Dikotomi Pribumi dan Nonpribumi

Belum 24 jam sejak beliau dilantik, jagat media sosial sudah gusar dengan pemakaian istilah pribumi (dan juga kolonialisme) dalam pidato politik beliau yang pertama.

Apakah pribumi?

Apakah nonpribumi?

Karena kita orang Indonesia, mari kita merujuk pada acuan berbahasa yang resmi di negara kita yaitu Kamus Besar Bahasa Indonesia. Menurut KBBI, pribumi berarti penghuni asli; yang berasal dari tempat yang bersangkutan (https://kbbi.web.id/pribumi), sedangkan nonpribumi berarti yang bukan pribumi; yang bukan orang (penduduk) asli suatu negara (https://kbbi.web.id/nonpribumi).

Jika mengacu pada definisi menurut KBBI maka seseorang menjadi pribumi karena konteks tempat asalnya. Definisi ini menjadi tidak jelas jika ada pertanyaan lanjutan seperti: yang dimaksud dengan tempat asal seseorang apakah tempat dia lahir atau dibesarkan? Ya, definisi ini menjadi tidak fleksibel jika ada faktor migrasi manusia sepanjang hidupnya. Seseorang yang berasal dari suku bangsa A, lahir di kota B, besar di kota C, bekerja di kota D, menikah dan tinggal menetap di kota E adalah pribumi menurut konteks suku bangsa A, atau konteks kota B, C, D, atau E? Pendefinisian ini bertambah kompleks jika orang itu menikah dengan orang dari suku bangsa F. Anak-anak mereka menjadi pribumi berdasarkan suku bangsa dan kota apa?

Saya mau menceritakan sedikit pengalaman hidup saya.

Saya berasal dari suku bangsa yang dikenal secara umum sebagai suku Batak. Orang tua saya merantau dari Pematang Siantar ke Yogyakarta dan Bandung untuk pendidikan universitas di awal tahun 80-an. Sedari saya kecil banyak saudara jauh yang datang ke rumah kami dan ada beberapa dari mereka yang menyindir ketidakmurnian darah batak saya. Apa pasal? Ayah saya berasal dari suku Batak Toba sedangkan ibu saya berasal dari suku Batak Simalungun. Bagi orang Batak sendiri, saya tidak murni orang suku Batak Toba atau Batak Simalungun, sedangkan bagi orang di luar suku Batak, suku bangsa saya adalah Batak. Titik. Kebingungan identitas itu sudah ada di hidup saja sejak usia sekolah dasar. Ditambah lagi keberadaan kami di lingkungan yang bertetangga dengan orang-orang dari suku Sunda dan Jawa. Walaupun saya lahir dan besar di Bandung dan saya bisa berbahasa Sunda, identitas diri saya tidak sepenuhnya melebur dengan identitas diri teman-teman sepermainan saya yang berasal dari suku bangsa-suku bangsa lain.

Masalah lain muncul saat saya duduk di sekolah dasar dan berusia sepuluh tahun. Usia ini adalah usia pra-remaja (jaman dulu istilah ABG (Anak Baru Gede) belum terlalu populer) dimana orang-orang mulai mencari gang-nya masing-masing. Anak-anak mulai mencari identitas diri dan kelompok dimana dia diterima dan merasa menjadi bagian dari kelompok itu. Kalau kita kira istilah pribumi/nonpribumi cuma beredar dan relevan di jaman kolonialisme, kita salah besar. Di Bandung di awal tahun 90-an pelabelan pribumi dan nonpribumi itu dilakukan oleh anak-anak. Sejak TK sampai dengan SMP saya menempuh pendidikan di sekolah Kristen dengan mayoritas peserta didik berasal dari keturunan Tionghoa. Waktu saya SMP kelas 3 di tahun 1993, hanya saya satu-satunya orang pribumi di angkatan saya. Apa definisi pribumi di benak anak-anak saat itu? Pribumi adalah orang asli Indonesia,datang dari suku bangsa yang punya tempat asal di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Secara fisik saya sangat berbeda dengan teman-teman seangkatan saya; kulit saya gelap, mata saya tidak sipit, dan rambut saya keriting. Sekilas saja bisa terlihat kalau saya dan mereka berasal dari dua kelompok yang berbeda: pribumi dan nonpribumi, walaupun jika saat itu ada pengelompokan menurut agama, saya berada dalam satu kelompok agama yang sama dengan teman-teman saya.

Menyadari dan menerima bahwa saya orang pribumi di tengah-tengah kelompok nonpribumi bukanlah suatu hal yang mudah. Pertanyaan, sindiran, ejekan terutama karena fisik saya adalah hal biasa yang saya terima selama tiga tahun bersekolah di SMP. Di saat-saat sulit dalam mencari jati diri ini saya pernah berada dalam fase tidak menyukai asal saya yang dari suku Batak. Saya sampai bertengkar dengan ayah saya karena saya ingin berasal dari suku Tionghoa seperti teman-teman saya yang lain. Ayah saya, yang merupakan salah satu tetua marga Tobing di kota Bandung, tentu marah besar. Beliau pun menguliahi saya tentang kebanggaan menjadi orang Batak, tentang asal-muasal nenek moyang, adat-istiadat, dan lain sebagainya. Waktu itu saya tentu saja hanya mendengarkan dengan setengah hati, karena yang jauh lebih penting buat saya saat itu adalah saya punya satu kesamaan dengan teman-teman sebaya saya yang membuat saya bisa diterima dengan lebih mudah oleh mereka.

Tiga tahun di SMP adalah tahun-tahun berat dalam menemukan jati diri saya. Pada tahun terakhir akhirnya saya menemukan teman-teman dan lingkungan yang baik, karena memang di setiap bangsa/suku/agama/latar belakang ada saja orang-orang baik dan orang-orang brengsek. Riska dan Natalia adalah dua teman baik yang mau tahu tentang latar belakang saya yang berbeda jauh dengan mereka. Pada tahun ketiga di SMP, ayah saya menyuruh saya melanjutkan SMA di SMA Negeri. Alasannya adalah supaya saya bisa bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang. Memang karena saya sekolah di sekolah yang dikelola oleh yayasan, saya bertemu dengan orang-orang itu lagi. Saya tidak memilih SMP yang dipilih oleh hampir semua teman SD saya, tapi saya tahu kalau saya melanjutkan SMA di yayasan yang sama, saya akan bertemu kembali dengan teman-teman dari SD dan SMP. Saya pun menuruti ayah saya, tapi saya sangat gugup. Sepuluh tahun dalam hidup saya, saya bergaul dengan orang-orang dari suku bangsa yang sama dengan perilaku dan sikap yang tipikal. Walaupun secara asal-muasal dan fisik saya berbeda dari teman-teman saya, tapi saya tahu bagaimana berteman dengan mereka. Saya sangat takut tidak bisa punya teman jika bersekolah di sekolah negeri.

Di usia 15 tahun saya mulai bersekolah di sekolah negeri yang siswanya tumpah ruah dari berbagai latar belakang suku bangsa, kota, dan agama yang ada di Indonesia. Dikotomi itu masih ada, tapi kali ini bukan soal pribumi dan nonpribumi, tapi soal agama. Jika ditilik secara fisik, saya masuk dalam kelompok pribumi dan mayoritas dari siswa sekolah itu. Tapi jika ditilik secara agama, saya masuk dalam kelompok agama yang bukan agama mayoritas. Apakah saya pernah berharap saya memeluk agama lain supaya saya bisa lebih diterima oleh lingkungan saya? Tentu saja dan itu wajar karena saya masih remaja yang masih dalam proses mencari jati diri dan tempat saya di tengah-tengah masyarakat di sekitar saya. Tiga tahun di SMA adalah masa dimana saya benar-benar mengerti perbedaan agama dan iman; suatu masa dimana saya menemukan alasan saya hidup dan ke mana saya akan pergi setelah tutup usia. Pelabelan pribumi dan nonpribumi di SMA tidak sekencang saat saya di SMP, tapi saya tahu bahwa pelabelan itu masih ada karena ada teman-teman SMA saya yang berasal dari suku Tionghoa.

Di usia 18 tahun saya kuliah di sebuah kampus yang multidimensi. Mahasiswanya berasal dari latar-belakang yang jauh lebih kompleks daripada waktu di SMA. Orang-orang dari berbagai suku bangsa, agama, bahasa, dan kota asal, semua bercampur di satu tempat dengan satu tujuan untuk menempuh pendidikan. Kampus saya adalah perwujudan Indonesia dalam bentuk mini dan di situ identitas saya sebagai orang dari bangsa apa mulai terwujud. Di tahun ke-3 saya mewakili kampus saya untuk pertukaran mahasiswa di Tokyo. Di tahun itu saya bisa dengan yakin mengatakan saya orang apa. Di mata para profesor, para dosen, dan teman-teman satu program, saya adalah orang Indonesia. Tidak lebih dan tidak kurang. Beberapa teman dari Amerika Serikat yang pernah mendengar tentang keragaman bangsa Indonesia pernah menanyakan suku bangsa/ras saya, tapi itu bukan informasi yang krusial buat mereka. Kebanyakan dari teman-teman satu program mengira agama saya adalah Islam, karena mereka tahu Islam adalah agama dengan pemeluk paling banyak di Indonesia. Terlepas dari semua itu, semua orang yang saya temui di Jepang selama 1 tahun hanya perduli dari bangsa mana saya berasal. Hal ini juga berlaku untuk teman-teman saya yang secara ras berbeda dengan negara asal dia. Ada teman saya dari U.S. yang orang tuanya berasal dari Korea Selatan, tapi dia lahir dan besar di California dan tidak bisa berbahasa Korea. Ada teman saya dari Swedia tapi orang tuanya berasal dari Denmark dan mereka pindah ke Swedia karena faktor pekerjaan. Ada teman lain berbangsa Swedia namun ibunya adalah orang Filipina yang sudah dinaturalisasi menjadi warga negara Swedia. Dunia ini sudah campur-aduk begitu rupa sehingga sulit untuk menemukan suku bangsa dan ras yang masih murni. Orang Jepang sendiri adalah campuran dari suku Ainu dan orang-orang yang bermigrasi dari dataran Mongolia ke Kepulauan Jepang selama beratus-ratus tahun.

Apakah pribumi; apakah nonpribumi itu? Semua itu hanya istilah untuk mengkotak-kotakkan manusia dengan satu tujuan di benak orang yang melakukan pengkotakan. Di saat dunia dan tujuh milyar manusia di dalamnya bergerak menuju global citizenshipdimana orang-orang menembus sekat negara dan zona waktu untuk hidup, tinggal, bekerja, dan berkarya, benarkan kita mau kembali kepada dikotomi primordial seperti istilah pribumi dan nonpribumi? Istilah ini tidak eksklusif ciptaan pemerintah kolonial Belanda pada waktu bangsa Indonesia masih dijajah oleh mereka. Di bahasa Jerman pun dikenal istilah der Auslaender dan der Inlaender,yang kadang diterjemahkan bebas menjadi nonpribumi dan pribumi, untuk memisahkan nasionalitas penduduk suatu negara. Jadi acuannya adalah bangsa dan negara (nation) yang dibangun berdasarkan kesepakatan bersama sekelompok orang pada suatu masa. Oleh karena itu wajar bapak-bapak pendiri bangsa Indonesia yang kebanyakan menempuh pendidikan Barat pada tahun 1945 tidak spesifik menyebutkan satu suku bangsa, melainkan mendeklarasikan diri sebagai satu bangsa, bangsa Indonesia dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam kerangka ini istilah pribumi tepat untuk menggambarkan mereka yang merupakan orang-orang Warga Negara Indonesia (WNI), dan istilah nonpribumi untuk mereka yang masih memegang nasionalitas lain dan menjadi Warga Negara Asing (WNA) di tanah air Indonesia.

Hampir tiga dekade sudah berlalu sejak saya dicap pribumi menurut definisi pemerintah kolonial Belanda oleh teman SD saya yang nonpribumi, dan saya sadar bahwa istilah pribumi dan nonpribumi mungkin tidak akan pernah hilang dari kehidupan kita sehari-hari. Dari masa ke masa akan selalu ada orang-orang yang coba membangkitkan sentimen kemurnian ras dengan berbagai motivasi: nostalgia masa lalu, pengawetan budaya dan adat-istiadat, perlindungan kelompok dengan jumlah anggota sedikit di tengah masyarakat majemuk, mendapatkan kekuatan ekonomi, dan lain sebagainya. Namun saya tetap punya harapan bahwa manusia senantiasa berevolusi menjadi lebih cerdas, lebih kritis, lebih bijaksana, lebih terbuka, dan lebih menerima perbedaan-perbedaan yang hadir di sekeliling dirinya.

Usaha untuk membentuk kelompok berdasarkan kemurnian ras adalah absurd untuk dilakukan di masa sekarang. Dalam satu suku bangsa pun akan ada beberapa sub-suku bangsa yang memiliki perbedaan-perbedaan mendasar ataupun tidak. Pengikat yang terbukti relevan bagi 260 juta WNI di tengah 7 milyar penduduk bumi ini adalah identitas sebagai negara dan bangsa yang bernama Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan seperti kamu dan orang tua kamu berasal dari suku bangsa apa dan kota apa tidaklah penting untuk memajukan bangsa. Jika pelabelan pribumi dan nonpribumi dilandasi oleh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu, bagaimana kita memberi label pada anak-anak yang orang tuanya berasal dari dua suku bangsa yang berbeda, atau berasal dari dua negara yang berbeda (Indonesia dan negara lain)? Sebagai contoh: anak-anak saya memiliki ayah dari suku Jawa Timur yang masih “murni” dan ibu dari suku Batak Toba-Simalungun yang juga masih “murni”. Mereka bukan orang Jawa Timur asli, dan bukan pula orang Batak asli. Jika mengacu pada definisi pribumi menurut KBBI, anak-anak saya adalah pribumi Bekasi. Akan tetapi akan selalu ada argumen bahwa orang pribumi Bekasi adalah orang dari suku Betawi dan Sunda yang sudah terlebih dahulu bermukim di sini, jadi anak-anak saya bukan termasuk kelompok ini. Mereka juga tidak bisa digolongkan pribumi Surabaya dan pribumi Bandung walaupun orang tua mereka lahir dan besar di dua kota ini. Ayah mereka adalah pribumi Surabaya, namun ibu mereka berasal dari suku Batak dan sulit diterima sebagai pribumi Bandung. Bisa dilihat bukan kalau dikotomi semacam ini sungguh membingungkan dan tidak membawa manfaat yang nyata bagi kehidupan?

Belum lagi pendefinisian putra daerah dan siapa yang berhak menyandang label putra dari daerah tertentu. Aduh, saya lebih baik membahas hal ini pada lain kesempatan.

Tidak ada pribumi, tidak ada nonpribumi, yang ada hanyalah Warga Negara Indonesia dengan kartu identitas diri dan paspor dengan label bangsa dan negara Indonesia. Tidak masalah apakah seseorang mempunyai orang tua yang berasa dari dua suku bangsa dan dua negara yang berbeda, jika dia memilih untuk menjadi WNI secara natural maupun melalui aplikasi untuk menjadi warga negara, maka dia adalah pribumi Indonesia sesungguhnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s