Menuntun Anak Mengidentifikasi Emosinya

Sejak April 2018 saya mulai belajar piano dari nol. Berbekal kemampuan membaca not balok dan ingatan belajar organ 20 tahun yang lalu, saat ini saya sudah mencapai Grade 3 (entry level: Pre-Primary 1, 2, 3, kemudian Grade 1, 2, 3, dan seterusnya).

Motivasi saya belajar piano adalah untuk mengajari anak sulung saya. Dia belajar piano sejak umur 3 tahun dan sudah ganti tempat les berkali-kali. Bahkan dia pernah punya 5 guru dalam kurun waktu 4 tahun! Kalau menelisik buku pelajarannya sepertinya materinya tidak terlalu sulit, tapi saya tidak tahu harus mulai mengajari dari mana.

Akhirnya saya minta guru anak saya yang sekarang untuk juga memberikan les pada saya. Saya sudah bertekad untuk mencapai level yang minimal sama, atau lebih tinggi darinya, supaya saya bisa menjadi kepanjangan tangan gurunya untuk membimbing latihan di rumah.

Orang bilang belajar musik lebih mudah bagi anak-anak karena mereka menyerap informasi seperti spons, tapi menurut saya sebaliknya. Orang dewasa akan lebih cepat belajar karena mereka punya target, sehingga mereka tidak gampang kalah oleh rasa malas, bosan, atau mood lain yang tidak mengenakkan seperti halnya pada anak-anak.

Tahun lalu saya berencana mengambil ujian piano Grade 2, namun guru kami menantang saya untuk langsung mengambil Grade 3 dengan waktu persiapan 1 tahun lebih lama. Sementara itu anak saya akan mengambil ujian Grade 2 tahun ini setelah ujian Grade 1 tahun lalu.

Tadi sepulang sekolah anak saya tiba-tiba bertanya, “Mama sekarang sudah Grade berapa?” Saya jawab, “Grade 3.” Dahinya mulai berkernyit,  bibirnya mulai manyun, “Kok bisa, kan aku mulai lebih dulu dari Mama.” Saya menimpali, “Ya bisa, kan Mama rajin latihan,  jarang mengulang PR seperti kamu.”

Tak disangka respon dari saya berujung drama.

Setengah jam sebelum les piano siang tadi dia mengomel, uring-uringan, ogah-ogahan berlatih PR. Saya merasa kesal, diperlakukan tidak adil, kenapa saya dimarahi karena saya sudah bekerja lebih keras dari dia?

Sampai di tempat les suasana hati saya dan anak saya masih tidak enak. Bersyukur sekali guru piano kami bukan hanya berperan sebagai guru, tapi dia juga mau membantu mendidik supaya anak saya memiliki attitude yang baik. Pengalaman mengajarnya selama puluhan tahun juga membuat dia mudah berkomunikasi dengan anak-anak. Jadi setelah les selesai kami bertiga mulai bicara dari hati ke hati.

Kebetulan kemarin saya membaca sepintas sebuah artikel yang menyinggung tentang CO-regulation (connecting with others) dan SELF-regulation (connecting with yourself), dan menyimpulkan bahwa kemampuan connecting dengan diri sendiri dan kesehatan mental seorang dewasa sangat ditentukan oleh pengalaman connecting-nya dengan orang lain selama tahun-tahun pertama hidupnya.

Seorang bayi belum bisa SELF-regulate; dia belum bisa berpikir dengan utuh dan mengartikulasikan dengan jelas apa yang dia rasakan. Menangis, menjerit, tantrum adalah cara dia untuk mendapatkan CO-regulation dari orang tua/pengasuh yang akan membantu dia menjalankan SELF-regulation.

Orang tua/pengasuh mengajarkan CO-regulation melalui kehadiran, sentuhan, nada suara, dan seiring dengan pertumbuhan usia bayi, dengan kata-kata. Inspirasi yang saya dapatkan dari artikel itu adalah SELF-regulation bisa dimulai dengan kemampuan mengidentifikasi emosi yang kita rasakan kapanpun dan dalam kondisi (semudah/sesulit) apapun, dan mengucapkannya. Jadi bukan semata-mata merasakan kesedihan, tapi juga mampu mengatakan, “Saya sedih.”

Penjabaran emosi secara mendetail sangatlah berguna. Sebagai contoh: daripada hanya mengatakan “saya resah”, kita bisa menjabarkan: saya resah karena taksi yang saya pesan tidak kunjung datang. Saya khawatir terlambat sampai di kantor. Saya takut dimarahi atasan saya. Saya tidak suka dipandang remeh oleh rekan kerja saya. Dengan merinci perasaan ke jenis-jenis emosi yang lebih jelas dan lebih umum diketahui, kita bisa lebih fokus menindaklanjuti emosi tersebut satu-persatu sampai kita kembali ke keadaan tenang (SELF-regulated).

Kira-kira seperti itu.

Dengan kondisi hati galau (baca: tidak suka dimarahi anak sendiri hanya karena kemampuan main piano saya lebih tinggi darinya), saya memancing anak saya untuk mengidentifikasi dan mengungkapkan emosi yang sedang melandanya.

Perlahan-lahan terucap bahwa ia merasa:

1. Iri hati

Aku belajar piano lebih dulu dari Mama, kenapa level Mama lebih tinggi? Seharusnya sama atau lebih rendah dari aku.

2. Malu

Mama latihan piano di sela-sela kesibukan mengurus 3 anak, rumah, dan lain-lain. Aku yang hanya belajar di sekolah dan tempat les tidak sempat latihan serajin mama.

3. Merasa terancam

Sampai saat ini aku yang paling pintar main piano di rumah, tapi ternyata Mama lebih pintar.

Dengan dia mengidentifikasi emosinya dan mengartikulasikan dengan baik apa yang dia rasakan, saya jadi bisa mundur sejenak untuk memikirkan respon yang tepat. Saya bisa meng-counter emosi-emosi negatif itu dengan rencana/solusi, mengubahnya menjadi motivasi untuk lebih rajin berlatih piano supaya dia bisa naik level dan tidak lagi iri hati/malu/merasa terancam oleh saya (atau oleh orang lain, dan bukan hanya soal keahlian bermain piano). Bagaimanapun juga seorang anak adalah cerminan dari orang tuanya. Emosi-emosi anak saya timbul karena karakternya yang kompetitif, dan sebagai orang yang juga kompetitif saya mengerti betul apa yang dia rasakan.

Saya ingin menerapkan hal ini untuk masalah-masalah lain di masa depan, dan dalam menghadapi anak-anak saya yang lain. Soalnya belum 24 jam sejak hubungan saya dengan anak sulung baik kembali, eh si anak tengah berulah. Pulang latihan taekwondo dia mengomel sepanjang jalan untuk menjemput bapaknya. Dia mengeluh tidak suka ini, tidak suka itu, tidak suka Mama, tidak suka Papa, dll, dst, dsb. Kalau semua dimasukkan ke hati, rambut saya sudah putih dari kapan tahun. Tapi sambil menyetir dan membuat dinding mental supaya saya tidak marah karena perkataan-perkataan dia yang sembarangan, saya bertekad untuk menerapkan SELF-regulation padanya.

Sampai di kantor suami saya langsung menoleh ke bangku belakang, sudah siap tempur untuk bicara panjang lebar, eh ternyata si anak tengah sudah tidur terkapar. Oh ternyata kondisi fisik yang kelewat lelah menjadi faktor utama kekacauan pikiran dan perasaannya.

Baiklah, kita heart-to-heart besok saja ya, Nak.

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s