Fungsi “F-Word” dalam Dialog Film

Tidak, saya tidak sedang menyumpah-serapah. Saya justru sedang pusing. Kepala saya terasa mau pecah karena kata itu, si “F-Word” itu, terlalu sering saya dengar akhir-akhir ini.

Sejak drama Korea ‘Crash Landing on You’ berakhir pertengahan Februari lalu (CLoY lagi, CLoY lagi), saya kehilangan tontonan yang bermutu. Iseng-iseng saya melirik film-film original Netflix yang setiap hari bertambah di menu. Aktor yang membintangi tidak main-main, namun kualitas filmnya kita lihat saja nanti.

“F-Word” terdengar di Indonesia melalui film-film dari Hollywood. Waktu saya kecil, banyak anak di perumahan saya yang memakai kata itu tanpa mengerti artinya. Kata itu dimasukkan ke deretan kata sumpah-serapah khas kebun binatang yang membuat telinga panas dan perut bergejolak.

Orang tua saya dulu selalu berjaga-jaga jangan sampai anak-anaknya menyebutkan kata-kata umpatan. “Dengan mulutmu kamu memuji Tuhan, dan dengan mulut yang sama kamu mengutuk ciptaan-Nya. Munafik, kan?” begitu kata mereka.

Saya pertama kali mendengar orang mengucapkan “F-Word” langsung di depan saya pada tahun 2004. Waktu itu saya bersekolah di Jepang dan saya satu asrama dengan tiga orang mahasiswa dari Amerika Serikat.

Waktu mereka mengucapkan kata itu, mereka tidak sedang memaki. Mereka tidak sedang mengutuk, mereka tidak sedang meluapkan kemarahan. Kata itu digunakan untuk menekankan emosi (negatif maupun positif) dan maksud hati si penutur, jadi konteks pemakaiannya kadang tidak serius dan hanya kata tambahan tanpa makna seperti ‘deh’, ‘lho’, ‘sih’ di bahasa Indonesia.

Mereka tertawa terbahak-bahak waktu saya menunjukkan muka kaget karena mengira kata itu ditujukan ke saya. Salah satu dari mereka kemudian memutarkan video orang yang memakai kata itu sebelum setiap kata kerja, kata benda, dan kata sifat. Gaya bicara orang di dalam video sangat asyik, teman-teman saya terpingkal-pingkal dibuatnya, tapi saya tetap tidak terkesan.

Oh ya, kembali ke Netflix. Film original Netflix pertama yang saya tonton adalah ‘The Red Sea Diving Resort’ (2019) yang dibintangi oleh Chris Evans, si Kapten Amerika. Ceritanya menarik, diangkat dari kisah nyata pula, namun 75% dari dialognya berisi kata-kata kasar termasuk si “F-Word” itu.

Saya jadi bingung, tanpa kata itu pun saya mengerti esensi dialognya karena sepanjang film ada teks bahasa Inggris. Tanpa kata itu pun emosi si aktor dapat tersampaikan dengan baik. Pemakaian kata itu secara berlebihan malah mengaburkan kedalaman makna dan membuat dialog jadi terdengar receh dan tidak bermutu.

Pemakaian kata itu secara berlebihan menurunkan kualitas percakapan yang seharusnya terjadi antara karakter Chris Evans yang seorang agen rahasia, dengan karakter duta besar Amerika Serikat di dalam film itu. Dialog antara mereka jadi kehilangan martabat dan terdengar seperti dialog antara anggota mafia jalanan saja.

Setelah film TRSDR saya menonton beberapa film original Netflix lainnya sampai saya mentok di film ‘The Last Thing He Wanted’ (2020) minggu lalu. Aktor utamanya? Anne Hathaway dan Ben Affleck. Wow, dua nama yang biasanya memberikan jaminan mutu, bukan?

Di pertengahan film saya hampir muntah. Latar belakang film itu pada tahun 1982, dan “F-Word” sudah lazim dipakai selazim orang menyebut kata ‘saya’ untuk merujuk ke dirinya sendiri. Tanpa kata itu, dialog-dialog dalam film ini sebenarnya sudah cukup cerdas. Dialog-dialognya panjang, intens, dan sarat makna ganda seperti layaknya pada film thriller.

Film ini bercerita tentang seorang wartawati yang membantu ayahnya menyelundupkan senjata gelap ke Amerika Latin, dan alih-alih dibayar dengan uang, ia dibayar dengan kokain. Bagaimana cara ia kembali ke Amerika Serikat tanpa tangan kosong?

Premisnya menarik, kan? Alurnya tidak biasa, plot twist-nya membuat saya berdecak, dan ending-nya meninggalkan saya dengan perasaan murka. Lagi dan lagi, film original Netflix yang mengecewakan. Kapan-kapan saya akan bahas kejatuhan Ben Affleck sejak ia memerankan Batman.

Jadi, apa sebenarnya fungsi “F-Word” dalam dialog film Hollywood/Barat? Untuk menekankan emosi? Untuk mempertegas maksud? Atau untuk apa? Sampai sekarang saya bertanya-tanya dan saya jadi lelah menonton film dari Barat sana.

Lebih baik kembali menonton drakor. Walaupun mereka memakai kata-kata yang mungkin sepadan dengan “F-Word”, namun logat bicara mereka yang seperti berkumur tidak membuat saya sadar kalau mereka sedang mengumpat.

 

2 thoughts on “Fungsi “F-Word” dalam Dialog Film

  1. lebih baik nonton drakor, eh tapi mau ntn yang mana? semua udah di bawah standar CLOY? hehehhe. soal F word jadi inget anak sma di Bandung dulu suka ngomong dengan an*ing hampit tiap kata. mungkin itu udah jadi bagian dari gaya bahasa gaul?

    Like

    1. parah nih CLoY udah jadi golden standard. drakor lain lewattt … kata ‘an****’ di bandung kan ditambahin ke kata sapaan atau disisipkan pas cerita yg seru ya. lah ini di film barat f-word dipake terus-menerus di depan kata kerja/benda/sifat/dst. puyeng

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s