Satu Hari Bersama Abang

Tentunya ga sehari penuh ya, karena masih ada papa, kakak, dan adiknya yang beraktivitas bersama saya.

Ini catatan tentang date bersama Abang hari ini sejak ia pulang sekolah sampai sekitar pukul 9 malam.

Hari Senin adalah hari yang Abang sukai karena tidak ada les apa pun. Biasanya hari Senin saya pakai waktu antara menjemput dia dan menjemput kakaknya untuk running errands. Urusan ibu rumah tangga itu banyak banget, bok.

Tadi setelah heboh pelukan dengan si Adek, si Abang bertanya, “Kita sekarang mau ke mana, Ma?”

Saya jawab, “Ke bank.”

Abang bersorak, “Horee,” karena dia suka sekali dengan staf di bank yang kami pakai. Mereka sangat ramah, perhatian, dan sering menanyakan kabarnya. Maklum, Abang sendiri seorang chatterbox jadi dia kegirangan kalau ada orang yang mengajak dia mengobrol.

Di bank itu ada playground dan dia suka bermain kuda-kudaan, lego, dan lain-lain bersama adiknya. Sesaat setelah kami masuk, Abang langsung disuguhi segelas Milo cokelat, minuman kesukaan dan langganannya. Abang juga langsung sibuk mengunyah segala macam kudapan yang ada.

Setiap kali saya pergi bersama Abang banyak yang mengira bapaknya orang asing, karena Abang berbahasa Inggris hampir setiap saat. Bapaknya orang Surabaya asli gitu lho, dan Abang memang lebih memilih berbicara dalam bahasa Inggris dengan saya.

Tadi saya didatangi seorang staf baru waktu saya sedang bercakap-cakap dengan Abang. Dengan kikuk dia melihat kami bergantian dan berbisik, “Bu, saya malu mau nyapa anak Ibu. Dia cuma bisa bahasa Inggris ya?”

Abang langsung menimpali, “Aku bisa bahasa Indonesia, kok.”

Staf itu terlihat terkejut dan kami pun tertawa bersama.

Abang baru bisa berbicara lancar di usia 3 tahun 5 bulan. Pengalaman dengan kakaknya yang bingung bahasa dan baru bisa berbicara lancar di usia 4 tahun tidak membuat saya kapok untuk memperkenalkan langsung 2 bahasa pada Abang. Dalam pekerjaan dan korespondensi formal/informal kami sehari-hari saya dan suami memang menggunakan 2 bahasa itu secara aktif, jadi kenapa kami harus menahan diri supaya tidak berbahasa Inggris? Dan terus terang saja, alasan sebenarnya adalah saya yang sudah tidak tahan memutar TV, musik, dll semua dalam bahasa Indonesia. Ah sudahlah, saya pikir, nanti si Abang pasti bisa berbicara sendiri kalau waktunya sudah tiba.

Waktu itu ada libur di akhir semester 1 dan guru si Abang memanggil saya ke sekolah. Abang masuk ke playgroup baru sekitar 5 bulan dan dia tidak suka sekolah. Dia selalu membawa mobil mainan supaya dia bisa tetap merasa aman, tidak mau berbicara pada siapapun, tidak mau bermain dengan anak lain, tidak mau mengerjakan tugas di sekolah, tidak mau mendengarkan instruksi, pokoknya dia menjadi anak yang sulit ditangani.

Gurunya ada 2 orang, yang sudah  berpengalaman hampir 2 dekade dan yang baru lulus 2 tahun lalu. Guru yang muda menyarankan supaya Abang berhenti sekolah dulu. Mungkin ia akan menunjukkan hasil yang lebih baik kalau masuk sekolah lagi di usia yang lebih matang.

Saya mendengar ini down banget dong. Saya kira sekolah akan berpartner dengan saya untuk memperbaiki berbagai kekurangan Abang, eh ini anaknya malah “diusir secara halus” dari sekolah.

Untungnya, guru yang lebih senior tidak setuju dengan saran guru tersebut. Dia menyarankan saya untuk menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris secara bergantian, 1 minggu bahasa Indonesia dulu diikuti dengan bahasa Inggris 1 minggu kemudian, begitu seterusnya sampai masa liburan selama 4 minggu selesai.

Saya menuruti saran beliau karena saya melihat hatinya yang bijak dan benar-benar peduli pada Abang. Setelah 4 minggu hasilnya kelihatan jelas, Abang memang lebih memilih berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Sejak saat itu jenis komunikasi diseragamkan di rumah dan di sekolah, dan kemampuan bahasa Inggris Abang berkembang dengan natural. Guru senior itu menjadi wali kelas Abang selama 3 tahun di TK, dan saat Abang sangat siap untuk melanjutkan ke SD kami sadar kami sangat berhutang budi padanya.

Lalu bagaimana dengan bahasa Indonesia si Abang? Bahasa Indonesianya banyak berkembang setelah dia banyak bermain dengan teman-teman sekelasnya mulai usia 5 tahun. Lucunya, setiap kali dia habis bicara bahasa Inggris, dia akan mengulang kalimat yang sama dalam bahasa Indonesia. Dia memang suka mencek apakah terjemahannya benar. Dan terjemahan yang dia paling suka adalah:

Eng: What did I tell you?

Ind: Tuh kan?

Terjemahan paling pendek, katanya, hehe.

Untuk date malam ini dengan Abang, kami pergi ke mal karena sepatu sekolahnya tiba-tiba rusak. Setelah dari toko sepatu kami melipir ke hypermarket untuk belanja bulanan. Dasar anak cowok yang logis, dia langsung minta shopping list. Saya jadi terbantu supaya tidak membeli yang tidak perlu dan tidak melupakan barang yang sudah habis di rumah, hehe. Isi trolley pun dia atur dengan rapi sampai di depan kasir.

Di setiap lorong saat kami berpapasan dengan mbak-mbak SPG pasti ada saja yang bertanya, “Bapaknya bule ya?” karena kami terus berbahasa Inggris. Karena Abang tidak mengerti arti kata “bule”, ya kami diam saja.

Jalan berdua dengan Abang dan mengobrol dalam bahasa Inggris dengannya adalah satu dari sekian banyak hal yang akan saya rindukan di kala ia tumbuh dewasa dan pergi jauh. Sepanjang perjalanan pulang kami ngemil wafer Loacker. Wafer ini jadi makanan wajib saat date berdua saja dengan masing-masing anak.

Dengan Adek sudah, dengan Abang sudah. Asyik, besok waktunya jalan sama si Kakak.

 

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s