Calon Politikus: Mencari Dukungan Lewat Jaringan Pertemanan

Pada tahun 2017 lalu saya diajak mengikuti reuni dengan teman-teman kuliah untuk merayakan 17 tahun sejak pertama kali berkenalan. Sebelum reuni berlangsung saya juga diundang masuk ke group Whatsapp alumni angkatan, dimana saya masih bertahan di situ sampai sekarang. Teman-teman kuliah saya adalah orang-orang yang tidak pernah kontak/berkomunikasi dengan saya selama kurang-lebih 13 tahun sejak saya kembali ke Indonesia dari mengikuti program pertukaran mahasiswa, jadi saya menganggap reuni dan keterlibatan dalam group WA sebagai sebuah kemungkinan awal yang baru dari sebuah pertemanan, tanpa embel-embel nostalgia atau kenangan dari masa kuliah dulu.

Seiring dengan berjalannya waktu saya mulai bisa memetakan isi percakapan di dalam group WA, antara lain sebagai berikut:

  1. Berdagang: informasi, penawaran, dan promosi barang/jasa yang dijual anggota-anggota group.
  2. Pertukaran informasi: mulai dari cara mendapatkan tabung elpiji 3 kg berwarna pink sampai dengan cara menggunakan kartu e-toll.
  3. Mencari informasi: buat yang memerlukan jasa asisten rumah tangga, konfeksi, review film di bioskop yang aman buat anak-anak, dll.
  4. Pertukaran pikiran: berhubung teman-teman seangkatan saya rata-rata sudah memiliki posisi mapan di perusahaan-perusahaan tempat mereka bekerja, group WA menjadi ajang buat mereka bertukar ide tentang tren dan kebutuhan dunia kerja ke depan, mendirikan start-up company, sampai menjadi social entrepeneur.
  5. Politik: diskusi tentang peta politik tanah air (sebuah tindakan yang bisa membuat dikotomi di dalam group WA itu sendiri) sampai ajakan untuk masuk ke dunia politik praktis.

Poin 1 sampai 4 lazim ditemui di group-group WA lain di mana saya tergabung, namun poin 5 baru kali ini saya temui di group WA almamater kuliah ini.

Pancingan utama supaya orang-orang seusia saya ikut terlibat dalam dunia politik praktis adalah ajakan untuk membuat perubahan.

Saya dan teman-teman seangkatan berada di usia produktif dimana kami mulai memikirkan bagaimana cara memberikan kontribusi positif dan menjadi agen perubahan bagi masyarakat di sekitar kami selain bagi keluarga dan tempat kerja. Ada yang memilih berubah dari diri sendiri dan lingkungan terdekat, dan ada juga yang mencari wadah yang lebih besar untuk membawa perubahan pada khalayak yang lebih luas.

Saya sendiri memiliki sikap apatis dan pesimis terhadap dunia politik di Indonesia. Menjadi politikus sebagai agen perubahan untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih baik di sekitar kita adalah suatu gagasan yang idealis, romantis, dan tidak praktis.

Republik Indonesia sudah berdiri selama hampir 73 tahun dan sistem pemilihan wakil rakyat di badan legislatif daerah dan pusat masih tetap melalui kendaraan partai politik, walaupun: 1) cara ini telah terbukti tidak efektif dan efisien untuk mendapatkan orang-orang yang benar-benar peduli dengan orang-orang yang diwakilinya, dan 2) cara ini telah terbukti paling mudah dikorupsi untuk kepentingan pribadi.

Yang maju menjadi calon wakil rakyat pada umumnya bukanlah orang-orang yang punya rekam-jejak memperjuangkan kepentingan dan kesejahteraan publik melalui pekerjaan/peran sosialnya di dalam masyarakat tempat ia tinggal, seperti yang dilakukan oleh mantan presiden Amerika Serikat Barack Obama dan perdana menteri Kanada saat ini Justin Trudeau (detailnya bisa dibaca di Wikipedia). Untuk maju menjadi wakil rakyat diperlukan dana besar untuk setoran ke partai dan untuk kampanye; hal yang berujung pada mentalitas “balik modal” saat sudah menjabat, sebuah mentalitas yang menganggap semua uang yang sudah dikeluarkan untuk mencapai posisi wakil rakyat sebagai hutang yang harus dilunasi, dan bukan sebagai bagian dari pengorbanan supaya bisa menjadi agen perubahan.

Tadi pagi pada pukul enam lewat masuk WA dari seorang teman kuliah  yang akan maju sebagai caleg dari sebuah partai baru yang beranggotakan orang-orang muda berusia 20-30 tahun. WA tersebut masuk pada saat saya, dan mungkin kebanyakan orang, sedang sibuk mempersiapkan diri untuk bekerja dan anak-anak untuk sekolah. Dia tidak menyebutkan namanya dan nomor dia tidak ada di phonebook  saya. Satu-satunya alasan saya menanggapinya karena dia menyapa saya dengan nama panggilan saya sewaktu kuliah. Tanpa banyak basa-basi dia meminta tolong saya membuat video dukungan selama 45 detik untuk bekal dia maju sebagai caleg.

Saya yakin kalau saya bukan satu-satunya orang di phonebook dia yang dihubungi untuk dimintai dukungan, dan dari WA singkat itu ada dua hal yang membuat saya cepat memutuskan untuk tidak “menolongnya”.

1. Saya tidak punya ingatan sama sekali tentang kepribadian, sikap, dan tingkah lakunya selama kami menempuh pendidikan di universitas yang sama (17 tahun lalu). Kami tidak pernah sekelas, tidak pernah mengobrol selain bertegur-sapa kalau berpapasan di jalan, hanya tahu nama tapi tidak kenal orang. Saya tidak bertemu dengannya di reuni tahun lalu jadi saya tidak berinteraksi dengan dia untuk tahu kepribadian/sikap/tingkah lakunya saat ini, apalagi motivasinya untuk masuk ke dunia politik praktis. Bagaimana mungkin saya membuat video untuk mendukung orang yang saya tidak kenal baik? Bisa-bisa dukungan saya sebatas lip service yang dapat membentuk pendapat yang keliru tentang dirinya di benak orang lain.

2. Teman saya ini akan maju sebagai caleg dari sebuah provinsi yang saya tahu tidak berhubungan dengan latar belakang keluarga ataupun tempat kerjanya saat ini. Begitulah sistem partai dan pemilihan legislatif di Indonesia. Seseorang bisa maju sebagai caleg dari provinsi yang mungkin tidak pernah dia kunjungi seumur hidup, tidak pernah dia ketahui tentang kehidupan/kebiasaan/masalah-masalah penduduknya, hanya karena partai politik dimana dia tergabung memiliki posisi kosong caleg untuk provinsi itu. Jika teman saya ini benar-benar ingin mendapatkan dukungan, ada baiknya dia terjun langsung ke daerah yang dia berniat untuk wakili. Temui orang-orang di sana, tampung pendapat dan keluh-kesah mereka, buat rencana kerja untuk mengatasi masalah mereka, dapatkan hati mereka. Saya rasa dia akan dengan mudah mendapatkan video dukungan selama 45 detik, atau bahkan lebih, dari setiap penduduk setempat jika dia menunjukkan bahwa dia memang benar-benar mau bekerja untuk orang lain. Usaha seperti itu makan waktu dan biaya dong? Tentu saja! Pertanyaan sekarang adalah: siap, mau, dan mampukah si caleg melakukan semua itu supaya orang-orang memilih dirinya bukan karena diiming-imingi uang, tapi karena si caleg ini memang tulus ingin menjadi agen perubahan bagi daerah yang disodorkan oleh partainya untuk diwakili?

Di tahun politik ini sampai akhir dari pemilihan presiden RI pada tahun 2019, akan ada banyak sekali calon politikus, calon legislatif yang memanfaatkan jaringan pertemanannya untuk mendapatkan dukungan. Saya yakin “permintaan tolong” dari dia hanyalah awal dari permintaan tolong orang-orang lain yang saya tahu punya ambisi di bidang itu, baik melalui media sosial, group WA, maupun pesan langsung. Ada caleg yang menerima penolakan seperti yang saya lakukan dengan ucapan terima kasih dan hati besar, namun ada juga yang jadinya merongrong dan mendesak untuk didukung atas nama pertemanan. Kalau sikapnya jadi berubah seperti itu mau tidak mau saya jadi bertanya, “Anda mau meminta tolong, Anda ingin didukung, atau Anda hanya berniat memanfaatkan orang lain sih?”

Reaksi saya terhadap “permintaan tolong” jenis ini akan konsisten. Selama saya tidak tahu kredibilitas dan kapabilitas orang yang mau maju sebagai caleg, dan selama saya tidak punya interaksi sosial dan ikatan emosional dengan orang tersebut, saya tidak akan mengindahkan dia.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s