Cermin

Bulan lalu suami saya menunjukkan sebuah video di Youtube tentang knowledge gap, atau kesenjangan pengetahuan. Video tersebut tidak hanya membahas tentang pengetahuan sih, tapi juga tentang keterampilan, pengalaman, dan lain sebagainya. Video itu singkat, durasinya hanya 10 menit, dan saya tidak menemukannya waktu mau menontonnya lagi tadi.

Pertukaran informasi terjadi antara minimal dua pihak. Pertukaran informasi pada akhirnya bertujuan untuk mencapai equilibrium, sebuah titik keseimbangan pengetahuan/keterampilan/pengalaman antara pihak-pihak yang terlibat.

Yang tidak tahu menjadi tahu, yang tidak terampil menjadi terampil, yang tidak berpengalaman menjadi berpengalaman. Yang sudah tahu/terampil/berpengalaman berbagi supaya dirinya sebagai medium tidak “kepenuhan”.

Kesenjangan terjadi bukan hanya karena perbedaan titik awal pengetahuan/keterampilan/pengalaman dari pihak-pihak yang sedang bertukar informasi, tapi juga karena perbedaan tanggapan terhadap arus pengetahuan/keterampilan/pengalaman yang baru masuk.

Di sini narator video tersebut menjelaskan dua hal yang sangat berkesan buat saya:

1. Perbedaan antara orang bodoh dan orang pintar.

2. Setiap orang memandang dirinya selalu benar.

Apa bedanya orang bodoh dan orang pintar?

Orang bodoh yang dimaksud di sini bukanlah orang yang memiliki cacat mental atau keterbelakangan intelektual. Orang bodoh yang dimaksud adalah orang yang:

1. Mengharapkan hasil yang berbeda dari terus-menerus melakukan sesuatu yang dia tahu keliru.

Contoh: seseorang yang tahu bahwa 1 loyang kue yang dipanggang di suhu 200 derajat pasti gosong setelah 40 menit.

Pada pemanggangan berikutnya dia tidak mengubah suhu ataupun waktu pemanggangan. Ketika kue yang keluar dari oven tetap gosong, dia marah-marah dan menyalahkan ovennya, adonan kuenya, dan semua-semuanya.

2. Tidak mau mendengarkan nasihat dan saran dari orang lain.

Contoh: seseorang yang memanggang kue pada poin 1 di atas. Ketika ada yang menyarankan supaya ia mengurangi waktu pemanggangan, ia menolak dan marah. Ketika kue yang keluar dari oven tetap gosong, ia menyalahkan orang yang memberi saran. Tak ketinggalan ia juga menyalahkan oven dan adonan kuenya.

3. Selalu merasa dirinya dan caranya benar dan orang lain salah.

Ini sih tidak perlu dijelaskan lagi, ya.

Nah, bagaimana dengan orang pintar? Apa yang menjadi ciri-ciri mereka?

1. Sering tidak menyadari bahwa orang lain tidak memiliki pengetahuan/keterampilan/pengalaman yang sama dengan mereka.

Pada contoh pemanggangan kue di atas, orang pintar akan dengan mudah unjuk gigi apa yang mereka tahu, mengarahkan orang lain untuk menuruti instruksi mereka, dan merasa gusar jika nasihat/sarannya tidak didengar.

Pada titik ini orang di sekitar orang pintar memandang mereka sebagai orang songong. Sebaliknya, orang pintar memandang orang lain sebagai orang dablek.

2. Selalu merasa dirinya dan caranya paling benar dan orang lain salah.

Lho, kok sama dengan ciri ke-3 orang bodoh?

Di akhir pemaparannya, narator video tersebut menyimpulkan bahwa setiap orang memandang dirinya selalu benar. Mengapa demikian? Karena orang bodoh dan orang pintar sama-sama yakin bahwa mereka lebih superior dari orang lain dari segi pengetahuan/keterampilan/pengalaman/dsb. Selain itu, mereka juga gemar sekali menyalahkan orang lain jika sesuatu tidak berjalan lancar atau tidak sesuai dengan keinginan mereka.

Saya pribadi tidak setuju 100% dengan isi video tersebut karena ia dengan sengaja mengabaikan orang-orang yang memang mau belajar, mau berubah dari tidak tahu/terampil/berpengalaman menjadi akhirnya tahu/terampil/berpengalaman. Tidak semua orang di dunia ini dablek; banyak kok yang menyadari kelemahannya dan mau belajar dari orang lain. Tidak semua orang di dunia ini songong; banyak kok yang mau dengan sabar mengajari dan membantu orang lain.

Yang membuat saya tergelitik dan teringat akan video itu malam ini adalah kesimpulan yang dia ambil mengenai sudut pandang manusia terhadap dirinya sendiri.

Tidak ada seorang pun yang bisa memandang wajahnya. Seseorang bisa memandang tangannya, kakinya, tapi bagian wajah yang dia bisa pandang dengan kedua pasang matanya sendiri tanpa bantuan alat lain paling banter adalah hidung. Itu kalau hidungnya cukup mancung, kalau tidak, ya tidak ada yang bisa dipandang.

Oleh karena itu manusia membutuhkan cermin: untuk memandang wajahnya, untuk melihat bagian-bagian dari wajah itu (mata, hidung, pipi, dan sebagainya), untuk mengecek apakah semua normal/rapi/baik-baik saja. Tanpa cermin yang tepat, wajah yang dipandang di dalam cermin bisa menimbulkan kesalahpahaman.

Memandang wajah di dalam cermin yang retak bisa membuat kita mengira wajah kita terluka. Memandang wajah di dalam cermin yang kepingannya hilang bisa membuat kita mengira ada bagian wajah kita yang ikut hilang.

Mengetahui sudut pandang kita benar atau tidak tergantung pada cermin yang kita pakai. Secara literal, apakah kita memakai cermin yang standar, yang tidak cembung/cekung sehingga wajah kita terlihat lebih besar/kecil di beberapa bagian?

Secara figuratif, apakah “cermin” yang kita pakai untuk mengukur pengetahuan/keterampilan/pengalaman kita adalah orang-orang yang kita akui lebih superior di dalam hal tersebut? Atau apakah “cermin” yang kita pakai ternyata buram, ternyata orang-orang yang enggan mengkritik dan berkata jujur, sehingga kita tidak pernah benar-benar melihat kekurangan kita?

Saya pikir keberadaan cermin untuk menjustifikasi sudut pandang kita sebagai manusia adalah jauh lebih penting daripada membagi manusia sebagai orang bodoh dan orang pintar dengan karakteristik mereka masing-masing. Toh menurut video tersebut kedua jenis orang ini memiliki satu kesamaan: mereka bercermin pada pikiran narsistik yang mengabaikan kenyataan bahwa “di atas langit masih ada langit”.

Menurut pendapat saya, tidak ada orang yang bodoh atau pintar, yang ada orang yang mau belajar atau tidak. Langkah pertama dari belajar adalah menyadari keterbatasan dan mengakui kekurangan. Langkah kedua adalah membuka hati dan pikiran untuk menerima masukan. Langkah ketiga adalah mengulangi langkah pertama dan kedua terus-menerus.

Bagaimana menurut kamu?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s