Bunda, Tahan Jarimu

sumber gambar: thetab.com

Saya hampir gila melihat isi WA grup hari ini. Hampir semua grup menyebarkan berita yang berkaitan dengan Covid-19 yang belum divalidasi kebenarannya. Waktu saya tanya dapat info dari mana, cuma dijawab,

“Dari grup sebelah.”

Saya tambah kejar, “Ini berita benar, atau belum tahu benar atau ga?”

Dijawab, “Ga tahu tuh, gua cuma forward aja.”

Keren, Anda bertanggung jawab amat jadi manusia ya.

Saya tidak tahu kurang catchy apa slogan ‘Saring Sebelum Sharing’. Kalimatnya berirama, memadukan bahasa Indonesia dan Inggris yang kebetulan cocok, singkat tapi memiliki pesan yang jelas.

Saring Sebelum Sharing.

Coba banyak berpikir dan bernalar sebelum memencet tombol ‘forward’. Bahkan setelah Whatsapp memberi label ‘forwarded’ untuk membedakan tulisan asli si pengirim pesan dengan tulisan orang lain, sangat sedikit orang yang mau mengakui dan bertanggung jawab kalau dia sudah menyebarkan informasi yang salah.

Ga tau hoax atau ga, ini buat kita waspada aja.

Familiar tidak dengan kalimat di atas sebagai pengantar pesan yang biasanya merupakan hoax? Kalau Anda belum mencroscek kebenaran beritanya, buat apa di-share, Sayang? Kalau Anda sendiri tidak yakin, kenapa berani menjerumuskan orang lain kepada keyakinan yang salah?

Kan biar orang lain waspada.

Itu biasanya pembelaan diri Anda. Duh, taruhan, tidak ada orang yang jadi waspada dalam arti sebenarnya setelah membaca berita yang belum tentu benar, tendensius, dan dilebih-lebihkan. Cemas? Iya. Panik? Pasti. Paranoia? Tidak diragukan lagi.

Terkait Covid-19 ini, saya pikir semua orang sedang berusaha sebaik mungkin untuk mempertahankan diri. Meningkatkan imunitas (makan, istirahat, olahraga cukup) dan social distancing dengan tidak keluar rumah kalau tidak perlu sekali sudah dihimbau berulang-ulang karena kita belum bisa menebak akhir dari pandemi ini.

Negara lain sudah menerapkan lockdown, kita masih terkaget-kaget karena kita tidak menyangka kalau kita bisa terjangkit juga. Doa dan iman tidak cukup, Kawan, kita juga harus menggunakan akal budi kita.

Negara lain menggelontorkan bantuan untuk biaya kesehatan mereka yang lemah secara ekonomi dan biaya hidup mereka yang bekerja di sektor jasa dan sekarang harus dirumahkan (pariwisata, penerbangan, kuliner, dan seterusnya), kita masih sibuk men-forward dari grup sebelah screenshot chat yang tidak (berani) mencantumkan nama dan nomor telepon orang yang terlibat. Dan kita bersumpah kalau isi chat itu ya dan amin!

Purbakala sekali kita ini.

Sekali kita menyebarkan hoax, the damage is irreversible.

Damage apaan? Orang kan bisa milih untuk ga baca apa yang saya forward.

Itu pembelaan diri Anda berikutnya. Tapi ingat, beda orang beda kekuatan mental dan penguasaan diri. Mereka yang punya kendali diri kuat akan mengabaikan Anda dan hoax Anda. Mereka yang mempunyai bibit ketidakpercayaan diri dan kecemasan akan menelan bulat-bulat info dari Anda tanpa susah payah memakai nalar. Karena mereka rapuh, mereka akan mempercayai Anda dan apa yang Anda sebarkan.

Itu damage pertama yang Anda buat; saat Anda merampas kedamaian dari hati orang-orang yang sedang berusaha untuk menguatkan diri, berusaha untuk berpikir/bersikap positif di tengah ketidakpastian seperti sekarang ini.

Damage kedua adalah Anda menyita waktu berharga orang lain. Waktu yang seharusnya bisa mereka pakai untuk membersihkan lingkungan, membantu anak belajar di rumah selama sekolah diliburkan, memperhatikan keadaan orang tua yang rentan penyakit, dialihkan untuk membaca pesan beruntun yang Anda kirim ke WA grup. Pesan-pesan yang ternyata hoax.

Orang-orang bergabung di dalam WA grup untuk mendapatkan informasi bermanfaat, bukan untuk dibombardir dengan hoax atas nama kepedulian kepada sesama agar waspada. Padahal diam-diam yang Anda pancing adalah perhatian orang-orang terhadap Anda, pelabelan bahwa Anda adalah pembawa berita yang benar.

Kita pasti tetap waspada. Yang kita bisa lakukan sekarang adalah tindakan preventif karena Covid-19 ini belum ada obatnya dan penyebarannya terlampau cepat. Hoax membuat mental kita kalah sebelum kita masuk ke perang yang sesungguhnya. Hoax membuat kita tidak yakin bahwa kita bisa melewati masa sulit ini.

Di dalam imajinasi saya Covid-19 sedang menertawakan kita. Alih-alih mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk, kita membuang waktu dan tenaga membaca, mencroscek, dan meributkan berita-berita yang tak jelas sumber dan kebenarannya, sampai-sampai men-counter si penyebar hoax.

Media mainstream tetap lebih baik daripada website berita online yang baru muncul kemarin sore. Mempercayai pemerintah tetap lebih baik daripada kelimpungan karena forward-forward dari grup-grup sebelah. Berdoa dan beriman tetap paling baik di saat kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengatasi penyebaran virus ini.

Akhir kata, dan saya ulangi lagi, Bunda, tahan jarimu.

Jika Anda tidak tahu kebenaran berita yang akan Anda forward, berita itu cukup sampai di Anda saja. Croscek dengan kapasitas yang Anda miliki. Jangan takut bertanya pada orang yang ahli. Pakai Google untuk mencari sumber berita lain. Lebih baik lagi kalau dengan membaca sepintas Anda bisa langsung memilah mana berita hoax dan mana berita yang pantas mendapatkan waktu berharga Anda untuk Anda telusuri lebih lanjut.

Benarlah kata adik saya yang seorang dokter, dan seorang ibu seperti saya, “Waktu krisis ga ada yang nandingin kehebohan dan ikutan-ikutan heboh kayak emak-emak dalam WA grup.”

Ember.

 

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s