Tiga Kalimat yang Paling Menyakitkan Hati

Tadi sore saya menyetrika sambil mendengarkan Spotify. Setelah berbulan-bulan mendengarkan secara bergantian koleksi lagu Boyband di era 90-an dan BTS (West meets East nih ceritanya), saya memutuskan untuk mengeksplor musisi lain.

Kemarin malam saya mendengarkan AKMU, tapi berhenti di tengah-tengah karena lagu-lagu mereka ternyata tercampur dengan lagu-lagu dari musisi lain. Beginilah kalau tidak berlangganan akun premium, hehehe.

Pilihan saya akhirnya berhenti pada playlist yang bernama “Korean Balads”. Memang problematika memilih lagu di Spotify sama dengan memilih film di Netflix: lebih banyak waktu yang habis untuk memilih daripada benar-benar menikmati lagu/film yang dipilih.

Lagu pertama di dalam playlist itu adalah dari Davichi. Familiar dengan mereka, kan? Davichi adalah duet maut Lee Hae Ri dan Kang Min Kyung yang sudah menghasilkan banyak OST untuk drama-drama populer sejagat raya. Lagu merdu yang langsung tertangkap oleh telinga saya adalah “This Love”, OST drakor “Descendants of the Sun” dan saya langsung kegirangan.

Yes, akhirnya saya mendapat playlist baru.

Oleh karena saya sedang berkonsentrasi menyetrika seragam suami, saya tidak sempat melirik daftar lagu dan penyanyinya yang muncul di layar HP. Saya tiba-tiba tertegun ketika seorang pria menyanyi dengan suara melengking:

사랑하지 않아, saranghaji anha, aku tak mencintamui lagi.

Saya bukan obyek penerima pesan dari lagu itu, namun entah kenapa saya bisa menangkap rasa sakit dan rasa tertolak yang mungkin diakibatkan oleh lagu tersebut.

Sepanjang perjalanan cinta saya (yang pendek) sebelum menikah, ada beberapa kesempatan dimana saya dan mantan pasangan mengucapkan hal tersebut kepada satu sama lain. Entah karena jarak, atau karena waktu, atau karena hati yang mendingin, kalimat menyakitkan itu menjadi permulaan dari akhir sebuah perjalanan.

Saya jadi merenung, kalimat apa lagi ya yang begitu menyakiti hati selain kalimat yang dipekikkan oleh penyanyi laki-laki tadi?

Ini hasil perenungan saya:

1. Saya tidak ingin mengajak kamu.

Masih ingat masa remaja yang penuh dengan pergolakan hormon, pemberontakan pada orang tua, pencarian jati diri, dan geng teman-teman yang (kamu kira) akan ada untukmu sehidup semati? Saya masih. Tahun-tahun penuh peristiwa horor itu masih melekat di benak dan batin saya.

Lirikan mata pertama, naksir pertama, cinta monyet pertama muncul sepanjang periode ini. Tapi sebelum bicara cinta-cintaan, mencari dan memiliki teman adalah topik yang lebih penting. Ini adalah tujuan hidup setiap hari kala itu: bangun setiap pagi dan tahu bahwa ada teman yang akan ada untukmu, tidak akan ada yang menjauhimu apalagi memusuhimu.

Sayangnya dunia pertemanan ala komik Elex jauh lebih indah daripada ala dunia nyata. Mencari teman pada masa remaja jauh lebih sulit daripada mencari cinta pada masa dewasa. Rasa iri, tidak suka, benci, cemburu, bersaing, dan sebagainya bisa mengubah yang namanya persahabatan dalam sekejap.

Isuk dele, malam tempe. Isuk sahabat, malam musuh.

Sewaktu bibit-bibit ketidaksukaan itu mulai muncul, ketika ada tanda-tanda mengeluarkan seseorang dari geng pertemanan, kalimat “saya tidak ingin mengajak kamu” adalah ultimatum untuk mengakhiri sebuah hubungan.

Rasa sakitnya? Beuh, tak terkatakan dan tak tertahankan.

Rasa sakitnya mungkin sama dengan rasa sakit karena putus cinta. Selain itu ada rasa tertolak, dan malu, apalagi kalau orang-orang yang terlibat masih beredar di lingkungan pergaulan yang sama.

Beda remaja pria, beda remaja wanita. Remaja wanita akan memilih cara halus, tidak frontal, bergosip di belakang, untuk menghentikan pertemanan. Remaja pria akan memilih bersikap terbuka dan blak-blakan; kalau sudah tidak suka untuk jalan bersama, buat apa ditutup-tutupi?

Sepanjang duduk di bangku SMP dan SMA saya pernah beberapa kali menerima kalimat itu. Air mata tentu bercucuran, tapi sekarang saat saya menoleh lagi ke belakang, saya menyesal. Saya menyesali kebodohan saya. Saya telah membiarkan orang-orang yang memang tidak layak untuk dipertahankan menyakiti hati saya dan membuat saya sedih.

Saya rugi besar sudah susah hati gara-gara hal ini. Seperti halnya ada banyak ikan di laut, ada banyak (calon) teman di dunia ini. Hal ini harus saya tekankan pada anak saya yang beranjak remaja dan mulai galau, mulai mempertanyakan apakah dia disukai dan diterima oleh teman-temannya, atau tidak.

Tenang, Nak, teman datang dan pergi, jadi tidak usah khawatir. Yang penting kamu menghargai mereka yang ada bersamamu saat ini. #kalimatmutiara

Apakah saya pernah melontarkan kalimat menyakitkan itu pada orang lain?

Pernah, satu kali, kepada Cindy, teman sebangku saya di kelas 3 SMP. Waktu itu saya berteman akrab dengan dua orang bernama Riska dan Natalia yang berbeda kelas. Entah mengapa Cindy selalu mengintil di belakang kami namun dia tidak pernah nyambung kalau mengobrol, apapun topiknya.

Suatu hari kami berencana ke mal King’s yang berada di pusat kota Bandung. Rencana kami seperti biasa adalah berjalan-jalan, main di tempat semacam Timezone, dan makan di California Fried Chicken. Riska dan Natalia yang sungkan untuk menolak langsung kehadiran Cindy, meminta saya untuk menjadi “bad guy” dan mengusirnya.

Saya pun menurut dan sampai sekarang saya menyesal. Satu tahun setelahnya, di bangku kelas 1 SMA, ada seorang teman sekelas yang dengan gamblang mengucapkan kalimat menyakitkan itu ke muka saya. Apakah saya menerima karma? Tentu saja.

2. Saya tidak mencintaimu.

Wahai kalian yang cintanya bertepuk sebelah tangan, jangan takut mendengar kalimat di atas diucapkan oleh pujaan hatimu. Bukankan kebenaran yang menyakitkan jauh lebih baik daripada kebohongan yang manis? Eh ini sih gue doang ya, hahaha.

Yang pria dan yang wanita, tidak masalah lho menanyakan ke si dia apakah perasaan kalian berbalas. Tidak usah sungkan, tidak usah malu. Kemungkinannya kan cuma ada dua: 1) ya, dia suka juga padamu, atau 2) tidak, dia suka pada orang lain atau sedang ingin sendiri. Apa susahnya mendengar jawabannya yang tegas dan membuatmu bisa move on ke cinta yang lain (kalau memang situ ditolak)?

Ya susah, kali. Sakit banget kalau ditolak, tau. Malu juga, apalagi kalau masih sering ketemu. Sebel, ternyata dia suka sama temenku.

Mungkin itu yang menjadi kekhawatiranmu sehingga kamu maju mundur untuk menyatakan perasaan. Tapi percayalah! Daripada sibuk menerka-nerka apakah keramahan dan kebaikan hatinya berarti dia cinta juga, lebih baik tanyakan langsung. Dalamnya hati orang, siapa yang tahu. Lebih baik dengar sendiri dari mulutnya daripada terus berasumsi.

Apakah saya pernah mendengar kalimat itu ditujukan kepada saya? Tentu pernah dan cukup satu kali. Sesudah dia mengatakan itu, saya pingsan. Iya, saya pingsan, saya syok karena semua tingkah laku dan sikapnya berkata sebaliknya. Ternyata dia mendekati saya karena dia suka pada teman kos saya. Astaga dragon!

Itu luka masa lalu. Saya hanya bisa mendoakan kebahagiaan perjalanan cintanya setelah kami berpisah puluhan tahun silam. Satu hal yang pasti, saya akan selalu menolak friend request di FB yang dia sudah kirimkan berkali-kali. Hati saya tidak semudah itu memaafkan dan melupakan, Sayur.

3. Saya tidak mencintaimu lagi.

Menurut saya, ini kalimat paling menyakitkan yang bisa diucapkan oleh seorang manusia kepada manusia lain. Bayangkan, dua insan yang dulu pernah saling mencintai dan berkomitmen untuk menghabiskan waktu bersama, tiba-tiba pada satu titik melupakan begitu saja semua janji yang telah terikrar. Buyar. Hancur lebur. Remuk redam.

Apa pasal?

Jarak yang memisahkan. Waktu yang menyebabkan kejenuhan. Kehadiran orang ketiga yang lebih menjanjikan. Ekspektasi yang tidak sesuai kenyataan. Dan banyak hal lain yang menyebabkan hati dingin dan berpaling.

Apa yang harus kita lakukan jika ini terjadi?

Berkabung? Meratapi nasib? Bertanya-tanya apa yang salah pada dirimu? Berharap ada jalan untuk kembali mendapatkan hatinya? Atau apa?

Tidak usah repot, Fergusso. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana dan jika hati manusia bisa mencinta atau membenci. Jika dia tidak mencintaimu lagi, cukup katakan kalimat berikut: “Ok, fine, I will move on.”

Kamu mungkin berkata, “Tapi tapi, aku tidak bisa hidup tanpanya. Aku tidak berarti tanpa kehadirannya. Bagaimana mungkin aku bisa mencintai orang lain selain dirinya?”

Bisa! Kamu bisa dan kamu akan mencintai orang lain. Satu-satunya cara untuk melupakan cinta lama adalah dengan menemukan cinta baru. Buat apa berkubang di dalam penyesalan dan kebingungan? Lebih baik bangkit, kebaskan dia sebagai debu masa lalu, dan bergerak maju mencari orang yang pantas menerima cintamu.

Saya pun pernah mengalami apa yang saya deskripsikan di atas. Melalui semua itu memang tidak mudah, namun ingatan manusia itu sangat pendek. Pada akhirnya semua hanya tinggal kenangan dan saya bersyukur tekad saya untuk melanjutkan hidup membawa saya pada kondisi saya sekarang.

To all the boys I’ve loved and who have loved me before, thank you for the valuable lessons.

Menurut kamu, apakah tiga kalimat yang ketika diucapkan bisa sangat menyakiti hatimu? Share, yuk. ❤️

11 thoughts on “Tiga Kalimat yang Paling Menyakitkan Hati

  1. Masa-masa yang penuh dengan ujian yaa…
    Kala persahabatan, cinta dan keluarga.
    **eh keluarga masuk gasiik???

    Pokoknya aku pernah ngalamin dimana gak boleh berteman sama seseorang karena dia badgirl sama Ibukku.
    Uniknya,
    Mantanku juga berkata yang sama.

    Dan aku keukeuh temenan sama dia….
    Heuu~
    Ini apeeuu???

    Gak ada kejadian apa-apa siih..hanya sekarang sahabat aku niih..dapet bule.
    Kita yang uda “kehilangan” dia lah yaa….istilahnya.

    Like

    1. Bener2 hilang, ga ada kontak lagi sampe sekarang? Yah untuk setiap masa ada orangnya, untuk setiap orang ada masanya. Tiga kalimat itu ga berlaku untuk keluarga kali ya. Kayaknya udah keterlaluan kalau ada kalimat “saya tidak mencintaimu (lagi)” yang terucap 😔

      Like

  2. Aku sakit banget sama yg pertama. Cuma karena cuek dan ga pekaan. Sampai akhirnya yg menghindar justru yg bilang, setelah bbrp lama kemudian ia menghindar. 😶

    Like

    1. Ouch, sakit ya. Kadang kita ada feeling sih kalau ga diinginkan tp berusaha positive thinking: ah mungkin perasaanku saja. Sampai yg ga menginginkan ngomong langsung ke muka kita dan kita baru ngeh sengehnya 😭

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s