Namamu Tertera Pada Halaman Pertama Bukuku

Yang terkasih Kakak,

anak Mama yang pertama, biji mata yang dicintai sepanjang masa.

Masih ingatkah kamu empat tahun lalu ketika aku tiba-tiba jatuh sakit? Kamu sangat kaget dan terheran-heran karena kamu hanya satu kali melihat aku terbaring lemah ketika melahirkan adikmu.

Waktu aku harus menginap di rumah sakit, kamu datang berkunjung dan memelukku erat. Cepat sembuh, Mama, cepat pulang ke rumah, begitu katamu. Namun aku tidak lekas sembuh. Jiwaku kering, pikiranku gelisah, batinku ingin berbuat sesuatu di sisa umurku.

Aku merelakan karir yang sedang kutiti untukmu. Kelahiranmu dan kesehatanmu adalah lebih penting dari apa pun juga. Kita berdua sangat dekat. Kamu lahir pada usia kehamilan minggu keempat puluh satu. Kamu begitu nyaman berada di dalam kandungan, begitu enggan keluar ke dunia yang mungkin tidak setentram rahimku.

Perjalanan hidupmu tidak mulus sedari awal, Anakku. Penyakitmu membuat segenap waktu, pikiran, dan tenaga tercurah untuk kesembuhanmu, untuk keselamatanmu, untuk kebaikanmu. Merawatmu sendiri dengan kedua tanganku, memperhatikan setiap tonggak pencapaianmu adalah sumber kebahagiaanku. Dulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya.

Akan tetapi, Anakku, aku adalah pribadi yang terpisah denganmu. Aku adalah manusiaku sendiri. Sebelum aku menikah dan memilikimu, aku adalah seseorang yang mempunyai nama dan mempunyai sejarah. Ketika kini sejarah kita bersinggungan, tidak berarti aku kehilangan identitas. Tidak berarti juga aku kehilangan kebahagiaan dan kepuasan dipercaya menjadi ibumu.

Hal inilah yang membuat benakku gelisah dan ragaku perlahan-lahan melemah. Aku ingin sesuatu untuk diriku sendiri. Dan lebih dari itu, aku ingin sesuatu untuk kuwariskan padamu. Sesuatu yang membuatmu bangga, yang membuatmu terus mengingat bagaimana hidupku dulu. Sesuatu yang membuatmu menyadari cintaku yang berlimpah padamu bahkan saat kita tidak bersama lagi.

Oleh karena itu pada dini hari beberapa saat setelah aku kembali ke rumah untuk memulihkan diri, aku mulai menulis cerita pendek lagi. Ini yang pertama setelah beristirahat selama enam belas tahun. Tidak terasa sulit, rasanya seperti melemaskan kembali otot-otot yang tidak pernah dipakai. Aku kembali menggunakan otot-otot yang kaku karena telah menganggur bertahun-tahun. Hasilnya ternyata cukup mengejutkan.

Dari satu cerita pendek aku berakhir menulis dua belas cerita pendek. Kamu menyaksikan momen-momen aku terpaku pada layar handphone-ku,  mengetik secepat kilat, menuangkan pikiran mumpung ide itu menyambar. Kamu mengerti bahwa aku sedang mengerjakan sesuatu yang penting. Sebuah hadiah untuk diriku dan terutama untuk kalian.

Kamu dan adikmu mengikutiku sepanjang perjuangan demi perjuangan. Mulai dari ketika aku menawarkan naskah buku yang berbahasa Inggris ke enam belas penerbit. Kamu ada di sampingku ketika aku tertunduk kecewa karena ditolak oleh semuanya. Tidak apa-apa, Mama, begitu katamu, semuanya akan baik-baik saja.

Dan benar, semua baik-baik saja. Saat satu pintu tertutup, kalian keluargaku tercinta memberi aku semangat untuk membangun pintu yang baru. Tidak usah menunggu pintu yang lain terbuka. Bisa saja ia segera terbuka, atau nanti setelah sekian lama, habis waktumu untuk menunggu. Bangun sendiri pintunya dan bukalah, begitu kata ayahmu.

Berbekal dukungan kalian aku memberanikan diri menerbitkan bukuku sendiri. Kamu dan adikmu dengan semangat mengikutiku waktu kita mencari penerbit yang bisa mengurus ISBN. Waktu kita menjelajah kota Jakarta untuk mendapatkan percetakan yang memberikan harga yang sesuai, kalian tidak pernah mengeluh. Kemacetan tidak membuat kalian kehabisan akal. Tidur, makan, atau bermain kalian lakoni supaya aku bisa menyetir dengan tenang.

Ketika pada akhirnya kita mendapatkan percetakan itu, kamu dengan girang bersedia ketika diajak melihat-lihat proses produksi. Senyummu terkembang lebar ketika aku memfotomu di samping gulungan kertas yang baru datang dari Australia. Mulutmu menganga tanda tak percaya ketika melihat mesin cetak yang bekerja secepat kedipan mata. Kamu mau mencoba melipat lembar demi lembar brosur sebuah toko yang sedang dikerjakan oleh para pegawai di sana.

Pada setiap tahap yang aku lewati untuk menghasilkan buku sendiri, kamu dan adikmu selalu ada dengan senyuman, dengan pelukan untuk menghibur. Kalian tidak pernah menganggap perjalanan dan kesusahan yang aku alami sebagai beban. Kalian melihatnya sebagai sebuah petualangan yang menggembirakan. Mama sedang mencoba sebuah hal baru dan kita harus mendukungnya, begitu katamu.

Kalian ikut ketika kita mengambil tumpukan buku pertamaku. Pada halaman pertamanya aku menulis ucapan terima kasih untuk empat orang: kakek dan nenekmu yang mengajariku menulis dan membaca, guru bahasa Jerman yang memberiku buku harian yang pertama, dan ayahmu yang menjadi angin untuk mengangkatku terbang. Cerita-cerita yang kutulis dengan susah payah, langkah-langkah yang kuambil untuk menerbitkannya, buku pertamaku, kalianlah yang membantu mewujudkannya.

Bahkan waktu aku harus pergi ke kota lain untuk belajar menulis dan menawarkan bukuku, kamu melepasku dengan senyuman. Setiap kali aku meneleponmu selama aku berada di sana, kamu selalu menjawab: jangan khawatir, Mama, semua beres, kami baik-baik saja. Aku pun bisa belajar dengan tenang. Hatiku tambah sumringah karena di sana aku berhasil mendapatkan kontrak untuk memajang bukuku di toko buku ternama.

Kebahagiaanku memuncak tiga tahun lalu ketika acara peluncuran buku pertama, ketika semua anggota keluarga besar kita bisa berkumpul. Dengan perasaan terharu aku memandang wajah ayahmu dan kalian, anak-anakku. Dengan air mata menggenang di pelupuk aku membungkuk di depan kakek nenekmu, memberi hormat dan penghargaan atas jerih payah mereka menjadikanku orang seperti yang sekarang ini.

Memang benar kamu bisa melakukan banyak hal tanpa keluarga, namun kehadiran mereka akan memberikan arti lebih pada keberhasilanmu. Itu yang kupelajari dari perjalanan menerbitkan buku pertama; bahwa aku tidak sendirian. Ada keluarga yang berjalan bersamaku, menggandeng tanganku ketika aku goyah, memberi aku tempat beristirahat ketika aku lelah, dan mendorongku ketika aku sudah siap untuk berjuang lagi. Semua keberhasilanku adalah berkat dan untuk kalian.

Ingatlah itu, Anakku. Ingatlah perjuanganku sebagai warisan yang melekat pada benakmu. Ingatlah semua usaha dan kesusahan dan kebaikan yang aku raih sebagai inspirasi di dalam hidupmu. Bukan untuk nanti ketika kamu sudah dewasa, tapi mulai dari sekarang ketika kamu masih kecil, ketika kamu masih belajar di sekolah dan menemukan hal-hal yang susah. Ingatlah untuk selalu berjuang.

Jangan menyerah, begitu katamu nanti pada dirimu sendiri. Jangan menyerah karena Mama juga tidak pernah menyerah.

Setelah buku pertama, aku sangat ingin menulis buku-buku selanjutnya. Aku tak ingin berhenti hanya di satu buku, aku ingin terus berkarya. Satu bulan setelah acara peluncuran buku itu aku mulai menulis novelku yang pertama. Aku sudah menaklukkan menulis cerita pendek, sekarang saatnya mencoba menulis novel. Untuk menulis cerita pendek aku perlu kecepatan, untuk menulis novel aku perlu stamina dan keteguhan hati.

Perjalanan selama lima bulan itu tidak mudah, namun kamu dan adikmu sangat pengertian. Kalian paham bahwa aku sekarang punya pekerjaan, punya kesibukan selain merawat dan membesarkan kalian. Kalian memberiku ruang dan waktu yang kuperlukan untuk menulis. Tentu saja kalian yang terutama. Tidur larut malam untuk menulis pun tak apa, asalkan semua tugasku mengurus kalian sedari pagi sampai malam hari sudah tertunaikan.

Dari menulis novel aku belajar sabar, akan diri sendiri dan akan orang lain. Tidak semua hal bisa berjalan dan bisa terjadi secepat yang kita inginkan. Dan itu tidak apa-apa. Dari menulis novel aku jadi tahu timing yang tepat, berpikir terstruktur, mengaplikasikan logika, dan bertanggung jawab akan nilai-nilai yang hendak kusampaikan lewat sebuah cerita. Aku tak ingin di kemudian hari kalian malu akan sesuatu yang aku pernah tulis tanpa berpikir panjang.

Terima kasih, Anakku, karena sudah memberiku kesempatan untuk melalui itu semua.

Dengan sabar kamu menanti hasil tulisanku kali ini dalam wujud novel. Kamu sering sekali bertanya aku sudah menulis sampai mana. Setiap kali aku merasa malas atau enggan melanjutkan, pertanyaan-pertanyaanmu membuatku bersemangat lagi. Sampai pada akhirnya novel itu selesai pada penghujung tahun, hampir dua tahun setelah cerita pendekku yang pertama.

Novelku yang pertama kupersembahkan untuk anakku yang pertama.

Namamu tertera pada halaman pertama buku itu, Nak. Teruntuk kamu, anakku yang sulung, yang memberiku anugerah pertama untuk menjadi seorang ibu, yang mengubah hidupku secara drastis untuk menjadi lebih baik. Karyaku itu untuk kamu, seorang anak yang mencintai tanpa syarat dan yang tidak menyimpan kesalahan orang lain di dalam hatinya. Semua yang kutulis adalah hasil dukunganmu, untuk tidak pernah menyerah bahkan saat menulis satu kata saja terasa sangat sulit.

For Kakak,

A daughter who loves unconditionally and who forgives easily.

Aku berharap buku itu dan kisah perjuangan di baliknya, dimana kamu turut berperan dan mengambil andil, akan menjadi warisan berharga untukmu dan untuk keturunanmu kelak. Semua hasil pekerjaan tanganku adalah untukmu dan adik-adikmu. Semuanya untuk membuat kalian selalu mengingatku dan sepenggal waktu dalam hidup yang kita lewati bersama-sama.

Peluk dan cium penuh cinta dariku untuk kamu anakku yang pertama, biji mata berharga yang dikasihi sepanjang masa.

Mama

9 thoughts on “Namamu Tertera Pada Halaman Pertama Bukuku

      1. Aamiin kakak. Itu naskah dari yang kemarin challenge blog jadi buku. Alhamdulillah selesai, tapi belum disusun rapi saja naskahnya. Ini mau mulai menyusun, semoga selesai secepatnya dan bisa tetap terbit, aamiin

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s