Lagu Nasional Penggugah Hati

Upacara peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia tahun ini berlangsung sangat berbeda. Gara-gara pandemi, upacara di Istana Merdeka yang biasanya dihadiri oleh banyak tamu undangan, orang-orang penting dari dalam negeri dan para duta besar dari luar negeri, kini sepi dari segala keramaian dan kemeriahan. Hanya Presiden Jokowi dan para petugas upacara yang penting yang tampak hadir di layar televisi. Acara peringatan ini disiarkan secara live dan semoga saja disaksikan oleh banyak warga negara Indonesia, yang dekat maupun yang jauh.

Tahun ini Indonesia merayakan tujuh puluh lima tahun menikmati kemerdekaan sebagai bangsa. Walaupun penjajahan secara fisik sudah tidak lagi kita alami, kita semua tahu bahwa bangsa kita masih sangat muda. Perjalanan dan perjuangannya masih jauh untuk melepaskan diri dari belenggu-belenggu perbudakan yang tak terlihat. Semoga proses ini terus berlanjut, saya terus menaruh harapan pada generasi anak-anak saya, pada generasi yang akan datang.

Bulan Agustus adalah bulan dimana lagu-lagu nasional gencar diperdengarkan di mana-mana. Dulu sebelum pandemi (adakah yang masih ingat bagaimana kehidupan kita sebelum Covid-19?), lagu-lagu nasional akan menyambut kita begitu kita menginjakkan kaki di tempat keramaian, seperti: mal, rumah sakit, bank, dan lain-lain. Sejak bulan Maret tahun ini keluarga kami mengurung diri di rumah, jadi lagu-lagu tersebut nyaris tidak kami dengar.

Tidak ada perayaan Hari Kemerdekaan seperti biasanya. Tidak ada upacara di jalan tempat kami tinggal. Biasanya ijin keramaian sudah diurus mulai awal bulan Agustus supaya jalan raya ditutup dan warga dapat mengadakan upacara sendiri di setiap jalan, atau di setiap RT atau RW. Tidak ada lomba-lomba antar anak dan dewasa untuk mengungkapkan kegembiraan karena kita telah merdeka. Tidak ada tumpeng yang dipotong beramai-ramai sebagai tanda ucapan syukur. Boro-boro ada panjat pinang atau karaoke bersama. Semua menahan diri supaya korban Covid-19 tidak bertambah lagi.

Di tengah sepinya perayaan ulang tahun republik kita tahun ini, sekolah anak-anak saya mengisi bulan Agustus dengan upacara online, menyanyi lagu-lagu nasional pada jam pelajaran musik, dan mengadakan tes menyanyi lagu nasional untuk pengambilan nilai. Oke, untuk poin terakhir saya kurang setuju karena ada anak-anak yang saya tahu tuli nada. Rasanya kasihan melihat mereka berusaha menyanyi mengikuti arahan guru, tapi tetap tidak bisa karena berbagai keterbatasan.

Satu dari dua anak saya sudah menjalani tes menyanyi tersebut. Anak cukup menyanyi lagu nasional yang ditentukan oleh guru, memvideokannya, dan mengunggahnya di Microsoft Teams. Tadi sore saya bangun tidur dengan perasaan grogi. Apakah hari sudah berganti tanpa saya sadari? Kenapa si Sulung masuk ke kamar saya dengan baju seragam lengkap? Apakah hari sudah pagi lagi? Hari Senin sudah tiba lagi? Agh!

Ternyata tidak. Si Sulung berpakaian seragam lengkap untuk tampil di depan kamera menyanyikan lagu “Indonesia Raya”. Dia merekam video berkali-kali karena terkadang ada suara jeritan adiknya yang masuk, suara keran air dari kamar mandi, dia yang kehabisan napas, dan alasan-alasan lainnya. Saya menyaksikan dari jauh bagaimana dia mengerjakan tugasnya dengan semangat. Saya tanya si Tengah apakah dia mau divideokan juga. Dia bilang tidak karena dia belum mood. Oke deh.

Akibat mendengarkan lagu “Indonesia Raya” berkali-kali, saya jadi teringat sebuah kenangan lama.

Waktu saya kelas satu SD, lagu “Indonesia Raya” adalah lagu favorit saya. Syair lagu itu tercantum pada halaman pertama buku agenda saya dari sekolah. Setiap hari saya menyanyikannya beberapa kali di rumah. Suatu kali di ruang kelas, setelah selesai mengerjakan tugas dari guru, saya menutup telinga dan menyanyikan lagu itu dengan suara pelan.

Tanpa saya sadari, seisi kelas menjadi sunyi. Ibu guru mendekati saya dan langsung menutup buku itu di depan muka saya. Saya yang kebingungan disuruh untuk maju ke depan kelas dan menyanyi sendirian di sana. Saya menuruti perintahnya. Saya maju ke depan tapi saya tidak menyanyi. Saya hanya bisa termangu memandangi teman-teman sekelas yang menertawakan saya dari tempat duduk mereka masing-masing.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya tahu bagaimana rasanya dipermalukan.

Dan yang melakukan hal itu adalah seorang guru yang seharusnya memberikan rasa aman kepada muridnya. Sampai saya setua ini, memori akan kejadian buruk itu, akan nama dan wajah guru yang mempermalukan saya itu, tidak pernah pupus dari ingatan.

Kenangan buruk tidak membuat saya jadi trauma menyanyikan lagu nasional. Justru sebaliknya, saya minta dibelikan buku kumpulan lagu nasional di toko buku. Buku itu berisi sekitar dua puluh lagu, lengkap dengan lirik dan not angka untuk dimainkan di alat musik. Kebetulan waktu itu orang tua saya baru membeli organ untuk anak-anaknya. Tiada hari berlalu tanpa saya mencoba memainkan not-not angka setiap lagu pada organ.

Waktu kelas enam SD saya ditugaskan untuk menjadi dirijen, memimpin seluruh siswa TK dan SD menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dan “Syukur” ketika upacara bendera setiap hari Senin. Sampai sekarang saya merasa bangga dan bahagia karena pernah diberi kepercayaan seperti itu.

Dari sekian banyak lagu nasional yang ada, hanya ada dua lagu yang begitu mengena di hati saya. Dua lagu tersebut bermakna sangat dalam. Mereka adalah “Tanah Airku” ciptaan Ibu Sud dan “Syukur” ciptaan H. Mutahar. Lagu pertama bercerita tentang Indonesia sebagai tanah air tempat pulang, dan yang kedua bercerita tentang tanah air yang sudah merdeka.

Berikut ini adalah lirik lagu “Tanah Airku”:

Tanah airku tidak kulupakan

‘Kan terkenang selama hidupku

Biarpun saya pergi jauh

Tidak ‘kan hilang dari kalbu

Tanahku yang kucintai

Engkau kuhargai

Walaupun banyak negeri kujalani

Yang mashyur permai dikata orang

Tetapi kampung dan rumahku

Di sanalah ku m’rasa senang

Tanahku tak kulupakan

Engkau kubanggakan

Sederhana, bukan? Akan tetapi, lirik lagu sesederhana itu mampu membuat saya menitikkan air mata setiap kali mendarat pulang di Jakarta. Saya pertama kali ke luar negeri pada tahun 2003. Setahun kemudian saya pulang dengan pesawat Garuda dengan rute Tokyo-Denpasar-Jakarta. Begitu landing di Denpasar, lagu ini memenuhi seluruh kabin. Air mata menitik dan dada terasa sesak karena haru.

Saya pulang, saya pulang, saya rindu kampung halaman. “

Beberapa jam berselang dan pesawat lepas landas lagi menuju Jakarta. Sesampainya di sana, lagu tersebut kembali diperdengarkan. Air mata kembali menetes. Begitu turun di pesawat rasa bahagia tak terkatakan karena sudah kembali menginjak tanah air. Indonesiaku, bagaimanapun keadaanmu, Engkau adalah rumahku.

Hal yang sama terulang setiap kali saya dan keluarga bepergian ke luar negeri. Mendarat di negeri sendiri dan disambut dengan lagu ini adalah sebuah perasaan yang indah. Kami merasa lengkap, kami sudah kembali ke tempat kami berasal. Ada salah satu lirik dari lagu ini yang sangat kami aminkan:

“Walaupun banyak negeri kujalani

Yang mashyur permai dikata orang

Tetapi kampung dan rumahku

Di sanalah ku m’rasa senang”

Sekalipun kami sudah menginjakkan kaki di banyak negara, bahkan sempat tinggal cukup lama di Eropa, kampung dan rumah kami ada di Indonesia. Negeri lain sangat makmur, negeri lain sangat aman sejahtera, negeri lain menghargai hak-hak kami sebagai manusia, tapi negeri-negeri itu bukanlah Indonesia. Negeri kami di sini, ke manapun kami melanglang buana, paspor kami tetap paspor hijau. Darah kami tetap merah putih. Kami tidak ingin mengubahnya dan kami harap anak-anak kami pun tidak.

Lagu “Syukur” berkesan buat saya karena lirik dan musiknya membuat saya merinding. Ada sesuatu yang terasa transcendental, terasa gaib dari lagu ini. Mungkin karena lagu ini berkisah tentang pengorbanan para pahlawan yang sudah berjuang untuk merebut kemerdekaan dari bangsa-bangsa asing yang pernah menjajah kita. Tanpa pengorbanan mereka dan keluarga mereka, kita tidak bisa hidup bebas sebagaimana kita hidup sekarang.

Lirik lagu “Syukur” tersebut adalah sebagai berikut:

Dari yakinku teguh

Hati ikhlasku penuh

Akan karunia-Mu

Tanah air pusaka

Indonesia merdeka

Syukur aku sembahkan

Ke hadirat-Mu Tuhan

Dari yakinku teguh

Cinta ikhlasku penuh

Akan jasa usaha

Pahlawanku yang baka

Indonesia merdeka

Syukur aku hanjukkan

Ke bawah duli Tuan

Dari yakinku teguh

Bakti ikhlasku penuh

Akan azas rukunmu

Pandu bangsa yang nyata

Indonesia merdeka

Syukur aku hanjukkan

Ke hadapan-Mu Tuan

Dari lirik lagu ini saya diingatkan, bahwa meskipun kemerdekaan adalah karunia, perlu usaha untuk meraihnya. Anugerah dari Yang Maha Kuasa saling bergandengan dengan usaha manusia untuk mencapainya. Tidak ada yang diberikan percuma dan tidak ada usaha yang sia-sia. Dan kemerdekaan itu bisa dirampas jika kita tidak hati-hati, jika kita tidak tetap bersatu sebagai sebuah bangsa, kita bisa dijajah lagi. Semoga saja tidak.

Bagaimana dengan Pembaca Budiman, adakah lagu nasional yang sangat menggugah hati Anda? Mari berbagi di kolom komentar.

Tulisan ini jadi membuat saya ingin menyanyikan lagu “Tanah Airku” dan “Syukur” dan mengunggahnya di media sosial, sebagai catatan sebuah peringatan kemerdekaan kita di tengah pandemi. Mungkin suatu hari nanti.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s