Apatah Drakor “Crash Landing on You” Dibandingkan “Kingdom”?

sumber gambar: asianwiki.com

Tidak ada apa-apanya.

Yang membaca jawaban saya ini pasti protes, “Bukankah Crash Landing on You (CLoY) dan Kingdom berbeda genre? Ya pasti tidak pantas jika disandingkan dan dibandingkan.”

Sebenarnya tidak masalah apa genre sebuah drama Korea, yang penting adalah bagaimana jalinan ceritanya bisa begitu mencengkram hati kita, membuat kita terkenang-kenang dan menanti-nantikan episode selanjutnya.

Itu pendapat saya dan itu yang terjadi pada saya. “Kingdom” jauh lebih gripping dibandingkan “CLoY”. Setelah menamatkan drama ini kemarin malam, saya sangat yakin kalau “Kingdom” berada pada liga yang jauh di atas “CLoY”.

Meskipun drakor “CLoY” bergenre romantic comedy, kemustahilan premisnya membuat ia lebih menjurus ke genre fantasi.

Seorang tentara Korea Utara jatuh cinta pada seorang wanita pengusaha dari Korea Selatan, yang mendarat darurat di perbatasan kedua negara karena ia diterpa angin topan saat sedang paragliding. Bagaimana mungkin mereka bisa bersatu dan bersama di tengah ketidakpastian situasi geopolitik di Semenanjung Korea? Apalagi tidak ada salah satu dari mereka yang berniat pindah kewarganegaraan.

Meskipun drakor “Kingdom” bergenre horor fantasi, relevansinya dengan kondisi dunia saat ini membuat ia terasa sangat nyata dan familiar.

Alkisah Pangeran Lee Chang, seorang putera mahkota di Kerajaan Joseon (salah satu dinasti di masa lampau di Korea), berencana merebut tahta dari ayahnya yang dia duga sudah menjadi mayat hidup (zombi) selama beberapa waktu. Sang raja adalah kasus pertama dari sebuah wabah mengerikan yang akan menghantui kerajaan. Bagaimana cara Pangeran Chang mewujudkan ambisinya di kala ia dikejar dan akan ditangkap sebagai pemberontak oleh klan Haewon Cho yang didalangi sang ratu?

Keunggulan dari drakor “Kingdom” ini adalah tidak ada salah casting dan tidak ada karakter yang sia-sia.

Para aktor di dalam drama ini bukanlah nama-nama yang dikenal sebagai “Hallyu Star”. Mereka tidak seterkenal Lee Min Ho, Hyun Bin, Song Joong Ki, atau nama-nama lainnya, namun setiap aktor memerankan karakter yang sangat pas untuk mereka. Saya sampai menduga penulis drama ini membuat karakter dengan memikirkan terlebih dahulu aktor mana yang cocok memerankannya.

Kita mulai dengan Ju Ji Hoonsang pemeran Pangeran Lee Chang. Aktor berusia 37 tahun ini katanya mulai terkenal waktu ia bermain dalam drama “Princess Hours” (2006) yang sayangnya tidak saya tonton. Setelah itu ia muncul lagi dalam dua film “Along with the Gods” (2017 & 2018) yang saya tonton beberapa kali saking serunya.

Oleh karena setting filmnya yang gelap dan suram dan peran Ju Ji Hoon yang bukan pemeran utama, saya hampir tidak mengenalinya di film “AwtG”.  Dia tampil sebagai pemeran utama yang kompleks dan problematik justru di film “Confession” (2014) yang ia bintangi bersama Ji Sung dan Lee Kwang Soo. Ini film yang sangat bagus untuk memahami arti persahabatan, kejujuran, dan prasangka.

Ju Ji Hoon bukan aktor yang hanya mengandalkan tampang. Ia tinggi, berotot, dan wajahnya pun lumayan. Akan tetapi kharismanya yang muncul di layar, presence-nya di setiap adegan dalam film/drama adalah modal dan daya tariknya yang utama.

Selain “Kingdom”, Ju Ji Hoon baru menuntaskan sebuah drama hukum-kriminal “Hyena” yang juga ditayangkan oleh Netflix. Di dalam drama ini ia berperan sebagai Yoon Hee Jae, seorang pengacara yang ambisius, penuh perhitungan, loyal, namun bucin alias budak cinta pada pengacara lain, Jung Geum Ja. Karakternya di sini terasa seperti permen Nano-nano yang meledak di mulut. Tonton episode 1 dan saya jamin kamu pasti mau melanjutkan.

Sebelum menonton “Kingdom”, saya menonton “Hyena” dulu. Singkat cerita saya sangat mengagumi totalitas akting Ju Ji Hoon dalam memerankan dua karakter yang sangat berbeda di dalam dua drama bergenre berbeda yang ditayangkan dalam waktu berdekatan.

Sebagai Pangeran Chang, Ju Ji Hoon mampu menampilkan rasa tidak amannya sebagai putera mahkota yang lahir dari seorang selir raja, bukan dari seorang ratu. Insecurity-nya sangat menawan karena saya bisa relate dengan perasaan seperti ini. Darah, keturunan, dan asal-usul adalah hal yang penting bagi banyak orang.

Manuvernya untuk memberontak kepada raja dengan menggandeng para cendekiawan terlihat setengah hati. Pada dasarnya ia seorang yang sangat loyal, pada ayahnya sang raja, pada para cendekiawan yang mendukungnya, dan pada rakyatnya yang ketika itu sedang dilanda kelaparan.

Ia digambarkan sebagai sosok yang tidak egois, yang ingin membawa perubahan dan kebaikan bagi semua orang. Dalam banyak adegan pertempuran melawan zombi, anak buah Pangeran Chang selalu membujuknya supaya lari menyelamatkan diri, namun sang pangeran selalu menolak dan memilih berjuang bersama.

Pangeran Chang tidak menyangka para cendekiawan yang mendukungnya akan cepat ditangkap dan disiksa oleh Cho Hak Ju, ketua klan Haewon Cho, karena ada kebocoran informasi dari pihaknya. Setelah ia melihat dari balik pintu di istana sosok ayahnya yang berubah menjadi monster berbau busuk, prioritas Pangeran Chang bergeser dari merebut tahta menjadi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada sang ayah.

Perjalanan Pangeran Chang untuk mencari tabib yang merawat sang raja berlabuh di Jiyulheon, kediaman sang tabib di provinsi bagian selatan. Sebelum ia tiba di sana, pasien-pasien di Jiyulheon memakan daging orang yang mati akibat diserang oleh sang raja saat ia berwujud zombi. Akibatnya begitu matahari terbenam mereka menjadi zombi yang haus darah dan daging manusia lain.

Dalam perjalanannya ke Jiyulheon Pangeran Chang disertai oleh pengawal pribadinya, Mu Yeong, yang diperankan oleh Kim Sang Ho. Kim Sang Ho yang biasa menjadi pemeran pembantu di dalam drama/film (“City Hunter” (2011), “The Negotiation” (2018)) mampu menampilkan akting yang meremukkan hati sebagai Mu Yeong.

Demi keamanan dan kesejahteraan istrinya yang sedang hamil tua, Mu Yeong memilih menjadi mata-mata klan Haewon Cho dan mengkhianati Pangeran Chang. Saat ia meregang nyawa di dalam pelukan Pangeran Chang, saat ia meminta maaf karena tidak bisa menepati janji untuk selalu melindungi tuannya, di situ saya ikut menangis tersedu-sedu.

Sebelum kehilangan Mu Yeong, Pangeran Chang yang malang dijebak oleh Cho Hak Ju untuk memenggal kepala raja yang sedang berubah menjadi zombi. Hal ini membuat ia seolah-olah membunuh raja karena haus tahta, padahal tidak. Memenggal kepala adalah satu-satunya cara untuk membinasakan zombi.

Kemalangannya tak sampai di situ. Guru yang sangat dia hormati, Ahn Hyeon, meminta pangeran untuk menjadikannya zombi supaya ia bisa menggigit Cho Hak Ju dan mengungkap kedoknya. Zombi Ahn Hyeon juga harus dipenggal kepalanya supaya binasa. Bisa bayangkan bagaimana terpukul dan terlukanya Pangeran Chang saat harus kehilangan ayah, guru, dan teman sekaligus?

Dua sosok lain yang setia menemani perjalanan Pangeran Chang untuk memberantas wabah dan kembali ke ibukota adalah Seo Bi (Bae Doo Na) seorang murid dari tabib yang dicari Pangeran Chang, dan Yeong Shin (Kim Sung Kyu), seorang pasien di Jiyulheon yang memanfaatkan Pangeran Chang untuk membalas dendamnya kepada klan Haewon Cho.

Tidak ada salah casting di sini. Sosok Seo Bi yang tenang adalah logika dan ilmu pengetahuan yang dibutuhkan Pangeran Chang untuk mengetahui asal-usul dan cara memberantas wabah tersebut. Dari jurnal gurunya, Seo Bi menemukan bahwa bunga pembangkit orang mati (resurrection plant) digunakan untuk membuat orang mati hidup kembali, dengan cara dimasak dan dimasukkan ke tubuh lewat jarum akupunktur.

Di bawah kelopak bunga itu ada telur cacing yang akan menetas begitu ia memasuki tubuh manusia. Cacing itu akan menuju otak dan membuat manusia kehilangan akal, menjadi buas, dan haus akan darah dan daging manusia lainnya.

Logika cacing ini sama dengan logika SARS CoV 2 yang menyebabkan pandemi Covid-19. Logika virus adalah menemukan sebanyak-banyaknya indung untuk dia bajak sebagai tempatnya menggandakan materi genetik. Kita perlu menjaga jarak fisik untuk memutus transmisi virus dalam bentuk droplet dari indung (manusia) yang sudah terinfeksi ke yang belum. Memutus transmisi adalah satu-satunya cara untuk memusnahkan virus ini.

Zombi menggigit manusia supaya cacing yang ada di ludahnya menemukan indung baru. Ini adalah caranya untuk menggandakan diri. Kepala zombi perlu dipenggal supaya cacing yang ada di bagian tubuh itu tidak bertransmisi, tidak berpindah ke manusia lain.

Cacing ini akan keluar dari tubuh zombi yang ditenggelamkan ke air. Oleh karena itu Pangeran Chang dan teman-temannya yang sempat digigit zombi pada akhirnya tidak terinfeksi, karena mereka sempat tenggelam di danau saat mereka memancing semua zombi untuk menuju ke danau yang beku di bagian belakang istana raja.

Waktu Seo Bi memperlihatkan cacing itu pertama kali kepada Pangeran Chang, reaksi sang pangeran membuat saya tertegun. Walaupun drama ini diproduksi jauh sebelum pandemi, kalimat Pangeran Chang ini sangat relevan dengan situasi kita sekarang.

“Benda sekecil ini bisa mengakibatkan kerusakan yang sangat dashyat untuk kerajaan dan orang-orangnya.”

Benda sekecil virus Corona yang tidak kasat mata dan berukuran nanometer mampu memporak-porandakan kehidupan dan kenormalan yang kita kenal hanya dalam waktu kurang dari 3 bulan.

Sama seperti wabah zombi yang muncul lagi 7 tahun setelah Pangeran Chang memberantasnya, tidak ada jaminan bahwa SARS CoV 2 akan menyerang bumi kita satu kali ini saja. Ada kemungkinan kemunculannya, atau kemunculan virus zoonosis lain, berulang karena kita terus merusak ekosistem.

Kembali ke sosok di sekitar Pangeran Chang. Yeong Shin adalah sebuah paket keberanian dan kenekatan yang diperlukan Pangeran Chang saat ia mulai putus asa. Sepanjang 12 episode tak sekali pun saya melihat Yeong Shin menyerah.

Ia yang memasak mayat Dan I yang digigit raja dan memberikannya kepada para pasien di Jiyulheon sehingga mereka semua berubah menjadi zombi. Ia melakukan kesalahan besar, namun ia pula yang tak pernah gentar dan selalu siap memberantas musuh. Kim Sung Kyu sebagai aktor yang tidak begitu terkenal memberikan performa yang luar biasa untuk perannya ini.

Selama menonton drama ini saya sering menutup mata karena banyak adegan zombi menggigit/memakan manusia yang membuat isi perut bergejolak. Akan tetapi saya harus akui sinematografi dalam drama ini teramat menarik.

Mulai dari latar belakang alamnya, kebuasan para zombi, keagungan tata krama di lingkungan istana, sampai kesakralan pengurusan jenazah raja, semuanya digambarkan dengan sangat apik. Adegan zombi mencari mangsa adalah adegan yang menjijikkan tapi tidak menghilangkan fokus saya pada inti cerita, yaitu perjuangan Pangeran Chang dan para pendukungnya.

Satu hal yang akan selalu saya ingat dari drama “Kingdom” ini adalah banyaknya adegan berlari yang disorot dari atas, depan, maupun belakang. Adegan berlari menunjukkan sense of urgency, kedaruratan kondisi negara yang sedang dilanda wabah dan kesigapan Pangeran Chang untuk bertindak sebagai pemimpin rakyatnya.

Sekali lagi kudos untuk drama “Kingdom”, dan selamat tinggal untuk CloY Fever yang saya derita sejak bulan Februari lalu. Kabarnya syuting Season 3 drama “Kingdom” ditunda karena virus Corona. Saya dan banyak penggemar “Kingdom” dan Ju Ji Hoon tentu berharap pandemi ini cepat berlalu, wabah ini cepat selesai, dan kita kembali ke kehidupan kita semula yang banyak dihibur oleh drama dan film produksi Korea Selatan.

 

 

 

One thought on “Apatah Drakor “Crash Landing on You” Dibandingkan “Kingdom”?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s