Catatan Sebelas Tahun

Saya tidak menyangka hari ini akan datang juga. Berlalunya pun tak kalah cepat dari tibanya.

Anak pertama kami pada hari ini genap berusia sebelas tahun. Lewat tengah malam saya belum tidur, bergadang menunggu waktu kelahirannya sekitar pukul dua pagi. Saya duduk di sampingnya di tempat tidurnya, membelai kepala anak kami terkasih, biji mata kami yang pertama.

Seluruh jiwa, hati, dan batin tak henti-hentinya berdoa mengucap syukur atas anugerah yang dipercayakan kepada kami. Bisa mengandung, melahirkan, dan membesarkan si Kakak adalah sebuah kehormatan yang tak ternilai dalam hidup saya dan suami.

Perjalanan kami tidaklah mudah. Ada kesesakan, histeria, perasaan tertolak, dan keputusasaan saat batu bertemu dengan batu. Benar sekali, sebagai dua anak sulung yang membesarkan seorang anak sulung, banyak sekali benturan yang harus kami alami sebelum kami semua terasah. Dia adalah cermin kami yang pertama. Pada dirinya kami melihat kebaikan sekaligus ketidaksempurnaan kami.

Ada juga sukacita, pengharapan, pengampunan, dan cinta tak bersyarat ketika kami melampaui ujian demi ujian, tantangan demi tantangan yang membuat baik anak maupun orang tua menjadi orang-orang yang lebih baik. Seminar motivasi dan kesuksesan tidak memberikan pelajaran sebanyak pelajaran ketika memiliki anak.

Buat kamu yang sudah menikah, apa pendapatmu? Buat kamu yang belum menikah, bagaimana menurutmu?

Hari-hari berlalu terlalu cepat dan ingatan manusia yang pendek mengekor di belakangnya. Dari rangkaian foto dan video, pernah terekam si Kakak yang baru lahir, menjadi bayi, merangkak menjadi batita dan balita, tumbuh sebagai anak kecil, sampai sekarang memasuki usia praremaja.

Akan tetapi, saya lupa hari-hari itu. Entah bagaimana, saya lupa detik-detik pertumbuhannya sehingga dia bisa menjadi seperti sekarang.

Yang membangunkan saya tadi pagi adalah seorang anak praremaja yang tinggi menjulang. Lengan dan tungkainya panjang. Langkahnya secepat langkah saya. Rambutnya dipotong pendek mengikuti mamanya; dia tidak pernah ingin model rambut lain. Senyumnya lebar seperti saya, walaupun matanya tidak menyipit ketika dia tertawa.

Gelak tawanya heboh; dia gemar terkekeh-kekeh. Pelajaran favoritnya adalah sains, musik, dan seni rupa. Kesukaannya yang lain adalah mengatur adik-adiknya dan menjadi perpanjangan tangan orang tua. Hobinya segudang; dia sangat mau dan mampu mengatur waktu. Dia bertanggung jawab dan tidak pernah melalaikan tugas.

Percayalah, tidak setiap hari yang kami lewati bersamanya adalah hari indah berpelangi. Terkadang gerimis mengundang, hujan angin, bahkan hujan es batu ketika keras kepala bertemu keras kepala. Kami sudah melalui masa-masa sulit ketika cakap kami tidak sejalan, ketika kami tidak saling mengerti, ketika kami merasa ingin menyerah dan menjauh saja.

Melewati pergumulan-pergumulan seperti itu, Tuhan tetap menjaga. Hati kami tidak sampai mendingin, kata maaf tidak sampai mustahil diucapkan, ajakan perdamaian tidak pernah kadaluarsa. Kalau bukan Tuhan yang menjaga, siapa lagi? Dengan kekuatan kami sendiri, tidak mungkin kami melewati bukit dan lembah selama sebelas tahun dan tetap berdiri teguh. Tidak mungkin.

Jika kamu sedang merasa putus asa karena komunikasimu dengan anakmu sedang payah, bersabarlah. Semuanya akan berlalu. Topan badai, pelangi dan kupu-kupu, semuanya silih berganti.

Tidak ada yang abadi. Jika kakimu sudah teramat goyah, berdoalah. Tuhan yang menganugerahkan anakmu kepadamu adalah Tuhan yang akan memampukanmu melewati jalan itu, baik yang mulus maupun yang curam dan berliku.

Saya rasa itu adalah hal yang pertama dan utama yang kamu harus ingat saat semuanya terasa begitu sulit. Mengandalkan diri sendiri tidak akan menghasilkan apa pun. Apatah kita manusia yang lemah, bengkok, dan tidak jago-jago amat?

Mengandalkan Tuhan adalah keputusan yang paling tepat. Dialah pemilik semesta, pencipta kamu dan saya. Apa yang tidak mungkin menurut akal manusia, kalau Dia mau pasti terjadi. Termasuk mendamaikan hati anak dan orang tua yang bertikai.

Menyangkut pertikaian, anak sulung kami membuat saya mengubah pendekatan. Dulu sekali, rasanya seperti pada kehidupan yang lain, saya adalah orang yang tidak takut berkonfrontasi dengan orang lain. Setiap ada masalah, saya akan menghadapinya dengan frontal. Bertengkar di depan tidak apa-apa dibandingkan saling membicarakan di belakang. Bagi saya, gosip dan prasangka tidak pernah menyelesaikan apa-apa.

Begitu memiliki anak, pendekatan seperti ini tidak tepat, apalagi ketika anak bertumbuh pelan-pelan dari bayi. Memang benar setiap anak memerlukan pendekatan yang berbeda-beda. Saya memiliki tiga orang anak dan sejauh ini cara terbaik yang saya ambil ketika kami menghadapi masalah adalah dengan menjauh sejenak dari mereka. Dengan menjauh, saya memiliki kesempatan untuk menata kembali emosi dan mengembalikan pikiran supaya jernih.

Untuk anak kami yang sulung, orang tua yang menjauh darinya adalah sebuah bencana. Mungkin penyebabnya adalah separation anxiety, sebuah bentuk kecemasan berlebihan yang timbul jika seorang anak belia terpisah dari sosok yang biasa merawat dan melindunginya.

Walaupun si Kakak sudah beranjak remaja, di dalam dirinya masih ada kecemasan semacam itu. Sikap saya yang menjauh dan tidak berinteraksi dengannya selama beberapa saat terlihat sebagai ancaman terhadap kenyamanan batinnya, sehingga rasa cemasnya pun muncul.

Sampai tiga tahun lalu saya masih memilih berkonfrontasi dengan si Kakak. Saya ingat tiga tahun lalu adalah masa-masa sulit di dalam rumah kami. Durasi belajar di sekolah untuk si Kakak meningkat drastis dibandingkan waktu kelas dua SD. Banyak pelajaran yang dia tidak mengerti; di saat yang bersamaan saya mulai sibuk dengan dunia kepenulisan.

Dia memberontak, membangkang, melawan, dan melakukan apa pun untuk mendapatkan perhatian saya. Tidak mau belajar sehingga nilainya memburuk adalah salah satu cara dia untuk membuat saya berfokus seratus persen lagi pada dirinya. Seperti dulu.

Saya yang sedang asyik dengan dunia baru dan merasa paling sibuk, menolak untuk melihat kebutuhannya yang paling dasar yang saya tak sengaja abaikan. Akhirnya konflik di antara kami berdua tak terhindarkan.

Di dalam diam saya merenung apa yang salah dari keputusan saya, apa yang saya harus perbaiki dan upayakan lebih baik. Di dalam diam saya si Kakak menangkap rasa benci dan penolakan dari saya.

Kami berdua tidak membicarakan emosi apa yang sebenarnya kami rasakan. Kami berasumsi dan menghakimi. Saya lalai menggunakan kesempatan itu untuk mengajari dia cara mengidentifikasi setiap emosi yang dia rasakan, dan apa yang harus dia lakukan terhadapnya.

Kira-kira setahun terakhir kami berdua mulai berubah. Tentu saja ini ada kaitannya dengan suami yang kembali tinggal satu rumah dengan kami. Saya jadi tidak merasa sendirian amat mengurus anak-anak dan rumah. Anak sulung kami juga melihat kehadiran kami yang lengkap setiap hari.

Dia melihat sosok ayah dan ibu dengan perannya masing-masing untuk merawat dan mendukung pertumbuhannya. Kestabilan rumah tangga kami berdampak langsung pada kestabilan emosinya dan berdampak tidak langsung pada relasi yang harmonis di antara kami.

Untuk menanamkan tanggung jawab sedari dini, kami memberikan dia banyak pendidikan di sekolah dan di luar sekolah. Kami melakukan itu supaya si Kakak terbiasa menghadapi banyak tugas, terbiasa menghadapi tuntutan, bisa mengatur waktu, dan memiliki target yang harus dicapai.

Apa yang kami tabur dengan air mata perlahan-lahan mulai memunculkan hasilnya. Ilmu yang dia peroleh di luar sekolah, terutama musik, menjadi bekalnya untuk menghargai diri sendiri dan cambuk untuk meraih prestasi. Sekarang waktunya kami menuai dengan bersorak-sorai.

Perjalanan kami masih teramat panjang, namun tidak ada salahnya untuk mengambil momen ini sebagai kesempatan untuk bersyukur kepada Tuhan atas anugerah-Nya, atas orang-orang yang Dia telah kirimkan untuk menjaga dan memberkati kami.

Perjalanan di depan pasti kadang mulus kadang berliku. Perjalanan di depan pasti memiliki tantangan dan hambatannya sendiri. Tidak mengapa; kami punya Tuhan yang memegang hidup kami.

Tadi tanpa sengaja saya membuka sebuah puisi yang saya tulis untuk si Kakak sembilan tahun lalu. Sembilan tahun, sebelas tahun, semuanya lewat dalam kedipan mata. Saya bersyukur saya tetap setia menorehkan pena untuk mengenang tahun demi tahun yang telah kami lewati bersama.

Tick tock around the clock

Let me hear what says the dog

Little Mis has cake and candle

She just laughs and can’t stop giggle

Little Mis is having her two

Dad and Mom are celebrating too

Little Mis is now bigger girl

Grows as high as her cutie curl

Little Mis we love you very

We wish you a day with merry

Happy birthday, our little Mis

We send you zillions of hug and kiss

Pada usianya yang ke-2 tahun si Kakak belum memiliki dua orang adik seperti sekarang. Perayaannya dulu tidak seramai hari ini dengan adik-adik yang berebutan memasang, menyalakan, dan meniup lilin. Sembilan tahun lalu tidak ada suara saya yang sudah putus asa meminta mereka untuk diam sebentar saja supaya kami bisa mendapatkan foto keluarga yang bagus.

Perayaan tahun ini penuh dengan segala drama dan adik-adik yang ingin segera berulang tahun juga. Tak lama lagi si Abang akan berulang tahun disusul si Adek. Kami mendapat anugerah untuk menyusun ulang tahun mereka bertiga supaya berurutan sesuai dengan tanggal kelahiran. Semuanya sudah sempurna pada waktunya.

Selamat ulang tahun lagi, Kakak, biji mata kami yang pertama, dicintai sepanjang masa. Tuhan memberkatimu dulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya.

2 thoughts on “Catatan Sebelas Tahun

  1. Aaaaaak soswit bgt sihhh Mba Rijoooo :’) Aku bs merasakan ketulusannya Mba Rijo dalam tulisan ini. Kiss kiss untuk si sulung yg kini berusia sebelas tahun, panjang umur Mis!

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s