Mamatomo

Kata mamatomo dibentuk dari 2 buah kata dasar, yaitu: mama dan tomo (kependekan dari tomodachi yang berarti teman dalam bahasa Jepang). Saya baru tahu istilah ini beberapa minggu lalu dari teman saya yang tinggal di Jepang, dan menurut saya istilah ini tepat untuk menggambarkan hubungan pertemanan yang muncul ketika kita sudah berkeluarga dan mempunyai anak-anak. Secara harafiah mamatomo berarti sekumpulan mama yang menjadi teman karena anak-anak mereka sudah lebih dulu berteman. Mamatomo terbentuk karena aspek kesamaan komunitas dan hubungan baik yang sudah dijalani duluan oleh anak-anak dari mama-mama tersebut.

Orang-orang yang tidak memiliki hubungan darah dengan kita menempati posisi berikut dalam hidup kita: orang asing (stranger), kenalan (acquaintance), teman (friend), sahabat (best friend), kemudian sahabat yang lebih akrab dibandingkan anggota keluarga sendiri. Langkah pertama dalam memiliki hubungan dengan orang lain adalah menjadi stranger dan kemudian acquaintance bagi mereka. Begitu kita ada di dalam komunitas/lingkungan pergaulan tertentu, stranger dan acquaintance adalah dua hal normal pertama yang akan kita temui. Untuk menjadi friend atau bahkan best friend diperlukan waktu dan usaha dari semua pihak yang terlibat. Pertemanan akan terjalin saat kedua belah pihak sama-sama meluangkan waktu untuk saling mengenal karakter dan kebiasaan masing-masing, dan juga bersedia menghabiskan waktu bersama-sama untuk suatu kegiatan yang sama-sama disukai. Waktu pula yang akan menguji apakah pertemanan itu akan langgeng begitu karakter dan kepribadian seseorang pelan-pelan terungkap di hadapan teman barunya. Mempunyai atau tidak mempunyai teman adalah sebuah pilihan.

Orang dewasa lebih sulit untuk memiliki teman baru dibandingkan anak-anak. Ini kenyataan hidup yang tidak bisa dipungkiri. Orang dewasa kenyang dengan pengalaman menyakiti/disakiti dan mengecewakan/dikecewakan oleh orang lain. Oleh karena itu orang dewasa cenderung lebih berhati-hati dalam membina suatu hubungan. Buat mama-mama, kecocokan dengan mama-mama lain diikuti dengan harapan akan ada kecocokan antara para suami dan anak, syukur-syukur kalau seluruh anggota keluarga bisa berteman. Teman-teman yang bertahun-tahun ada dalam hidup kita, dengan siapa kita merasa nyaman, biasanya adalah teman lama yang didapat di sekolah atau tempat kerja karena sempat ada frekuensi berinteraksi yang intens antara kita dengan mereka.

Mama adalah makhluk perempuan paling protektif dan defensif terhadap anak-anaknya. Mama memiliki peran dominan dalam  mendidik dan menanamkan nilai-nilai moral dan etika yang akan dianut oleh anak-anaknya. Jadi wajar saja jika mama sering kali menjadi filter untuk menentukan apakah anak-anak sedang terlibat dalam pergaulan yang baik atau yang buruk. Mama harus tahu teman dari anak-anak mereka, dan juga harus tahu orang tua dari teman-teman tersebut. Di sini mama bisa mengembangkan lingkup pergaulannya. Dari yang sekedar tahu, berinteraksi, banyak mengobrol, sampai akhirnya juga berteman dengan mama dari teman anak mereka. Itu idealnya. Ada juga kasus mama yang keberatan anaknya berteman dengan orang lain karena mungkin ada ketidaksesuaian tata krama, nilai moral dan etika, dan lain sebagainya. Jika ini terjadi, kecil kemungkinan mama akan menjalin pertemanan dengan orang tua dari anak tersebut.

Memiliki mamatomo memiliki tantangan tersendiri karena yang terlibat dalam pertemanan itu bukan hanya mama-mama tapi juga anak-anak. Mustahil menemukan orang dengan karakter dan nilai-nilai yang sama persis dengan kita. Bagaimanapun juga kita harus mempunyai sikap menerima dan toleransi terhadap orang lain, seperti orang lain menerima dan bertoleransi terhadap kita. Misal Mama A selalu membuang sampah pada tempatnya, namun Mama B sering membuang tissue di lantai saat mereka makan bersama. Ketidakcocokan seperti ini bisa berujung kepada empat hal:

1) Mama A menggunjingkan kebiasaaan jelek Mama B dengan mama-mama lain tanpa sepengetahuan Mama B.

2) Mama A menegur langsung Mama B, Mama B tidak terima, dan akhirnya mereka putus pertemanan.

3) Mama A menegur langsung Mama B, Mama B terima dan mengubah perilakunya, mereka berdua tetap berteman.

4) Mama A hanya menyimpan ketidaksukaannya dalam hati, namun secara tidak sadar mempengaruhi anaknya untuk menjauhi anak Mama B karena khawatir anak Mama B juga memiliki kebiasaan buruk itu.

Tantangan bagi mamatomo adalah memisahkan konteks pertemanan anak mereka dengan konteks pertemanan mereka sendiri. Jika misalnya anak-anak bertengkar karena berbeda pendapat, pantaskah mama-mama ikut campur untuk ikut berdebat? Anak-anak adalah individu sendiri yang wajib menyelesaikan masalahnya sendiri. Sikap mama to the rescue hanya akan membuat anak tidak mandiri dalam mempertahankan pendapatnya dan dalam menyelesaikan konflik. Yang penting di sini adalah mama-mama untuk menahan diri, tidak bersikap subjektif terhadap teman si anak, bersikap rendah hati dan terbuka untuk menerima koreksi terhadap kepribadian si anak, tega membiarkan anaknya memiliki dan menghadapi konflik tanpa bantuan orang tua. Kalau mama-mama tidak menahan diri, konflik antar anak bisa melebar kepada konflik antar mama. Perselisihan menjadi lebih runcing dan solusi sulit didapat karena mama-mama cenderung sangat membela anaknya sendiri, menganggap anaknya paling benar dan menganggap anak orang lain paling salah.

Bagaimana jika mama-mama yang bertengkar? Ini lebih pelik karena mama-mama cenderung mau dibela oleh anaknya. Mereka mungkin tidak mengatakan terus-terang kalau mereka sedang ada masalah dengan teman mereka, namun biasanya secara tidak sadar/sadar mereka akan mempengaruhi anak mereka untuk ikut membela mereka. Mama jadi sulit untuk tetap bersikap objektif terhadap teman anak mereka kalau mama punya sikap “it’s us against them”, sebuah sikap yang tidak sehat untuk menjalin pertemanan yang langgeng. Ingatlah mama-mama, anakmu bukan kamu. Jika kamu tidak cocok dengan temanmu, tidak berarti anakmu juga tidak cocok dengan anak temanmu. Mengajari anakmu untuk menjauhi temannya hanya karena kamu berselisih dengan orang tua anak itu, hanya akan memberi teladan yang buruk bahwa mama tidak bisa mengelola emosi, mengkarantina masalah, dan menyelesaikan konflik.

Tentu saja, semua hal yang saya sebut di atas jauh lebih mudah ditulis daripada dilakukan. Hal mendasar dalam pertemanan adalah fairness and respect, keadilan dan rasa hormat. Keadilan membuat mama bisa tetap ingat kalau masalah yang dia hadapi bukanlah masalah yang anaknya hadapi. Rasa hormat membuat mama bisa tetap menghargai orang yang sedang tidak dia sukai sebagai manusia yang punya sudut pandang dan pendapat lain, yang mungkin sering kali tidak cocok dengan sudut pandang dan pendapat yang dia sendiri miliki. Sama halnya jika terjadi perselisihan di antara anak-anak, mama-mama perlu menekankan kepada anak-anak untuk tetap memiliki fairness and respect itu. Jadilah pendengar jika anak ingin berkeluh-kesah akan masalahnya, beri pendapat jika diminta, tahan diri untuk tidak cepat mengkritik pihak sana. It takes two to tango, dalam semua problem ada dua pihak yang berkontribusi untuk menciptakan (dan juga mengakhiri) konflik. Jadilah sumber air yang mendinginkan kepala yang panas dan memulihkan hati yang terluka bagi anak-anak. Di situlah mama-mama bisa membuktikan tingkat kedewasaan yang kelak harus dimiliki oleh anak-anak seiring dengan mereka beranjak dewasa.

Sekalipun mama/anak memutuskan untuk tidak menyukai atau tidak berteman lagi dengan mama/anak lain, itu tidak apa-apa. Kita diciptakan tidak untuk berteman dengan semua orang. Sama halnya dengan frekuensi radio, kadang kita menemukan orang yang frekuensinya sama atau kadang kita menemukan orang yang frekuensinya berbeda sama sekali dengan kita. Tidak apa-apa jika tidak nyambung; berteman adalah pilihan dan tidak bisa dipaksakan. Nikmati pertemanan dengan orang-orang yang punya banyak kesamaan dengan kita, bersikap ramahlah terhadap orang-orang yang tidak cocok dengan kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s