Berwisata Bersama Anak ke Kuburan

Di dekat bekas kantor suami saya ada sebuah tempat pemakaman yang terkenal karena pemandangannya. Berbeda dengan Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang selama ini saya tahu, tempat pemakaman ini membelah bukit-bukit. Tidak ada batu nisan yang didirikan, yang ada hanya plakat-plakat yang memenuhi tanah berisi keterangan mereka yang telah berpulang.

Kami sering mengunjungi tempat pemakaman ini bukan untuk berziarah. Di situ ada sebuah restoran Italia yang menyajikan hidangan enak sekali. Namanya “La Colina” dan dia terletak di bagian depan bersama dengan kantor marketing, sebuah toko bunga, sebuah minimarket, dan beberapa auditorium untuk acara keluarga yang akan melangsungkan penguburan.

La Colina menyajikan pizza ala Italia yang tipis, renyah, dan dibakar di atas tungku. Dapurnya terbuka jadi sambil menunggu kami bisa melihat chef memasak pesanan kami. Atau kami juga bisa berjalan-jalan di sekitar kolam renang mungil yang berada persis di depan restoran. Sejauh mata memandang hanya ada bukit hijau dan sedikit tanda kesibukan kawasan industri di Karawang.

Area di sekitar restoran itu sangat nyaman untuk dijelajahi. Biasanya kami tidak pernah pergi lebih jauh dari danau buatan yang terletak di sampingnya. Kali itu kami bertemu dengan banyak angsa yang sedang makan di pinggir danau. Angsa-angsa itu bau bukan main dan kelihatan galak, tapi si Abang berani-berani saja menghampiri mereka.

Setelah makan siang kami mulai mengitari tempat pemakaman yang dibagi ke beberapa area dengan nama-nama tersendiri. Oleh karena areanya yang sangat luas, saya memutuskan untuk membawa mobil dan berhenti di pinggir jika anak-anak mulai ingin berjalan kaki untuk melihat-lihat.

Area pertama yang kami kunjungi adalah area yang cukup datar. Di kanan kiri jalan setapak yang kami lewati ditanami oleh pohon dan tanaman berbunga. Plakat nisan ada di sela-selanya, namun anak-anak belum benar-benar memperhatikannya karena mereka ingin mencapai sebuah gerbang yang menampilkan lukisan “The Creation of Adam”. Lukisan ini sama dengan lukisan Michaelangelo sekitar tahun 1508-1512 di langit-langit Sistine Chapel, Museum Vatikan di Roma, Italia. Di dekat tembok dengan lukisan itu ada tulisan “The Eden” dengan patung jari Adam dan jari Tuhan yang bertemu pada saat penciptaan manusia.

Menurut iman Kristen dan Katolik, manusia pertama yaitu Adam dan Hawa, ditempatkan di Taman Firdaus ketika mereka masih bergaul akrab dengan Tuhan tanpa penghalang. Begitu manusia jatuh ke dalam dosa, mereka diusir keluar dari taman itu. Mereka tidak bisa lagi makan buah dari pohon yang berlimpah;  mereka harus bekerja, bersusah payah mengusahakan tanah yang keras supaya mereka bisa makan dan bertahan hidup.

Yang saya pahami dari area yang dinamai “The Eden” itu adalah sebuah tempat yang aman, nyaman, dan sentosa, selayaknya Taman Firdaus dahulu. Tempat itu menawarkan perasaan akhir dari sebuah perjalanan, perasaan telah pulang ke rumah yang sesungguhnya. Karena bukankah manusia yang berasal dari debu tanah akan kembali ke debu tanah saat ia bertemu Penciptanya?

Dari patung jari itu kami mulai menjelajahi area lain. Ada banyak tukang potong rumput yang sedang bekerja membersihkan rumput liar, jadi kami harus hati-hati berjalan supaya tidak mengganggu pekerjaan mereka. Beberapa kali kami melihat rombongan keluarga yang sedang berziarah. Pada siang hari yang terik itu tidak ada pemakaman yang dilangsungkan.

Plakat-plakat nisan yang terhampar di tanah memiliki jarak beberapa meter antara satu dengan yang lain. Ada juga area di mana plakat nisan dikelilingi tembok dan diberi atap, kelihatan terpisah dari nisan-nisan lainnya. Ada beberapa area yang sudah diberi pembatas dan jelas terlihat akan diisi oleh lebih dari satu plakat, biasanya untuk pasangan suami-istri.

Sepanjang penjelajahan kami anak-anak kadang-kadang berhenti untuk membaca informasi yang tercantum pada setiap plakat. Mereka akan membaca nama yang tertera, tanggal lahir dan meninggal, dan kata-kata mutiara yang berkesan. Mereka juga akan mengomentari foto mendiang jika ada.

Terus terang, belum ada kerabat atau keluarga kami yang dimakamkan di tempat pemakaman ini. Akan tetapi, anak-anak pernah mengikuti beberapa upacara pelayatan sampai penguburan orang-orang yang satu generasi dengan orang tua saya. Si Kakak selalu memandangi peti jenazah dari jauh dengan wajah khawatir dan takut-takut. Si Abang selalu berani mendekati jenazah dan menyentuh wajah atau pakaiannya, kadang ia berusaha membangunkan mereka.

Saya sebenarnya enggan mengajak anak-anak ke acara duka, tapi ketiadaan ART membuat saya sering kali harus membawa mereka. Kalau yang meninggal bukan keluarga, saya bisa menitipkan anak-anak pada kakek neneknya. Akan tetapi, acara duka seringnya menyangkut keluarga besar kami jadi tidak ada orang yang bisa dititipi anak-anak.

Pernah suatu kali setelah sebuah pemakaman si Kakak tiba-tiba menangis meraung-raung. Dia bilang dia tidak mau bertambah besar karena nanti saya akan menua dan pada akhirnya meninggal. Saya tidak bisa berkata apa-apa menghadapi ketakutan dan air matanya. Saya hanya bisa memeluknya dan berdoa memohon umur yang panjang. Kematian adalah sebuah keniscayaan, tidak ada manusia yang bisa menghindarinya.

Sambil berjalan-jalan di antara plakat-plakat nisan anak-anak menghitung umur mereka yang terbaring di situ. “Yang ini hidup 85 tahun, yang itu hidup 36 tahun. Yang ini hidup 51 tahun, yang itu kenapa hidup hanya 3 bulan, Mama?” Saya hanya bisa bilang bahwa umur adalah hadiah dari Tuhan. Oleh karena hadiah, jadi terserah si pemberi mau memberikan berapa banyak ke siapa saja. Semuanya itu adalah kedaulatan Pencipta kita.

Saya berusaha menghindari pertanyaan bagaimana jika saya atau mereka yang dipanggil duluan. Membayangkan hari saat kami akan berpisah saja sudah membuat hati ini hancur berkeping-keping, namun saya tetap ingin mengajarkan sebuah pelajaran spiritual kepada mereka.

Kamu harus tahu dari mana kamu datang, apa yang kamu harus lakukan di bumi ini, dan ke mana kamu akan pergi setelah meninggal.

Tiga pokok pikiran saja, tapi tiga hal ini akan sangat membedakan cara hidup orang demi orang.

Orang yang menganut paham nihilisme tidak memiliki tujuan hidup. Mereka percaya bahwa kelahiran mereka adalah sebuah kebetulan, tidak ada yang harus dicapai selama hidup, dan ketika meninggal mereka akan kembali kepada kehampaan.

Orang atheis tahu bahwa Tuhan itu ada namun mereka tidak mengakui keberadaan-Nya. Mereka percaya bahwa kelahiran mereka hanyalah sebuah proses sains. Mereka menggunakan ilmu pengetahuan untuk mematahkan teori keberadaan Pencipta dan ciptaan-Nya. Mereka yakin bahwa tidak ada apa-apa setelah kematian.

Orang yang beriman akan tahu tiga hal yang saya sebutkan di atas, dan akan mengajarkannya kepada anak-anak supaya mereka juga beriman. Anak-anak perlu tahu dari mana mereka berasal, panggilan apa yang mereka harus penuhi semasa hidup mereka, dan apa yang menanti mereka setelah nafas mereka berhenti.

Dengan mengetahui ketiga hal ini, anak-anak tidak akan hidup sembarangan. Mereka akan menghargai waktu dan kesempatan. Mereka akan berterima kasih atas berkat dan berusaha hidup berguna bagi orang lain. Mereka akan bekerja keras dan tidak main-main, karena sebelum masuk ke fase kehidupan mendatang mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan mereka selama di dunia.

Ketiga hal itu saya ulang-ulang sembari kami menyusuri bukit-bukit hijau yang landai dan yang terjal. Di puncak sebuah bukit kami menemui sebuah bangunan yang dipenuhi oleh abu kremasi para mendiang. Tidak ada plakat nisan, yang ada hanya lemari seperti loker dengan banyak pintu. Pada setiap pintu tercatat data dan foto diri almarhum atau almarhumah. Rangkaian bunga segar disematkan pada beberapa pintu. Pintu yang lain dihiasi oleh bunga yang kering dan layu.

7087250C-BE4E-4999-920F-B9206FF3153E

Hari sudah sore. Matahari hampir terbenam dan angin bertiup kencang. Ketika berjalan kembali dengan anak-anak ke mobil, saya tiba-tiba teringat kalimat-kalimat yang tercantum pada kitab Pengkhotbah pasal 7 ayat 2:

Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.”

Semoga wisata kami kali ini menanamkan bibit hikmat dan kebijaksanaan di dalam hati dan benak anak-anak saya. Semoga perjalanan kami membuat mereka selalu mengingat dan menikmati hubungan pribadi yang erat dengan Pencipta mereka. Dulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya.

3 thoughts on “Berwisata Bersama Anak ke Kuburan

  1. Wow, so deep kak, wisata kuliner, semi rohani, semi uji nyali, walo ga ada seremnya sama sekali, ya. Yang pasti, ngingetin kita akan kematian 🥺💙 suka, suka💙

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s