Creative Writing Workshop di SMAK 1 BPK Penabur Jakarta

Sejak TK sampai dengan SMP saya bersekolah di Yayasan BPK Penabur di kota Bandung. Di akhir kelas 3 SMP, wali kelas saya waktu itu menyarankan saya untuk melanjutkan sekolah ke SMAK 1 BPK Penabur di Jakarta, karena SMA itu paling bagus di antara semua SMA di bawah Yayasan BPK Penabur, dan waktu itu mama saya sedang sekolah di Jakarta. Walaupun pada akhirnya saya memilih melanjutkan sekolah ke SMAN 3 Bandung, pada suatu waktu saya pernah berada di persimpangan pilihan di mana salah satu pilihannya adalah SMAK 1 BPK Penabur Jakarta. Waktu book launch buku Randomness Inside My Head tanggal 8 April lalu, salah seorang wakil kepala sekolah SMAK 1 ikut hadir. Singkat cerita saya diundang untuk menyelenggarakan workshop Creative Writing untuk siswa SMAK 1 kelas 10 dan 11 pada tanggal 9 Juni 2017.

Workshop dimulai pukul 8 pagi dengan presentasi tentang  definisi, bentuk, elemen Creative Writing dan cara menerbitkan buku (baik secara independen ataupun melalui penerbit) yang disampaikan dalam 45 menit. Setelah itu saya mengadakan Latihan 1 (membahas 4 elemen Creative Writing dalam cerita Prince Charming dari buku RIMH), dan Latihan 2 (siswa membentuk kelompok berisi 5-6 orang untuk menulis cerpen dalam waktu 30 menit).

Saya sangat mengagumi kreativitas siswa SMAK 1. Saya hanya memberikan 6 buah karakter fiksi dan mereka bisa mengembangkannya menjadi 3 buah cerita kriminal dan 3 buah cerita drama. Dalam 30 menit mereka bisa menulis cerpen di 1 lembar kertas B5 dengan bahasa Indonesia yang bagus. Dan walaupun cerita yang mereka buat banyak yang belum selesai ditulis, tapi siswa yang mempresentasikan setelah sesi kerja kelompok bisa menjelaskan secara lisan apa tujuan akhir dari cerita mereka (mengacu pada 4 elemen Creative Writing: Karakter – Lokasi – Plot – Tujuan).

Enam karakter fiksi yang saya berikan adalah sebagai berikut:

 

1. Mikayla yang sedang duduk di taman sekolah (KRIMINAL)

Pencerita di cerpen ini adalah sahabat Mikayla yang bercerita dari sudut pandang orang ke-3 (POV 3). Mikayla adalah siswa SMA dan suatu hari dia ditabrak mobil sampai dia lumpuh. Setelah kecelakaan itu, Mikayla mengalami depresi dan sehari-hari dia hanya duduk merenung di taman sekolah. Sampai pada akhirnya dia berniat untuk mencari tahu siapa pengemudi mobil yang telah menabraknya. Mikayla juga merasa bahwa sahabatnya (si pencerita) tidak bisa mengerti penderitaannya, sehingga pada akhir cerita dia membunuh si pengemudi mobil yang membuat dia lumpuh, sahabatnya, dan kemudian dirinya sendiri. Mikayla yang sedang duduk di taman sekolah sebelum dia bunuh diri adalah adegan terakhir dari cerpen yang dibuat oleh kelompok 1. Cerpen ini ringkas dan memiliki akhir yang tak terduga. Kisah tentang kecelakaan yang dialami dan akhir hidup Mikayla diceritakan dengan cepat oleh POV 3.

2. Pemadam kebakaran di depan sebuah ruko (KRIMINAL)

Kebetulan SMAK 1 BPK terletak dekat dengan stasiun pemadam kebakaran dan juga berseberangan dengan sebuah kompleks ruko, sehingga Kelompok 2 dengan kreatifnya menciptakan sosok seorang arsonis  (seorang yang dengan sengaja menciptakan kebakaran karena niat jahat) yang tinggal di ruko yang berseberangan dengan stasiun pemadam kebakaran. Setiap hari dia bisa melihat aktivitas para pemadam kebakaran dari jendela tempat tinggalnya. Cerpen ini menceritakan dengan detail kebiasaan sehari-hari dan kesenangan yang dirasakan oleh seorang arsonis pada saat melihat api dan mencium bau asap. Seandainya waktu latihan lebih panjang, plot di cerpen mereka bisa dikembangkan menjadi misalnya: si arsonis bertanggung jawab atas salah satu kebakaran yang baru dipadamkan oleh para petugas yang bekerja di seberang ruko tempat tinggalnya.

3. Seorang lelaki muda yang merokok sambil bersandar pada tiang infus (DRAMA)

Kelompok 3 membuat lelaki muda yang merokok itu bersandar pada tiang infus yang sedang dipakai untuk menyelamatkan pacarnya yang masuk rumah sakit. Cerpen dari kelompok ini adalah tentang sepasang kekasih dimana si wanita hamil di luar nikah dan mengalami keguguran. Yang membuat saya penasaran, si lelaki muda merokok karena lega atau karena frustasi sudah kehilangan jabang bayi? Anyway, kelompok ini menggunakan sudut pandang orang ke-1 (POV 1) secara bergantian, si lelaki dan kekasihnya. Walaupun penjabaran pikiran dan perasaan setiap tokoh jadi mendalam, tapi pendengar presentasi perlu menebak-nebak dulu siapa tokoh yang sedang mendapat giliran untuk bercerita.

4. Seorang wanita berpakaian serba biru (DRAMA)

Kelompok 4 mengambil lokasi sebuah kota di masa depan yang tertutup polusi dan hanya berwarna abu-abu. Penduduk kota tersebut juga punya mood yang sama dengan kotanya, sehingga pakaian mereka selalu berwarna gelap. Tersebutlah seorang lelaki yang mencoba mengubah kekelaman kotanya dengan menanam tanaman hijau dan bunga beraneka warna. Usahanya tidak kunjung membuahkan hasil walaupun dia selalu rajin menyiram dan merawat tanaman sekuat tenaganya. Suatu ketika dia melewati sebuah halte bis dan melihat seorang wanita berpakaian serba biru sedang mengamati bunga berwarna biru yang baru tumbuh di situ. Lelaki itu berhenti berjalan dan kemudian menghampiri si wanita berpakaian serba biru. Dia merasa takjub karena bunga di halte bis itu adalah bunga pertama yang dia lihat tumbuh di kotanya setelah sekian lama. Dia merasa kehadiran wanita itu adalah pertanda bahwa dia akan memiliki teman baru untuk membawa perubahan pada kotanya. Menurut saya cerpen yang mereka tulis ini sangat puitis. Waktu saya menciptakan karakter ini, saya sedang melihat anak saya yang memakai piyama biru. Saya mengagumi kemampuan kelompok ini dalam menciptakan cerita dengan elemen karakter – lokasi – plot – tujuan yang lengkap dan singkat, dan dengan pesan “harapan itu ada” yang begitu kuat.

5. Presiden dari negara termiskin di dunia (KRIMINAL)

Kelompok 5 adalah satu-satunya kelompok yang menulis cerpennya dalam bahasa Inggris (semoga mereka terinspirasi oleh buku saya, hehe). Cerpen yang mereka tulis dipenuhi dengan dialog cepat antara seorang wanita yang merupakan presiden dari negara termiskin di dunia dan panglima militernya. Lokasi yang mereka ambil adalah istana si presiden tanpa menggambarkan secara detail bagaimana penampakan sebuah istana. Hanya ada satu plot yang diceritakan, yaitu saat si presiden hendak menghalau rakyat miskin yang hendak memasuki istananya dengan cara menembakkan senjata pada orang-orang itu. Tanpa disangka, orang kepercayaan si presiden yang merupakan ajudan dan panglima militernya tidak menyetujui tindakan tersebut dan alih-alih menembak si presiden (tujuan akhir cerita). Cerpen ini punya potensi yang sangat besar untuk menjadi cerita panjang ataupun novel tentang menjadi presiden dan tentang pengkhianatan oleh orang terdekat.

6. Seorang dokter yang tidak menghentikan mobilnya saat dia melewati tempat kejadian kecelakaan lalu-lintas (DRAMA)

Kelompok ini satu-satunya yang memberi nama pada karakternya. Budiman Astuti adalah seorang dokter yang sedang dalam perjalanan ke pemakaman ibunya. Di jalan tol dia melihat ada kecelakaan terjadi antara sebuah truk dan sebuah mobil. Pikirannya sedang tertuju pada ibunya dan dia tidak merasa mesti menolong korban kecelakaan itu. Dia meyakini akan ada orang lain yang datang menolong para korban. Tujuannya hanya satu, bertemu ibunya sesegera mungkin. Karena pikirannya yang kalut, Budiman Astuti tidak menyadari kalau mobil Chevrolet pinknya berjalan melebihi batas kecepatan dan akhirnya mengalami kecelakaan juga. Saat dia membuka mata, dia melihat ibunya yang sedang menatapnya keheranan. “Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya ibunya. “Di mana aku?” “Ini di pintu surga,” jawab ibunya. “Aku tadi sedang dalam perjalanan untuk menemuimu, Bu.” “Kamu sedang menemuiku sekarang.” Lalu siswa yang mempresentasikan cerpen itu menoleh ke saya dan berkata, “Mereka akhirnya bertemu, tapi bukan di pemakaman. Mereka bertemu di kematian.”

Dari 6 cerpen yang dibuat, cerpen ini jadi favorit saya. Pertama, karena mereka bisa menggali sifat karakter dokter Budiman Astuti yang tidak peduli pada orang lain (dia seorang dokter dan dia membiarkan korban kecelakaan yang terpapar di jalan tol) dan mudah kalut (kehilangan kendali atas mobilnya). Kedua, mereka menggambarkan detail lokasi di jalan tol sampai mobil yang si dokter pakai. Ketiga, mereka membuat plot twist yang sangat tidak terduga, dari sebuah perjalanan biasa seorang dokter menjadi perjalanannya menuju kematian. Keempat, mereka mencapai tujuan akhir dari cerpen itu dengan cara yang pahit-pahit-indah. Ending cerpen seperti ini sungguh merupakan gaya saya menulis dan bercerita. Oya dan kelima, kalimat penutup dari si presenter yang sukses bikin bulu kuduk saya merinding. Salah satu anggota dari Kelompok 6 pada akhir workshop mendatangi saya dan berkonsultasi tentang draft novel yang sedang dia garap bersama teman-temannya. Dari awal sampai akhir workshop saya melihat anak ini sangat antusias dan punya imajinasi yang bebas. Saya sungguh berharap karyanya akan segera terbit.

Tiga puluh dua orang siswa yang mengikuti workshop sangat atentif sepanjang workshop berlangsung; tidak ada satu orang pun yang mengobrol atau tertidur saat saya mempresentasikan materi yang padat. Para siswa bekerja cepat dalam kelompok dan juga tidak ragu-ragu untuk mempresentasikan hasil pekerjaan mereka. Sesi tanya-jawab di akhir penyampaian materi diisi dengan pertanyaan unik seperti:

  1. Mengapa bahasa dalam novel Indonesia akhir-akhir ini selalu campur-sari dengan bahasa Inggris?
  2. Mengapa karakter dalam novel kebanyakan stereotype laki-laki yang tampan, kaya, dingin bertemu dengan perempuan yang miskin, cantik, dan ceria?

Terhadap dua pertanyaan itu saya hanya menjawab: itu adalah tren. Pertanyaannya sekarang adalah kamu mau mengikuti tren atau menciptakan tren baru? Saya senang karena saya memiliki kesepahaman dengan beberapa penanya bahwa karakter adalah manusia seperti kita walaupun dia hidup di dunia rekaan pikiran kita. Tidak semua karakter tampan, kaya, dan pintar, karena semua karakter punya kekurangan seperti halnya dengan manusia biasa. Saya juga menekankan tentang mengembangkan plot yang unik yang menjadi ciri khas setiap penulis.

Saya sungguh bersyukur atas kesempatan mengajar workshop Creative Writing di sekolah ini. Di tengah-tengah gempuran bahasa Inggris dalam kehidupan kita sehari-hari, siswa SMAK 1 peserta workshop berhasil menuliskan cerita-cerita dalam bahasa Indonesia yang baku tapi luwes, tidak campur-aduk dengan bahasa Inggris seperti tren yang terjadi saat ini dalam buku-buku fiksi oleh para penulis orang Indonesia. Saya melihat hasil belajar bahasa Indonesia mereka yang tidak berbeda dengan hasil belajar saya 20 tahun lalu, dan saya berharap akan ada klub menulis di sekolah ini dalam waktu dekat untuk menemukan dan menyalurkan begitu banyak talenta terpendam.

 

IMG20170609081150IMG20170609084023IMG20170609082511img20170609091224.jpgIMG20170609100424

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s