasarkan persepsi dan pengetahuan si sutradara, dia akan mencoba menerjemahkan kata demi kata yang dia baca pada baris itu. Oh ada dua orang wanita, satu orang kelihatan lebih tua dari yang lain. Dikatakan satu orang berambut putih dan yang lain berjalan sambil melompat-lompat, menandakan kekuatan kakinya. Dengan informasi itu sutradara akan men-casting dua orang aktor dengan usia terpaut jauh, mengandaikan mereka dengan peran seorang nenek dan cucunya.

Setelah mewujudkan karakter, si sutradara akan menentukan setting yang dimaui oleh baris itu. Petunjuknya adalah adanya trotoar sebagai tempat dan musim semi sebagai waktu. Sutradara membayangkan, jika salah satu wanita itu berjalan sambil melompat-lompat, maka kemungkinan besar setting trotoarnya bersih dan tidak disesaki oleh pedagang kaki lima. Begitu pula dengan setting musim semi yang cerah. Berdasarkan persepsi dan pengetahuannya, sutradara merekam adegan itu pada suatu sore dengan langit lembayung cantik dan latar belakang bunga-bunga yang bermekaran untuk menyampaikan suasana cerah itu kepada penonton.

Mengapa ada panah bolak-balik antara aktivitas membaca dan menonton? Karena banyak orang yang membaca dulu sebuah karya fiksi sebelum menonton versi visualnya dalam bentuk film ataupun drama. Misalnya saya setelah membaca novel “Harry Potter”, saya kemudian memutuskan menonton rangkaian filmnya karena penasaran dengan interpretasi sutradara terhadap novelnya. Dan ternyata saya lebih menyukai versi filmnya.

Kali lain saya menonton dulu sebuah film, yaitu “Kim Ji-Young: Born 1982”, sebelum memutuskan untuk membaca novelnya. Dan ternyata saya tidak menyukai keduanya. Novel yang diadaptasi menjadi film mempunyai konstrain waktu. Sutradara dipaksa untuk meringkas novel yang mungkin kaya metafora dan imajinasi, ke dalam rangkaian adegan yang tetap menarik dan tidak mengurangi inti cerita. “Kim Ji-Young” baik novel maupun film dua-duanya terlalu depressing buat saya. Mungkin karena topiknya yang terlalu dekat, terlalu nyerempet dengan apa yang saya alami sendiri, walaupun saya tidak memiliki masalah pengasuhan di masa kecil seperti Kim Ji-Young.

Muara dari aktivitas membaca dan menonton itu adalah aktivitas menulis. Membaca dan menonton banyak adalah supaya bisa menulis banyak. Dengan membaca dan menonton kita sebagai pencipta fiksi memperkaya diksi, memperluas wawasan, menambah referensi untuk penerjemahan dari tulisan ke visual, dan sebaliknya. Oleh karena itu panah dari aktivitas membaca dan menonton hanya satu arah ke aktivitas menulis. Apapun yang dibaca, apapun yang ditonton, semuanya harus bisa menjadi ide untuk sebuah tulisan fiksi.

Di manakah peran drakor di dalam digram tersebut?

Sekarang mari kita mengulik bagan yang terletak di sebelah kanan. Di situ terlihat bahwa K-Drama adalah salah satu komponen yang membentuk aktivitas menonton. Tontonan bisa berbagai macam, bisa jadi film atau drama dari berbagai negara dan bahasa. Akan tetapi, saya sendiri lebih memilih drama Korea sebagai sarana belajar, sebagai sarana memperkuat proses kreatif saya dalam menulis fiksi, karena tiga alasan berikut (bisa dilihat pada bagan):

1.    Karakter yang kuat

Karakter pada drama Korea biasanya sangat kuat dan berbekas di benak penonton bahkan bertahun-tahun setelah drama tersebut selesai ditayangkan. Pada acara dengan KCCI, saya mengambil contoh dua karakter utama di dalam drama “Full House” (2004). Enam belas tahun telah berlalu, namun saya ingat betul karakter wanita utama yang cantik bukan main (Song Hye Kyo), tapi bodoh luar biasa. Lebih bodoh dari bodoh sebenarnya, karena bagaimana mungkin seseorang begitu naif sampai membiarkan dua sahabatnya menjual rumahnya, satu-satunya rumah peninggalan orang tuanya, tanpa sepengetahuan dirinya. Saya juga masih mengingat karakter pria utama (Rain) yang tampan, tapi kasar bukan main dan agak dungu karena bucin abis.

Masih banyak lagi contoh karakter kuat yang membuat sebuah drakor layak diikuti dan diperbincangkan. Ada dua karakter yang menjadi golden standard buat saya ketika mendapati karakter sejenis di drama-drama lain, yaitu Kapten Yoo Shin Jin (Song Joong Ki) di dalam drama “Descendants of the Sun” (2016) dan Kapten Ri Jeong Hyeok (Hyun Bin) di dalam drama “Crash Landing on You” (2019 – 2020).

Kapten Yoo Shi Jin adalah golden standard untuk karakter seorang tentara Korea Selatan. Dia digambarkan sebagai pemimpin dari sebuah tim rahasia bernama Alpha Team, dan diberi nama panggilan “Big Boss”. Saya tidak pernah terbayang tentara Korea Selatan akan sekeren itu sampai saya menyaksikan sendiri pengejewantahannya di dalam diri Kapten Yoo.

Demikian pula dengan karakter Kapten Ri yang diperankan oleh Hyun Bin. Sebelum drama “CLoY” saya tidak pernah terbayang Korea Utara itu negara seperti apa, apalagi tentaranya. Akan tetapi, Kapten Ri berhasil mewujudkan sebuah sosok yang bisa menciptakan banyak penggemar baru Hyun Bin oppa (termasuk saya, tentunya), terlepas dari tepat atau tidaknya drama itu menggambarkan kenyataan yang sesungguhnya.

Dan karakter yang kuat yang saya maksud di sini bukan hanya soal karakter yang ganteng, kaya, atau pintar, tapi karakter yang penuh dengan kelemahan. Ah, masa sih, memangnya apa kelemahan karakter Kapten Yoo dan Kapten Ri? Oh, banyak. Kapten Yoo tidak bisa menerima kata tidak. Dablek kalau kata orang Jawa. Ditolak berkali-kali oleh Kang Mo Yeon (Song Hye Kyo), tapi dia sosor terus. Kelamahannya ini bisa jadi kekuatannya pada waktu yang bersamaan sehingga kita sebagai penonton mengingatnya sebagai karakter yang pantang menyerah.

Bagaimana dengan karakter Kapten Ri? Wah, terlepas dari dia pria yang sangat namja dan tsundere, Kapten Ri adalah contoh nyata seorang yang sangat mudah berbohong untuk kepentingan dirinya sendiri. Dia dengan gampang berbohong bahwa Se Ri adalah tunangannya, dia juga gampang berbohong bahwa dia sudah memiliki tunangan selama 7 tahun terakhir (!) yaitu Seo Dan, dan banyak lagi deretan kebohongannya yang semuanya dikupas tuntas oleh podcast teman-teman saya di Drakor Class.

Terlepas dari semua kelemahan karakter-karakter itu, yang merupakan bukti bahwa karakter-karakter itu adalah manusia biasa bukan manusia super, saya yakin akan ada banyak penggemar drakor yang merujuk pada Kapten Yoo Shi Jin sebagai tentara Korea Selatan dan Kapten Ri Jeong Hyeok sebagai tentara Korea Utara, jika ditanya siapa karakter tentara yang berkesan dari drakor yang mereka tonton. Bahkan bertahun-tahun setelah “DotS” dan “CLoY” selesai ditayangkan.

2.    Pembagian scene

Dari drakor kita dapat belajar mengenai pembagian scene atau adegan, supaya semua adegan mendukung perjalanan karakter utama dan pendukung untuk mencapai tujuan penceritaan. Sepanjang empat tahun terakhir saya menonton drama Korea, saya menemukan sedikit sekali drama yang menghadirkan banyak adegan yang tidak perlu. Jarang ada adegan yang mubazir di dalam drakor. Sutradaranya pintar untuk memotong suatu adegan dan pindah ke adegan berikutnya begitu tujuan adegan itu sudah tercapai.

Pada acara kemarin saya mengambil contoh adegan Seo Dal Mi dan Nam Do San berpegangan tangan pertama kali di dalam sebuah bis. Adegan yang membuat dugeun-dugeun, deg-degan tak karuan biasanya dihentikan begitu kontak fisik sudah terjadi. Jadi pada adegan Dal Mi menggenggam tangan Do San, proses menuju genggaman tangan itu digambarkan dengan sangat detail. Ekspresi wajah mereka berdua dan posisi tangan mereka yang saling menumpuk disorot dari dekat berkali-kali.

Namun begitu kedua tangan itu sudah bersatu, sutradara tidak menghabiskan waktu menghadirkan adegan mereka berdua berpegangan tangan selama perjalanan. Kamera pun menjauh dan penonton mendapat impresi bahwa kedua tokoh ini masih berpegangan tangan selama bisnya masih berjalan. Di sinilah pemotongan adegan yang efektif, yang tepat sasaran, yang memberikan ruang untuk cerita yang lain. Sebagai penulis fiksi, saya mempelajari banyak hal semacam ini dari drama Korea, dan saya harap kamu juga bisa.

3.    Zoom in dan zoom out

Sutradara sebuah drakor memegang kamera dan menunjukkan kepada kita apa yang matanya lihat melalui lensa. Terkadang dia mendekati sebuah obyek (zoom in) dan terkadang menjauhi sebuah obyek (zoom out), tergantung pada tujuan sebuah adegan. Dan mata kita ikut bergerak sesuai arahan dari kamera menyorot karakter dan setting yang melatarbelakangi si karakter.

Pada acara hari Senin lalu saya kembali mengambil contoh dari drakor “Crash Landing on You”. Untuk adegan zoom in saya memberikan contoh ketika Kapten Ri memberikan cincin couple pada Se Ri. Ekspresi malu-malu dan gugup ketika telapak tangannya terbuka untuk menunjukkan sepasang cincin itu digambarkan dengan sangat baik oleh Hyun Bin oppa. Penonton yang tidak ikut baper saat menonton adegan itu pasti hatinya dari batu, hehehe.

Ekspresi tak percaya dan terharu Se Ri juga digambarkan dengan sangat baik oleh Son Ye Jin eonni. Kamera sangat mendekat, zoom in dilakukan dengan sangat intens, supaya emosi kedua tokohnya tersampaikan dengan baik kepada penonton. Dari adegan itu penonton menangkap adanya sebuah janji, sebuah komitmen untuk saling melabuhkan hati setelah begitu banyak kejadian yang mereka berdua lalui. Dan penonton pun mewek dibuatnya, hehehe.

Untuk zoom out saya ambil contoh dari drama yang sama. Pada episode akhir drama “CLoY” yaitu episode ke-16, penonton disuguhkan adegan Kapten Ri dan Se Ri bertemu kembali di Swis dan menghabiskan waktu bersama-sama. Sebenarnya tidak ada kepastian akan hubungan mereka setelah pertemuan kembali tersebut. Apakah mereka pindah kewarganegaraan, menikah dan menetap di Swis, atau bagaimana? Open ending itu diperkuat dengan teknik zoom out oleh sutradara, dimana mereka hanya digambarkan berangkulan dan terlihat bahagia bersama. Adegan kissing pada akhir pun disorot dari jauh karena sutradara ingin menghadirkan nuansa this is the end, and they live happily ever after.

Dengan menonton drakor, seorang penulis fiksi mempelajari teknik zoom in dan zoom out dan memasukkan teknik ini ke dalam tulisannya. Dari “kamera” yang mendekati/menjauhi sebuah obyek/karakter/adegan, penulis menerjemahkannya ke dalam kata-kata. Sebagai contoh, untuk akhir kisah pada drakor “CLoY” penulis bisa dengan gamblang menuliskan:

“Kapten Ri dan Se Ri pun menghabiskan waktu bersama-sama di Swis untuk melepas kerinduan yang membuncah setelah bertahun-tahun berpisah. Kapten Ri yang tidak pernah melupakan keindahan alam Swis memilih rumah yang berada di lekuk lembah dan pegunungan yang membentang di hadapannya. Dengan sukacita dia menyambut Se Ri ke dalam rengkuhannya. Matahari bersinar hangat dan bunga-bunga cantik mengelilingi mereka. Mereka tidak tahu bagaimana masa depan nanti, namun untuk suatu masa mereka berdua terlihat bahagia.”

Bisa dimengerti ya bagaimana dari visual kita bisa menerjemahkannya menjadi rangkaian kata-kata dalam tulisan, sama seperti sutradara yang menginterpretasi skrip berbentuk tulisan menjadi rangkaian adegan visual untuk kita nikmati.

Setelah membawakan sesi ini, saya membaca di kolom komentar bahwa orang tidak menyangka menonton drakor bisa memperkaya dalam menulis fiksi, apalagi dengan mempelajari tiga poin yang saya uraikan di atas. Saya berharap pemaparan saya bisa mendorong lebih banyak penulis (nonfiksi/fiksi) untuk menonton drakor dan belajar darinya, seperti saya berharap orang-orang mulai menuliskan kesan mereka setelah menonton drakor yang bermakna bagi mereka.

Melihat animo peserta acara KCCI x Drakor Class hari Senin lalu, saya optimis akan ada sesi sharing selanjutnya. Yang kami presentasikan kemarin baru secuil untuk sebuah acara kupas tuntas K-Drama, tapi kami berharap usaha kami cukup diterima untuk memantik rasa ingin tahu dan menambah kecintaan kepada drakor dan literasi.

Jadi, apakah kamu penulis fiksi? Drakor apa yang sedang kamu tonton sekarang, atau drakor apa yang kamu berminat tonton dalam waktu dekat? Share, yuk.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s