Mendampingi Ia yang Sulit Memiliki Anak

sumber gambar: unsplash.com

 

Perempuan yang sudah menikah diharapkan untuk segera mengandung dan melahirkan anak.

Tak peduli jika perempuan tidak mau karena memiliki penyakit yang bisa diturunkan.

Tak peduli jika perempuan tidak mau karena menyadari kemampuan secara ekonomi.

Tak peduli jika perempuan tidak mau karena kehamilan bisa mengancam nyawanya.

Tak peduli jika perempuan tidak mau karena ia ingin terus bekerja dan meniti karir.

Tak peduli jika perempuan tidak bisa karena ada masalah di sistem reproduksi dirinya atau suaminya.

Pokoknya norma yang berlaku di masyarakat mengharuskan, tanpa mendengarkan alasan-alasan perempuan jika mereka menolak mengikuti norma tersebut.

Ada perempuan yang tidak memiliki masalah untuk segera mengandung dan melahirkan, namun banyak juga yang bermasalah. Jika ini terjadi pada orang yang kita kenal atau orang yang dekat dengan kita, adakah kita berespon seperti berikut ini?

“Tenang saja, belum waktunya.”

Memangnya kapan waktu yang tepat? 

“Mungkin Tuhan punya rencana lain untuk kalian.”

Karena yang bicara bukan Tuhan atau asisten-Nya, kata ‘mungkin’ dipakai walaupun tidak meyakinkan baik si pengucap maupun si pendengar.

“Coba cek, apa kalian punya masalah dengan orang tua atau mertua sehingga doa kalian untuk mendapatkan anak terhambat?”

Saran yang terdengar masuk akal, tapi seperti mengulik-ngulik privasi orang lain.

“Pasti kamu susah hamil karena kamu sibuk bekerja/sibuk jalan-jalan/terlalu gemuk/suka makanan tidak sehat/dan lain sebagainya.”

Wah, ini sih komentar yang mengajak berantem.

Respon-respon di atas lebih cenderung menghakimi daripada mendukung perempuan yang punya masalah reproduksi, dan pastinya membuat mereka antipati berbagi cerita dengan kita.

Begitu menikah saya langsung dikaruniai anak, seperti 95% perempuan di keluarga besar saya, baik dari pihak ayah ataupun ibu. Masalah sulit mendapatkan anak yang pertama kali saya dengar adalah saat sepupu saya menikah pada tahun 2000.

Ipar saya yang baru punya masalah skeliosis. Supaya dia bisa mengandung tanpa masalah, tulang belakangnya harus diperbaiki terlebih dahulu. Si Kakak memakai semacam rompi ketat untuk menyokong tubuh dan meluruskan tulang belakang hampir 24 jam sehari, rompi hanya dilepas pada saat mandi, selama hampir 2 tahun.

Usaha tersebut menghilangkan skeliosisnya tapi tidak berujung pada kehamilan. Masalah berikutnya ada pada indung telur. Satu dari dua indung telurnya terpaksa diangkat karena membusuk. Harapan untuk mengandung dan melahirkan secara alami pupus sudah. Adopsi adalah jalan terakhir yang diambil oleh sepupu saya dan istrinya.

Ulang tahun saya dan kakak ipar hanya selisih 2 hari dan kami cocok; kami bisa mengobrol tentang berbagai macam hal selama berjam-jam. Namun usia saya yang lebih muda 12 tahun membuat saya waktu itu sungkan menanyakan kabarnya selama dia berjuang untuk mendapatkan keturunan. Berita yang saya dapat biasanya bersumber dari mama dan tante saya.

Hal ini saya sesali karena saya sebenarnya ingin sekali menjadi teman curhat dia. Hal ini dia juga sesali karena sebenarnya dia ingin saya perhatikan. Yang menyedihkan, penyesalan kami berdua baru ketahuan akhir-akhir ini. Dua puluh tahun kemudian.

Sejak pengakuan itu saya ingin menjadi teman yang lebih baik untuk ia yang sulit memiliki anak, seperti salah satu sahabat saya.

Ia menikah 6 tahun lalu waktu saya mengandung anak ke-2. Tentu saja kami semua berharap dia cepat “ketularan” dan segera hamil. Hari dan tahun berganti, dia melepaskan pekerjaannya sebagai manajer di sebuah perusahaan besar untuk tinggal satu kota dengan suaminya, namun berita baik itu belum muncul juga.

Satu hal yang saya pelajari dari pergumulan ipar saya adalah, waktu ada orang berkeluh kesah ke saya tentang masalah reproduksinya jangan sampai saya merespon dengan kalimat yang mengandung kata ‘MUNGKIN’. Mungkin belum sekarang, mungkin kamu perlu ganti dokter, dan mungkin yang lain.

Jika mereka ingin tahu fakta, mereka akan bertanya pada dokter. Yang mereka inginkan dari saya adalah telinga untuk mendengarkan beban hati mereka yang terdalam. Bukan nasihat, bukan solusi, hanya telinga dan waktu.

Saya coba menerapkan nasihat ini pada hubungan saya dengan sahabat saya, namun tidak mudah. Saya ingin memberikan nasihat dan saran terbaik karena kami bersahabat. Saya buatkan dia janji dengan sepupu saya yang dokter kandungan dengan sub-spesialis bayi tabung. Saya mengumpulkan data dan fakta makanan yang bisa meningkatkan kesuburan. Intinya, saya melakukan banyak hal untuk dia. Tanpa diminta dan tanpa pamrih.

Pada satu titik dia jemu dengan segala usaha saya. Pada waktu saya mengandung anak ke-3, dia protes, “Gua yang lagi usaha, kok lu yang hamil sih?”

Sejak saat itu hubungan kami menjadi renggang. Ia menjadi sulit dihubungi. Chatting hanya berisi kata-kata singkat. Anak-anak saya merasa kehilangan, terutama si sulung yang menyandang nama yang sama dengan sahabat saya ini.

Dalam hati saya tersinggung. Saya tidak merencanakan kehamilan ke-3, ini semua anugerah. Mengapa dia membuat saya seolah-olah bersalah karena saya sudah mendahului dia hamil? Mengapa dia menghukum saya untuk sesuatu yang di luar kuasa saya?

Sampai di satu titik saat saya sedang merenung saya mengerti:

It’s not about me; it’s about her.

Ada masa ketika dia tiba-tiba tidak mempedulikan ulang tahun anak-anak saya seperti biasanya. Hatinya pasti merindukan kelahiran bayi-bayinya sendiri. Ada masa ketika dia unfollow saya di semua media sosial. Batinnya pasti ingin mengoleksi foto-foto tumbuh kembang anak-anaknya, seperti yang saya lakukan di media sosial saya.

Wajar jika dia menjaga jarak, wajar jika dia merasa muak akan semua temannya yang sudah memiliki anak. Wajar kalau dia hanya ingin sendirian, wajar kalau dia tidak tahu bagaimana harus bercerita karena kebanyakan dari kami tidak tahu bagaimana rasanya berada di posisi dia.

Ini bukan tentang saya, tapi tentang dia.

Tentang kerinduannya akan buah hati, pergumulannya dengan semua terapi, kesedihannya setiap kali haid datang lagi. Tentang yang dia benar-benar butuhkan, bukan tentang yang saya kira dia perlukan.

Minggu lalu saya tahu dari media sosialnya kalau dia baru masuk rumah sakit akibat salah satu terapi. Dulu saya tidak akan bertanya kalau dia tidak bercerita duluan. Namun sekarang saya akan tetap bertanya, dan menerima dengan lapang dada jika dia bungkam.

“Siapa yang nemenin kamu di rumah sakit? Mau dijenguk?”

Hanya pertanyaan sederhana namun hatinya terbuka sedikit. Dia mau menerima video call dari anak-anak saya pada hari ulang tahunnya kemarin. Dia mau menceritakan sedikit tentang operasi yang dia jalani lewat WA.

Pasti, pasti kami sedang meniti jalan itu kembali: menjadi akrab, menjadi teman, menjadi sahabat. Seperti pertemuan pertama kami 14 tahun lalu, hati kami pasti bertaut lagi. Kapanpun dia membutuhkan saya, kapanpun dia ingin saya menjauh, saya harus siap untuknya.

 

One thought on “Mendampingi Ia yang Sulit Memiliki Anak

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s