Kitchen Makeover

Kurang-lebih 3 bulan lalu setelah selesai merenovasi jendela perpustakaan kami yang terkena rayap, saya menulis begini di blog:

It’s almost impossible.

I’m beyond exhausted.

I’m too old for this.

sebagai pembukaan post saya yang berjudul “Renovasi Rumah Sambil Menjadi Taxi Mom”. Kenapa saya tulis begitu? Karena memang pada kenyataannya merenovasi rumah sambil mengurus rumah dan anak-anak, dan menjaga kewarasan seluruh anggota keluarga saat: 1) rumah penuh debu, 2) barang-barang harus dimasukkan ke dalam kardus-kardus, 3) Mama lelah lahir-batin berdiri hampir 8 jam setiap harinya untuk mengawasi tukang dan pergi ke toko material benar-benar BIKIN BADAN RONTOK DAN HATI KAPOK. Namun ternyata saya termasuk makhluk pelupa. Saya lupa capek yang saya rasakan setelah saya melihat hasil final renovasi yang saya kerjakan. Perasaannya kurang-lebih sama dengan perasaan setelah melahirkan dua anak saya. Waktu melihat bayi yang baru lahir, rasa lelah saat mengandung dan sakit saat melahirkan itu ga ada apa-apanya. Akibat sifat pelupa saya, saya jadi selalu merasa siap dan tertantang untuk mengambil proyek berikutnya. Memang saya selalu merasakan kepuasan batin setelah selesai merenovasi sesuatu.

Setelah renovasi tak direncanakan di bulan Mei itu, saya berharap tidak akan ada lagi renovasi sampai tahun 2021 (sesuai program maintenance rumah setiap 6 tahun). Apa daya, kabinet bawah kitchen set di sebelah sink ambruk beberapa minggu kemudian karena udara lembab dan tetesan air dari sink yang bocor. Mau ganti kabinet saja, kok tanggung. Sudah setahun terakhir sebenarnya saya sudah ga sreg dengan tekstur finishing kitchen set yang sekarang. Dulu saya memilih tekstur itu karena barang impor dengan harga terjangkau dan bisa sering dibersihkan saat anak masih 1 orang. Setelah anak menjadi 2 orang dan banyak teman yang sering datang main/makan ke rumah, urusan bersih-bersih dapur dan kitchen set jadi beban tersendiri buat saya. Finishing yang lama memiliki warna krem dan abu-abu, tanpa pola, dan tekstur kasar yang tidak mudah dilap. Akhirnya saya tekadkan, ya sudah ganti kabinet sekalian ganti finishing kitchen set-nya.

HPL yang saya pilih kali ini berwarna putih dengan pola salur abu-abu (supaya tidak tampak terlalu membosankan) dan bertekstur glossy. Mengapa memilih warna putih? Dapur kami adalah bagian dari satu ruangan besar yang dibagi tiga dan minim pencahayaan alami. Cahaya matahari tidak langsung bisa masuk sedikit melalui jendela ke arah ruang tamu (bagian barat rumah) dan jendela ke arah taman dalam (bagian timur rumah). Dapur terletak bersebelahan dengan ruang TV dengan perabotnya yang berwarna gelap, dan dengan gudang yang sudah lebih dulu memakai kabinet dengan finishing HPL putih. Pemilihan warna putih untuk kabinet yang dibangun sampai ke plafon akan memberikan kesan ruangan yang tinggi, terang (karena tekstur HPL merefleksikan cahaya lampu), dan bersih (kesan utama warna putih).

Jumlah tukang yang dikerahkan adalah 8 orang dengan waktu kerja 4 hari. Pekerjaan dimulai dengan mengelupas lapisan HPL lama, mengamplas kayu dari kabinet untuk menyiapkan permukaan yang halus buat HPL yang baru, menempel HPL baru, kemudian instalasi di dapur. Pekerjaan hari pertama seluruhnya berfokus pada 9 pintu kabinet atas dan 1 pintu rak pengering piring. Pekerjaan hari ke-2 berfokus pada pembongkaran kabinet bawah yang rusak dan mengerjakan 6 pintu kabinet bawah (termasuk menservis 2 rak sorong yang sudah berkarat). Pekerjaan hari ke-3 adalah mengelupas list-list dari bagian kabinet yang tidak bisa dibawa keluar rumah. Pada hari ini seisi rumah bau thinner yang dipakai untuk melarutkan lem yang menempelkan HPL lama ke multipleks. Anak-anak saya suruh diam terus di kamar dengan AC dipasang supaya tidak menghirup bau tidak sedap. Bau thinner tidak sedap bagi mereka, tapi sedap bagi saya (entah kenapa saya suka sekali bau thinner). Pekerjaan hari ke-4 adalah penempelan HPL baru pada list-list dan mencat dinding di bawah sink yang jadi terekspos karena kabinet dihilangkan dari bagian ini. Daripada udara lembab menyebabkan kabinet suatu saat lapuk lagi dan saya harus renovasi lagi, lebih baik material kayu dihilangkan dan potensi air yang mengembun di bawah bowl bisa diserap oleh lantai di bawah sink.

Sebelum renovasi dimulai, kami memasukkan semua barang yang ada di dapur ke dalam kardus-kardus. Kami sungguh kaget karena untuk dapur berukuran 2.1 x 1.5 meter persegi saja, barang-barang kami ternyata memenuhi 7 buah kardus TV ukuran 21 inchi. Yak, renovasi ini sekalian kesempatan untuk downsizing, mengurangi jumlah barang yang kami punya sampai tinggal barang-barang yang benar-benar kami pakai. Hal-hal mengejutkan yang kami temui selama proses downsizing:

  1. Astaga, ternyata kami punya 12 pack Nutrijell! Selama ini disimpan di mana saja? Ternyata terselip di antara tumpukan kopi, teh, dan lain-lain sehingga setiap kali ke minimarket pasti saya beli lagi karena saya kira stok habis.
  2. Astaga, buat apa kami punya lebih dari 50 buah tupperware? Teman-teman saya yang orang Korea sering memberi kimchi sekaligus dengan tupperware-nya. Pasti dulu saya simpan karena saya pikir bisa dipakai untuk menyimpan daging/ikan di freezer. Ternyata jumlah tupperware yang dibutuhkan untuk penyimpanan di freezer tidak lebih dari 10 buah untuk setiap kali penyimpanan.
  3. Astaga, ternyata kami punya panci yang belum pernah dipakai! Panci itu kami beli tahun 2015 di Chiang Mai dan benar-benar masih lengkap dengan packaging-nya. Lagi-lagi, ini gara-gara terlalu banyak barang yang ditumpuk di kabinet atas sehingga panci baru terselip di antara barang-barang lain. Dengan kabinet bawah yang baru, semua panci yang digunakan sehari-hari termasuk panci presto dan oven berada dalam jangkauan. Ga ada lagi alasan malas memasak suatu menu karena malas menjangkau panci di kabinet atas.
  4. Astaga, ternyata banyak bumbu yang sudah expired Juli kemarin! Yak, kantong sampah pun penuh dengan bumbu dan bahan makanan lain yang lupa dicek tanggal expiry-nya karena diletakkan terlalu berjejal dengan bumbu/bahan makanan lain.

Setelah semua proses sortir-pertimbangkan-buang/simpan tersebut, dapur dan kitchen set kami kembali terasa lapang dengan barang-barang seadanya. Ternyata punya space besar yang diisi dengan sedikit barang terasa jauh lebih nyaman dibandingkan punya space kecil yang dijejali entah barang apa saja. Semoga kondisi ini bisa bertahan dalam jangka waktu lama: barang-barang konsumsi (bumbu, snack, dll.) baru dibeli setelah stok habis dan barang-barang non-konsumsi (piring, sendok, dll.) tidak bertambah.

Ngomong-ngomong soal downsizing, saya jadi agak ketagihan nih untuk menerapkannya di area lain dalam rumah. Mungkin ini berkaitan dengan perasaan preparing the nest, perasaan wajib bersih-bersih untuk menyiapkan kelahiran bayi yang saya alami selama 2 kali di tahun 2009 dan 2013. Dua anak saya lahir di bulan Agustus, dan saya ingat banget sebelum mereka lahir saya deep cleaning sampai encok saking pengen rumah bersih luar-dalam. Rupanya kebiasaan itu berlanjut setiap tahun di bulan Agustus, yang biasanya dimulai dengan mencuci semua gorden di rumah. Rumah adalah makhluk organik yang perasaannya terus bertumbuh, tapi space-nya ga bertambah. Sudah saatnya menerapkan konsep jika ada barang baru yang masuk, harus ada barang lama yang keluar, supaya tempat yang terbatas tetap memberikan keleluasaan bergerak  dan tetap rapi menyimpan barang-barang kebutuhan semua anggota keluarga.

Yosh, saya mau mulai menyortir pakaian dan mainan anak-anak!

*) Foto di pojok kiri atas adalah dapur lama, foto di  pojok kanan bawah adalah dapur setelah makeover.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s