Bukan Kampret, Apalagi Cebong

Mamak dongkol.

Menjelang debat Pilpres putaran kedua timeline di medsos mamak mulai penuh dengan orang kelahi. Sudah banyak yang ku-unfollow waktu Pilpres 2014, ada juga yang ujung-ujungnya ku-unfriend karena sudah terlalu menyebalkan. Bayangkanlah, pagi-siang-malam, politik terus bahasannya. Isi medsos-nya penuh dengan sanjungan buat capres pilihannya, tapi lucunya ga ada opini dia yang orisinil. Semuanya hasil copas dari timeline orang lain atau comot dari situs berita online, entah gimana kredibilitas situs-situs itu.

Kupikir waktu itu, dan kupikir juga sekarang, enak kalilah hidup kawan ini ya. Ga diselesaikannya kah kuliahnya? Ga dicarinya kah makannya? Ga ditegur bosnya kah waktu dia pegang HP terus? Macam betul aja orang mau fokus kerja kalau sehari bisa lebih dari tiga kali ganti status soal Pilpres.

Mamak kira bersih-bersih lima tahun lalu sudah cukuplah untuk menjaga kewarasanku, seperti prinsip hidupku bahwa bukan orang waras yang ngalah, tapi orang waras yang harus bisa mempertahankan kewarasannya. Ternyata aku salah besar. Walau sudah banyak akun yang ku-unfollow, ku-unfriend, bahkan ku-block karena koar-koarnya sudah keterlaluan soal Pilpres/hidup/mati/surga/neraka, eh bocor juga di newsfeed-ku tulisan-tulisan mereka yang menyebut diri pegiat media sosial.

Pegiat media sosial? Profesi baru nya itu? Kutengok sikit fanpage mereka dan kusimpulkan bahwa kawan ini adalah komentator buat semua peristiwa yang terjadi di luar dirinya. Pekerjaan sehari-hari? Ga ada kejelasan.

Darah Mamak sedikit mendidih waktu si pegiat ini sok-sokan membandingkan pemilihan presiden dengan pemilihan calon suami/menantu/mertua, dan seterusnya. Perlu kurasa kawan ini google banyak-banyak biar dia ngerti sikit pemilihan presiden itu pemilihan administrator pemerintahan. Asal kau tahu, kawan, administrator itu orang yang mengatur, mengurus, menjalankan; ibaratnya manajer lah di suatu perusahaan.

Bangsa ini perlu administrator, supaya negeri yang (kata orang) kaya raya tapi orang-orangnya suka kali berkelahi ini bisa punya hidup yang layak, yang cukup untuk generasi sekarang dan seterusnya. Ga ada itu kita pilih calon presiden kayak kita pilih calon suami/menantu/mertua dan seterusnya, wong Pilpres ini cuma jalan setiap lima tahun sekali.

Kandidat datang dan pergi, partai politik musuhan dan baikan, semuanya tergantung kepentingan. Kalau rakyat suka sama satu orang presiden, dia bisa terpilih untuk lima tahun lagi. Kalau tak suka, ada orang lain yang akan terpilih. Emangnya kau mau pilih itu suami/menantu/mertua untuk jangka waktu lima, maksimal sepuluh tahun? Macam betul aja kau ini.

Oleh karena yang kau cari adalah administrator negara yang job specification dan job description-nya sudah ada di dalam UUD dan UU, maka kau turutilah aturan-aturan itu. Bukan urusanmu kalau si calon saat ini single, cuma rujuk sama mantan istrinya kalau mau Pemilu. Ga ada disebutkan di UUD/UU seorang presiden harus punya istri, anak-mantu yang tidak luntang-lantung, dan cucu yang lucu-lucu. Dan bukan urusanmu pula kalau anak si calon tinggal dan berkarir di luar negeri dengan segala gaya hidupnya; yang kau mau pilih kan bapaknya bukan anaknya.

Ada kawan yang tanya, “Tapi, Mak, kalau dia ga becus urus keluarga, gimana pula dia mau urus negara?” Hei, kawan, kukasih tahu kau ya apa yang kupelajari waktu aku masih kerja di HRD. Waktu rekrutmen karyawan baru hanya ada dua hal yang kami cari: orang yang sudah berpengalaman atau fresh graduate.

Kalau posisi yang kosong itu perlu orang yang sudah berpengalaman, wajarlah kalau kami tanya-tanya gimana pekerjaannya di tempat yang lama, apa situasi/tugas yang dia hadapi/terima, apa yang dia lakukan untuk mencapai hasil maksimal. Dari jawabannya kami bisa nilai, kira-kira orang ini cocok atau tidak untuk kerja sama kami. Nah, untuk fresh graduate kami modifikasi sikit pertanyaannya karena pengalaman kerja dia pun tak punya. Kami tanya-tanya, dulu dia ikut organisasi apa, kepanitiaan apa, mendapat tugas apa, pernah berhasil melakukan apa, gitu-gitulah. Dari situ kami nilai mentalitasnya, bisa ga orang ini kerja keras untuk menguntungkan perusahaan.

Mamak kira ga cocok kalau kemampuan seorang capres membina rumah tangga kau jadikan acuan untuk memimpin negara. Jabatan presiden perlu pengalaman kerja bukan pengalaman berkeluarga, dan dari sharing-ku di atas, paling masuk di akalku kalau kita pilih calon yang sudah punya pengalaman jadi presiden.

Orang itu sudah tahu sistem, punya visi-misi, punya tim yang bisa dipimpin dan dituntut hasil kerjanya, kenapa pula tak kita kasih dia kesempatan untuk menyelesaikan apa yang dia sudah mulai selama masih ada waktu? Kalau orang yang menduduki kursi presiden diganti tahun ini, aku hanya khawatir banyak pekerjaan yang akan berhenti di tengah-tengah.

Pilpres itu seperti re-organisasi di suatu perusahaan, dan dari pengalamanku, re-organisasi itu ibarat mengguncang satu pohon besar yang dahan-dahannya diduduki ratusan burung. Setelah diguncang, pohon dan dahan-dahannya tidak berubah, tapi posisi burung-burung semuanya berubah. Kenapa pula kita mencari disrupsi kalau kita masih bisa hidup dengan stabilitas?

Jadi jelas ya kalian orang yang suka kali melabeli diri, berkumpul dalam kubu, berani kalau ramai-ramai saja; jangan kau buat Pilpres ini jadi pemisah antara kau dan keluargamu, tetanggamu, sahabatmu, temanmu, kenalanmu. Ga usah kau paksa-paksa orang pilih si A, si B, karena kata oppung Mamak, “Lover’s gonna love, hater’s gonna hate, bro.”

Setiap orang sudah punya pilihan masing-masing dengan sejuta alasan di belakangnya dan mereka ga punya kewajiban menjelaskan alasan-alasan itu padamu. Lagipula, siapa yang tahu siapa yang dipilih setiap orang di dalam bilik suara itu? Yang dihitung KPU adalah data rekapitulasi, bukan pilihan setiap individu.

Semua deklarasi mendukung si A, si B tak ada poinnya di mata Mamak, karena tak ada yang bisa memverifikasi apakah orang itu benar-benar pilih calon yang dipromosikannya. Kukira ada baiknya asas LUBER saat Pemilu diteruskan ke orde Reformasi, karena pilihan politik itu wilayah privat. Bukan urusanku siapa yang kau pilih, bukan urusanmu siapa yang kupilih.

Jadi kawan-kawan yang masih bangga bersalin rupa menjadi kampret dan cebong, sadarlah. Bubarlah. Stop lihat dirimu dan orang lain sebagai ‘aku’ dan ‘kamu’, dan mulailah melihat ‘kita’. Kita ini satu bangsa, lahir dan besar di sini, menjalani hidup dan mencari nafkah di sini; mulailah kita pikirkan kebaikan bersama.

Mamak punya pilihan politik, tapi aku tak sudi dilabeli sebagai kampret, apalagi cebong. Kenapa pula aku disandingkan dengan kampret yang hidupnya terbolak-balik? Aku masih manusia normal, kakiku menginjak bumi, malam aku tidur bukannya mencari mangsa. Apalagi disandingkan dengan cebong! Organnya tak lengkap, cuma sebentuk massa seperti kepala yang tersambung dengan ekor, sedangkan aku manusia dengan panca indera yang semuanya bekerja dengan baik.

Pikirkanlah baik-baik ocehan Mamak ini ya. Demi kewarasanmu, demi hubunganmu dengan orang lain. Pada waktunya nanti, pergilah kau ke bilik suara itu, cobloslah sesuai dengan pertimbangan akal sehatmu, dan berhentilah sampai di situ. Tak usah kau rundung saudaramu yang berbeda pilihan.

Para politikus itu kalau ketemu asyik-masyuk swafoto kok, ngapain pula kau di akar rumput sibuk kelahi, berantem sama keluarga, hilang saudara, putus sama pacar gara-gara kau pilih si nomor 1, dan bukan si nomor 2?

5 thoughts on “Bukan Kampret, Apalagi Cebong

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s