Menonton Sambil Makan di Bioskop Adalah Sebuah Pilihan

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah lepas dari pengambilan keputusan. Kita membuat keputusan tentang apa yang kita makan, apa yang kita pakai, ke mana kita pergi, siapa yang kita temui, dan seterusnya; daftar ini tak berkesudahan. Saat hendak mengambil suatu keputusan adalah wajar jika kita meminta saran, nasihat, atau bahkan persetujuan, dari pihak lain (seperti: anggota keluarga, guru, rekan kerja, bos di kantor, dll.). Akan tetapi, kita harus selalu ingat bahwa kita bertanggung jawab atas konsekuensi dari setiap keputusan yang kita ambil (mengenai hal apa pun juga).

Kita hidup di negara yang merdeka, tidak ada sistem penjajahan dan perbudakan di tanah air kita. Dalam mengambil keputusan kita memiliki kebebasan yang hanya dibatasi oleh: 1) aturan yang dibuat oleh otoritas yang berwenang, dan 2) kewajiban untuk menghormati dan menjaga hak-hak milik orang lain.

Mau ke sekolah tanpa mengenakan seragam? Bisa saja, kalau itu bagian dari aturan sekolah. Lebih suka makan di mal daripada di warteg? Silakan saja, itu bagian dari preferensi pribadi. Mau mengendarai motor tanpa helm dan ugal-ugalan di jalan raya? Tentu tidak boleh, karena jalan raya adalah fasilitas yang dipakai bersama (HAK) dan ada polisi sebagai wakil dari pemerintah untuk membuat dan menegakkan aturan berkendara (KEWAJIBAN), supaya tercipta ketertiban dan kenyamanan bagi semua pengguna jalan raya.

Mau menonton film Hollywood terbaru? Ada banyak pilihan. Kita bisa pergi ke salah satu jaringan bioskop yang ada, streaming di aplikasi seperti Hooq, atau menunggu film tersebut disiarkan di tv kabel atau televisi swasta nasional (yah, kira-kira menunggu antara satu sampai tiga tahun).

Melihat begitu beragamnya cara untuk mengakses suatu film, apa yang membuat menonton di bioskop tetap terasa lebih menarik dibandingkan di media lain?

  1. Akses terhadap film-film paling baru.
  2. Layar yang lebar dan sound system yang mendukung.
  3. Tempat yang besar dan nyaman jika pergi menonton beramai-ramai.

Menonton di bioskop berarti secara tidak langsung kita menundukkan diri pada aturan-aturan yang diberlakukan oleh pengelola bioskop, seperti:

  1. Anak berusia mulai dari 3 tahun harus membeli tiket tersendiri. Pengelola bioskop tidak mau tahu apakah si anak duduk dipangku oleh orangtuanya, atau bahkan tertidur, selama film berlangsung. Pokoknya waktu petugas di pintu masuk teater melihat fisik anak dan mengetahui umur anak sudah mencapai 3 tahun, anak akan diminta untuk membeli tiket terpisah.
  2. Dilarang merekam film yang sedang berlangsung dalam alat apa pun untuk mencegah pembajakan film.
  3. Menonaktifkan gadget dan tidak mengangkat kaki ke atas kursi untuk kenyamanan penonton lain.
  4. dan yang sedang menjadi perdebatan saat ini: Dilarang membawa makanan dan minuman dari luar area bioskop.

Apakah menjual makanan dan minuman adalah core business dari sebuah jaringan bioskop? Bukan. Snack corner  ini hanyalah usaha sampingan dari pengelola bioskop, karena secara nalar pasti ada penonton yang ingin mengemil selama menonton film yang rata-rata berdurasi lebih dari 1.5 jam. Pengelola bioskop membuat snack corner karena melihat ada peluang, yang kemudian dimanfaatkan untuk mendapatkan profit tambahan dengan menggunakan area yang memang dia sudah sewa untuk operasional usahanya.

Bisnis bioskop memerlukan modal yang besar lho, mulai dari: 1) sewa tempat, 2) pengkondisian ruangan teater supaya kedap suara, 3) pengadaan layar, sound system, kursi penonton, 4) dll. Dan pendapatan dari bisnis ini sangat bergantung pada jumlah penonton yang berfluktuasi dari waktu ke waktu akibat: 1) review/kualitas film yang ditayangkan, 2) efektivitas dari aktivitas promosi film yang ditayangkan, 3) tanggal-tanggal tertentu saat orang-orang baru menerima gaji/bonus/THR dan memiliki pendapatan ekstra yang dialokasikan untuk leisure activities (salah satunya adalah menonton film di bioskop, 4) dsb.

Bagaimana cara pengelola bioskop menentukan harga tiket nonton dan snack yang dijual? Kuncinya hanya dua:

  1. Mengacu pada hasil survey, seperti survey pendapatan dan daya beli masyarakat di sekitar area bioskop. Harga tiket dan snack di pusat kota Jakarta tentu berbeda dengan di kota kecil seperti Cirebon.
  2. Hukum supply and demand. Jika ada banyak supply, dalam artian ada banyak pilihan bioskop di suatu daerah, harga tiket nonton dan snack bisa bersaing antar jaringan bioskop. Jika hanya ada satu pilihan bioskop dan ada banyak demand untuk menonton film di layar lebar, tak heran bila harga yang ditetapkan cenderung tinggi dan terkesan dimonopoli. Cara untuk menurunkan harganya mudah saja: dirikan jaringan pesaingnya di daerah tersebut.

Pengelola bioskop sebagai pemilik usaha berhak menetapkan aturan-aturan bagi orang-orang yang akan menggunakan jasa (menonton film) dan membeli barang yang ia tawarkan (snack). Dan kita sebagai pengunjung bioskop bebas memutuskan kita mau mengikuti aturan-aturan itu atau tidak. Sebagai penduduk sebuah negara yang merdeka kita bebas memilih pemasok untuk berbagai kebutuhan kita, termasuk di antaranya bebas memilih mau menonton film di bioskop atau di media lain, mau menonton film di jaringan bioskop X dan bukan Y, dan seterusnya.

Larangan untuk membawa makanan/minuman dari luar area bioskop bisa dilihat dari beberapa sisi. Sisi pertama, ini langkah pengelola bioskop untuk mengoptimalkan keberadaan snack corner yang ia miliki dengan tujuan untuk memaksimalkan profit. Tidak ada yang salah dari hal ini, karena setiap bisnis pasti bertujuan untuk mencapai profit, bukan?

Sisi kedua, ini langkah pengelola bioskop untuk mencegah kemungkinan terburuk seperti pengunjung bioskop mengalami keracunan makanan. Jika keracunan makanan terjadi di area bioskop, maka siapa yang akan diminta untuk bertanggung jawab? Ya, pengelola bioskop. Namun tanggung jawab ini bisa dituntut jika makanan yang dicurigai mengakibatkan keracunan adalah memang makanan yang dibuat, bisa dikontrol kualitasnya, dan dijual langsung oleh pengelola bioskop. Jika pengunjung bioskop keracunan makanan yang dia bawa dari luar area bioskop, maka hal ini akan menimbulkan kerumitan baik bagi pengelola bioskop maupun bagi pengunjung itu sendiri.

Saya akan protes jika harga tiket nonton digabung dengan harga snack. Saya akan melihatnya sebagai sebuah bentuk pemaksaan, karena tujuan utama saya pergi ke bioskop adalah untuk menonton film, bukan untuk makan/minum. Tapi saya tidak akan protes jika harga snack di dalam area bioskop lebih mahal dari di luar bioskop, karena saya melihatnya sebagai kewenangan penuh dari pengelola bioskop. Yang saya lakukan adalah saya bebas memilih untuk: 1) tidak makan/minum selama menonton film, atau 2) mengeluarkan uang lebih banyak karena saya ingin menonton sambil mengemil.

Akhir kata, menonton bioskop dan membeli snack di area bioskop adalah sama-sama sebuah kebebasan dan keputusan. Sama seperti pengelola bioskop yang bebas untuk memutuskan harga tiket dan snack yang dia jual, saya juga bebas untuk memutuskan menonton di jaringan bioskop mana dan membeli/tidak membeli snack untuk saya konsumsi selama saya menonton. Semua bergantung pada nilai tambah yang saya persepsikan akan saya terima (hiburan dari film yang saya tonton, perut kenyang akibat makan/minum snack), dan tentu saja bergantung pada ketersediaan uang di dalam dompet saya.

*) artikel terkait mengenai kebebasan dan keputusan bisa dibaca di sini: https://rijotobing.wordpress.com/2017/03/03/nobody-holds-a-gun-to-your-head/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s