Lebih Baik Diam

Atau cerita?

Kayaknya ini jadi pertanyaan abadi tiap kali saya menghadapi masalah. Kalau diam, mau berapa lama? Apakah ujung-ujungnya akan cerita? Kalau cerita, ke siapa dan seberapa banyak yang bisa diceritakan?

Sebab kalau saya ada masalah dan curhat, versi yang didengar oleh si pendengar curhat pasti hanya versi saya. Saya yang merasa paling dibikin kesal, marah, sedih, menderita, dan ditindas. ‘Kan jarang-jarang seorang pendengar curhat mendengar versi cerita dari lebih dari satu pihak yang terlibat? Itu mah dilakukan hanya kalau ada proses mediasi di antara pihak-pihak yang bertikai.

Buat anak sulung saya hari ini adalah the worst day ever. Waktu mendengarnya saya hanya ketawa. There will be worse day than today, believe me.


Karena jangkauan kita terbatas, hanya mencakup masa lalu dan sekarang ini. Kita bisa bilang hari ini paling buruk atau paling baik karena membandingkannya dengan hari-hari lain di masa lalu. Padahal mungkin saja ada hari lain yang lebih buruk/baik di masa depan. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang melompat ke depan dan kembali ke saat ini untuk memberitahu kita, betapa pun kita dan industri film mengkhayalkan hal itu dapat terjadi.

Semuanya diawali dengan si Kakak yang kurang tidur kemarin malam. Sudahlah, istirahat dan tidur yang cukup itu kunci kesejahteraan raga dan batin untuk keesokan harinya, saya bilang itu berulang kali kepadanya seperti radio rusak saja. Si Kakak yang seperti saya (benar-benar buah jatuh nyangkut di ranting pohon) sering menyepelekan pentingnya beristirahat yang cukup. Selama hati senang, mood aman, mau secapek apa pun Β pasti dia bisa mengerjakan semua semuanya.

Niatnya sih begitu.

Tapi tubuh diciptakan dengan sistem sensor dan alarm yang luar biasa. Selalu akan ada petunjuk-petunjuk kecil yang memperingati kita bahwa ada gangguan, ada invasi terhadap hanya satu badan yang kita miliki ini. Ada debu masuk, kita menggosok mata. Ada debu lewat, hidung kita bersin. Demikian seterusnya. Apalagi jika tubuh kita lelah dan kurang beristirahat; kepala pusing, mata sepet, tidak fokus, dan mudah marah adalah tanda-tanda yang pasti muncul untuk memberi peringatan.

Pukul sepuluh pagi si Kakak bilang dia pusing, capek, dan mengantuk. Apa daya hari ini jadwal belajar di sekolah dan les cukup padat merayap ditambah parents meeting dua kali untuk saya. Pukul sebelas pagi saya suruh dia mengirim WA ke ayahnya, minta tolong dibelikan ketan hitam. Eh dia malah pakai Google Hangouts untuk mengirim link parents meeting. Kurang konsentrasi itu pasti, ‘kan badan capek. Untung ketan hitamnya masih sempat dibeli.

Pukul tiga sore seusai SFH dia mau beristirahat sebentar sebelum mulai les teori piano. Pergilah dia ke kamar dan mengangkut bantal dan selimut ke library tempat dia biasa belajar. Dan srettttt … bantal dan selimut yang dibawa menumpuk di pundak itu mengenai pigura yang menempel di dinding. Bunyinya pas jatuh benar-benar bikin saya yang sedang menyusui kaget luar biasa. Krompyangg!!!

Waktu saya dekati, si Kakak sudah menangis meraung-raung. Pigura yang pecah adalah pigura berisi foto saya, dia waktu berumur sepuluh bulan, ibu dan adik perempuan saya. Foto itu sudah lamaaa sekali menempel di sana. Sudah sepuluh tahun! Saya kaget sekali ketika menyadari hal ini. Duh, ke mana sih tahun-tahun itu berlalu? Kenapa larinya terlalu cepat?

Dinding itu berisi delapan pigura. Foto-fotonya disusun seperti kolase dan satu pigura yang pecah membuat galerinya terlihat … tidak sebagus biasanya. Si Kakak dengan takut-takut bertanya apa kami bisa membeli lagi pigura yang sama persis. Saya hanya menghela napas. Saya bahkan tidak yakin toko yang menjualnya masih ada di Jalan Cibadak di Kota Bandung.

Sambil mendengarkan dia menangis, saya membersihkan pecahan kaca yang benar-benar berhamburan. Ngeri banget kalau ada pecahan kaca di lantai dan tiga anak yang berlarian ke sana kemari. Saya vakum lantai berkali-kali sampai saya yakin semua pecahan kaca sudah terkumpulkan. Si Kakak masih saja menangis menyesal dan menyesali pigura pecah yang berisi foto kami itu.

Ya sudah, nasi sudah menjadi nasi uduk. Pigura jatuh dan pecah dan tidak bisa diperbaiki lagi. Sambil terisak-isak dia melekatkan foto ke rangka pigura yang masih menempel di dinding. Kelihatan jomplang, tapi ya sudahlah. Sambil sesenggukan dia memeluk saya, meminta maaf, terus-menerus berkata worst day ever, tapi saya cuma diam.

There might be worse day than today; we just don’t know it yet.

Tak saya sangka, hari ini pun menjadi salah satu hari buruk bagi saya. Sebuah tulisan saya diprotes karena dianggap menghina. Detailnya tidak usah saya jelaskan di sini, terlalu sensitif. Saya tidak langsung bereaksi; saya memikirkan bagaimana seharusnya saya bereaksi sambil bertanya pada dua orang yang saya sangat percayai: suami dan kakak sepupu saya. Keduanya bilang supaya saya tidak mengacuhkan. Baiklah, saya turuti, karena secara prinsip saya yakin saya benar. Saya duga protes itu dilayangkan tanpa membaca isi tulisan yang tidak ada menyangkut isu SARA.

Satu jam kemudian saya mendapat notifikasi. Jumlah view-nya bertambah cukup banyak, dan ada orang lain yang ikut berkomentar. Saya dituduh memlesetkan, menghina, mengolok, mempermainkan, dan melukai hati orang lain. Saya heran luar biasa, orang-orang ini tidakkah membaca isinya? Tulisan itu tentang kokoriyaan kok, kalau ada yang mau protes, yang paling pas adalah agensi para artis yang saya bahas di dalam tulisan itu.

Namun saya tidak mau berpanjang-panjang, jadi saya hapus tulisan saya di platform itu dan di blog pribadi. Hilangkan jejak, secepat kilat, selagi bisa. Saya bertanggung jawab atas isi tulisan saya tapi saya tidak bertanggung jawab atas reaksi orang lain. Dan oleh karena sebuah tulisan adalah sebuah media yang bersifat dua dimensi, reaksi orang lain terhadap tulisan saya sangat ditentukan oleh:

1. Jenis relasi mereka dengan saya.

2. Mood mereka waktu membaca tulisan saya itu.

Kalau poin nomor satu dan dua buruk, ya saya mau bilang apa lagi? Sifat dua dimensi sebuah tulisan memang sangat rentan menimbulkan kesalahpahaman. Saya mau sanggah seperti apa pun, mereka pasti tidak mempercayai saya. Karena pada dasarnya tidak ada netralitas dan kepercayaan dari mereka kepada saya. Pada benak mereka, saya adalah musuh yang sudah menyinggung. Saya enggan repot-repot mengubah persepsi orang.

We all think what we choose to think. We are responsible with what we think.

Tanggapan saya terhadap keberatan mereka adalah ranah pribadi saya, yang kemungkinan besar akan dikonfrontasi lagi oleh mereka. Jadi di mana ujungnya? Kapan berakhirnya? Apa benefitnya buat saya dan mereka? Tidak ada.

Jadi, dengan berat hati saya menghapus tulisan itu. Berat hati bukan karena jumlah view, like, comment yang saya sudah kadung dapatkan. Tidak sama sekali. Berat hati karena saya merasa miris. Tema menulis dari KLIP pada minggu ini adalah tentang kemerdekaan, tentang merdeka saat menjadi diri sendiri. Dan hari ini saya merasa tidak merdeka.

Setiap orang bisa merasa merdeka, bisa berupaya supaya mereka dapat tetap merdeka berpikir, berkata-kata, bertindak, dan lain sebagainya. Tapi ingat, setiap kemerdekaan individu dibatasi oleh kemerdekaan individu lain. Tidak adanya ketersinggungan atau pertikaian akibat kemerdekaan yang saling bertindihan adalah karena adanya komunikasi dan kesepakatan.

You go this way, and I’m okay with that. I go that way, and you’re okay with that.

Sesederhana itu.Β Dan di tengah perasaan miris karena saya tidak sepenuhnya merdeka, saya tidak bisa membela diri, saya dikekang untuk mengungkapkan pendapat, saya diingatkan akan satu hal.

Carilah perdamaian. Usahakanlah menjadi sahabat untuk semua orang.

Itu yang saya usahakan hari ini, di tengah kekesalan dan kepedihan hati. Dan … adios untuk platform blog itu. Menulis di rumah sendiri tetap yang terbaik.

Eh, wait, kok tulisannya udahan gitu aja? Wkwk.

Jadi, kesimpulannya saya cerita atau diam nih akan peristiwa tidak enak hari ini? Sepertinya sih saya sudah cerita ya melalui tulisan ini, dengan batasan dan rambu-rambu yang super ketat. Saya membagikan apa yang perlu saja, terutama moral of the story dari kejadian tersebut.

Bahwa hari ini pasti bukan hari terburuk dalam hidup kami.

Bahwa besok adalah sebuah hari yang baru.

Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.

Dan jangan lupa, menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Tulisan ini akan menjadi pengingat bagi saya jika ada kejadian serupa di masa depan. Saya tidak mencari musuh, saya malas meladeni orang yang berasumsi tanpa menkonfirmasi. Kalau kita berkawan karena tulisan saya atau tulisan Anda, itu baik. Kalau tidak, juga tidak apa-apa.

Hari ini dan teman semuanya hanya sementara. Ada pada satu masa, berlalu pada masa berikutnya. Hargai ketika masih punya, tidak usah baper ketika dia beranjak pergi. Bukan hanya hari ini dan teman yang melangkah maju, saya juga. Kamu juga. Kita semua, tidak ada yang tidak berubah.

14 thoughts on “Lebih Baik Diam

  1. Kakak, tulisan yang mana sih, itu? Padahal saya selalu mengagumi tulisan-tulisan kak Jo, yang lugas tapi mengena di hati. Tegas nan manis

    Anyway, apapun itu tetap menulis dan menginspirasi ya, kakak 😊

    Like

      1. Aish, jangan dong. Btw penasaran lo, tulisan yang mana. Soalnya kak Jo, nulis kokoriyaan itu enggak ada unsur mengejeknya acan πŸ€­πŸ€”

        Like

  2. Ish suka gitu ya warganet, baru baca sebaris dua baris komen’y udh kemane2. Waktu kecil kek’y mereka kurang kegiatan pra membaca, besar’y cuma baca tanpa memahami dan memaknai. Huft~
    Tetap semangat rijo eonni!

    Like

    1. Iyes, suka gitu, udah berani komen2 padahal cuma baca judul 😐 semoga anak2 kita lebih melek literasi + ga cepet mengambil kesimpulan cuma dari “apa kata orang”

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s