Lain di Mulut, Lain di Hati

“Aku tidak ingin pulang ke negaraku. Aku hanya ingin tinggal di sini bersamamu.”

“Beritahu aku semua isi hatimu.”

“Aku ingin menikahimu di sini dan memiliki anak yang mirip denganmu.”

“Aku suka anak perempuan.”

“Aku suka anak kembar. Aku ingin melihatmu menua.”

“Jika kamu ingin melihatnya, kamu harus tinggal di sisiku untuk waktu yang lama.”

Percakapan kami berbulan-bulan lalu masih membekas pada benakku.

Malam itu cuaca cukup dingin. Aku melihatnya berdiri merenung, menatap keluar apartemenku, padahal tidak ada pemandangan berarti di luar sana. Bahunya yang lebar agak membungkuk. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana joggingnya. Aku menenggarai bahasa tubuhnya sebagai cerminan isi hatinya.

Ada kesedihan, kegalauan, keengganan, dan kerinduan di situ.

Aku mengajaknya minum bersama. Malam yang dingin ini sangat tepat untuk duduk bersisian di lantai, bersandarkan bantal-bantal empuk dengan corak warna-warni. Satu, dua, tak terasa tiga botol soju sudah kami buka.

Satu demi satu gelas soju kami tenggak dengan pertanyaan yang sama: apakah ini akan membantu kami untuk saling berkata jujur satu sama lain?

Setelah beberapa gelas, dia ingin memastikan bahwa aku sudah agak mabuk. Dia ingin aku tidak bisa mengingat apa pun yang dia akan katakan malam itu. Aku mengiyakan saja permintaannya; aku ikuti saja permainannya.

Kalau dia ingin aku mabuk dan lupa ingatan, baiklah aku akan turuti kemauannya. Kali ini saja. Toh dia tidak akan berlama-lama tinggal di sini, di sisiku selamanya. Pada suatu titik dia pasti akan meninggalkanku, kembali ke negara yang kepadanya dia bersumpah setia.

Harapan demi harapan perlahan-lahan meluncur dari mulutnya. Aku memusatkan perhatian pada suaranya yang dalam. Kata-katanya mengalun indah seperti musik. Aku terbuai. Perasaan bahagia membuncah di dadaku. Malam ini saja aku ingin memercayainya sepenuh hati.

“Aku tidak ingin kembali ke negaraku. Aku ingin menikah denganmu. Aku ingin memiliki anak dan menua bersamamu.”

Hanya tiga kalimat itu yang kupegang, yang kuingat baik-baik kalau-kalau suatu saat nanti ingatan dan kenanganku akan dirinya mengabur. Kuulang-ulang ketiga kalimat tersebut dalam hati, berharap dengan demikian mereka akan selalu terpatri di sana.

Dia tahu aku berpura-pura mabuk. Aku pun tahu aku masih sadar benar ketika dia mencurahkan isi hatinya. Kutunggu dan kutunggu, tapi pernyataan penutup itu tak kunjung datang juga.

Setelah ini apa? Setelah pengakuannya itu, tindakan apa yang dia akan ambil?

Aku tahu kedatangannya ke negaraku hanyalah untuk menangkap seorang penjahat, seorang kriminal yang sudah mencelakai dan mengakibatkan kematian kakak laki-lakinya, satu-satunya saudara kandung yang dia miliki. Dia tidak pernah mengatakan dia datang khusus untukku. Pertemuan kami kembali hanyalah bonus, hanyalah sebuah hal yang menyenangkan yang terjadi sembari dia menunggu dan mematangkan rencana untuk menangkap musuhnya.

Apakah tanpa kusadari aku telah menjadi serakah? Apakah tanpa kusadari aku telah berkhayal tanpa tahu diri?

Ketika dia membiarkanku mendandaninya sehingga dia terlihat tidak terlalu kampungan di Seoul. Ketika aku mengubah seratus persen penampilannya sehingga dia terlihat seperti seorang pria metropolitan dengan alis yang berbaris rapi, rambut yang disesaki jel, dan pakaian necis berwarna cerah yang mudah dikombinasikan. Ketika itukah aku memupuk sedikit demi sedikit harapan bahwa dia datang untuk tidak pernah pergi lagi?

Ya, kurasa ketika itu. Dan dia ikut bermain untuk memuaskan halusinasiku bahwa dia datang untuk menetap di Seoul, untuk menikah dan berkeluarga bersamaku.

Se Ri yang bodoh, tak henti-hentinya aku mengutuki diri sendiri. Walaupun perjumpaan kami terasa romantis, walaupun aku tak kuasa membendung degup jantung yang berpacu karena kemaskulinannya, masakkan aku melupakan begitu saja kebohongan demi kebohongan yang meluncur dari bibirnya?

“Ini tunanganku. Dia adalah agen rahasia dari Divisi 11 yang ditugaskan ke Korea Selatan dan baru saja kembali ke Pyeongyang.”

Ri Jeong Hyeok yang tak kalah bodoh, batinku. Dia ‘kan tentara, masakkan tak terpikirkan olehnya bahwa tentara selalu berbicara fakta? Bahwa mudah sekali bagi tentara untuk mengroscek sebuah berita? Bahwa menemukan kebohongan adalah semudah membalikkan telapak tangan bagi mereka?

Kurasa dia memang lebih bodoh dariku. Dia tidak memikirkan semuanya itu ketika dengan lancarnya dia berbohong tentang asal-usulku, tentang penampilan dan pembawaanku yang berbeda dari orang-orang sedesanya. Dia berharap semua penjelasannya akan diterima begitu saja, akan ditelan bulat-bulat, dan mudah dipercayai oleh mereka yang curiga dan merongrongnya dengan berbagai pertanyaan.

Ri Jeong Hyeok tidak hanya bodoh. Dia juga naif.

Ciuman kami …. Ah, sudahlah, buat apa aku menghitung-hitung berapa kali kami sudah berciuman. Yang terjadi di kapal itu adalah sebuah kesalahan akibat si tentara tampan yang agak dongok ini menerima mentah-mentah informasi dari Prajurit Joo Muk tentang drama dari Korea Selatan.

Jalan keluar dari sebuah krisis adalah dengan cara berciuman?

Ya elah, anak-anak juga tahu bahwa itu adalah solusi paling tidak masuk akal dari sebuah masalah. Kami berada di dalam situasi sangat berbahaya karena tertangkap basah oleh petugas patroli perairan. Kalau penjelasan kami tidak masuk akal, kami bisa ditembak mati dan dibuang ke laut. Ini ‘kan perkara dia mau menyelundupkanku keluar secara ilegal dari negaranya, bukan sekedar menghibur aku yang jatuh dan berdarah dengan cara mencium lututku. It’s not about kissing it to make it better.

Akan tetapi si Kapten bisa dengan seenaknya ngeles, mencari-cari alasan untuk membenarkan bibirnya yang mendarat tanpa ijin di bibirku. Dia bisa dengan mudahnya berkata bahwa dia terdesak, bahwa dia tidak bisa memikirkan jalan keluar lain. Hah, seharusnya dia sedikit memikirkan bagaimana aku bisa tetap menatapnya dengan harga diri yang kuat sesudah peristiwa naas itu.

Peristiwa naas? Ah, yang benar saja, begitu sebagian dari hatiku menuduh bagian yang lain. Jangan bilang kamu tidak menyukai kecupan manisnya.

Iya, iya, aku menyukainya. Jantungku selalu berdebar setiap kali aku mengingatnya lagi. Ada banyak pria yang kukencani; sentuhan fisik bukanlah hal yang baru bagiku. Namun mengapa hanya wajahnya yang terbayang-bayang setiap kali aku menutup mata sejak hari itu?  

Bahkan ketika kami terpaksa harus paralayang mendadak dari bukit itu karena aku ingin melarikan diri darinya, aku tidak bisa menyembunyikan kegembiraanku karena berada di dalam dekapannya. Apakah dia bisa merasakan peganganku yang sedikit terlalu erat? Apakah dia bisa mendengarkan gemuruh jantungku karena kami bersentuhan sangat dekat?

Ah, yang kudengar jelas malah degup jantungnya. Begitu teratur, seperti tidak ada hal luar biasa yang terjadi, seperti dia sudah terbiasa memeluk wanita mana pun dan kapan pun. Dia tidak deg-degan ketika memelukku, Yoon Se Ri, salah seorang wanita idaman para pria di Korea Selatan, atau setidaknya di Seoul. Mengapa sulit sekali sih meyakinkannya bahwa aku ini orang yang sangat terkenal dan berpengaruh di negaraku?

Bahkan setelah pagi yang penuh dengan petualangan itu, si tentara tampan tanpa ragu-ragu meninggalkanku sendirian di rumahnya, hanya ditemani oleh empat orang anak buahnya. Masakkan dia tidak mengkhawatirkan keselamatan diriku selanjutnya, atau kemungkinan aku akan dikejar dan ditangkap? Aku kesal karena sepertinya dia tidak begitu peduli. Bahkan tatapan malu-malunya ketika kami membakar kerang pada malam itu tidak cukup untuk meredam kegelisahanku: sebenarnya dia menaruh hati padaku, atau tidak?

Sebab aku Yoon Se Ri. Aku seorang pebisnis ulung. Bagiku ya adalah ya, dan tidak adalah tidak. Aku tidak suka bermain tarik-ulur; aku menyukai kepastian. Semua hal yang tidak pasti dan tidak terjamin akan kutinggalkan. Demikianlah aku berpindah hati demikian mudah, dari satu pria ke pria lain, karena aku mencari sebuah pelabuhan yang permanen. Sebuah dermaga yang tidak akan membuatku berpaling lagi dalam lima, sepuluh, atau bahkan lima puluh tahun lagi semenjak hari ini.

Hubunganku dengan Kapten Ri, ah hubungan macam apa yang kumaksud, adalah hubungan di tengah semua ketidakpastian yang tidak kusukai. Tidak ada yang bisa menjamin aku bisa kembali ke negaraku, tidak ada yang bisa menjamin aku bisa pulang dalam keadaan hidup, tidak ada seorang pun yang bisa menjamin apa pun untuk diriku di negeri antah-berantah yang terasa begitu jauh dari rumah yang kukenal.

Yang bisa kulakukan hanya memercayai pria tampan itu, dan perlahan-lahan menyerahkan hatiku padanya.

Aku tak ragu sedikit pun menyerahkan sebagian darahku untuk dia yang sedang meregang nyawa. Seperti dirinya yang tak ragu untuk menghadang peluru yang menyasarku, aku pun tak ragu menyelamatkannya dari kematian. Aku tak yakin aku akan menemukan jalan lain untuk pulang, tapi pantang bagiku untuk meninggalkannya.

Hatiku sudah terpikat. Amarahnya karena aku menyia-nyiakan kesempatan utnuk kembali ke Seoul, hanya kuanggap angin lalu. Dia sedang sakit. Tubuhnya sedang merana, pikirannya pun pasti sedang tak tenang. Dia marah padaku karena dia khawatir, bukan kareana dia membenciku.

Begitulah yang terus kukatakan pada diriku sendiri sambil menangis di bawah hujan pada tengah malam itu. Dan ketika aku membalikkan badan, dia ada di sana. Dengan tatapan sayu, dengan perasaan bersalah karena sudah memarahiku. Dengan mudah aku memaafkannya. Dengan mudah aku membiarkannya menciumku. Lagi.

Ingatan manusia memang pendek. Aku sempat sangat kecewa karena dia tidak mau berfoto bersamaku sebagai kenang-kenangan. Tapi aku sempat sangat bahagia ketika menemukan fotoku diam-diam tersimpan di saku jaketnya yang bersimbah darah. Pada masa sebelumnya aku sempat sangat takut semua kebohongan kami akan diketahui dengan mudah dan keluarga Kapten Ri akan berada di dalam bahaya. Tapi tak lama setelah itu aku dengan gampangnya bisa berbohong untuknya, untuk diriku, asalkan tujuan kami berdua tercapai.

Yoon Se Ri setelah mendarat darurat di Korea Utara adalah seorang wanita yang gamang, tidak berprinsip, dan cepat berubah menjadi seorang budak cinta. Aku hampir tidak mengenali diriku sendiri lagi.

Dan pada ciuman kami yang ketiga (ah tentang ciuman lagi!) di perbatasan yang gelap dan tertutup semak belukar itu, tetap tidak ada janji yang terucap di antara kami berdua. Hanya ada pelukan erat, dekapan tanda tak ingin berpisah. Air mata kami turun, tapi kami berdua terlalu pengecut untuk mengambil tindakan.

Suatu hari nanti, kami akan kembali bersama atau tidak?

Dan pada malam ini, ketika dengan gamblangnya dia ingin aku melupakan isi hatinya yang dia curahkan dengan bantuan soju, aku tetap tidak mendengar komitmennya. Aku tetap tidak mendengar janjinya untuk mengupayakan sesuatu supaya kami bisa melintasi batas antar negara di antara kami.

Terkadang kupikir ini konyol sekali. Bahkan orang Jepang bisa menikah dengan orang dari benua Afrika. Tidak ada yang dapat menghalangi mereka selama masing-masing memiliki kewarganegaraan dan bersedia mengikat janji di salah satu negara. Aku dan Kapten Ri berasal dari dua negara yang memiliki ras yang sama, akar sejarah yang sama, bahasa yang okelah relatif sama, tapi kami berdua dihalangi untuk bersatu karena kondisi geopolitik di Semenanjung Korea.

Setelah Kapten Ri datang ke Seoul dan tinggal bersamaku untuk sementara waktu, aku ingin sekali menyarankannya untuk membelot dari negaranya dan pindah ke negaraku. Aku tahu pasti negaraku akan menerimanya dengan senang hati. Walaupun aku bergerak di bidang fashion, aku cukup mengetahui arah dan kebijakan politik negaraku, dan presidennya yang sangat menginginkan unifikasi Korea terjadi pada masa kepemimpinannya.

Aku tahu ayahnya yang adalah seorang pejabat militer; aku tahu status sosial dan ekonomi keluarganya. Aku tahu dia akan sulit meninggalkan keluarganya di Pyeongyang jika dia membelot ke Korea Selatan. Ayah dan ibunya pasti langsung ditembak mati oleh penguasa di sana. Aku ingin menyarankan supaya Kapten Ri membawa kedua orang tuanya turut serta. Datanglah kemari, masa depan lebih cerah di sini. Aku sangat ingin berkata demikian.

Akan tetapi, pengetahuanku akan natur manusia dan ego lelaki selalu menghalangiku mengucapkan ajakan untuk pindah kewarganegaraan. Kapten Ri adalah lelaki yang berharga diri tinggi. Dia menyukai prestasi, dia senang unjuk gigi. Dia pasti marah besar jika aku menawarkan diri menampung mereka sekeluarga selama mereka beradaptasi dengan kehidupan di Korea Selatan. Mereka pasti membutuhkan tempat tinggal dan pekerjaan; aku bisa menyediakan semuanya. Namun Kapten Ri pasti akan menolaknya mentah-mentah. Dia akan merasa aku tidak menghargai kapasitasnya sebagai laki-laki.

Hah, kapasitas macam apa sih yang ada pada benaknya? Jika memang membutuhkan, maka tidak ada salahnya meminta bantuan. Mengakui kelemahan bukanlah sebuah kesalahan. Sampai sekarang aku tidak mengerti jalan pikiran semacam ini.

Aku pernah terpikir skenario lain. Bagaimana jika aku saja yang pindah ke Korea Utara? Yeah, right, kalau aku tidak segera ditembak begitu mendarat di Pyeongyang karena disangka mata-mata. Aku bisa membawa jutaan Dollar Amerika. Aku bisa menawarkan membuka usaha dan lapangan pekerjaan di sana. Aku bisa melakukan apa saja dengan uangku yang banyak. Kalau saja mereka mau mendengarkanku dulu dan tidak segera menembakku di tempat.

Lagipula, masakkan aku meninggalkan Seoul dan semua kerja kerasku sejak usia muda? Aku akan terpaksa menjual perusahaanku, melepas puluhan outlet yang kumiliki di luar Korea Selatan. Jika aku melakukannya, maka aku yakin orang-orang pertama yang akan mengincarnya adalah keluargaku yang ambisius dan tidak tahu malu. Membayangkan mereka menjadi pemilik selanjutnya dari perusahaan yang kudirikan dengan susah payah, membuatku sangat muak. Dan aku langsung lebih memilih melanjutkan kehidupanku yang mapan daripada cintaku pada Kapten Ri.

Lain di mulut, lain di hati.

Begitulah yang kulihat dari si tentara tampan ini setiap kali dia berurusan denganku. Dengan mudah dia akan menyangkal perasaannya. Dengan mudah dia akan berbohong untuk menyembunyikan isi hatinya yang terdalam. Namun aku tidak jauh berbeda, aku juga adalah seorang pendusta.

Dalam hatiku, aku ingin segera melepaskan diri dari bayang-bayangnya. Bangunlah, Se Ri, begitu umpatku pada diri sendiri. Masa-masa persembunyian di Korea Utara sudah berlalu, kamu sudah kembali dengan selamat di rumahmu, lanjutkanlah hidup. Mengapa terus terbayang-bayang hari-hari singkat di sana dengan semua orang sederhana yang kamu temui?

Karena kehidupanku di sana adalah pengalaman luar biasa. Dan aku sangat kesepian sehingga aku menyambut hangat uluran persahabatan yang seharusnya bukan hal yang luar biasa bagi orang normal. Masalahnya aku bukan orang normal. Aku seorang kaya yang sulit didekati oleh siapa pun. Aku sangat terkesan dengan mereka yang memandangku dengan biasa karena mereka tidak tahu siapa aku sebenarnya.

Hatiku menjerit demikian, namun perilakuku berkata sebaliknya. Aku tetap mengikuti Kapten Ri bagai kerbau dicocok hidung. Aku tetap mengharapkannya seakan-akan bagiku tidak ada lagi pria lain dan hari esok di dunia ini. Aku terus menahannya pergi dengan air mataku. Aku bersikukuh berbohong pada negaraku demi keselamatan dan keutuhan dirinya dan keluarganya di Pyeongyang.

Aku bersedia melakukan apa saja untuknya. Walaupun aku merendahkan diri seperti alas kaki yang diinjak-injak,  tidak dihargai, dan tidak lagi dipercayai orang, tak mengapa. Semua akan dan mampu kulakoni demi dirinya. Semua dapat kulakukan untuk menjaga dia dan keluarganya supaya tetap aman.

Itulah kebohonganku yang terakhir. Di dalam dekapannya yang penghabisan, di perbatasan kedua negara kami, di bawah todongan senjata untuk berjaga-jaga jika salah satu dari kami kehabisan akal, aku tetap berpura-pura bahwa aku akan baik-baik saja tanpanya. Bahwa aku akan tetap mencintainya, menunggunya, dan mengharapkan perjumpaan kembali dengannya. Entah sampai kapan.

Segenap batinku ingin menjerit: meminta kepastian darinya, menodong janjinya untuk menikahiku. Namun bibirku hanya bisa berkelit: ini jalan yang terbaik bagi kami berdua, kami harus tetap tinggal di negara masing-masing, tidak ada jalan lain yang bisa kami ambil untuk bersatu.

Aku menggigil setiap kali aku mengingat kali terakhir aku mencengkeram kedua lengannya di perbatasan itu. Perutku melilit dan aku sulit bernapas. Dalam pikiranku, kuulang detik demi detik aku berlari ke tempat dia berdiri. Dalam hatiku, aku terus mempertanyakan pernyataan yang tak kunjung keluar dari mulutnya.

“Tenanglah, aku pasti datang kembali. Aku pasti akan mencari cara supaya kita bisa bersatu.”

Itu yang kuharapkan, tapi tiada yang dia ucapkan.

Yang dia tinggalkan hanyalah sederet pesan singkat yang akan kuterima selama setahun ke depan. Satu tahun. Apa dia pikir kewajibannya terhadap hati dan perasaanku akan gugur setelah satu tahun? Seusai periode itu, relakah dia jika aku mencampakkan kenangan akannya begitu saja dan melanjutkan hidup dengan pria lain?

Karena aku tahu, lain di mulutnya, lain di hatinya. Sama seperti lain di hatiku, lain di mulutku.

Kami berdua adalah orang-orang yang munafik, namun dia lebih parah. Karena di balik ucapannya supaya aku berbahagia tanpa kehadirannya, ada tuntutan supaya dia tidak kulupakan. Ada permintaan supaya aku terus mengingatnya, setidaknya sekali dalam sehari ketika aku sedang beristirahat. Ada harapan supaya aku terus menunggunya tanpa mempertimbangkan bahwa kami berdua tidak memiliki alat untuk saling bertukar kabar. Menjalin hubungan dengannya sama saja dengan memiliki ilusi, semuanya hanya terjadi di dalam pikiranku sendiri.

Setelah bertahun-tahun menunggunya dan berharap bertemu dengannya secara kebetulan di Swis, aku menyerah. Dan aku sangat marah!

Tidakkah dia tahu bahwa Swis adalah negara yang cukup besar? Luas areanya sekitar empat puluh dua ribu kilometer persegi. Jumlah penduduknya hampir sembilan juta orang. Dan dia mengharapkanku mencarinya setiap saat di wilayah sebesar itu, di antara orang-orang sebanyak itu?

Yang benar saja!

Aku bukan orang yang kurang pekerjaan. Aku ini pebisnis yang sibuk. Kapten Ri sendiri tahu bahwa aku baru meluncurkan lini baru dari perusahaanku, kok bisa-bisanya dia mengharapkanku untuk terus berdedikasi padanya tanpa dia berani memberikan kejelasan akan status dan dan arah hubungan kami?

Perasaan kecewaku terus bertumpuk dari waktu ke waktu. Satu-satunya foto kami berdua yang kusimpan, foto di mana aku memeluknya yang sedang membantuku berdiri dari tempat tidur rumah sakit, sudah lama kumasukkan ke dalam laci nakas. Aku tidak peduli lagi. Aku sangat marah karena terus diabaikan!

Kesabaranku mencapai batas ketika aku salah mengira seorang pria yang bermain piano di tengah kota Zurich sebagai Kapten Ri. Dari jauh mereka berdua terlihat mirip dengan tubuh tegap dan wajah tampan khas Asia. Ketika aku mendekat, aku baru menyadari bahwa pianis itu orang yang berbeda dari orang yang kucari-cari. Kucari bukan karena kurindukan, tapi kucari supaya bisa segera kubuang.

Amarah yang terpendam di dalam hatiku terus meregang sampai rasanya aku tak kuat lagi. Aku bisa gila sendiri kalau begini.

Dengan setengah hati aku melanjutkan perjalanan dari Zurich ke Interlaken Ost. Aku sudah membawa semua perlengkapan paralayangku dan aku ingin terbang bebas, melayang tanpa beban. Begitu aku mendarat aku akan tahu apa yang harus kulakukan dengan Kapten Ri dan bab yang sangat mengenaskan di dalam hidupku yang baru berjalan tiga puluh tahun lebih sedikit ini.

Matahari bersinar sangat cerah pada sebuah hari yang hangat di musim panas. Hampir tiada awan di langit biru sana. Negara Swis akan merayakan hari pendiriannya pada tanggal 1 Agustus besok. Dari ketinggian aku dapat melihat semarak bendera besar dan kecil, rangkaian bunga-bunga cantik, dan orang-orang yang berkerumun tak sabar untuk menyambut kemeriahan pada esok hari.

Beberapa turis yang berdiri di ujung bukit Harder Klum melambaikan tangan padaku dengan penuh semangat. Aku membalas lambaian mereka dengan tak kalah riang. Senyum di wajah mereka yang mengernyit karena menantang sinar matahari entah kenapa membuatku sedikit merasa lebih baik. Membuatku sedikit melupakan Kapten Ri dan kekonyolanku karena tetap setia menantinya.

Secepat kilat kutepis pikiran tentang dirinya. Aku hendak menikmati detik ini, saat ini, hari ini. Jika kali ini aku tidak bertemu juga dengannya, maka setidaknya aku sudah menikmati alam Swis yang teramat indah seperti di surga. Dan aku tidak akan pulang ke Seoul dengan menyesal. Lagi.

Angin yang tiba-tiba bertiup agak kencang mencegahku mendarat dengan mulus. Dengan sigap kupeluk kedua lututku supaya aku bisa berguling tanpa kendala walaupun agak terbelit tali parasut. Ketika pada akhirnya aku berhenti berguling, aku sudah kehabisan napas. Butuh waktu yang tak sebentar untuk mengurai segala macam tali dan perlengkapan yang tadi mengangkatku ke atas sana.

Dengan satu hentakan, aku keluar dari bawah semuanya itu dan segera menelungkupkan tubuh di atas hamparan rumput hijau yang lembut. Dari sudut mataku aku dapat melihat satu per satu paralayang mendarat dengan lancar di sekitarku. Aku menyangga wajahku dengan kedua lengan dan berdiam diri sejenak untuk menikmati pemandangan. Di sini rasanya sangat nyaman untuk melepas penat.

Satu, dua menit berlalu, aku tak tahu. Yang kutahu tiba-tiba ada bayangan menghalangi sinar matahari yang sedari tadi menghangatkan wajahku.

“Hei!” seruku. Sontak aku berdiri untuk menantang siapa pun yang sudah berani mengganggu istirahatku. Mulutku hanya bisa menganga begitu aku melihat sosok yang berdiri tegak di hadapanku.

Dia masih tampan, Kapten Ri Jeong Hyeok kesayanganku. Rambutnya disisir ke atas tanpa tanda-tanda kebotakan di kepalanya, trench coat-nya sangat trendi, jeans dan sweater yang dia pakai berkesan elegan. Tak ada kesan tentara dari kampung seperti yang selama ini dia citrakan. Di hadapanku dia tersenyum manis tanpa menunjukkan gigi. Aku tahu betapa dia tidak menyukai senyum yang terlalu terkembang yang bisa meruntuhkan image kalem dan percaya diri yang susah payah dia bangun.

Dia tidak mengembangkan tangan seperti yang kunanti-nantikan. Dia tidak berniat untuk segera memelukku. Apakah dia berharap aku yang akan segera terbang ke dalam pelukannya? Dia hanya berdiri di situ, menatapku dengan pandangan seribu makna. Tiga tahun sekian bulan menunggu dan hanya ini yang kudapat?

“Yoon Se Ri,” bisiknya lirih.

Aku mengepalkan tangan erat-erat. Seluruh tubuhku gemetar menahan amarah. Tidak ada lagi sisa perasaan cinta yang tertinggal untuknya. Setelah semua pesan singkat selesai dia kirim, tidak ada satu pun kenangan yang bisa mengikatnya padaku. Rekaman lagu yang dia mainkan di piano untukku pun lama-lama terdengar membosankan. Alat perekam itu sudah lama aku simpan di dalam laci nakas, teronggok bersama pigura foto yang tidak menunjukkan wajahnya.

Aku teramat bodoh karena menghabiskan waktuku dan hidupku menantikan sebuah hal yang sia-sia. Menunggu seseorang yang tidak mau berjanji, menunggu seseorang yang lain di mulut, lain di hati.

Dengan sekuat tenaga aku mendorongnya. Aku menggeram sekencang-kencangnya untuk melampiaskan emosiku. Kapten Ri sepertinya tidak menduga aku akan bertindak demikian. Dia hanya mengangkat tangan dan berjalan mundur sambil tertawa. Si brengsek ini masih berpikir aku hanya bermain-main.

Pandanganku tak lepas dari wajahnya yang tampan, wajah terkutuk yang membuatku terjaga beribu malam dan mengabaikan kehidupanku yang seharusnya berjalan. Matanya mulai membelalak ketika kecepatanku bertambah dan dia tak kuasa menahan tenagaku. Aku tak berpikir jernih, yang kuinginkan hanyalah supaya dia lenyap dari hadapanku.

“Yoon Se Ri!”

Dengan satu hempasan aku mendorongnya dari tepi bukit. Aku salah perhitungan, kukira di bawah kakiku ada bagian bukit yang cukup landai, tapi ternyata di sana hanya ada jurang.

“Aggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!”

Suara teriakannya menggema seiring dengan kejatuhannya. Aku bisa merasakan banyak pasang mata yang tiba-tiba menoleh ke kanan dan ke kiri, di sekitarku dan dari atas kepalaku, mencari dari mana suara itu berasal.

Napasku tersengal-sengal. Tubuhku bersimbah keringat. Dengan hati-hati aku melongokkan kepala ke bawah. Jejak tubuhnya tidak terlihat sama sekali. Bahkan jaketnya yang berwarna terang tidak kelihatan menonjol di tengah jurang yang dipenuhi oleh pohon-pohon dan batu-batu besar.

Jika tidak ada yang tahu kapan dan di mana kami akan bertemu, maka tidak akan ada orang yang mencarinya jika dia menghilang, bukan? Aku menegakkan tubuh dan bersiul. Perlahan-lahan aku menepuk kedua tanganku untuk menghilangkan residu kehadiran dirinya. Dengan mantap aku membalikkan badan dan mengemas peralatan paralayangku.

Yoon Se Ri dan Kapten Ri berakhir di sini.  

#fanfiction

#CrashLandingonYou

#HyunBin

#SonYeJin

2 thoughts on “Lain di Mulut, Lain di Hati

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s