Lima Tips Traveling dengan Anak Kecil

Beberapa waktu lalu kami bepergian jauh dan dalam jangka waktu yang cukup lama untuk pertama kalinya setelah si Adek hadir dalam keluarga kami. Berbeda dengan si Kakak yang sudah biasa diajak traveling dalam dan luar kota/negeri sejak usia 6 bulan, si Adek jarang sekali bepergian jauh dan berhari-hari. Penyebabnya yang pertama adalah si Kakak yang sudah sekolah, sehingga waktu untuk liburan keluarga harus mengikuti jadwal liburan sekolahnya. Kedua, sejak si Adek lahir sampai beberapa waktu lalu suami masih commute Surabaya-Jakarta, sehingga waktu senggang di akhir pekan kebanyakan dihabiskan di rumah, bukannya menjelajah tempat baru. Setelah suami kembali bekerja di sini, kami berkomitmen untuk kembali menggiatkan hobi traveling keluarga kami.

Dengan usia si Kakak yang hampir 6 tahun (toddler) dan si Adek yang hampir 2 tahun (infant), tentu perlu trik tersendiri untuk mempersiapkan mereka menjelang dan saat menjalani liburan keluarga. Berikut ini beberapa tips yang saya rangkum seusai perjalanan kami:

 

1. Sounding rencana liburan dari jauh-jauh hari.

Kids are creatures of routines. Di usia 5 tahun si Kakak sudah mengenali dan taat mengikuti rutinitas. Dalam satu minggu ada beberapa les pada hari Senin – Kamis dan akhir pekan (hari Jumat – Minggu) yang fleksibel diisi dengan kegiatan-kegiatan non-rutin. Jadi penting sekali sounding ke si Kakak kalau dalam waktu dekat dan untuk beberapa saat tidak akan ada segala kegiatan rutin yang dia biasa jalani, karena kami akan pergi melihat tempat baru yang jauh.

Sounding di sini dilakukan sekitar 2 minggu sebelum traveling dimulai dan mencakup:
1) kapan kami akan berangkat (tunjukkan kalender),
2) nama kota/negara yang akan dikunjungi, plus bahasa yang dipakai orang-orangnya. Si Kakak bolak-balik bertanya kenapa kami berbahasa Inggris terus-menerus dan orang lain berbahasa berbeda (bahasa Thai),
3) jarak relatif terhadap rumah kami (sebut berapa jam yang dibutuhkan dari Jakarta ke Chiang Mai),
4) transportasi yang akan dipakai untuk menuju ke kota/negara itu. Di permulaan traveling kemarin kami naik mobil rental, naik pesawat, naik skytrain untuk ke terminal-terminal di Changi, naik pesawat lagi, dan kemudian dijemput dengan mobil oleh keluarga sepupu di sana. Dengan menceritakan urutan moda transportasi yang akan kami gunakan si Kakak tidak begitu kaget ketika kami harus menunggu selama transit untuk berganti pesawat, dan bisa dengan nyaman menghabiskan waktu dengan bermain di playground dan belanja mainan (emaknya bangkrut deh).

Kalau sounding ke si Adek sih cukup dilakukan bersamaan dengan sounding ke kakaknya, karena si Adek cuma bisa terkekeh-kekeh kalau dijelaskan sesuatu, hehe.
2. Bawa barang-barang yang biasa anak-anak pakai dan mainkan.

Buat si Kakak artinya kami harus membawa:
1) koper trunky pink-nya (yang janji tinggal janji doang akan digeret sendiri sama si Kakak, fiuh),
2) segerombolan figurines Sophia-Jake-Doc McStuffin,
3) t-shirt, rok, dan celana jeans favoritnya,
4) kuas karena dia senang pura-pura melukis sambil main air di bathtub.

Kami juga membawa kereta mainan buat si Adek, yang sayangnya dicuekin selama seminggu karena anaknya lebih seneng memainkan kabel earphone/telefon di hotel/seat belt di pesawat/dan barang-barang mekanik lainnya.

Membawa barang-barang favorit artinya membawa kenyamanan dan kefamiliaran dari rumah yang mereka akan tinggalkan untuk sementara, dan bisa membantu mengatasi kerewelan anak. Contoh: memakai t-shirt favorit jadi salah satu cara membujuk si Kakak supaya mau cepat mandi dan bersiap meninggalkan hotel.
3. Liburan adalah untuk keluarga, bukan cuma untuk papa-mama.

Traveling sampai si Kakak berusia 4 tahun adalah traveling ke tempat yang papa-mama inginkan, dengan rencana perjalanan yang diatur oleh papa-mama. Sekarang dengan si Kakak yang sudah punya keinginan sendiri dan si Adek yang tidak bisa diam, lupakan deh bisa mengunjungi museum-museum dan kuil-kuil selama berjam-jam! Sampai dua tahun lalu saya bisa menghabiskan minimal 5 jam di 1 museum buat benar-benar menjelajah dan membaca semua keterangan benda-benda yang ada dalam museum. Dengan 2 anak seperti sekarang, 3 museum cukuplah dijalani dalam 2 jam, dan 2 jam itu masih juga dipotong waktu untuk membujuk si Adek yang suka tiba-tiba minta digendong, dan membujuk si Kakak yang menolak masuk ke beberapa ruangan eksibisi karena gelap dan menakutkan (museum di Chiang Mai terasa banyak penunggunya, hiii …). Jadi ke museum manapun kami pergi, saya mesti berburu brosur berbahasa Inggris untuk membaca ulang keterangan barang-barang eksibisi di museum itu, dan minimal 2 buah brosur karena si Kakak juga hobi mengumpulkan brosur.

Di traveling kali ini ujung-ujungnya yang kami cari adalah PLAYGROUND. Di hari ke-3 kami di Chiang Mai kami mengitari Old City dengan niat awal mengunjungi 4 Wat (Buddhist Temple). Yang akhirnya kesampaian cuma 3 Wat dan di Wat terakhir cuma saya yang masuk selama 5 menit dan suami menjaga anak-anak yang sudah kelelahan keluar-masuk kuil. Pada penghujung hari yang melelahkan itu kami terdampar di taman kota yang cantik di Old City. Anak-anak sangat senang main kereta-keretaan dan panjat-panjatan bersama sepupu mereka yang tinggal di Chiang Mai, dan papa-mama bisa duduk-duduk santai sambil mengobrol. Jalan kaki kurang-lebih 5 km di bawah terik sinar  matahari dengan suhu 35 derajat sambil mendorong stroller dan menggendong anak mengingatkan kami bahwa ternyata kami ini SUDAH TUA. Hahahaha ….
4. Berbagi peta/Google Maps dengan anak.

Tujuannya supaya anak-anak (setidaknya si Kakak) mulai mengenal arah dan mendapat kepuasan tersendiri setelah mencapai suatu tempat tujuan. Anak kami yang pertama ini sangat senang mempelajari peta lokasi, apalagi di Chiang Mai Night Safari yang luas sekali dan membuat kami sering berpindah tempat. Si Kakak jadi sering membuka peta dan bertanya ‘Sekarang kita di mana?’. Anak-anak juga senang mengikuti panah di Google Maps di HP orang tua mereka, dan bersorak girang kalau sudah tiba di tujuan. Hal sesederhana ini menambahkan keterlibatan anak-anak dalam rangkaian kegiatan selama liburan. Jadi mereka tidak hanya tahu kalau mereka sudah sampai suatu tempat, tapi juga tahu cara dan urutan peristiwa untuk mencapai tempat tersebut.
5. Realistis saja, pekerjaan rumah tangga akan selalu ada .

Judulnya memang liburan tapi liburan keluarga bukan me-time untuk papa dan mama. Orang tua tidak bisa bangun siang, tidak bisa makan pas sudah lapar saja, tidak bisa leyeh-leyeh main internet, intinya tidak bisa berbuat sesukanya. Anak-anak tetap perlu dimandikan/disuapi/ditemani bermain, pakaian sekeluarga tetap perlu dicuci dan disetrika, dan seluruh anggota keluarga tetap perlu makan teratur tiga kali sehari. Terima fakta itu dan lakukan apa yang harus dilakukan. Dengan begitu tidak ada ekspektasi berlebihan akan liburan yang bebas dari pekerjaan rumah tangga. Mungkin nanti kalau anak-anak sudah besar dan kami bisa pergi bulan madu yang belum juga kesampaian karena setelah menikah kami langsung bekerja kembali seperti biasa di kantor masing-masing.
Semoga lima tips di atas bisa membantu teman-teman yang akan bepergian dengan anak-anak yang masih kecil, dan bisa menikmati waktu liburan sekeluarga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s