Jalan Panjang Menuju Pemilu

Tahun 2012 sepulang dari Swis kami berencana membuat e-KTP tapi tidak bisa karena blankonya kosong. Rekam biometriknya nanti saja kalau sudah ada blanko daripada datanya tidak jelas disimpan di mana, begitu kata orang kantor desa. Kami manut saja karena toh KTP waktu itu masih berlaku, dan di tahun itu mulailah hiruk-pikuk dugaan korupsi seputar proyek e-KTP.

Waktu Pemilu 2014 kami sangat antusias memilih; apa daya surat panggilan memilih tidak datang sampai hari H. Sambil harap-harap cemas saya datang ke TPS dekat rumah dengan membawa KTP dan KK yang masih berlaku dan untunglah masih ada surat suara sisa. Sayangnya suami tidak bisa memilih karena sedang opname di rumah sakit dan jumlah surat suara di sana kurang dari jumlah pasien yang berhak ikut Pemilu.

Aneh ya, kami warga terdaftar sejak tahun 2009 tapi tidak pernah mendapat surat panggilan memilih baik untuk Pilkada maupun untuk Pilpres.

Demi Pemilu 2019, kami berdua memulai perjuangan panjang untuk mendapatkan e-KTP.

Pertama, kami datang ke Dinas Kependudukan Kabupaten Bekasi pada bulan Agustus 2018. Begitu tiba di sana kami langsung putus asa. Bayangkan, nomor antrian dibatasi sampai 400 saja untuk segala urusan kependudukan, mulai dari kelahiran, pernikahan, e-KTP, kematian, semuanya campur-baur. Orang-orang mulai antri dari pukul 5 pagi di dalam satu ruangan sempit ber-AC tapi dipenuhi asap rokok. Pukul 8 nomor antrian sudah habis dan yang tidak dapat nomor di hari itu harus kembali lagi keesokan harinya, begitu seterusnya sampai dapat.

Setelah tanya sana-sini ke beberapa petugas yang semuanya memberikan informasi berbeda, kami disarankan pergi ke kantor kecamatan. Proses mendapatkan e-KTP mungkin lebih lama, tapi blanko pasti ada karena sudah ada alokasi ke setiap kecamatan dan antriannya (katanya) tidak separah di kantor kabupaten. Setelah segala macam rekam dan usaha untuk memperbaiki nama panjang saya, akhirnya kami mendapatkan nomor pengambilan e-KTP satu bulan kemudian (27 September 2018).

Seperti pengalaman sebelumnya dalam mengurus administrasi di kantor pemerintahan (kartu keluarga, akte lahir 2 anak), waktu pengambilan dokumen yang sudah selesai pasti molor beberapa bulan ke depan. Benar saja, e-KTP kami baru dicetak 1 Maret 2019, alias hampir 6 bulan dari tanggal awal yang dijanjikan.

Berhubung e-KTP kami selesai mepet sekali dengan Pemilu 17 April 2019, kami segera mencek website KPU dan tidak mendapati nama kami di DPT. Keesokan harinya saya pergi ke kantor desa dan menunggu lama sekali supaya bisa bertemu dengan penanggung jawab Pemilu. Saya lihat di pintu dan kaca jendela banyak sekali stiker wajah salah satu paslon. Di pintu masuk kantor desa dan beberapa ratus meter dari situ juga banyak sekali spanduk ajakan memilih si nomor :///&.

Katanya ASN harus netral dan tidak boleh memihak salah satu paslon, kenyataannya?

Oleh karena bayi saya yang berusia 4 bulan sudah rewel (kantor desa itu penuh asap rokok dan bau sekali), saya memberanikan diri mencegat salah seorang pegawai di situ dan berkata, “Tolong dong, Pak, nanti saya ga bisa milih nomor :///&.”

Ajaib, saya langsung dipersilakan menemui ketua panitia Pilpres untuk desa saya dan mengisi formulir permohonan ikut Pemilu. Aneh sekali ya. Saya sudah punya e-KTP, data saya terkomputerisasi, tetapi mereka tidak bisa menarik data pemilih hanya dari kategori usia >= 17 tahun. Apa dengan mengisi formulir tersebut kami dipastikan mendapat surat suara? Ternyata tidak. Saya disuruh untuk ‘lihat nanti’, apa nama kami masuk ke DPT, atau tidak.

Sampai hari H nama kami berdua tidak ada juga, jadi dengan harap-harap cemas kami ikut mengantri bersama puluhan orang lain di TPS dekat rumah 30 menit sebelum pukul 12 siang. Tepat pukul 12, ketua RW di lingkungan kami membagikan kertas suara sisa dan semua yang mengantri di siang yang panas itu ternyata bisa ikut mencoblos.

Hati girang bukan kepalang saat mencelupkan jari kelingking ke dalam tinta ungu. Semoga segala jerih payah dan suara kami akhirnya terpakai untuk memilih pemimpin  Indonesia untuk 5 tahun ke depan.

Demi Indonesia maju dan sejahtera.

 

 

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s