Korelasi Antara Rasisme, Orientasi Seksual, dan Citra Perusahaan

Mengobrol dan membaca berita adalah sumber ide tulisan yang tak ada habisnya.

Ini adalah kesimpulan yang saya tarik setelah mengikuti sesi Zoom dengan teman-teman dari WAG Drakor dan Literasi beberapa waktu lalu. Awalnya kami membahas topik mana saja di antara sepuluh topik Drakor Writing Challenge yang paling mudah dan paling sulit untuk dieksekusi menjadi sebuah tulisan pada bulan ini. Sebagai informasi, topik-topik tersebut adalah:

Topik 1: review film “Time to Hunt”, atau drama/film Korea yang terakhir ditonton

Topik 2: awal mula menyukai drama Korea

Topik 3: layanan yang dipakai untuk menonton drama Korea

Topik 4: genre drakor yang paling banyak ditonton/favorit

Topik 5: drama Korea yang sudah ditonton

Topik 6: jenis drama Korea yang enggan ditonton

Topik 7: manfaat/efek menonton drama Korea

Topik 8: makanan Korea yang sudah dicoba/favorit

Topik 9: kosakata bahasa Korea yang sering terbawa ke kehidupan sehari-hari

Topik 10: minat mempelajari Hangeul (aksara Korea)

Kesepuluh topik tersebut kami garap dalam waktu satu bulan sebagai jumlah minimal tulisan yang harus disetor untuk mempertahankan keanggotaan kami di dalam grup Komunitas Literasi Ibu Profesional (KLIP).

Bagi saya pribadi, topik yang paling mudah adalah topik 2 karena tidak ada hal seindah nostalgia dan tembang kenangan. Sedangkan topik yang paling sulit adalah topik 10 karena ada begitu banyak hal yang saya ingin tuangkan dan tidak terpilah dengan baik, sampai-sampai isi tulisan tidak nyambung dengan judul. Haish ….

Bukan emak-emak namanya kalau mengobrol selalu tepat waktu dan tepat topik. Mustahal itu mah. Sesi Zoom yang diperkirakan (tanpa ada yang menjadi time keeper sih) selama 1 jam lebih sedikit berkembang menjadi 3 jam dengan obrolan selain topik writing challenge kami. Kami membicarakan mulai dari drakor, K-Pop, industri film India, sampai cerita seputar kehamilan dan kelahiran anak. Luar biasa random-nya, hahaha.

Saya sampai mendengarkan dengan seksama resensi drakor “Oh My Baby” dari chingu saya, Lendyagasshi. Sungguh malam yang produktif, saya jadi menghemat waktu untuk Google resensi dramanya. Lebih menyenangkan melihat Len-chin bercerita dengan sangat bersemangat. ❤️

Isu yang diangkat oleh drakor yang saya sebutkan di atas adalah tentang hak seseorang atas tubuh, kemampuan reproduksi, dan pilihan hidupnya. Akhir-akhir ini isu tersebut berkaitan juga dengan orientasi seksual sebuah komunitas yang sedang berseru sangat kencang supaya diakui dan dimuliakan.

Obrolan pun berlanjut ke berita tentang sebuah perusahaan multinasional yang baru-baru ini memberi keterangan resmi mendukung inklusi komunitas tersebut di tempat kerja. Netizen Indonesia pun geram dan mengajukan seruan untuk memboikot produk-produk mereka. Menyikapi hal ini, pihak Corporate Affairs perusahaan tersebut segera memberikan klarifikasi bahwa mereka mendukung kebudayaan dan nilai-nilai setempat, apapun itu.

Hmm, apakah itu berarti mereka mendukung atau tidak mendukung komunitas tersebut? Jangan harap mendapat jawaban “ya” atau “tidak” selama mereka masih ingin dilihat sebagai pemain global dengan market share lokal terbesar di suatu negara.

Sama seperti HIV yang merupakan isu seksi tiga dekade lalu, selama satu dekade terakhir rasisme dan orientasi seksual adalah topik yang paling banyak diangkat, diperdebatkan, dan dipaksakan untuk selalu berada di ranah publik.

Kegerahan akan praktek rasisme di Amerika Serikat meledak seketika setelah kematian George Floyd pada akhir Mei lalu. Kematian Ahmaud Arbery, seorang pria muda kulit hitam yang mati ditembak oleh dua orang kulit putih yang bertikai dengannya ketika sedang jogging, sebelum Floyd belum cukup memantik sentimen publik. Akan tetapi, Floyd yang menghembuskan nafas terakhir ketika dibekuk polisi akibat laporan dugaan penggunaan uang palsu, memicu kemarahan yang begitu membara dari mereka yang berkulit sama dan merasa ditindas berabad-abad.

Perkara rasisme ini akan saya bahas lain kali. Yang jelas para polisi yang membekuk Floyd dipecat dan didakwa sebagai pembunuh, dan kejahatan uang palsu yang ditenggarai dilakukan oleh Floyd tidak sempat (atau tidak akan pernah) diselidiki. Penghakiman publik bekerja lebih keras dari hukum; terbukti dari penjarahan, tindakan anarki, dan seruan mereka untuk menghapus kepolisian (!) dari negara mereka.

Kebenaran itu tidak ada. Produksi berita hanyalah soal perspektif pengamat kejadian dan siapa pemangku kepentingan di balik berita itu.

Seiring dengan isu rasisme, Amerika Serikat juga dilanda oleh isu diskriminasi berdasarkan orientasi seksual seseorang. Keputusan Supreme Court Amerika Serikat (saya kira paralel dengan Mahkamah Agung di Indonesia) dua minggu lalu yang melindungi hak-hak komunitas ini dirayakan besar-besaran di sana, walaupun gaungnya di Indonesia tidak sekeras gaung tentang rasisme yang juga dibahas secara prematur di sini.

Perusahaan/artis/influencer/tokoh publik yang mengambil sikap tentang rasisme dengan cara mendukung kampanye “Black Lives Matter” dengan gesit mengangkat orientasi seksual sebagai bahan kampanye berikutnya. Kampanye untuk apa? Tentu saja untuk menaikkan citra bagi mereka yang berkepentingan dan berkeinginan memiliki umur panjang di tengah masyarakat.

Mari kita bedakan antara corporate values dan corporate image. Corporate values adalah satu set nilai, norma, aturan yang menjadi acuan sebuah perusahaan untuk beroperasi secara internal dan berelasi secara eksternal dengan pihak luar (konsumen, vendor, pemerintah, dll). Corporate image adalah citra yang dibangun perusahaan di depan publik; mereka ingin dikenal sebagai perusahan yang … (isi dengan sebuah kata sifat seperti: maju, inovatif, inklusif, dsb).

Sebagai mantan pegawai di sebuah perusahaan multinasional saya bisa memahami gerakan perusahaan yang saya singgung di atas untuk mencitrakan dirinya sebagai perusahaan yang merangkul semua orang, apapun rasnya dan orientasi seksualnya. Jika mereka tidak memanfaatkan momentum ini untuk berselancar dengan arus sentimen publik, maka yang dipertaruhkan adalah corporate image yang mungkin sudah dibangun bertahun-tahun.

Pada awal pandemi Covid-19 saya pernah membaca sebuah penelitian yang ditayangkan oleh sebuah situs berita luar negeri yang mengungkapkan bahwa citra perusahaan yang berusaha menunjukkan empati selama pandemi akan naik tiga kali lipat di mata publik. Menurut saya ini masuk akal. Contohnya saya. Saya akan lebih menghargai sekolah yang memberikan diskon SPP ketika anak harus belajar di rumah di bawah bimbingan saya, daripada sekolah yang menaikkan SPP di tengah kondisi ekonomi sekarang ini.

Corporate image dan corporate values itu tidak sama; mereka tidak harus seiring sejalan. Sebuah perusahaan bisa saja menampilkan citra X padahal nilai internal yang dia anut adalah Y. Semua tergantung pada tren di masyarakat dan bagaimana mengambil hati konsumen lama dan konsumen baru produknya. Tujuan hanya satu yaitu menghasilkan (lebih banyak) uang dan tetap bertahan di tengah gempuran persaingan. Dunia bisnis memang dunia tentang taktik dan berpijak di banyak kepentingan.

Keterlibatan atau ketertarikan akan isu rasisme dan orientasi seksual yang ditunjukkan oleh sebuah perusahaan/artis/influencer/tokoh publik adalah strategi untuk mendapatkan simpati publik.

Sebuah perusahaan multinasional harus cerdas mendapatkan pengakuan global dan terlihat menyatu dengan komunitas lokal tempat ia beroperasi. Ia harus memikirkan karyawan, supplier, dan pihak-pihak lain yang bekerja sama dengannya yang mungkin terdampak oleh isu rasisme dan orientasi seksual. Ia harus memikirkan keberlangsungan brand dan penjualan produk-produknya jika ia terlihat memihak/tidak memihak sebuah isu.

Pernyataan mendukung/tidak mendukung sudah pasti dipikirkan dengan matang-matang. Sebuah perusahaan multinasional beroperasi di puluhan negara dengan ragam nilai dan komposisi masyarakat. Mengeluarkan sebuah pernyataan sudah pasti menghitung simpati yang mungkin didapat dari: 1) karyawan internal, 2) supplier/vendor, 3) masyarakat, dan 4) stakeholder lain, secara global maupun lokal. Pernyataan perusahaan menjadi iklan gratis yang mendorong masyarakat yang sudah terlanjur bersimpati untuk mulai berbelanja produk atau berbelanja lebih banyak.

Seruan boikot produk tidak bisa dipandang enteng pada jaman ini. Satu tindakan yang salah dari korporasi bisa berakibat kemarahan publik dan tamatnya riwayat sebuah brand. Masih ingat gerakan memberi rating rendah aplikasi sebuah situs berita bonafid hanya gara-gara sebuah artikel yang merujuk kepada Presiden RI? Sentimen yang sama menggerakkan orang-orang yang tidak saling mengenal untuk menghancurkan sebuah reputasi.

Boikot produk berarti penghentian pemakaian sebuah produk, seperti para pedagang India yang sekarang memboikot produk dari Cina akibat konflik di perbatasan kedua negara. Implikasinya adalah penghentian produksi dan penutupan perusahaan. Boikot oleh publik itu ibarat tsunami yang menghancurkan bisnis yang dibangun bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Semua bisa luluh lantak dalam sekejap.

Oleh karena resiko yang dihadapi terlalu besar; lebih baik kelihatan memihak pada publik demi corporate image, walaupun (misalnya) corporate values mengatakan sebaliknya. Jadi jangan heran kalau semakin banyak perusahaan yang ikut-ikutan mengambil sikap terkait rasisme dan orientasi seksual. Yang mereka pikirkan bukanlah apakah mereka cocok dengan nilai dan pemikiran kita. Yang mereka pikirkan hanyalah kelangsungan bisnis dan ribuan/jutaan orang yang hidupnya tergantung pada perusahaan.

At the end, it’s just business, man, nothing personal.

6 thoughts on “Korelasi Antara Rasisme, Orientasi Seksual, dan Citra Perusahaan

  1. astagaaaa, obrolan mulai dari drakor sampe ke pembahasan bisnis. mantaaaap emang ya kalau ide sudah ada, eksekusi tulisan bisa jadi topik apa saja

    Like

  2. Kesambet kok selalu kece begini siih…
    Aku pengen punya tulisan deep insight gini, selama ini berasa retjeh setelah baca blog kak Rijo.
    Waeyoo…???

    Hhahaa…aku lupa aku cerita apa, yang pasti 3 jam itu sungguh gak terasa.
    Aku jadi tau kalau citra sebuah perusahaan dilihat dari cara pengambilan keputusan bukan dari kacamata pribadi, tapi dunia internasional.

    Like

    1. Mungkin karena aku doyan melamun dan merenung, aahahaha … bisa dicoba, len-chin 😉 kmrn itu dirimu cerita resensi drakor Oh, my baby, terus obrolan kita merembet ke perusahaan U, terus merembet lagi ke mana-mana (yang aku pun udah lupa 😅😅)

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s