Mengapa Manusia Membunuh?

Kitab Kejadian pada Alkitab menceritakan pembunuhan pertama yang dikenal oleh sejarah umat manusia.

Diceritakan Adam dan Hawa, dua orang manusia pertama di muka bumi, memiliki dua orang anak: Kain dan Habel. Kain adalah seorang petani, sedangkan Habel adalah seorang gembala kambing domba.

Suatu hari mereka berdua memberikan persembahan kepada Tuhan. Kain memberikan sebagian dari hasil tanahnya; Habel memberikan lemak dari anak sulung kambing dombanya. Tuhan menerima persembahan Habel dan tidak mengacuhkan persembahan Kain.

Selanjutnya diceritakan bahwa muka Kain menjadi muram. Mungkin ini kali pertama manusia mengenal rasa iri dan kecewa, kali pertama Kain bertanya-tanya mengapa persembahannya tidak diterima. Kain yang dikuasai oleh emosi kemudian mengajak Habel ke padang untuk memukul dan membunuhnya. Setelah membunuh ia pun tidak mengakui perbuatannya padahal yang bertanya adalah Tuhan Yang Mahatahu.

Mengapa manusia membunuh?

Mengapa manusia punya kemauan dan kemampuan untuk menghilangkan nyawa manusia lain? Bukankah sebagai sesama manusia ada setidaknya sedikit empati: jika saya takut mati, maka mengapa saya membuat orang lain mati? Jika saya tidak mau dibunuh, maka mengapa saya membunuh orang lain?

Detektif Mac Taylor (Gary Sinise) dari serial “CSI: NY” pernah mengungkapkan satu hal menarik yang saya ingat bahkan setelah bertahun-tahun. Ketika pembunuhan terjadi, yang harus diketahui pertama kali adalah motif. Dan motif sebuah pembunuhan hanya ada tiga saja: cinta, uang, dan kekuasaan. Ketiga hal ini bisa membuat manusia kehilangan akal sehat dan melupakan esensinya sebagai manusia yang bertepa salira.

Selain menggemari serial “CSI: NY” yang bergenre kriminal, saya juga menggemari drakor yang tidak jauh-jauh dari tema ini. Sebenarnya drakor yang saya tonton berasal dari berbagai genre, saya tidak ingat semuanya. Saya menonton drakor berdasarkan siapa aktor yang bermain di situ. Ada drakor yang saya tonton dengan tekun sampai habis, ada yang saya tonton dengan skip banyak adegan, lebih banyak lagi yang saya drop setelah beberapa episode.

Drama dan film Korea dengan tema hukum/kriminal/pembunuhan yang saya tonton biasanya karena kebetulan. Kebetulan sedang bingung mau menonton apa, kebetulan Netflix memberikan rekomendasi, dan kebetulan saya ada waktu luang. Di antara semuanya, ada dua drama dan satu film yang sangat berkesan buat saya.

1. Drama “Signal” (2016)

2. Drama “Tunnel” (2017)

3. Film “The Chase” (2017)

Ketiga tayangan ini terinspirasi oleh kasus pembunuhan berantai yang didalangi oleh Lee Choon Jae yang terjadi di Hwaseong, Korea Selatan pada kurun waktu tahun 1986 sampai 1994. Lee terbukti bersalah atas 1 kasus (pembunuhan adik iparnya) dan mengaku bersalah atas 15 kasus. Ia divonis hukuman penjara seumur hidup dan baru bisa mengajukan pembebasan setelah 20 tahun.

Lee dijuluki sebagai Korean Zodiac Killer karena kasusnya memiliki banyak kesamaan dengan kasus Zodiac Killer di Amerika Serikat yang tidak terpecahkan sampai sekarang. Kasus ini masih menimbulkan misteri dan pertanyaan sampai-sampai ada film Hollywood “Zodiac” (2007) yang dibintangi oleh Robert Downey Jr., Mark Ruffalo, dan Jack Gyllenhaal.

Ketiga tayangan yang saya sebutkan di atas berkutat pada pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini: mengapa manusia membunuh? Apa yang menjadi motifnya? Bagaimana cara meniadakan motif itu? Bagaimana cara penegak hukum menghentikan pembunuhan berikutnya?

Drama “Signal” dan “Tunnel” tidak hanya berkutat di seputar motif, kedua drama yang melibatkan time travel ini juga mengungkapkan obsesi manusia untuk mengubah masa lalu.

Manusia adalah makhluk yang memiliki banyak penyesalan, sehingga mereka terus berharap ada pintu untuk kembali ke masa lampau supaya mereka bisa mengoreksi kesalahan-kesalahan mereka. 

Dunia perfilman di Amerika Serikat dipenuhi dengan ide ini, sebut saja “Star Trek”, “Back to the Future”, sampai film terakhir yang sangat fenomenal tentang para superhero yang melompat ke masa lalu untuk “mencuri” waktu untuk mengubah masa depan, yaitu “Avengers: Endgame” (2019).

Walaupun Albert Einstein pernah mengungkapkan kemungkinan terjadinya time travel akibat teori relativitas khusus dimana waktu bisa menjadi lebih lambat atau lebih cepat jika kita membandingkan kecepatan gerak kita dengan sebuah obyek yang tetap, perjalanan melintasi waktu tidaklah segampang itu, Fergusso.

Pergi dari masa sekarang ke masa lalu untuk mengubahnya memberikan konsekuensi tersendiri. Masa lalu yang kita tuju menjadi masa depan, sebaliknya masa sekarang yang kita tinggalkan berakhir sebagai masa lalu kita. Memperbaiki kesalahan di masa lalu bisa menimbulkan efek samping atau bahkan korban baru dari koreksi yang kita lakukan.

Letnan Park Hae Young di dalam drama “Signal” tahu betul konsekuensi dari mengubah masa lalu. Dengan sebuah walkie talkie ajaib, dia terhubung dengan Detektif Lee Jae Han dari 30 tahun sebelumnya. Letnan Park mencoba menyelesaikan cold cases yang belum terpecahkan pada tahun 2016 dengan bantuan Detektif Lee yang hidup pada tahun 1986.

Ada kasus yang terselesaikan, ada juga kasus yang masih menghasilkan output yang sama pada tahun 2016 walaupun ada perubahan pada tahun 1986. Yang menyedihkan hati Letnan Park dan Detektif Lee adalah munculnya korban-korban baru yang seharusnya tidak terjadi jika mereka berdua membiarkan masa lalu sebagai masa lalu, termasuk di antaranya kekasih Detektif Lee.

Salah satu kasus yang muncul di dalam drama ini terinspirasi oleh kasus pembunuh berantai Hwaseong. Letnan Park yang adalah seorang profiler kriminal bertugas menebak profil dan motif si pembunuh berdasarkan karakteristik korban dan situasi di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Ia menemui jalan buntu ketika ia bisa memetakan profil orang yang membunuh gadis-gadis muda secara acak, tapi ia tetap tidak bisa menebak motifnya.

Bagaimana jika si pembunuh membunuh tanpa motif? Bukan karena cinta, uang, atau kekuasaan, tapi karena ia bisa dan ia mau saja. Bagaimana menghentikan hasrat pembunuh seperti ini, bagaimana menebak langkahnya selanjutnya?

Lain Letnan Park dan Detektif Lee yang mensinkronkan gerakan di dua masa yang berbeda untuk mencegah terjadinya sebuah kejahatan, lain Detektif Park Gwang Ho (drama “Tunnel”, 2017) yang melompat ke 30 tahun kemudian ketika ia mengejar seorang tersangka pembunuhan melewati sebuah terowongan ajaib.

Walaupun ada cerita tentang Detektif Park yang sempat kembali ke tahun 1987 dan kemudian kembali lagi ke tahun 2017 karena kejar-kejaran di terowongan itu, tapi tidak ada perubahan yang berarti di masa depan. Pembunuh berantai itu tetap tidak bisa ditangkap karena tidak ada bukti yang cukup.

Pada tahun 2017 Detektif Park mencoba melihat barang bukti dari masa lalu dengan kacamata baru: teknologi. Pada tahun 1980-an memecahkan kasus dengan identifikasi DNA dan memeriksa surveillance dari CCTV bukanlah hal yang biasa dilakukan. Ini yang membuat tidak adanya bukti bahwa pembunuh telah menguntit korbannya terlebih dahulu, atau tidak adanya tindak lanjut jika polisi menemukan jejak kulit si pembunuh di tubuh korbannya.

Di dalam drama ini ada juga seorang profiler, yaitu profesor psikologi yang merupakan anak Detektif Park yang belum lahir pada waktu ia melompat ke masa depan. Profiler ini pertama-tama mempertanyakan motif pembunuhan. Jika korban diperkosa, berarti ini tentang kekuasaan. Jika korban dirampok, berarti ini tentang uang. Jika korban dibunuh dengan sadis, berarti ini tentang cinta dan rasa cemburu. Motif mana yang paling pas untuk kasus yang ia tangani?

Ternyata tidak ketiganya. Dokter ahli forensik yang selama ini bekerja sama dengan tim Detektif Park adalah si pembunuh yang rehat selama 30 tahun. Motifnya bukan uang atau kekuasaan, tapi cinta yang twisted terhadap ibunya yang seorang pelacur. Sebagai anak ia mencintai ibunya, tapi ia sekaligus jijik dengan profesi ibunya itu. Ia tidak punya gambar diri yang benar tentang seorang wanita. Waktu membunuh, dalam pikirannya sebenarnya ia sedang menghukum ibunya yang dia pandang nista.

Akan tetapi, walaupun dilandasi oleh trauma, si pembunuh berantai di dalam drama ini terlihat sekali membunuh karena ia bisa dan karena ia mau. Sebuah motif tambahan terhadap teori yang dikemukakan oleh Detektif Mac Taylor.

Film “The Chase” (2017) yang juga terinspirasi oleh kasus pembunuhan Hwaseong mengangkat tema motif pembunuhan berantai dan penyesalan yang mendera polisi yang waktu itu tidak bisa menyelesaikan kasusnya.

Dikisahkan Pak Shim adalah seorang tukang kunci yang sekaligus landlord dari beberapa kompleks apartemen. Dia adalah seorang bapak tua yang sangat rese, mata duitan, dan cerewet. Pembunuhan beberapa lansia yang dia kenal, termasuk seorang bapak tua yang tinggal di gedung yang ia miliki, menjadi awal ia terlibat di dalam kasus ini.

Kunjungan dari Detektif Park yang gagal memecahkan kasus tersebut 30 tahun lalu dan menghilangnya salah satu penyewa apartemen miliknya semakin membuat Pak Shim penasaran. Bersama-sama mereka menyelidiki Dokter Na yang memiliki seorang istri yang cacat dan mereka curigai sebagai pembunuh berantai yang belum tertangkap.

Benang merah antara film ini dengan drama “Tunnel” adalah adanya korban yang selamat. Di dalam drama “Tunnel”, korban yang ditandai oleh si pembunuh tidak jadi mati, pindah ke kota lain, dan melanjutkan hidup. Begitu pula dengan di dalam film “The Chase”. Memang hanya di dalam drama/film Korea pembunuh dan bekas korbannya bisa bertemu secara “kebetulan” setelah 30 tahun di kota sebesar Seoul. Beneran deh, kadang saya merasa Korea Selatan itu cuma sebesar satu RT karena orang-orangnya ketemu di situ-situ saja.

Ada juga korban yang selamat dari percobaan pembunuhan di dalam drama “Signal”, tapi keselamatan dia berujung pada kematian seorang tersangka yang salah dituduh dan kematian seorang wanita muda lain yang kebetulan sedang berada di dekat TKP. Memang mengubah masa lalu tidak membebaskan masa depan dari masalah. Pasti ada konsekuensi yang mengubah nasib manusia-manusia yang melakoni perjalanan waktu itu.

Jadi, mengapa manusia membunuh?

Apakah karena iri hati seperti Kain? Apakah karena cinta/balas dendam untuk orang tuanya seperti Hamlet? Apakah karena kekuasaan seperti Kim Jae Gyu yang membunuh Park Chung Hee, presiden ketiga Korea Selatan yang merupakan seorang diktator? Apakah karena uang seperti banyak kasus yang menghiasi layar kaca kita setiap harinya?

Atau karena bisa dan mau saja?

12 thoughts on “Mengapa Manusia Membunuh?

  1. Aku penasaran banget sama kasus Hwaseong.
    Dan memang benar yaa…kalau ada pepatah mengatakan “Dalamnya lautan masih bisa diukur, namun siapa yang tahu dalamnya hati manusia.”

    Manusia itu makhluk yang kompleks.
    Dengan segala ilmu sudah dipalajari, namun masih aja ada yang missed.

    Menarik sekali, kak Rijo.
    Genre drama ku mulai beralih ke crime begini. Layak untuk diikuti karena ke-kompleksifitasan manusia sebagai hamba dan makhluk di atas bumi.

    Like

    1. Yoii, sama seperti manusia jatuh cinta dengan alasan/motif yang ga jelas, manusia juga kadang membunuh karena “no reason at all”. Makanya criminal profiler kayaknya profesi yang lazim ya di amerika dan korea. Aku ga tau kalau di indonesia.

      Duh, soal pembunuhan memang lebih baik ditonton/dibaca sebagai fiksi. Kalau terjadi dekat di kehidupan nyata, rasa sakitnya pasti tak tertahankan …

      Yang aku tunggu berikutnya film “Alive”! Pengen liat zombie ala Kingdom di modern-day Seoul 😁😁

      Like

  2. Kalau saya suka mengutip dialog dari italian job. “Saya percaya sama kamu (manusia), tapi saya enggak percaya iblis yang berada dalam tubuhmu (manusia).” Dalam maknanya bagi saya. Keren kakak tulisannya

    Like

    1. Wahh, italian job, salah satu film kesukaanku. mark wahlberg atau siapakah yg ngomong gitu? aku lupa, hehe …

      manusia katanya dasarnya baik, menurutku sih engga. Hati manusia itu sama misteriusnya dengan alam semesta. Yang kita lihat cuma puncak (tindakan, sikap, kata-kata) dari gunung es (hati dan motivasi). 😁

      Anyway, makasih buat apresiasinya, litha chingu ❤️

      Liked by 1 person

      1. Aish, tos dulu lagi, saya juga penggemar berat italian job, kakak. Yang ngomong yang mati di awal film bapak-bapak tua, tapi diulang lagi sama anaknya yang perempuan, yang jago buka brangkas.

        Like

    1. Ga mesti sih, tapi entah kenapa berakhir nontonnya kriminal lagi, kriminal lagi 😅 aku juga suka genre hukum dan medis, yang ada teka-teki dan mecahin masalah manusia 😁😁

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s