Yang Saya Rindukan dari “Old Normal”

Yang saya rindukan hari ini?

Yang pertama, belanja bulanan bersama anak-anak. Wawww itu kegiatan yang sangat bermanfaat, Saudara-saudara.

Untuk orang tua: semua kebutuhan untuk 1-2 bulan ke depan selesai dibeli. Untuk anak-anak: ini petualangan!

Saya mulai dengan menulis daftar belanjaan setelah mengecek stok barang-barang pokok di rumah dan menanyakan apa yang ingin dibeli oleh para anggota keluarga. Setelah itu saya memberikan daftar itu dan sebatang pensil pada si Kakak supaya dicoret kalau barang yang mau dibeli sudah masuk ke dalam troli.

Seringkali Kakak dan Abang bertengkar memperebutkan giliran untuk mencoret daftar. Saya diamkan saja, ini hal sepele dan mereka harus belajar berkompromi, mengatur sendiri siapa yang mengambil barang dan siapa yang mengeluarkan nama barang itu dari daftar belanjaan.

Katanya lebih mudah pergi belanja bulanan tanpa membawa rombongan anak-anak. Saya pasti lebih cepat selesai dan fokus pada daftar belanjaan saja. Kemungkinan lebih kecil untuk saya lapar mata dan membeli barang-barang yang tidak direncanakan. Anak-anak kan gampang sekali main ambil barang dan taruh ke dalam troli; saya yang pusing waktu membayar di kasir.

Betul juga, tapi saya memulai kebiasaan ini untuk melatih si Kakak membaca dan berhitung sejak dia berusia 5 tahun. Sambil berbelanja dia sambil belajar membaca nama produk. Sambil berbelanja dia sambil belajar menyebutkan harga produk. Waktu dia mulai belajar pembagian dia bisa mengambil produk yang kemasannya memiliki beberapa unit, seperti Yakult, dan menghitung supaya semua orang di rumah bisa kebagian.

Waktu itu memang terasa repot sekali mendorong troli bersama si Kakak sambil menggendong si Abang dengan tangan kiri. Saya memang tidak terbiasa memakai gendongan dan “wajah repot” saya mengundang banyak SPG datang. Bukan untuk menawarkan bantuan, tapi untuk memberi saya pandangan kasihan dan menawarkan produk mereka, terutama susu dan popok, hehehe.

Semakin si Abang tumbuh besar semakin mudah mengajak dia belanja bulanan. Mulai dari menggendongnya, saya akhirnya bisa menaruh si Abang di dalam troli. Di situ dia asyik mengatur barang-barang yang sudah masuk. Sejak 2 tahun lalu dia ikut kakaknya berjalan dan berlari di antara lorong-lorong untuk mengambil barang. Kalau sedang manja dia akan di dalam troli bersama adiknya yang masih bayi. Saya tambah ngos-ngosan mendorong 30 kg ditambah barang-barang.

Saya lupa kapan terakhir kalinya kami pergi belanja bulanan. Sepertinya pada bulan Februari sebelum pandemi. Waktu itu kami berbelanja sedikit saja, cukup untuk 1 bulan.

Pada awal Maret kasus pertama Covid-19 ditemukan di Indonesia. Setelah itu mal-mal ditutup, supermarket dibuka dengan jam operasional yang lebih singkat, dan orang-orang panic buying; mereka melakukan pembelian berlebihan untuk menimbun.

Kondisi ini membuat saya enggan keluar rumah untuk berbelanja , tapi apa boleh buat, sabun, sampo, dan lain-lain sudah habis. Waktu saya akhirnya pergi belanja bulanan, rasanya aneh sekali; saya merasa asing.

Supermarket masih ramai dengan orang-orang bermasker dan beraut muka was-was. Lorong-lorongnya penuh dengan barang-barang untuk menyambut Lebaran. Pergerakan saya banyak terhambat karena harus senantiasa menjaga jarak dengan orang lain. Sepertinya belanja bulanan sendirian malah lebih lama selesai daripada sambil membawa anak-anak.

Kali kedua saya pergi belanja bulanan sendirian adalah pada bulan April. Kondisinya masih sama jadi saya tambah enggan pergi ke supermarket yang hanya berjarak 4 kilometer dari rumah. Akhirnya setelah itu saya mengandalkan Ind*****t terdekat untuk memenuhi kebutuhan pokok.

Kadang saya ingin pergi ke supermarket di mal saja, sekalian membeli roti yang enak-enak di bakery supermarket itu. Tapi masak demi roti saya mengambil resiko tertular virus? Apalagi masih banyak orang yang memakai masker sekedarnya, menutupi mulut tanpa menutupi hidung mereka.

Belanja di Ind*****t sebenarnya bisa online dan delivery ke rumah, tapi saya lebih senang pergi belanja sendiri ke sana. Selain bisa memilih sendiri barang-barang, saya juga memanfaatkan kesempatan itu untuk berjalan-jalan, meregangkan kaki yang sudah terlalu lama bersantai di rumah. Pulang dari sana saya merasa kebahagiaan saya melonjak berlipat kali ganda.

Yang kedua, berkumpul dengan keluarga.

Sebagai orang Batak, yang namanya kumpul keluarga besar itu sering dan wajib hukumnya. Walau selalu ada potensi ditanya macam-macam oleh saudara-saudara, saya lebih memilih itu dibanding tidak bisa bertemu mereka.

Atau setidaknya bertemu dengan keluarga inti saja deh: orang tua, adik-adik, dan 3 orang keponakan. Namun ini pun hanya kami lakukan 2 kali dalam 3 bulan terakhir. Waktu bertemu kami tetap mengenakan masker dan duduk berjauhan. Sesudah kami pulang, orang tua saya langsung menyemprotkan disinfektan ke ruangan tempat kami sempat beredar. Orang tua saya memiliki penyakit penyerta. Suami dan adik-adik saya kadang WFO jadi kami sangat menjaga supaya kami semua tetap sehat.

Yang paling sengsara adalah anak-anak dan keponakan-keponakan yang tidak bisa bebas memeluk dan menggelayut manja ke oppung mereka. Walau sudah diberi tahu berulang kali tentang virus Corona, tetap saja mereka bingung mengapa hidup berubah begitu drastis dalam sekejap mata. Dengan sepupu-sepupu mereka, anak-anak saya juga tidak bisa terlalu dekat seperti dulu. Sebelum berpisah, anak-anak saya selalu nekat memeluk oppungnya dari belakang. Rindu dan sayang sekali.

Pertemuan keluarga sekarang berbeda sekali dengan kumpul keluarga besar terakhir pada bulan Februari lalu. Waktu itu kami berkumpul karena suasana duka, salah seorang sepupu ipar saya baru kehilangan mamanya. Namun itu salah satu pertemuan keluarga yang sangat berkesan untuk saya. Saya mengobrol dengan banyak saudara, makan berpiring-piring, duduk berdempetan, dan memeluk semua keponakan yang jumlahnya hampir 2 lusin.

Saya ingin pergi ke pertemuan keluarga seperti itu lagi. Saya ingin berdekatan tanpa was-was menularkan atau ketularan virus. Tapi jangankan kumpul keluarga, acara pernikahan Batak sekarang pun sepi tamu. Begitu juga dengan pemakaman. Covid-19 ini membuat kita semua tidak dapat berduka dan memberikan penghiburan kepada keluarga yang ditinggalkan, seperti seharusnya.

Saat ini kami harus puas dengan video call dan telepon rutin. Komunikasi tatap layar seperti ini masih jauh lebih baik daripada tidak ada komunikasi sama sekali. Entah mengapa saya bersyukur lansia di Indonesia masih dekat dengan dan masih diperhatikan oleh keluarga anak-anak mereka.

Jika saya bandingkan dengan negara Asia timur seperti Korea Selatan dan Jepang, atau di Amerika Serikat dan Eropa, lansia di Indonesia jarang ada yang tinggal sendirian, masih mengerjakan pekerjaan kasar di usia lanjut, dan harus berbelanja sendiri kebutuhan hidupnya. Lansia di Indonesia dipelihara oleh keluarga dan lingkungan tetangga, termasuk kedua orang tua saya di tengah pandemi ini. Untuk hal ini saya bersyukur.

Bagaimana dengan kamu, apa yang kamu rindukan dari “old normal”?

Oh ya saya juga rindu makan martabak pinggir jalan. Walau kadang-kadang kami pesan makanan di luar untuk mendukung ekonomi di sekitar rumah kami, kami menahan diri untuk membeli martabak yang dibuat dengan tangan tanpa sarung tangan, oleh om Aji yang tidak memakai masker, dan bercampur dengan asap dari knalpot kendaraan bermotor dan debu lain dari jalan. Resiko terpapar virus terlalu besar, ya kan?

 

 

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s