Ayah Work from Home, Anak School from Home, Kalau Ibu?

Ya SFH juga, dong. Stress from Home, hahaha. #ketawastres

Delapan minggu sudah berlalu sejak sekolah ditutup secara tiba-tiba karena kekhawatiran akan virus Corona. Anak-anak disuruh belajar di rumah dan bahan pelajaran di-email ke orang tua. Sekolah mengharapkan orang tua menggantikan guru untuk mengajarkan materi yang bertumpuk dan untuk mendampingi anak-anak dalam mengerjakan berbagai tugas.

Orang tua mendapat materi-materi tersebut 20 sampai 30 tahun yang lalu. Supaya bisa mengajari anak, orang tua harus belajar terlebih dahulu supaya tidak ada salah kaprah. Ada waktu, tenaga, dan kapasitas otak yang didedikasikan khusus untuk hal ini. Sementara itu sekolah mengharapkan orang tua belajar kembali dan mengajari anak sambil bekerja seperti biasa. Ini ekspektasi yang terlalu tinggi.

Beberapa hari berselang, Covid-19 sudah ditetapkan sebagai pandemi dan suami pun mulai bekerja dari rumah. Pekerjaannya membutuhkan komputer, sambungan telepon, sambungan internet, dan kedamaian untuk bisa berkonsentrasi dalam bekerja dan meeting online. Dengan dua anak yang SFH dan satu bayi yang sedang hobi merambah segala medan, ya ini seperti misi di dalam film “Mission Impossible”.

Empat minggu pertama rumah kami kacau. Ini kondisi mendadak yang bahkan saya sebagai pengelola rumah tangga tidak siap menghadapinya. Rutinitas saya sehari-hari sudah jelas: setelah dua anak yang paling besar berangkat sekolah, saya akan mengurus bayi dan merapikan rumah. Pada siang hari saya menjemput satu anak dari sekolah dilanjutkan dengan berbelanja bahan makanan. Pada sore hari sepulang sekolah anak yang satu lagi, saya akan mengantar mereka ke tempat les musik atau olahraga. Sepulangnya ke rumah mereka mandi, makan, dan belajar sebelum pergi tidur.

Ini rutinitas saya selama empat tahun terakhir, dengan berbagai penyesuaian. Pandemi membuat kami semua tiba-tiba ngendon di rumah. Suami tidak ke kantor, anak-anak tidak ke sekolah dan tempat les, dan saya pun hanya keluar satu kali dalam dua minggu untuk berbelanja sabun dan tetek-bengeknya. Pada awalnya saya dan suami kesulitan menyusun jadwal kegiatan sehari-hari untuk kami semua. Rumah memang tempat yang menyenangkan untuk bersantai dan melepas penat. Ada banyak distraksi di rumah untuk mengabaikan kegiatan bekerja dan belajar.

Saya yang sudah terbiasa bekerja dari rumah (menulis dan mendesain) sudah memiliki disiplin dan jadwal tersendiri. Tidak demikian dengan suami dan anak-anak. Jadwal mereka tiba-tiba menjadi lebih fleksibel dan waktu mereka bekerja dan belajar jadi lebih panjang dari biasanya. Secara psikologis mereka tidak melihat rumah sebagai tempat bekerja dan belajar dalam jangka waktu lama. Secara psikologis mereka tidak siap memindahkan kegiatan utama sehari-hari dari luar rumah ke dalam rumah.

Kekacauan terjadi di rumah karena kesimpangsiuran jadwal dan rutinitas. Suami mulai bekerja tepat pukul 8 pagi, namun tidak demikian dengan anak-anak. Biasanya mereka mulai belajar di sekolah pukul 7 pagi, sekarang mundur 1 jam. Suami dituntut untuk online setiap saat; dia baru bisa beristirahat waktu jam makan siang. Anak-anak sebenarnya memiliki tiga kali waktu istirahat di sekolah. Namun di rumah jam istirahat seakan-akan bertambah karena mereka tidak online setiap saat; ada jeda 1 sampai 1.5 jam di antara conference call.

Jadwal yang tidak teratur membuat prioritas dan waktu pengerjaan sebuah rutinitas bergeser. Anak-anak bisa main Lego dan membaca/membuat komik sambil menunggu waktu Skype berikutnya (dalam satu hari ada 3 sampai 5 kali jadwal Skype, masing-masing 30 menit). Namun akibatnya mereka tidak bisa selesai belajar pada saat SFH selesai pukul 3 sore. Mereka memerlukan 2 sampai 3 jam lagi untuk membereskan pekerjaan di sekolah. Akibatnya, jam makan dan tidur malam jadi mundur semua. Besok paginya mereka akan bangun sangat siang. Ini kacau luar biasa.

Empat minggu lalu saya mengumpulkan suami dan anak-anak untuk membicarakan hal ini. Kekacauan tidak bisa dibiarkan. Kami memang sedang membentuk normalitas baru di dalam keluarga dan keseharian kami. Oleh karena itu, kumpulan aturan dan kesepakatan yang menyesuaikan dengan kondisi kami yang #DiRumahAja harus segera dibuat. Kalau dibiarkan berlarut-larut, hal ini akan membuat kami selalu merasa stres, lelah tanpa alasan, dan membuang banyak waktu setiap hari.

Kunci utama menghilangkan stres akibat WFH dan SFH adalah managing expectation.

Mengatur ekspektasi yang dimiliki oleh setiap anggota keluarga. WFH dan SFH berarti benar-benar bekerja dan belajar dari rumah dengan bantuan internet untuk terhubung dengan orang lain. Fokus, konsentrasi, dan alokasi waktu yang dibutuhkan harus sama dengan pada saat sebelum pandemi. Tidak boleh ada banyak perkecualian yang membuat jadwal dan rutinitas baru jadi lambat terbentuk. Saya sebagai penghuni rumah 24 jam sehari, sebelum dan sesudah pandemi, harus memastikan hal itu.

Yang pertama perlu di-manage adalah ekspektasi suami saya.

Selama WFH suami saya mengharapkan bisa bekerja di perpustakaan rumah kami dengan penuh ketenangan. Laptop menyala, headset sudah dipakai, handphone di-charge di sebelah laptop, kopi ada di atas meja beserta pulpen dan buku catatan. Dia mengharapkan bisa menulis email, membuat laporan, menganalisa data, berkomunikasi via telepon dengan rekan kerjanya, tanpa gangguan. Catat ya, tanpa gangguan, mulai dari pukul 8 pagi sampai pukul 12 siang lalu dilanjutkan lagi pukul 1 siang sampai pukul 6 sore.

Ya, tidak mungkin, Bos.

Perpustakaan rumah adalah ruang komunal, satu-satunya tempat kami semua (dua orang dewasa dan dua orang anak) bisa bekerja dan belajar dengan tenang. Di situ ada tatami (sehingga kami bisa rebahan kalau sudah lelah duduk terlalu lama), komputer, printer, alat tulis, kertas, buku-buku, pokoknya semua yang diperlukan untuk bekerja, belajar, dan bersantai sejenak.

Suami saya tidak menggunakan ruangan itu sendirian. Dia harus membaginya dengan dua orang anak selama minimal 7 jam sehari. Anak-anak belajar sambil mengeluarkan banyak bunyi; anak-anak mana yang belajar sambil berbisik-bisik? Waktu conference call mereka akan banyak bertanya pada guru, berdiskusi dengan teman, bersenda-gurau, dan tertawa lepas. Mau ruangan yang selalu sepi tanpa suara? Ya, tidak mungkin.

Hal ini yang sering kali tidak disadari oleh suami saya. Keributan di sekitarnya membuat fokus dan konsentrasinya menurun. Akibatnya dia merasa jengkel dan terganggu hampir setiap saat, serta menjadi tidak  sabaran terhadap anak-anak. Waktu saya mengungkapkan hal ini padanya, baru dia tersadar. Sejak saat itu dia langsung pergi ke teras kalau perlu menelepon orang lain. Dia juga menyingkir ke kamar tidur kami kalau anak-anak belajar online dengan suara bising.

Yang kedua, me-manage ekspektasi saya.

Ada hal aneh, selama empat minggu pertama saya melihat suami sebagai bala bantuan di rumah. Saya banyak berharap dia akan mengambil alih tugas menyiapkan sarapan, memandikan bayi waktu pagi, menyuapi bayi makan siangnya, dan memandikan bayi waktu sore. Semua itu sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan dari dua anak yang SFH dan tentu saja sambil bekerja seperti biasa. Luar biasa ya ekspektasi saya.

Padahal seharusnya sewaktu jam istirahat (pukul 12 sampai pukul 1 siang) suami benar-benar beristirahat. Seusai makan siang seharusnya dia bisa duduk berleha-leha menikmati kopi sambil membaca berita di HP atau bercakap-cakap dengan kedua anak kami yang paling besar. Eh saya malah membebaninya dengan berbagai macam tugas karena saya yakin dia pasti mau membantu.

Memang dengan WFH dan SFH ada sebuah kebutuhan yang tiba-tiba harus dipenuhi lebih dari tiga kali sehari, yaitu: makan! Dalam sehari entah berapa kali saya ke dapur untuk menyiapkan makanan besar dan makanan kecil. Saya melakukan semua itu sambil diikuti seorang bayi yang baru lancar berjalan. Sering kali si bungsu minta digendong ketika melihat saya memasak; dia memang senang mengamati kompor dan makanan di dalamnya. Waktu suami istirahat siang, saya mengoper si bungsu padanya dan memanfaatkan kesempatan itu untuk bisa selonjoran sebentaaaar saja.

Ya, tidak bisa begitu, Nya.

Selama WFH suami berada di dalam kurun waktu kerja yang tetap setiap harinya. Kalau bayi tiba-tiba perlu ke toilet waktu saya sedang memasak, ya saya harus meninggalkan masakan saya untuk membersihkannya terlebih dahulu. Itu bukan yang saya pasti lakukan sebelum suami WFH? Nah selama empat minggu pertama kalau hal itu terjadi saya akan langsung memanggil suami, mengharapkan bantuannya untuk mengurus bayi. Saya tidak peduli apakah dia sedang fokus mengerjakan laporan atau bahkan sedang menelepon, pokoknya dia harus membantu saya.

Saya memiliki ekspektasi yang keliru dan lucunya saya marah-marah sendiri waktu suami  atau anak-anak saya tidak bisa memenuhi ekspektasi tersebut. Suami menyadarkan saya bahwa suami WFH dan anak-anak SFH tidak berarti ada bala bantuan di rumah. Yang pasti, ada lebih banyak anggota keluarga yang harus saya urus, sepanjang hari. Namun saya tidak bisa mengharapkan mereka segera datang waktu saya panggil. Mereka memiliki kesibukan masing-masing, lho.

Yang terakhir adalah me-manage ekspektasi anak-anak.

Selama SFH dengan jam belajar yang tidak seperti biasanya di sekolah, mereka melihat ada banyak kesempatan untuk menyentuh mainan Lego, buku komik, dan piano. Mereka belajar dan bermain selang-seling dan berharap saya akan secara konstan mengingatkan kapan mereka harus conference call.

Ya, jangan, dong, Bro and Sis.

Jadwal online setiap hari sudah terpampang di depan komputer masing-masing, kok. Kenapa anak-anak masih membutuhkan mama untuk mengingatkan, atau istilahnya mandorin, kata teman saya? Karena saya tidak pernah tegas memberi batas bahwa antara jam 8 pagi sampai 3 sore adalah jam sekolah.

Saat tidak online mereka harus melakukan kegiatan yang berhubungan dengan sekolah, entah itu mengerjakan latihan soal, pekerjaan rumah, mencicil proyek, menyiapkan presentasi, dan lain-lain. Mereka tidak boleh melihat waktu di antara conference call sebagai waktu bermain yang lebih dari seharusnya. Waktu istirahat yang saya coba terapkan adalah 2 kali istirahat 15 menit di pagi dan sore hari, serta 1 kali istirahat 45 menit untuk makan siang.

Pelan-pelan saya membiasakan mereka untuk sungguh-sungguh belajar selama jam sekolah. Mereka boleh bermain sebentar pada jam istirahat kalau mereka sudah selesai makan snack atau makan siang. Jika tidak ada lagi pekerjaan sekolah yang perlu diselesaikan, maka mereka harus mulai mengerjakan PR dari les musik dan menggambar. Sejak pandemi saya memang tidak menghentikan kedua les ini supaya guru les mereka masih mendapat pemasukan.

Akhirnya hari ini saya menuai hasil dari taburan disiplin dan kecerewetan selama empat minggu terakhir. Walaupun seisi rumah sekarang bangun 1 jam lebih lama dari sebelum pandemi, rutinitas sehari-hari sudah terbentuk dan berjalan lancar. Anak-anak tahu kapan waktu conference call, berjemur di depan rumah, mulai mengerjakan tugas sekolah, bermain, makan siang, dan les-les setelah pukul 3 sore. Saya tidak lagi kelimpungan mendampingi belajar dua anak sambil dikintil satu bayi. Setidaknya kaki saya sudah berkurang pegalnya dan saya sudah tidak lagi memakai koyo setiap malam.

Setiap abnormalitas pasti memerlukan penyesuaian. Jangan khawatir, manusia adalah makhluk yang mampu dan mau beradaptasi. Yang dibutuhkan hanya komitmen dan waktu untuk membentuk kebiasaan baru. Dan tentu saja, mama sebagai mandor, hehehe.

 

One thought on “Ayah Work from Home, Anak School from Home, Kalau Ibu?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s