“Time to Hunt”: Film Thriller Rasa Horor

Review film ini akan singkat saja mengingat saya ada deadline lain hari ini. Begini deh kalau menulis tergantung mood, ujung-ujungnya sistem kebut sejam gara-gara menunggu adrenaline rush menjelang DL.:(

Film “Time to Hunt” adalah film Korea kesekian yang saya tonton di platform Netflix. Begitu deh, pandemi Covid-19 membuat waktu rebahan jadi sedikit lebih banyak karena saya tidak harus muter antar-jemput anak dari satu tempat ke tempat lain.

Walau syutingnya dilakukan pada awal Januari 2018, kegiatan promosi dan lain-lain baru gencar dilakukan pada akhir tahun 2019. Rencana awalnya film ini akan ditayangkan di bioskop, tapi kemudian booomm seluruh dunia dilanda pandemi. Korea Selatan termasuk outbreak paling parah di luar Wuhan, Cina, sehingga akhirnya film ini harus puas bertengger di Netflix untuk dinikmati para penggemar film Korea.

Awalnya saya pesimis sebelum memencet tombol “watch“. Pengalaman saya menonton film garapan Netflix agak-agak buruk. Cast yang mumpuni ditambah budget produksi yang mencengangkan ternyata memproduksi banyak film yang “B”, alias biasa saja. Contohnya banyak untuk film-film Hollywood.

Akan tetapi, ekspektasi saya terhadap film Korea cukup besar. Film-film Korea yang saya pernah tonton biasanya mengangkat tema yang unik, jauh berbeda dari film Indonesia tentunya, dan meninggalkan kesan mendalam di hati saya.

Apalagi, film ini dibintangi oleh Lee Je Hoon. Setelah melihatnya di drakor “Signal” (2016), saya jadi penasaran dengan aktingnya dan tersesatlah saya di film ini. Ditambah dengan kehadiran Choi Woo Shik dan Ahn Jae Hong yang pertama kali saya saksikan kemampuan aktingnya di drakor “Fight for My Way” (2016 juga), saya makin mantap untuk menontonnya.

Alkisah Jun Seok (Lee Je Hoon) baru keluar dari penjara dan dijemput oleh kedua sahabatnya, Ki Hoon (Choi Woo Shik) dan Jang Ho (Ahn Jae Hong). Seoul dan Korea Selatan diceritakan mengalami krisis ekonomi parah. Negara itu bangkrut, terlilit hutang pada IMF, demonstrasi dan kelaparan di mana-mana, pokoknya bukan sebuah kondisi ideal untuk seorang mantan narapidana.

Jun Seok sendiri tidak berencana untuk langsung hidup bersih. Dia merencanakan satu kejahatan terakhir, terakhir banget, janjinya, untuk mendapatkan banyak uang untuk mewujudkan cita-citanya. Apa itu? Pindah ke tepi pantai dan membuka toko sepeda.

Impian yang sepertinya sederhana, ya? Tapi untuk mewujudkannya Jun Seok harus melewati berbagai hal yang membuat dia sepertinya kehilangan segalanya.

Kejahatan yang dia maksud adalah merampok sebuah kasino milik jaringan mafia. Sang Soo (Park Jung Min) yang berhutang uang dan budi pada Jun Seok adalah karyawan di kasino itu. Walau awalnya enggan, Sang Soo akhirnya bersedia menjadi informan untuk membantu Jun Seok dan kawan-kawannya mendapatkan uang dollar Amerika yang ada di dalam brankas kasino itu.

Rencana mereka dimulai dengan membeli senjata. Pertanyaan aneh muncul di adegan ini. “Kalian semua pernah ikut wajib militer, kan?” tanya pedagangnya. Hanya satu dari keempat orang itu yang tidak pernah. Oh, jadi wamil di Korea Selatan memang mengajari laki-laki di sana untuk memegang senjata, ya. Saya baru tahu dan jadi penasaran dengan Lee Min Ho yang sewaktu wamil berkantor di Gangnam, Seoul. Hmmmm …..

Setelah itu mereka membuat bagan, alur gerakan mereka selama merampok. Rencananya cukup detail, saya sangat menikmati ikut berpikir bersama mereka.

Jun Seok dan teman-temannya akan merampok dari bagian atas gedung, tidak seperti lazimnya perampok yang keluar masuk lewat pintu depan. Mereka cuma punya sedikit waktu sebelum centeng yang menjaga kasino datang karena alarm berbunyi.

Perampokan berhasil, walau rekan kerja Sang Soo bisa mengenalinya dan itu membuatnya sangat khawatir. Mafia yang mengelola kasino juga khawatir karena Jang Ho mengambil hard  disk yang berisi daftar klien kasino yang melakukan pencucian uang di situ.

Seusai perampokan Sang Soo kembali bekerja di kasino, sedangkan Jun Seok dan yang lain menuju ke tempat dimana mereka akan memulai hidup baru. Di tengah perjalanan mereka mampir ke rumah orang tua Ki Hoon untuk mengucapkan selamat tinggal.

Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga.

Sesempurna apapun sebuah kejahatan, akhirnya terbongkar juga.

Sang Soo yang dicurigai oleh pihak kasino akhirnya melarikan diri. Saat ia akan mengambil uang di toko milik mendiang ibu Jun Seok, ada Han yang sudah menunggunya. Han adalah seorang pembunuh bayaran yang ditugaskan oleh mafia untuk mendapatkan uang dan hard disk mereka.

Di sinilah film ini mulai terasa lebih seperti film horor daripada thriller. Pengejaran Han akan Jun Seok dan kawanannya begitu intens dan mengambil tempat-tempat yang membuat saya bergidik. Di sebuah tempat parkir di basement, sebuah hotel kumuh, sebuah rumah sakit yang seperti berhantu, dan terakhir di sebuah kompleks apartemen yang terbengkalai.

Latar yang dipakai sangat mendukung kengerian yang dibangun perlahan-lahan karena Jun Seok, dkk. menyadari kalau mereka bisa mati kapan saja gara-gara Han.

Yang saya paling sukai adalah adegan pengejaran di basement. Mobil Ki Hoon tiba-tiba tidak bisa dinyalakan. Waktu mereka berhasil mencuri mobil lain dan mencari jalan keluar dari situ, tiba-tiba muncul Han menghadang mereka.

Jang Ho dan Ki Hoon yang terluka tak sadarkan diri saat Han mendekati mobil mereka. Tinggallah Jun Seok yang mengangkat kedua tangan dengan wajah pucat pasi penuh keringat. Saya yakin, saking takutnya karakter yang dia mainkan sebenarnya sampai mengompol di celana.

Buat Han, ini sebuah permainan. Jadi, dia menyuruh Jun Seok untuk berlari sejauh dan secepat mungkin darinya. Tentu saja Jun Seok menurut, dan perjuangannya untuk menyelamatkan dirinya dan teman-temannya dari Han sebenarnya adalah inti dari film ini.

Ki Hoon yang mengkhawatirkan kedua orang tuanya akhirnya meninggalkan Jun Seok dan Jang Ho di kompleks apartemen tepat sebelum mereka akan menaiki kapal meninggalkan Seoul. Jun Seok mulai patah arang. Sang Soo sudah dibunuh oleh Han, demikian pula si pedagang senjata yang Jun Seok panggil sebagai hyung-nim (big brother).

Bagaimana Jun Seok dan Jang Ho bisa menghadapi Han? Apakah mereka akan menang atau kalah?

Setelah menonton film ini selama dua jam lebih, saya hanya bisa merenggut melihat ending-nya. Film ini kurang lama. Open ending-nya lebih membuat kesal dan bukan penasaran.

Apa yang telah terjadi pada Han? Apa yang akan terjadi pada Jun Seok?

Pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab itu membuat saya setuju dengan skor review film ini yang hanya berkisar antara 6 sampai 7 di berbagai situs review.

Baiklah, cukup tentang apa yang saya tidak sukai. Yang saya sangat sukai adalah rasa film horor yang kentara di sini. Nyaris semua adegan pengejaran dilakukan di dalam kegelapan. Satu-satunya sumber cahaya adalah lampu neon berwarna merah, lampu jalan, atau lampu mobil.

Ketiadaan orang lain sepanjang film ini semakin menguatkan kesan bahwa ini adalah masalah hidup atau mati, either Jun Seok or Han. Kompleks apartemen yang seperti labirin dan dipenuhi oleh mannequin bekas menambah keseraman kejar-kejaran antara Han dan Jun Seok.

Semua aktor di dalam film ini berakting maksimal, tidak hanya Lee Je Hoon. Namun saya menyayangkan kurangnya cerita latar belakang untuk karakter Jang Ho dan Han. Running time film ini yang sudah melewati dua jam sepertinya menjadi kendala untuk menceritakan lebih banyak hal, sehingga ending-nya pun menggantung.

Jika kamu berminat menontonnya, cukup dengan berlangganan Netflix atau akses berbagai situs yang menawarkan drama dan film Asia. Legalitas kontennya jangan tanyakan saya ya, hehehe.

8 thoughts on ““Time to Hunt”: Film Thriller Rasa Horor

  1. Aku setuju kalau ini open ending.
    Tapi aku sungguhan merasakan ketakutan Je hoon bahkan sampai di akhir episode.
    Kayanya, uda gak ada waktu untuk meratap, menyesal dan perasaan semacam itu.
    Mereka hanya sekelompok remaja di timing dan suasana yang salah.
    Titik.

    Seandainya mereka berada di lingkungan yang lebih sehat, mungkin ceritanya jadi kaya Hospital Playlist yaah…hahaha…

    Liked by 1 person

    1. Ikut gemeter sama dia ya sepanjang film. Pas je hoon ditodong sama han, aku kok kebayang dia ngompol ya saking takutnya haha …

      Endingnya kurang lamaa .. ki hoon gmn, han gmn. Penasaran aku tuh 😭

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s