Dua Kejutan Saat Hendak Berwisata ke Taiwan

Pada bulan Desember tahun lalu terjadi sebuah kesalahan kecil namun fatal yang mengakibatkan rencana liburan keluarga kami mendadak harus dialihkan dari Korea Selatan ke Taiwan. Berhubung jadwal cuti pekerjaan dan liburan sekolah sudah fixed, kami pun mengurus dokumen untuk visa, penukaran mata uang, dan pemesanan hotel selama berada di Taiwan dalam tempo kurang dari satu bulan. Bagaimana dengan persiapan itinerary perjalanan? Lupakan. Kami bahkan baru mencek moda transportasi dari Taoyuan International Airport menuju hotel di area Banqiao saat sudah mendarat di Taipei pada tanggal 21 Desember. Hehe.

Hal pertama yang kami urus adalah visa. Berhubung kami tinggal sekitar 40 km dari lokasi Kedutaan Besar Taiwan dan perlu cuti dari pekerjaan untuk mengurus hal ini, kami benar-benar mempersiapkan terlebih dahulu semua dokumen yang diperlukan untuk mengajukan Visitor Visa.

Di sinilah kami menemukan kejutan pertama.

Suami saya datang ke kedutaan dengan dokumen yang sudah lengkap. Saat hendak mengambil nomor antrian, satpam yang bertugas tiba-tiba bertanya apakah dia pernah mendapat visa dari atau pernah tinggal sementara di USA, UK, Australia, Jepang, Korea, negara-negara Schengen kurang dari sepuluh tahun sebelum bulan Desember 2017. Suami saya menjawab ‘pernah’. Bapak satpam lalu mengarahkan suami saya untuk membuat Travel Authorization Certificate dengan cara mengisi form online.

Pengajuan TAC memerlukan dokumen pendukung berupa visa atau surat keterangan tinggal di salah satu dari negara-negara yang saya sebut di atas. Dokumen pendukung yang suami saya gunakan adalah kartu tanda penduduk kami selama tinggal di Swis.

KTP Swis

Waktu kami tinggal di Swis anak kami yang kedua belum lahir, jadi kami tetap harus mengajukan visa wisata untuk dia. Saat visa selesai diproses kami diberitahu bahwa anak kami tidak memerlukan visa jika dia hendak mengunjungi Taiwan lagi. Dia cukup mem-print TAC dan bisa keluar-masuk Taiwan selama sepuluh tahun sejak tanggal penerbitan visa wisata pertama kali. Bagaimana dengan kami? Kartu tanda penduduk Swis milik kami berakhir pada tahun 2012, jadi kami memiliki kesempatan sampai tahun 2022 untuk masuk ke Taiwan dengan hanya menggunakan TAC. TAC ini berlaku untuk tinggal di Taiwan selama 90 hari berturut-turut sejak tanggal terbit.

Oya, biaya pembuatan TAC adalah gratis, sedangkan biaya pembuatan visa wisata untuk single entry  adalah Rp 650.000,00 per pemohon. Lumayan, kami jadi hemat biaya visa untuk tiga orang, hehe.

Sertifikat Autorisasi Perjalanan

Keberadaan TAC ini adalah usaha Taiwan untuk meningkatkan hubungan bilateral dan kerja sama ekonomi dengan negara-negara di bagian selatan negara Taiwan. Bukan tidak mungkin suatu saat warga negara Indonesia akan bebas visa untuk masuk Taiwan seperti halnya warga negara Filipina saat ini.

Satu hal yang perlu dicermati adalah pada umumnya staf maskapai penerbangan tidak familiar dengan keberadaan TAC. Bahkan staf di counter check-in maskapai penerbangan seperti SQ yang memiliki banyak rute di seluruh dunia kebingungan waktu melihat tidak ada visa Taiwan di paspor kami. Sebagai gantinya kami memberikan TAC, KTP Swis, tiket pulang-pergi, informasi hotel, dan tak lupa link ke website kedutaan Taiwan yang menjelaskan tentang TAC sebagai dokumen untuk masuk ke Taiwan. Berhubung TAC ini termasuk hal baru, staf memerlukan waktu antara 10-20 menit untuk mencari informasi dan memastikan kami menyediakan data yang benar. Waktu ini adalah di luar waktu untuk mem-print boarding pass dan menimbang koper, jadi usahakanlah untuk datang lebih awal untuk check-in.

Penerbangan kami dari Jakarta ke Taipei via Singapura dengan total waktu terbang 6 jam dan transit 6 jam.  Kami berangkat dari rumah pada pukul 2.30 pagi untuk mengejar pesawat pukul 5.30 ke Singapura. Saat transit di Singapura anak kami yang berusia 4 tahun mulai tidak enak badan karena bangun terlalu pagi dan tidak cocok dengan sarapan yang disediakan di dalam pesawat. Selama empat jam penerbangan dari Singapura ke Taipei dia tidur terus dan malas makan.

Walhasil waktu kami mendarat di Taipei kejutan kedua sudah menanti kami.

Kami mendarat sekitar pukul 16.30 waktu setempat dan dengan santai berjalan dari tempat turun pesawat menuju tempat mengambil bagasi. Anak pertama saya gandeng dan anak kedua digendong oleh suami saya. Alangkah kagetnya kami ketika kami tiba-tiba dicegat oleh Critical Diseases Center dari bandara Taoyuan. Tanpa disadari kami telah berjalan melalui kamera thermal dan suhu tubuh anak saya terukur 38.6 derajat Celcius.

Kami mulai diinterview (atau diinterogasi yah?) mengenai asal negara, riwayat kesehatan anak, dan histori perjalanan sebelum tiba di Taiwan. Indonesia ternyata termasuk salah satu negara yang berada dalam pengawasan karena banyak penyakit epidemis yang berasal dari negara kita, seperti: demam berdarah, malaria, flu burung, dll, yang dimulai dengan gejala awal demam. Dan suhu tubuh di atas 37.5 derajat Celcius sudah cukup untuk membangkitkan kecurigaan. Kami susah payah menjelaskan bahwa anak kami ini demam karena lelah dan kurang makan, tapi informasi dari kami cenderung diabaikan.

Sebenarnya sebelum traveling kami sudah menyiapkan obat-obat yang biasa dikonsumsi anak-anak saat sakit ringan (penurun panas, obat batuk, obat flu, obat alergi, multivitamin). Tak lupa kami menyertakan resep dan surat dokter yang menerangkan nama dan fungsi setiap obat dalam bahasa Inggris. Kesalahan kami adalah menyimpan obat-obat anak-anak di bagasi, walaupun resep obat kami bawa di tas handcarry, sehingga tidak bisa langsung memberikan obat penurun panas kepada anak kedua kami saat dia mulai demam di Singapura.

Akhirnya kami menerima surat peringatan dari CDC dengan berat hati. Pihak CDC mencatat hotel tempat kami menginap selama di Taiwan dan mengharuskan kami ke dokter dalam waktu 24 jam sejak mendarat untuk memeriksakan kesehatan anak kami. Kami juga harus segera menelepon kembali ke bandara untuk melaporkan hasil pemeriksaaan dokter.

Surat Peringatan dari CDC

Untungnya staf Hotel Cham-Cham tempat kami menginap selama dua minggu sangat fasih berbahasa Inggris dan sangat membantu kami. Mereka membantu mencarikan dokter yang bisa berbahasa Inggris dan mem-print peta lokasi tepatnya dalam bahasa Mandarin dan Inggris. Mereka juga menelepon ke klinik untuk memastikan dokter sudah datang/sedang praktek/sedang istirahat.

Pada hari berikutnya di Taipei anak kedua kami sudah sehat, segar-bugar, tidak demam, dan mau makan dengan lancar.  Namun demi memberikan laporan ke CDC kami tetap mengunjungi klinik dokter tersebut. Dokternya sudah tua dan sepertinya dokter umum/dokter keluarga. Pasien lain yang kami temui adalah mereka yang membawa anak-anak yang batuk-pilek. Dia memeriksa anak kami dan memberikan surat keterangan sehat dalam bahasa Mandarin dan catatan temperatur tubuh terakhir saat diperiksa. Ketika kembali ke hotel kami meminta staf hotel untuk membantu kami menghubungi CDC dan memberi tahu hasil pemeriksaan dokter. Semua pun beres dengan cepat.

Jika ternyata anak kami menderita salah satu penyakit epidemis yang ada dalam daftar CDC dan jika kami tidak ke dokter dan lalai melaporkan hasil pemeriksaan dokter, saat meninggalkan Taiwan kami bisa didenda antara NTD 10.000 sampai dengan NTD 150.000 (sekitar IDR 5 sampai 75 juta).

Tiga hal yang akan selalu kami ingat jika menghadapi otoritas seperti CDC ini ke depannya adalah:

  1. Memberikan informasi yang jujur. Menyembunyikan informasi hanya akan mempersulit proses kita selanjutnya. Kendala pertama saat berkomunikasi dengan petugas bandara adalah bahasa. Kami berbahasa Inggris dengan aksen Indonesia dan petugas memakai bahasa Inggris dengan aksen bahasa ibunya. Gunakanlah kalimat-kalimat sederhana untuk menghindari menambah keruwetan saat berkomunikasi.
  2. Taat aturan. Jika diperintahkan untuk pergi ke dokter dan melaporkan kondisi kesehatan dalam waktu 24 jam sejak ‘ditangkap’ oleh CDC, maka turuti saja. Kita adalah tamu di negara orang lain yang diwajibkan menuruti aturan setempat. Untuk ke depannya mungkin kami akan mulai membeli asuransi perjalanan yang juga mencakup penggantian biaya pengobatan medis. Tarif periksa dokter umum di Taipei hampir tiga kali lipat tarif periksa di Jakarta.
  3. Selalu sedia paracetamol di tas untuk orang dewasa dan anak-anak, hehehe.

Secara keseluruhan perjalanan wisata kami ke Taiwan menimbulkan kesan yang mendalam mulai dari persiapan, jalan-jalan dan menikmati malam tahun baru 2018 di Taipei, sampai kembali ke tanah air. Semoga kami bisa kembalike Taiwan untuk menjelajahi kota-kota lainnya.

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s