Hujan Bulan Juli

Tak sederas hujan bulan Juni, kukira.

Rintiknya sesekali. Awan di atas tak menggumpal lalu memecah menjadi guyuran air. Matahari masih mengintip di kejauhan, seakan tak rela tempatnya tergantikan hujan.

Hujan bulan Juli turun ketika kita berdiri di depan gedung itu. Bersisian tapi hati kita berjauhan.

Kecemasan mungkin terpancar dari wajahku. Kesedihan mungkin tergambar di sudut bibirmu. Kita enggan saling menatap. Tetes air hujan menjadi saksi, penonton drama kita yang terakhir.

“Satu bulan lagi, ya?” tanyamu.

Aku mengangguk lemah. Dari sudut mataku kulihat kau memainkan kunci apartemenmu. Di situ tergantung miniatur Namsan Tower, tempat yang kutuju waktu kau memilih untuk tidak turut. Jarimu yang panjang memilin besi itu berulang kali.

Kau gelisah. Aku tahu. Aku takut. Apa kau tahu?

“Kita hanya punya satu bulan lagi,” ulangmu.

“Kurang lebih.”

“Setelah ini apa?”

Dari kejauhan seseorang melambai ke arahku. Kulihat dia berlari melewati banyak kubangan lumpur menuju kita. Air kotor membasahi ujung celana abu-abunya. Jangan, jangan ke sini, batinku. Jangan sekarang.

“Rui!” serunya.

Ah, sial.

Orang itu berdiri di hadapan kita, mengacak-acak rambutnya yang lembap. Percikan air membasahi bahu dan ranselnya. Senyumnya terkembang lebar. Matanya jenaka saat bertemu mataku. “Sudah makan?”

“Sudah,” kau yang menjawab. Kau menggeserku dan berdiri di antara aku dan orang itu. Tanganmu menunjuk buku yang mencuat dari tasnya yang basah. “Mau belajar?” selidikmu padanya.

Dia mengedikkan bahu. “Mungkin. Karena Rui di sini aku berpikir ingin mengajaknya ke dalam.”

“Kami sedang sibuk.”

“Apakah Rui kehilangan suaranya sehingga sedari tadi kau yang menjawab untuknya?”

Kalian saling berhadapan dengan rahang terkatup rapat. Kalian bukan saling tidak menyukai; kalian saling membenci. Benci yang meniadakan rasa hormat. Benci yang memenuhi ubun-ubun. Benci yang terpancar kuat setiap kali jalan kalian berselisih.

“Tinggal satu bulan lagi, apa yang kau harapkan dari Rui?”

“Bukan urusanmu!” Bentakanmu menggelegar di telingaku.

Tolonglah, jangan bertengkar lagi hari ini. Hatiku terlalu lelah dan sedih untuk menengahi.

Langit seperti mendengar pintaku. Petir menggelegar, bersahut-sahutan, dan air tumpah ruah dari angkasa. Angin kencang bertiup dan menampar wajah kita. Aku melangkah mundur sembari tubuhmu menghadang badai yang datang ke arahku.

“Kau basah …,” gumamku padanya. Orang itu bergeming.

“Tak apa,” katanya dan membuka payungnya. Tatapan matanya tak lepas sedetik pun dari kita berdua. “Tinggal sebulan lagi. Kalian seharusnya sudah mengambil keputusan.”

Dia berbalik badan dan pergi. Meninggalkan aku yang salah tingkah dan kamu yang menahan amarah.

“Apa dia harus tahu segala sesuatu tentang kita?” tanyamu gusar.

“Dia tidak tahu semua,” jawabku lemah.

“Aku tahu dia sahabatmu, tapi apa kau harus menceritakan semua hal padanya?” kejarmu. “Percakapan kita, pertengkaran kita, cerita kita, apa dia tahu semua?”

“Tidak. Tidak semua,” desisku. Mataku panas, dadaku sesak. Aku tak punya tenaga untuk membantah ataupun menjelaskan. Yang kupikirkan hanya kamu. Kita.

Tanpa kau katakan aku sudah tahu apa yang akan kita bicarakan saat ini, di tengah guyuran hujan bulan Juli. Salahkah aku jika hanya memikirkan bilamana kepedihan itu datang?

“Apa rencanamu setelah ini?” tanyamu beberapa saat kemudian.

“Kembali ke negaraku.”

“Ikutlah denganku.” Kau menoleh dan wajahmu mendekat. “Ikutlah denganku, Rui. Kembalilah ke negaraku.”

Lututku mendadak lemas dan tenggorokanku tercekat. Sudah berapa kali dalam setahun ini kau mengiba seperti itu? Namun jawabanku tetap sama.

“Aku tak bisa, keluargaku membutuhkanku.”

“Keluargamu akan selalu ada untukmu, tapi aku tidak.”

“Kau tidak akan selalu ada untukku, tapi keluargaku iya.”

Aku membalik kata-katamu. Pipiku memanas. Kau dengan tekadmu dan aku dengan pertahananku. Rasanya aku hampir menyerah. Di ujung jalan yang kita lalui tidak ada titik terang. Di penghujung kebersamaan kita tidak ada titik temu.

“Jadi bagaimana, kita akhiri saja?” Kali ini tanganmu mencengkeram lenganku.

Dengan lemah kujalin jemariku dengan jemarimu. Genggamanmu erat, saking eratnya hatiku tercabik. Aku cinta. Apapun yang terjadi, aku masih cinta. Aku tetap cinta.

“Sampai kapan?”

Aku tertegun mendengar kebingunganmu. Itu juga yang menjadi pertanyaan hatiku. Ya, sampai kapan? Dengan jarak berjuta kilometer, perbedaan warna kulit dan bangsa di antara kita, sampai kapan?

“Aku tak mau mencoba jika kita sudah tahu akhirnya,” tukasku.

“Tapi aku masih cinta.”

“Kaupikir aku tidak? Aku tidak akan mengikutimu pulang.”

“Walaupun aku memaksa?”

“Tidak akan.”

“Walaupun aku memohon?”

“Apalagi.” Aku terdiam sejenak. “Kita terlalu berbeda, keluargamu pasti menentang.”

“Orang sebangsamu tidak menyukaiku. Contohnya dia.” Bahumu mengedik. Kuikuti arah pandanganmu dan kulihat orang itu lagi.

Dia berjalan membelah hujan di bawah payung hitam. Langkahnya mantap ke arah kita.

Berbeda dengan tadi, kau tidak menghentikan dia yang mendekatiku. Kau hanya menoleh padaku dan membawa tanganku ke bibirmu.

“Aku masih cinta,” bisikmu lirih.

Air mataku mengalir deras seperti tetesan hujan. Cukup, cintamu saat ini cukup bagiku.

“Rui, kita perlu bicara,” katanya.

“Nanti saja.” Aku tak mengacuhkan kehadirannya di hadapan kita. “Kami masih punya satu bulan lagi.”

Itu yang kuputuskan pada suatu sore pada bulan Juli, ketika hujan mengguyur gedung tempat kita berjumpa berjuta kali. Saat hujan turun pada bulan-bulan berikutnya, kau sudah berada di tempat yang jauh. Ragamu dan hatimu adalah milikmu, bukan milikku.

Hari ini aku mendongak menantang langit. Tak terasa bulan Juni sudah datang kembali. Dan hujan turun lagi.

 

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s