Mereka yang Tetap Bersinar Walaupun Ditolak

Kata Mbah Google, second lead syndrome berarti kita lebih menyukai second male lead dan ingin dia jadian dengan first female lead.

Ini sebuah hal yang mustahil. Jika ini terjadi, maka para pemeran first male lead pasti akan protes; apa dong keunggulan saya sampai saya tidak dipilih? Pertanyaan yang sama mungkin ada juga di benak si second male lead; apakah saya begitu tidak potensial sampai saya tidak dipilih? Yah semuanya ‘kan terserah si penulis cerita drama Korea, terserah PD-nim (produser), dan kadang-kadang juga terserah para netizen yang maha benar.

Buat saya sendiri second lead syndrome berarti berbeda. Apa pasal? Semua second male lead yang saya tonton di drama-drama favorit adalah karakter-karakter yang menyenangkan, membuat saya kagum dan terkenang-kenang. Satu kesamaan mereka adalah mereka terlalu bagus buat first female lead, yang sudah paling pas jadian saja dengan first male lead.

Mari kita lihat contohnya satu per satu.

1. Kim Woo Bin dalam drama “The Heirs” (2013)

D34FE3C6-B19F-4549-BE28-69D2FF1ED3D4

Kim Woo Bin (kiri) dan Lee Min Ho (kanan) memperebutkan cinta Park Shin Hye di dalam drama klise nan halu ini. Sedari awal Woo Bin sudah digambarkan sebagai seseorang yang jahat dan kejam pada orang yang dia anggap tidak sederajat. Namun dia bukan orang yang sama sekali tidak tersentuh. Dia bisa berteman akrab dengan Park Hyung Sik dan Krystal Jung. Dia juga diam-diam perhatian dan melindungi mantan calon adik tirinya yaitu Kim Ji Won.

Dibandingkan Min Ho, saya jauh lebih menyukai Woo Bin. Dia blak-blakan, jujur pada perasaan sendiri, kalau sudah suka dia sosor terus pantang mundur, kalau sudah tidak suka dia enggan berpura-pura. Dia diam ketika ditampar ayahnya karena kalah bertanding karate dan diskors akibat berkelahi dengan Min Ho. Akan tetapi, dia tidak dendam. Dia tetap setia mendukung ayahnya yang ditangkap polisi dan akhirnya dijebloskan ke dalam penjara.

Dibandingkan Min Ho yang lemah dan tidak tegas, Woo Bin adalah pria yang jauh lebih berkualitas. Apa coba yang bisa ditawarkan oleh Min Ho? Tahu posisinya sebagai anak dari istri simpanan, tapi ia terus ragu untuk melawan ayahnya yang otoriter dan mengakui kebenaran asal-usulnya pada publik. Ia menyerah begitu saja waktu dipisahkan dari Shin Hye. Yang paling parah dia minta Woo Bin yang notabene adalah pesaingnya untuk menjaga Shin Hye karena ia merasa gagal, tidak mampu, tidak berdaya, dan seterusnya.

Cih, cowok macam apa itu?

Shin Hye di dalam drama ini pun tak kalah peragu dan terombang-ambingnya. Iya, memang benar ada batasan kasta sosial, kekayaan, latar belakang keluarga, dan lain sebagainya di antara mereka berdua. Tapi …, kalau sudah saling suka ya dijalani saja, iya tidak sih? ‘Kan ceritanya Shin Hye anak yang pintar sampai dapat beasiswa, masak tidak ada kepercayaan diri barang sedikit pun?

Jangan maju mundur tidak cantik terus, saya sampai bosan melihat kegalauan tak berujung dua tokoh utama ini selama berepisode-episode. Min Ho sudah paling pas jadian dengan Shin Hye yang sama-sama lembek. Biarlah Woo Bin tetap tampil keren sebagai badass dalam kejombloannya.

2. Park Seo Joon dalam drama “Kill Me Heal Me” (2015)

F6B3B32B-F0AC-4238-9B11-EF1F76CCF804

Premis cerita ini, selain yang menyangkut Ji Sung, cukup membuat saya geuleuh, kalau kata orang Sunda mah. Park Seo Joon (kiri) dan Hwang Jung Eum (tengah) dibesarkan sebagai saudara kembar walaupun mereka berdua tidak ada hubungan darah. Jung Eum diselamatkan dari sebuah kebakaran oleh ibu Seo Joon dan dibesarkan seperti anak sendiri. Ibu Seo Joon dan ibu Jung Eum dulunya bersahabat.

Jung Eum yang mulai kasmaran pada Ji Sung tidak menyadari perasaan Seo Joon yang mulai berubah. Di balik kekoplakan dan ceplas-ceplosnya, dia ternyata menyimpan perasaan cinta pada “adik ketemu kecil”-nya itu. Perasaan Seo Joon tentu saja tidak berbalas karena kehadiran Ji Sung dan rasa sukanya pada saudara sendiri membuat saya cringing tiada henti.

Cukuplah cerita Joon Seo dan Eun Seo dalam drakor “Endless Love”(2000) yang ternyata bukan kakak adik karena kesalahan bayi yang tertukar di rumah sakit dan akhirnya saling jatuh cinta ketika mereka dewasa. Ada hubungan darah atau tidak, mereka dibesarkan bersama-sama dan rasanya tetap seperti incest. Saya kesal waktu formula ini dipakai di dalam drama yang sebenarnya ciamik karena mengangkat tema luka masa kecil dan kepribadian ganda.

Jung Eum sudah paling pas dengan Ji Sung. Mereka pernah saling mengenal sewaktu kecil. Pertemuan mereka kembali adalah untuk saling menyembuhkan trauma dan memaafkan kesalahan pada masa lampau. Biarkanlah Seo Joon dengan segala kharisma, kelucuan, dan kapasitasnya yang besar untuk tetap menyayangi apa pun kondisi orang itu, menemukan wanita yang pas kelak.

3. Siwon dalam drama “She Was Pretty” (2015)

598D1CD7-EF33-4B03-A072-87E5E213E675

Gara-gara chemistry mereka yang meledak sebagai kakak adik di dalam drama nomor 2 di atas, Hwang Jung Eum (tengah) dan Park Seo Joon (kanan) dipasangkan sebagai dua sejoli di dalam drama ini. Ga salah nih, pikir saya. Tambah bikin cringing kali karena mereka berdua sudah paling pas jadi saudara saja, tidak usah pakai cinta-cintaan.

Akibatnya saya menonton drakor ini dengan setengah hati dan cuma terhibur dengan kehadiran Siwon. Siwon berperan sebagai teman sekantor Jung Eum yang jahil, baik hati, dan menyembunyikan identitas aslinya sebagai seorang penulis yang jenius dan kaya raya (standar banget). Dia selalu siap menjadi tempat curhat Jung Eum. Dia tidak pernah mengeluh ketika harus membantu Jung Eum. Cintanya muncul perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, dan untunglah tidak berbalas.

Jung Eum itu tipe wanita yang tidak percaya diri dengan penampilannya. Memangnya kenapa kalau ada bintik merah di pipi? Masak tidak tahu yang namanya BB cream, bedak padat, foundation, dan sederet barang lain yang bisa menyamarkan noda sebesar apa pun pada wajah? Padahal dia tinggal di Korea Selatan, lho, surganya produk kecantikan.

Rasa minder karena dia tidak secantik waktu kecillah yang membuat Jung Eum, sahabatnya, Seo Joon, dan Siwon terlibat dalam cinta entah segi berapa yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Seandainya Jung Eum berani bertanya jujur,

“Ini lho, freckles aku, jelek dan mendominasi wajah kecil ini. Kamu masih mau terima ga?”

‘Kan tinggal tanya begitu. Kalau Seo Joon tidak mau terima, ya sudah move on saja. Buat apa terpaku pada Seo Joon yang sekarang jadi cakep padahal waktu kecil gendut menggemaskan? Memangnya cuma dia yang fisiknya boleh berubah dan Jung Eum tidak?

Masih banyak pria di laut, dear Jung Eum, tuh ada Siwon di sebelahmu. Akhirnya saya meninggalkan drama ini pada episode ke-7 atau ke-8. Rasanya tidak seru lagi karena potensi Siwon disia-siakan begitu saja. Dia terlalu bagus, untuk Jung Eum, untuk sahabat Jung Eum. Pokoknya dia jadi bintang paling bersinar yang jelas-jelas salah tempat di dalam drama itu.

Nah itulah definisi second lead syndrome menurut saya. Mereka adalah para pemeran pendukung yang tidak memiliki banyak cerita, yang sering diabaikan, padahal kehadiran dan aktingnya jauh lebih cemerlang daripada para pemeran utama. Syukurlah tidak ada satu pun dari second male lead favorit saya yang mendapat hati si first female lead. Jika ya, rasanya potensinya yang besar akan tersia-siakan oleh para pemeran utama yang kurang bersinar.

Penjelasan di atas adalah untuk versi pertama dari definisi second lead syndrome. Versi keduanya diejawantahkan dalam diri dua orang aktor, satu pria dan satu wanita, yang saya sukai aktingnya dan saya kasihani porsi penampilannya yang sedikit di layar kaca. Lebih dari itu, peran mereka sebagai second lead dari drama ke drama sangat membuat saya miris.

Memang benar industri perfilman di Korea Salatan sana sangat kejam. Agensi berlomba merekrut bakat. Aktor lama dan baru timbul tenggelam begitu cepat. Tuntutan untuk selalu tampil cantik menawan, tanpa tanda-tanda pernah menjalani operasi plastik, harus diimbangi dengan sikap yang cool ketika menghadapi perundungan netizen. Tak heran jika mereka yang bergabung dengan agensi besar dan selalu tampil terawat akan lebih cepat naik daun daripada para second lead yang saya gemari ini. Siapa sajakah mereka?

1. Kang Ki Doong

767DF71B-3FCD-4048-B636-A6B2B42091A1

Aktor berusia 33 tahun ini pertama kali saya lihat di dalam drama “Fight for My Way” (2016). Dia berperan sebagai stalker yang meresahkan karakter yang diperankan oleh Kim Jin Won. Park Seo Joon yang berperan sebagai kekasih Ji Won kemudian mengkonfrontasi Ki Doong sampai akhirnya ia mundur teratur.

Sewaktu menonton aktingnya saya pikir aktor ini psikopat beneran. Tatapan matanya liar, senyumnya licik, raut wajahnya jahat. Dia berperan dengan sangat meyakinkan sebagai seorang stalker yang memiliki gangguan kejiwaan. Ternyata itu semua hanya akting, Saudara-saudara. Di dalam drama berikut, “Tomorrow with You” (2017), ia berperan sebagai seorang sahabat yang setia dan pendengar yang baik bagi karakter yang diperankan oleh Lee Je Hoon (paling kiri).

5770C92B-0E8F-424A-A6A6-DD5EADB8852C

Kesamaan kedua karakter yang diperankan oleh Ki Doong ini adalah mereka bukan pria yang dipilih oleh female lead, baik first ataupun second. Jika pesaingnya adalah Park Seo Joon dan Lee Je Hoon, maka apatah harapan Ki Doong untuk menang?

Saat ini Ki Doong berperan sebagai Jae Su, sahabat Gang Tae di dalam drama yang sedang tayang “Psycho, But It’s Okay” (2020). Foto mereka berdua ada di awal tulisan ini. Melihat karakternya yang sangat manja dan posesif pada Gang Tae saya sempat khawatir hubungan mereka berdua ini lebih dari sekedar bromance.

Semoga tidak ya. Adonan kepribadian anti sosial, autisme, misteri pembunuhan, dan luka batin masa kecil di dalam drama ini sudah cukup membuat saya pusing setiap kali usai menontonnya. Masak topiknya harus ditambah lagi tentang orientasi yang belok-belok? Wadaw.

2. Jung Yoo Jin

206C8ABC-704E-4A13-84DE-BB94C3D74754

Sepak terjangnya di dalam dunia perdrakorian menurut saya cukup mengenaskan. Model yang pernah diwakili oleh agensi YG Entertainment ini dua kali memainkan second female lead yang mengharapkan cinta first male lead drama yang tak lain dan tak bukan adalah Lee Jong Suk.

Dua kali bermain drama dengan lawan main aktor yang sama, dan dua kali pula karakternya ditolak oleh karakter yang dimainkan pemeran utama pria.

Sedih banget, ya? Kasihan banget. Waktu di dalam drama “W: Two Worlds” (2016) dia adalah salah satu dari dua orang teman setia Kang Chul. Karakternya di situ adalah teman curhat, pelindung, dan saudara yang Kang Chul sangat bisa andalkan. Pelan-pelan kehadirannya tergantikan ketika Kang Chul jatuh cinta pada Oh Yeon Joo yang datang dari dunia nyata ke dunia manhwa yang dia tinggali. Dia pun sempat hampir dihapus dari manhwa itu oleh ayah dari Yeon Joo.

Tak sampai di situ rasa nelangsa saya melihat Jung Yoo Jin. Di dalam drama “Romance is a Bonus Book” (2019) ia juga harus memendam cinta yang bertepuk sebelah tangan pada karakter yang diperankan oleh (lagi-lagi) Lee Jong Suk. Doh, apa orang yang bertanggung jawab atas casting di dalam drama ini benar-benar kehabisan stok aktor, ya?

Latar belakang karakter yang diperankan oleh Yoo Jin pun sama di dalam kedua drama. Ia adalah teman lama, teman sekerja, dan teman yang bisa diandalkan oleh karakter yang diperankan oleh Lee Jong Suk. Akan tetapi, ia ditolak karena si pria memilih mencintai wanita lain. Ngenes banget.

Setelah drama “Romance is a Bonus Book”, saya belum melihat Yoo Jin di dalam drama lain. Apakah ia menunggu tawaran drama setelah Lee Jong Suk menyelesaikan wajib militernya? Hmmm, jangan-jangan. Kalau ya, dia bisa-bisa mendapat predikat “spesialis ditolak sama Lee Jong Suk”. Hiks.

Apakah definisi second lead syndrome yang Pembaca punya sama dengan Mbah Google atau sama dengan saya? Untuk tiga orang second lead yang saya sebutkan di atas, mereka terlalu bersinar dan terlalu bagus untuk para pemeran utama wanita. Untung mereka ditolak karena tempat mereka adalah sebagai first lead di dalam drama lain. Contohnya adalah Kim Woo Bin di dalam drama “Uncontrollably Fond” (2016), Park Seo Joon di dalam drama “She Was Pretty” (2015), dan Siwon di dalam drama “Revolutionary Love” (2017).

Namun sayangnya Kang Ki Doong dan Jung Yoo Jin langsung otomatis ditolak oleh first lead, bagaimanapun bersinarnya dan bagusnya akting mereka di dalam drama-drama yang mereka bintangi. Kesempatan mereka menjadi first lead di dalam drama apa pun sepertinya juga kecil sekali. Kasihan.

Ah, dunia nyata memang tak seindah dunia drakor.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

14 thoughts on “Mereka yang Tetap Bersinar Walaupun Ditolak

  1. bashing detected hahaha, emang sih kadang-kadang karakter utamanya ceritanya nggak banget tapi bisa aja dijual untuk membuat sebuah drakor sukses berat, tanya kenapa…

    Like

      1. Betulll .. di W masih mending dia ga mabok, jadi sekretaris yg elegan dan berwibawa. Ah yg aku ga suka dari drakor soal mabok2 itu sih. Ga ada dignity banget jadinya 😛😛

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s